Mengapa Kalian Rampas Akhwatnya Jika Benci Manhajnya ???

Mengapa Kalian Rampas Akhwatnya

Jika Kalian Benci Terhadap Manhajnya

   

   Oleh Ibn Abd Muis

   

Seperti minggu sore kemarin, syura’ rutin DPRa di Kantor DPC. Agak Bete sedikit memang, tapi bukan karena bahasan syuranya, seperti biasa lah, selalu ada saja yang disewotin.

  

“Kenapa akh, dari tadi keliatan agak bete ghitu”, Tanya Ridwan, ketua DPRa, “Ada masalah?”, tanyanya lagi.

  

“Mba Nilam kemana, abis nikah kok nggak nongol-nongol?”

  

“Ada urusan keluarga kali, soalnya nggak ada kabar ke ana”, jawab Ridwan singkat.

  

“Dikerem suaminya kali ya?”, tanyaku polos.

  

“Astaghfirullah, mana ana tahu akhi. Lagian apa urusan kita terhadap mereka”, sergah Ridwan kepadaku.

  

“Kayanya kejadiannya bakalan sama seperti ukhti Intan tuh”, tandasku lagi.

  

“Antum ini ngomong apa sih”, Tanya Ridwan bingung. “Nggak jelas juntrungannya, ana nggak ngerti maksud pembicaraan antum.”

  

“Iya, mulai dari Ukhti Intan, kemudian Mba Nilam, siapa yang sibuk coba, bantuin mereka ngurusin pernikahannya?”, tanyaku ke Ridwan yang cuma makin bingung dengan ulahku.

  

“Astaghfirullah, akhi.

 $yg•ƒr¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä Ÿw (#qè=ÏÜö7è? Nä3ÏG»s%y‰|¹ Çd`yJø9$$Î/ 3“sŒF{$#ur  ßÇËÏÍÈ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), (Qs. Al-Baqarah: 264)

   

Kok antum masih ungkit itu lagi sih. Kan kita sudah sepakat nggak akan bahas itu terus,” jelas Ridwan yang sepertinya sudah paham maksud kebawelanku.

  

“Ana sudah nggak tahan. Mungkin Mba Nilam adalah yang terakhir buat ana,” celotehku lagi.

  

“Maksudnya akhi?” tanya Ridwan.

  

“Ana janji, ana nggak akan bantuin akhwat manapun jika mereka nikah sama ikhwan Salafy!”, teriakku kesal.

  

“Loch, memangnya kenapa?”

  

“Ya, antum sendiri lihatkan. Waktu nikah, yang sibuk itu kita. Boro-boro ada ikhwah Salafy yang mau ikutan bantuin temennya nikah. Udah gitu, setelah mereka jadi nikah, seperti biasa, si akhwat nggak boleh lagi terlibat aktivitas kita,” jawabku dengan nada tinggi.

  

“Antum nggak boleh gitu akhi. Nggak semuanya seperti itu kok. Itu buktinya si Abu Zainuddin. Nanti jadi sia-sia loch apa yang sudah diamalkan kemarin,” seloroh Ketua DPRaku khawatir.

  

“Iya, kalau Abu Zainuddin mah nggak usah diomongin. Beliau itu udah the bestnya salafy dech, beda banget. Tapi, kenapa sich, mereka mau menikahi akhwat tarbiyah? Memangnya mereka nggak punya stock akhwat apa? Kalau mereka benci manhajnya, seharusnya mereka benci akhwatnya juga dong!”, teriakku lagi sambil nahan marah.

  

Ridwan, ketua DPRaku cuma miris dan berkata “Antum nggak boleh gitu akhi.

 $pkš‰r¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qç7Ï^tGô_$# #ZŽÏWx. z`ÏiB Çd`©à9$# žcÎ) uÙ÷èt/ Çd`©à9$# ÒOøOÎ) ( Ÿwur (#qÝ¡¡¡pgrB Ÿwur =tGøótƒ Nä3àÒ÷è­/ $³Ò÷èt/ 4 =Ïtä†r& óOà2߉tnr& br& Ÿ@à2ùtƒ zNóss9 ÏmŠÅzr& $\GøŠtB çnqßJçF÷d̍s3sù 4 (#qà)¨?$#ur ©!$# 4 ¨bÎ) ©!$# Ò>#§qs? ×LìÏm§‘ ÇÊËÈ

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), Karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.

  

Mungkin memang sudah jodohnya. Mau dengan Salafy, mau dengan ikhwan tarbiyah, atau mau dengan yang ammah sekalipun, kalau sudah jodohnya, ya mereka pasti akan menikah, kalau Allah sudah berkehendak, mau ditolak bagaimana?”.

  

“Gini-gini loch akh. Maksud ana, ana nggak habis pikir aja. Kan mereka sebut kita ahlul bid’ah. Dan ahlul bid’ah itu menurut mereka lebih sesat dari ahlul maksiat. Tapi kenapa mereka malah mencari akhwat tarbiyah yang jelas-jelas ahlul bid’ah menurut mereka. Ini yang ana nggak ngerti,” tanyaku panjang lebar.

  

“Akhi, tidak ada yang memungkiri, akhwat tarbiyah itu sangat militan dalam berdakwah. Kesibukan apapun yang menyertai mereka. Kuliah, kerja atau ngurus keluarga. Kalau sudah panggilan dakwah, pasti mereka kejar. Hijab dan busana muslim yang panjang tidak menyurutkan gerak gesit mereka,” jelas Ridwan santai.

  

“Jadi itu alasan mereka menikahi akhwat kita?”, tanyaku sewot.

  

“Akhwat kita?” tanya Ridwan sambil manyun. “Ngaku-ngaku akhwat kita, sembarangan. Nanti dimarahin bapaknya para akhwat baru tau rasa loch.”

  

“Bukan, bukan itu. Maksud ana akhwat tarbiyah,” sergahku cepat “Tapi pasti ada alasan lain, kenapa mereka lebih senang merampas akhwat tarbiyah dibandingkan akhwat salafy?”.

  

“Waduh, merampas, kesannya kasar banget. Jangan gitu akhi. Kalau alasan kenapa mereka tidak memilih akhwat salafy, ana tidak tahu, mungkin memang kurang stock?” jawab Ridwan.

  

“Atau mungkin karena ekstrim juga!?”, timpalku langsung.

  

“Hush!!! Sembarangan!”, cegah Ridwan atas komentarku.

  

“Assalamu’alaikum”, tiba-tiba terdengar suara dari arah pintu.

  

“Wa’alaikum salam ustadz. Ana fikir ustadz sudah pulang. Afwan, kita terlalu rame ya?” jawabku spontan atas sapaan salam ustadz Azri, ketua DPC kami yang tiba-tiba keluar dari balik pintu secretariat.

  

“Hemm… afwan dari tadi ana mencuri-curi dengar sambil senyum di dalam,” selorohnya pada kami sambil ikut duduk di bangku bambu tepat di sebelah kiriku. “Sepertinya seru juga diskusinya,” lanjutnya lagi,”Memang tidak ada habisnya kalau membicarakan salafy”. Aku cuma senyum, agak sedikit malu karena kesewotanku didengar beliau.

  

“Begini akhi, apa yang sudah akhi Ridwan katakan itu benar, akhwat tarbiyah itu memang super. Tapi kalau mereka kurang stock akhwat ana juga nggak yakin. Apalagi kalau alasannya seperti yang antum omongin tadi. Yang pasti, kemungkinan alasannya, ini pun baru menurut ana loch. Karena seorang yang telah tarbiyah dan telah mengikuti amal jama’i di dalam jamaah ini, yang telah tahu karaktristik manhaj ini dengan baik dan mendalam, selalu berhusnudzan terhadap qiyadah, pasti telah memiliki pondasi yang bagus tentang keislaman mereka. Mulai dari Al-Qur’an dan ulumul Qur’an, Hadist dan ulumul hadits, Aqidah Islam, Fiqih, Sirah, akhlaq, kepribadian muslim, dan lain sebagainya. Belum lagi ditambah dengan materi-materi yang berhubungan dengan pengembangan diri mereka, seperti bagaimana mengelola waktu, bagaimana berkomunikasi efektif, managemen organisasi, urgensi kaderisasi dan lain-lain. Tak ketinggalan sampai kepada pembahasan dakwah dan pemikiran islam serta materi yang membahas social kemasyarakatan.”

  

“Intinya mah tinggal poles dikit gitu ya ustadz?”, timpalku lurus.

  

Ustadz Azri cuma senyum denger ucapanku, “Itupun baru tarbiyah tingkat pemula loch akhi. Kalau seluruh kader sabar dalam halaqahnya, pasti mereka menjadi muslim mandiri. Tidak malas-malasan. Kritis. Rajin menghadiri kajian Islam. InsyaAllah, mereka jadi kader sejati, yang tidak mudah terombang-ambing.”

  

“Oh, gitu ya ustadz”, tanyaku takjub, “Loch, lantas kenapa orang-orang Salafy yang ana temui, sebagian besarnya bercerita bahwa mereka mantan tarbiyah,” timpalku lebih lanjut.

  

“Coba dech, antum perhatikan. Sebagian mereka, apakah mantan tarbiyah, atau mantan Jamaah Tabligh atau mantan jamaah lainnya. Pasti ceritanya selalu tentang kekurangan. Ya, merekalah orang-orang yang selalu melihat kekurangan yang dimiliki orang lain. Mereka belum paham karakteristik dari tarbiyah itu sendiri. Mereka adalah orang-orang yang tidak sabar. Mereka adalah orang-orang yang selalu membutuhkan motivasi dari luar. Mereka adalah orang-orang yang tidak mau mengembangkan ilmu mereka dengan potensi yang mereka miliki untuk berkontribusi kepada umat. Tapi saksikanlah akhi. Mereka hanya akan ghirah di awal. Mereka tidak akan bertahan lama. Karena hanya sebagian kecil saja dari mereka yang memiliki jiwa ikhlas seperti Abu Zainuddin” jelas Ridwan panjang lebar.

  

“Sudah akhi Ridwan jangan diteruskan. Tidak baik akhi, ada baiknya kalau kita selalu berusaha untuk membersihkan hati kita” pinta ustadz Azri berusaha memutus penjelasan Ridwan. “Antum sendiri sudah sampai mana materi halaqahnya,” tanya ustadz Azri, ketua DPCku tiba-tiba.

  

“Ups!”, agak kaget. “Hik..hik.. ana baru enam bulan ustadz, baru juga masuk materi akidah tauhid,” jawabku malu sambil cengengesan. “Ya, kalau boleh dibilang anak ingusan di tarbiyah githu… hehehe…,” ujarku berusaha membela diri.

  

“Tapi kayanya antum sudah lama ikut aktifitas amal jamai ya?” tanya ustadz Azri kepadaku. “Soalnya ana sering lihat antum di berbagai tempat kegiatan bakti social, nggak cuma di DPRa antum saja?”

  

“Iya, ustadz, ana sibuk banget. Kerja, dari pagi sampe malem. Maklum kuli.. hehehe… Takut halaqahnya nggak serius, jadi ana fikir biar ana aktif di kegiatan social kemasyarakatannya saja, ternyata tarbiyah point utamanya. Sekalipun agak terlambat, nggak apa-apa lach”

  

“Nah, ini dia ustadz, salah satu penyebab akhwat-akhwat kita keburu dinikahi ikhwan bukan tarbiyah,” tuduh Ridwan kepadaku.

  

“Maksudnya?”, tanyaku bingung.

  

“Ya, antum ini lah salah satu penyebabnya. Sudah kerja, punya kendaraan, manager pula status di kantornya. Masih juga belum mau nikah. Jangan marah dong kalau akhwat tarbiyah dinikahi sama ikhwan salafy. Antum terlalu idealis sih”, tuding Ridwan lagi kepadaku.

  

Aku makin mati kutu dibilang begitu, “Afwan, afwan akhi, ustadz, ana nggak idealis kok. Ana tidak pernah terpikir, kalau ana punya kriteria khusus terhadap akhwat yang akan ana nikahi. Masalahnya beda. Ini masalah target masa depan. Masa akhwatnya hebat ikhwannya jeblog, nanti ana malu khan. Dan ana juga nggak mau pusing, gara-gara mikirin uang untuk resepsi, untuk lahiran, pendidikan anak, makan sehari-hari dan lain sebagainya,” jelasku membela diri.

  

“Memang antum usianya berapa sekarang?” tanya ustadz Azri sambil nepuk-nepuk bahuku.

  

“Seperempat abad lebih dikit ustadz”, jawabku. “Belum tua banget khan?” tanyaku langsung kepada beliau.

  

Beliau cuma tersenyum dan berkata, “Belum, belum tua kok.” Sementara Ridwan ketua DPRaku sudah pegang perutnya menahan geli.

  

“Loch, antum kenapa? Kok kayanya geli banget dengar umur ana seperempat abad?” tanyaku ke Ridwan bingung.

  

Ustadz Azri menepuk lututku, “Dulu, waktu ana nikahi istri ana, ana baru berumur sembilan belas tahun akhi. Masih kuliah di LIPIA” terangnya sambil tersenyum teduh.

  

“Hah…” ternganga aku sambil takjub. “Sembilan belas tahun! Masih muda banget ustadz. Waduh, ana ketuaan dong ya?”

  

“Bukan tua lagi mas, udah engkong-engkong,” canda Ridwan sambil terus pegangi perutnya menahan geli dan “Ana aja udah punya anak dua waktu umur segitu”.

  

“Ya ampun, jangan-jangan hampir sebagian besar ikhwan kita seperti ana kali ya!” sergah aku masih dalam keadaan terkejut. “Pasti ustadz anak orang kaya kan, jadi kalau bingung dengan masalah keuangan tinggal minta bantuan?” tanyaku sambil terus berusaha membela diri.

  

“Alhamdulillah, ana di Jakarta sendirian akhi. Orang tua ana di Padang Pariaman. Di Kampung. Waktu itu ana tinggal di tempat paman ana. Ya sambil bantu-bantu beliau, ana juga jualan buku-buku Islam sambil kuliah di LIPIA karena ana yakin

 4 `tBur ö@©.uqtGtƒ ’n?tã «!$# uqßgsù ÿ¼çmç7ó¡ym 4 ¨bÎ) ©!$# à÷Î=»t/ ¾Ín̍øBr& 4 ô‰s% Ÿ@yèy_ ª!$# Èe@ä3Ï9 &äóÓx« #Y‘ô‰s% ÇÌÈ

Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah Telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (Qs. At-Thalaaq: 3)

jelasnya panjang lebar sambil berusaha meyakinkan aku.

  

“Waduh, malu banget ana nih ustadz. Ana yakin, ikhwan-ikhwan kita memang terlalu idealis, bertahan dengan kejombloannya, karena terlalu khawatir seperti ana. MasyaAllah….”

  

“Makanya itu akhi, antum jangan sewot kalau akhwat-akhwat tarbiyah dinikahi ikhwan-ikhwan salafy. Nggak ada pilihan lain, sekalipun mungkin mereka tidak mau, tapi daripada jadi khawatir kali. Mau dibilang apa?” tuding Ridwan lagi kepadaku.

  

“Ya, iya juga sich, mungkin salah ana juga kali ya,” jawabku lirih.

  

“Ya, nggak salah antum aja, tapi semua ikhwan tarbiyah yang punya kekhawatiran berlebihan seperti antum, antum niatkan saja untuk segera menikah. Ana ada chanel nih. Antum mau nggak ana kenalin. Mad’unya istri ana,” tawar ustadz Azri serius sambil terus tersenyum, “Kayanya cocok dech sama antum”.

  

“Aduh ustadz, tapi ana tetep nggak bisa terima. Kalau mereka mau menikahi akhwat tarbiyah, jangan matikan dakwah mereka juga dong. Enggak sopan tuh namanya. Kita yang bangun dia yang nikmatin. Standard ganda banget sich! Manhajnya di benci, tapi akhwatnya doyan! Atau ana aja yang nikahin akhwat Salafy ya ustadz, biar mereka jadi baik hati dan lembut. Kan impas tuch!” ujarku kesel.

  

“Astaghfirullah akhi, sudahlah, jangan dipikirin yang kaya gitu. Pasti semuanya ada hikmahnya. Baik buat kita maupun buat mereka. Jangan biarkan ketidaksukaan antum terhadap mereka membuat antum tidak adil.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُونُواْ قَوَّامِينَ لِلّهِ شُهَدَاء بِالْقِسْطِ وَلاَ يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلاَّ تَعْدِلُواْ اعْدِلُواْ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُواْ اللّهَ إِنَّ اللّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Qs. Al-Maidah: 8 ) 

Kita do’akan, sekalipun mereka tidak beramal jama’i lagi dengan kita, mudah-mudahan ghirah dakwah mereka tidak mati. Ya minimal beribadah untuk suami dan keluarga mereka, kan sama saja, sementara mantan murabiyyah mereka mendapat pahala atas ilmu yang bermanfaat bagi mereka” terang ustadz Azri bijak.

  

“Iya, ya.. nggak ada untungnya buat ana. Itu sudah menjadi tanggung jawab mereka masing-masing. Mending ana focus ngurusin pekerjaan ana dan dakwah ana di manapun ana berada”, sadarku.

  

“Jangan lupa! bukan cuma ngurusin pekerjaan dan dakwah aja, tapi tuh, tawaran ustadz Azri diterima nggak, prediksinya cocok sama antum soalnya,” ingat Ridwan sambil rangkul bahuku.

  

Aku cuma mengangguk tanda setuju, sambil terus menyembunyikan malu.

  

“Loch, dengan akhwat Salafynya gimana?”, canda ustadz Azri, lanjutnya “Ada-ada aja antum.”

  

Dan aku makin menunduk malu.

  

Sekian

  

Cerpen ini dibuat sebagai introspeksi buat ana dan semua ikhwah yang belum menikah. Jangan sedih ya, kalau akhwat-akhwat tarbiyah dinikahi oleh mereka J Peace !!!

  

Sementara untuk akhwatnya, jangan minta mahar mahal-mahal ya, kasihan kita nih. Bilangin ke abi dan uminya juga loch…. J

NB: Maaf bila ada kata-kata yang tidak sopan dan sedikit usil. Cerita ini terinspirasi dari diskusi di forum myquran dan pengalaman pribadi.

112 Tanggapan

  1. Ooh.. Ijo Lumoet… Ikatan jomblo Lucu dan Imoet. God Job. :)

  2. saya, sih, memang mungkin terlalu idealis aja. ndak mau ngrepotin orang lain, termasuk orang tua kalo sudah nikah. jadinya kepengen punya rumah dulu sebelum memutuskan nikah.

    yeah, gengsi laki-laki aja ;)
    __________
    Ibn Abd Muis, menjawab:
    Loch, nanti Sijukanya gimana. Ikhlas kalau keburu dinikahi Nobita?… :)

  3. Saya sih bukannya nggak mau cepat-cepat nikah tapi belum yakin dan kayaknya belum siap dech. Minimal saya harus punya rumah dulu. Jadi ketika berumah tangga memang sudah punya rumah.
    __________
    Ibn Abd Muis, menjawab:
    Minimal mas? Waduoh, nanti kalau nggak maksimal-maksimal nggak nikah-nikah, gimana? InsyaAllah, saya do’ain semoga hajatnya terkabul ya..

  4. masya ALLAH lagi lagi masalah akhwat….knapa sih kita ngomong dan menggunjing masalah akhwat mlulu?inget prend ngomongin akhwat tuh gak akan ada habisnya akhi?gimana mo revolusi kalo ikhwah2 revo kita lemes ditinggal akhwat?tolong menolong lah diantara kalian,laki laki dengan laki2 wanita menolong wanita(lupa ayatnya…he2…he2. Af1 akh cerita antum terlalu vulgar
    __________
    Ibn Abd Muis, menjawab:
    Subhanallah, Af1 kalau sepertinya terlalu vulgar :) ,point utamanya adalah esensi dari cerita ana dapat diambil hikmahnya. Barrakallahu fiikum.

  5. Wah saya sih nikah karena udah kelamaan pacaran :mrgreen: lagian kebetulan mau ke luar negri …

    kebanyakan berzinah gitu … :lol: (**kabur**)
    __________
    Ibn Abd Muis, menjawab:
    Astaghfirullah, Woy!! woy!! jangan kabur woy.!! :mrgreen: Gua mo khotbah nih !!

    وَلاَ تَقْرَبُواْ الزِّنَى إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاء سَبِيلاً
    Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. (Qs. Al-Isra: 32)

    Zinah tangan ya mas..? :lol: Kalo yang ini klik aja http://ihwansalafy.wordpress.com/2007/09/26/bolehkah-melakukan-onani-menurut-islam/

    Udah selesai tugas gua nasehatin elo… Sekarang :lol: gua mo kabur juga… takuuut… (**Ngibrit terbirit-birit sampe jatoh bangun tiga kali**)

    *Bingung* :oops: *Balik lagi* Woy!! Woy!! Inikan blog gue! Kok gue malah kabur…. :roll: *Garuk-garuk kepala*

  6. Assalamualaikum, hehehe. Walah ini mengingatkan ana dengan calon istri ana. Padahal sudah ana khitbah loh. Eee seorang ikhwah salafi main serobot, hem dasar akhwat juga masih baru, yah sudah deh nggak jadi! Nasib2 padahal semua dah disiapkan, tapi khitbah dibatalkan sepihak, saya yakin ikhwah salafi itu bukan benar2 penganut salafi. Karena jelas tidak mengatahui hukum khitbah, tapi yah emang nggak jodoh. Tapi Alhamdulillah, ana telah dipertemukan dengan seorang bidadari yang luar biasa. Yang kini menenamiku walau 1 seminggu 3 kali (maklum akhwat Kareir hehehe). Subhanallah, terima kasih Yaa Allah!

    Tapi sampai saat ini, si ikhwah salafi itu masih belum menikahi akhwat calon istri ana yang pertama! Semoga akhwat itu masih tetap liqo.

    (Teruntuk MRku, yang pertama. Syukron, bangetz)
    __________
    Ibn Abd Muis, menjawab:
    Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,
    Apa yang baik menurut kita, belum tentu baik menurut Allah. Yang terpenting adalah mengambil hikmah atas kejadian apapun yang kita alami. Dan selalu mendo’akan kebaikan termasuk kepada orang yang kita benci dan membenci kita. Ana sudah melakukan ituloch akhi, dan itu membuat kita lebih tenang. Barrakallahu fiikum.

  7. السلام عليكم saudaraku. Aku datang untuk berkunjung lagi dan tdklah yang membuat aku mengunjungimu melainkan karena ana uhibbuka fillah.

    Seorang sahabat saya di kampus, yg dia aktif di dunia pergerakan mengatakan sewaktu kami duduk2 di liqo’at rutin di rumah mr kami, “ana akan menikahi akhwat yg mampu menjaga dirinya sendiri”

    ana tanyakan, “apa kriterianya, akh”

    beliau melanjutkan, “dia memakai burdah (niqab/cadar), bergamis gelap, dan suka dirumah, dia pergi jika ada perlu saja, dan dia cinta al ilmu, sunnah, dan jauh dari bid’ah”

    temen2 komentar, “wah akhwat salafy, dunk?”

    katanya, “gak juga. kalau ada akhwat DPRa yg spt itu, ana akan khitbah”

    kata temen2 termasuk ana, “tapi mana ada akhi ? akhwat kriteria antum sih akhwat salafy”

    Beliau melanjutkan, “kalau demikian yg mau gimana lagi….. ”

    ———————

    Akhi, apakah antum paham maksud ana? dan bgmn pendapat antum apakah bisa dikatakan bahwa ikhwan harokah tersebut “merampas” akhwat salafy ?

    ————————————

    Terkadang kita menilai sesuatu dari cara pandang berpikir kita. Kenapa kita tidak berpikir dari cara pandang yang luas ? Ketika ada seorang akhwat harokah menikah dengan ikhwan ahlus sunnah apakah dikatakan bahwa ikhwan ahlus sunnah tersebut merampas akhwat harokah, kenapa tdk dikatakan akhwatnya lah yg telah merampas ikhwan ahlus sunnah ?

    Apakah kita tdk bertanya koq mau si akhwat harokahnya ? bukankah dia bsia menolah ? kenapa bisa jadian ? naah maka di sinilah timbul pertanyaan. Mungkin saja si akhwat memiliki kriteria2 yg akan menjadi pendamping hidupnya. Rasanya di jaman sekarang ini tdk ada kawin paksaan, atau seorang laki2 yg maksa menikah dan akhwatanya tdk bisa menolah, rasanya mustahil. Paling tdk ada bbrp kesepakatan di antara mereka.

    Sebuah pertanyaan lagi kenapa biodata akhwat tersebut bisa berada di tangan ikhwan ? sehingga ikhwan tsb suka dan mengajak taaruf ? ada banyak kemungkinan.

    ———————

    Adapun yg terjadi pada ana adalah ana mendapatkan biodata akhwat yang rajin liqo dan ternyata ia juga meletakkan biodatanya di kajian Salafy dan analah yang menerima, ana suka dan terjadilah pernikahan.

    Ketika taaruf ana katakan bahwa ana adl salafy dan hendaklah ia mau menuntut ilmu, menghidupkan sunnah, melahirkan anak2 pembela ulama, dan menjauhi bid’ah. Dan ternyata istri ana setuju dan kini jadilah ia seorang Salafiyyin.

    Antum tahu… tdk ada seorangpun salafy yg menyalahkan ana walaupun berjuta akhwat salafy menunggu ana (walah!)

    namun yang ada adalah kebencian temen2nya apalagi mr nya. Ternyata mr nya adalah temen ana sendiri ketIkA ana aktif di MASIKA ICMI ORSAT BEKASI.

    Maka di sini janganlah engkau membenci saudaramu karena kedengkian dan buruk sangka, mmgnya siapa yg merampas ? faktanya adalah akhwatnya yg menyerahkan dirinya untuk ditarbiyah dengan benar di atas Al Quran dan As Sunnah.

    Mengapa temen2 harokah selalu dengki dan sakit hati manakala akhwatanya ngaji di salafy, bbrp kadernya ngaji di salafy dan lama gak datang di liqo’at seperti ana.

    Wallahi yaa akhi. Ana sama sekali gak pernah berkata kasar dan memaki2 saudara ana di liqo’at dan di bbrp tempat yg ana aktif sewaktu pergerakan. Namun mrkalah yang selalau membenci ana hanya krn ana menjadi salafy dan mengambil akhwat mereka untuk menjadi salafy……

    Kiranya cukup sampai di sini dan tdk usah diperpanjang lagi kesedihan ini.

    السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
    __________
    Ibn Abd Muis, menjawab:
    Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh,

    Subhanallah ana senang sekali antum mengunjungi blog ana lagi. Pada dasarnya sungguh ana tidak bermasalah dengan Salafy. Salah satunya antum, kang anas, abu salma, salafi itb dsb.

    Mengenai article di atas, ana harap antum tidak perlu membesar-besarkan, point utamanya adalah esensi dari cerita itu. Memang agak vulgar dan terlalu mendiskreditkan. Tapi insyaAllah, untuk orang yang hatinya bersih dan selalu husnudzan pasti tidak akan kebakaran jenggot menyikapi ini semua. Ana berharap antum adalah salah satunya.

    Coba dech antum cek balik cerita ana dengan jernih, dan ambil sisi-sisi positifnya. InsyaAllah, mengenai komentar antum, alhamdulillah, ana telah ambil manfaatnya.

    Mengenai kriteria istri yang antum sebutin, :oops: sebenarnya itu juga kriteria ana. Coba perhatikan kutipan cerita di atas ini :

    “Aduh ustadz, tapi ana tetep nggak bisa terima. Kalau mereka mau menikahi akhwat tarbiyah, jangan matikan dakwah mereka juga dong. Enggak sopan tuh namanya. Kita yang bangun dia yang nikmatin. Standard ganda banget sich! Manhajnya di benci, tapi akhwatnya doyan! Atau ana aja yang nikahin akhwat Salafy ya ustadz, biar mereka jadi baik hati dan lembut. Kan impas tuch!” ujarku kesel.

    Astaghfirullah akhi, sudahlah, jangan dipikirin yang kaya gitu. Pasti semuanya ada hikmahnya. Baik buat kita maupun buat mereka. Jangan biarkan ketidaksukaan antum terhadap mereka membuat antum tidak adil.

    Mengenai komentar antum yang ini :
    Terkadang kita menilai sesuatu dari cara pandang berpikir kita. Kenapa kita tidak berpikir dari cara pandang yang luas ?

    Ana ingin kita introspeksi sama-sama ya akhi….

    Sebenarnya dari article ini bisa menimbulkan persepsi yang berimbang. Contoh, mungkin untuk orang-orang ikhwan yang ghuluw dan fanatik, dia akan mengiyakan article ana kemudian bergembira karena hal tersebut, seraya berucap “Hehehe… emang kaya gitu salafy, baru tau loe?”. Sementara untuk ikhwan yang lain yang tidak ghuluw pasti dia akan melihat tulisan ana terlalu mendiskreditkan salafy, dan ini sangat tidak baik, mungkin juga berucap “Astaghfirullah, pengelola blog ini terlalu berlebihan deh menyikapi sesuatu, bisa menambah kebencian orang Salafy ni”.

    Begitu juga dengan orang Salafy, bagi mereka yang ghuluw, pasti akan memicingkan mata dan bertambah kebenciannya, karena apa akhi? Karena mereka melihatnya dari sudut pandang nafsu. Tapi bagi ikhwah lain yang melihatnya dengan bashirah yang ikhlas, insyaAllah dia akan melihat ini sebagai kebaikan, minimal sebagai introspeksi khususnya bagi yang ghuluw dan fanatik tersebut, untuk bersikap wajar dan proporsional.

    Bukankah Allah mengikuti prasangka hambanya? Kalau hati kita selalu husnuzhan terhadap orang lain, insyaallah kita akan hidup dengan damai, tapi sebaliknya, kalau kita selalu bersu’udzan terhadap orang lain, maka kesempitanlah yang akan kita dapatkan. Mengenai hal ini, ana fokus, dan akan selalu menjadi taushiyah bagi ana pribadi.

    Jazakallahu khair akhi, semoga blog antum bisa menjadi pencerah bagi ikhwah-ikhwah lain yang memiliki karakter ekstrim dan ghuluw terhadap apapun. Satu lagi, alhamduliilah, ana banyak mengambil manfaat dari blog antum dan blog-blog yang ana sebutkan di atas. Sekalipun ada juga beberapa yang ana tidak suka. Ya… sama seperti antumlah, mungkin ada beberapa article yang antum tidak suka dari blog ana atau mungkin semuanya, memang susah kalau kita berharap membuat senang dan sejalan semua orang…

    Semoga antum bisa istiqamah dan bisa menjadi pengikut salafus shalih yang bersikap lebih adil dan bijak dalam menyikapi hal-hal yang menurut kebanyakan manusia tidak baik. Begitu juga ana. Barakallahu fiikum. Wallahu musta’an.

  8. Kalau mereka benci manhajnya, seharusnya mereka benci akhwatnya juga dong!
    |
    V
    Mestinya tanyanya gini mas….

    Kok Akhwat mau menikah sama Salafy, kenapa ya akhwat tidak mau menikah sama kita2??

    Jawabnya = ????????
    __________
    Ibn Abd Muis, menjawab:
    Kan alasannya sudah disebutkan di atas. Coba baca lagi dengan tenang akhi. :lol:

  9. 1. Setelah saya membaca komentar dari Abu Tilmidz, di/pada Januari 12th, 2008 pada 3:16 am

    Barulah mulai terbuka tabir yang menutupiku dengan munculnya tulisan2 yang menyerang SALAFY…

    2. Sungguh Fitnah yang paling besar bagi laki-laki adalah Fitnah Wanita.
    __________
    Ibn Abd Muis, menjawab:
    1. Itu paradigma akhi…
    2. Bagaimana kalau laki-laki itu adalah seorang [maaf] ‘gay’, bisakan kalau dikatakan fitnah terbesarnya adalah Fitnah Lelaki.

    Kalau ana lebih berkesimpulan lain, sebenarnya fitnah terbesar manusia adalah nafsu. Nafsu untuk selalu menilai buruk segala sesuatu padahal semuanya belum dikaji secara mendalam. Sehingga yang timbul justru adalah prasangka-prasangka. Wallahu musta’an.

  10. Rasulullah SAW, bersabda tentang fitnah wanita:
    “Tidaklah aku tinggalkan setelahku fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada fitnahnya wanita.” (Shahih, HR. Bukhari dan Muslim)

    “Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau, dan sesungguhnya Allah menjadikan kalian berketurunan (regenerasi) di atasnya, lalu Dia akan melihat bagaimana kalian berbuat. Maka berhati-hatilah kalian terhadap dunia dan hati-hatilah terhadap wanita, karena awal fitnah yang menimpa Bani Israil dari wanitanya.” (Shahih, HR. Muslim)
    __________
    Ibn Abd Muis, menjawab:
    Ana sangat setuju dungan dalil di atas akhi. Tapi bagaimana dengan yang ini :

    Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah ia seorang diantara orang-orang yang merugi. Qs. Al-Maidah: 30

    Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur`an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu, (Qs. Al-maidah:48)

    Katakanlah: “Sesungguhnya aku dilarang menyembah tuhan-tuhan yang kamu sembah selain Allah”. Katakanlah: “Aku tidak akan mengikuti hawa nafsumu, sungguh tersesatlah aku jika berbuat demikian dan tidaklah (pula) aku termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk”. (Qs. Al-an’am:56)

    Dari Abu Hurairah ra. Sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda: “Neraka tertutup oleh hawa nafsu dan surga tertutup oleh hal-hal yang dibenci oleh nafsu”.
    (HR: Bukhari)

    Dari Abu Hurairah ra. sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda: “Orang yang kuat bukanlah orang yang (selalu) membanting orang (dengan kekuatannya), akan tetapi orang yang kuat adalah orang yang kuat menahan Hawa Nafsunya ketika ia Marah”.
    (HR: Bukhari)

    Sebenarnya tinggal konteksnya aja kok. Tergantung kondisi real yang terjadi pada seseorang. Mungkin sebagian menganggap wanita sebagai ujian terbesar, tapi sebagian menganggap tahta adalah yang terbesar, tapi sebagian yang lain menganggap harta yang terbesar, dan yang lainnya lagi menganggap nafsu ujian yang terbesar. Apakah nafsu untuk marah, nafsu untuk dekat dengan wanita, nafsu untuk mendapatkan harta dengan berbagai cara dan sebagainya. Nafsu untuk berdebat… :roll:

    Jadinya malah mempermasalahkan yang enggak penting, seperti kebanyakan orang, sibuk dengan masalah-masalah kecil yang merupakan hasil ijtihad yang belum disepakati secara ijma oleh seluruh ulama. Alhasil, malah jadi timbul kasak-kusuk seperti yang antum utarakan.

  11. Sungguh maksud saya cuma mengungkapkan Fitnah secara khusus bagi laki-laki yang lebih berbahaya adalah Wanita.

    Dan saya tidak menyebutkan Fitnah yang terbesar bagi seorang muslim (laki-laki dan wanita). Jadi pembicaraan dan makna hadits terkhusus buat Laki-laki.

    adapun yang anda sebutkan itu benar secara umum untuk laki-laki dan wanita.

    semoga bisa dimengerti.
    __________
    Ibn Abd Muis, menjawab:
    Alhamduliullah, insyaAllah bisa sangat ana pahami. Barakallahu fiikum.

  12. Ada sebuah pertanyaan besar dalam benak saya.
    Yaitu di saat sebuah nasehat yang diberikan oleh salafy maka nasehat itu adalah sebenar-benarnya nasehat padahal saya melihat (membacanya) dengan jelas itu bukanlah nasehat cuma celaan dan hujatan belaka.
    Tetapi jikalau ada yang diluar salafy memberikan nasehat bahkan kritik dengan mengedepankan akhlak dan tidak mencaci maki, maka sedikit kritikan tersebut dianggap sebagai sebuah kedengkian, ghil, dan celaan besar serta kedustakaan. Allohuakbar.
    Saya khwatir inilah yang disebut sebenar-benarnya ta’ashub. Oleh karena itu agar kita senantaisa terlindung dari hal yang demikian, kiranya kita senantiasa melafalkan istighfar dan menaydari bahwa ktia sesungguhnya makhluk lemah, tidak perlu untuk sombong dengan banyaknya ilmu. Karena selendang kesombongan itu yang berhak memakainya adalah Allah SWT.
    Allohua’lam bishshowab.
    __________
    Ibn Abd Muis, menjawab:
    Alhamdulillah, sebenarnya masing-masing orang berhak untuk menjudge segala sesuatu sesuai nafsunya. Tinggal kita mau mengambil yang mana. Apa yang akhi katakan benar, dan sungguh ana pun sangat berhati-hati terhadap hal itu. Tapi kalaulah kita mau bersabar adalah sebaiknya kita mengambil hikmah dalam memberi penilaian mengenai article ini jangan menuruti seperti apa yang disangkakan. Justru jangan sampai menjadi kontraproduktif?

    Seandainya mau dicermati lihatlah, esensi dari orang-orang yang berada di dalam cerita ini. Ada yang sangat bijak, ada yang bijak tapi sedikit terkotori dengan emosional, tapi ada juga yang ekspresif karena menilai terlalu negatif terhadap sesuatu tanpa mau melihat hikmah dibalik apa yang terjadi. Tetapi ada juga yang terlalu positif dan mengiyakan.

    Begitu juga dengan para pembaca ceritanya, ada yang emosional, ada yang bijak, dan ada yang biasa-biasa saja.

    So, mungkin kita bisa merenungi, orang seperti apakah kita ini. Pasti salah satunya merupakan bagian dari karakter kita. Padahal yang terbaik adalah mengambil hikmah dari setiap kejadian yang kita alami.

    Btw, mengenai komentar akhi, sungguh ana sangat senang dan merupakan pandangan yang arif. Mudah-mudahan yang lainpun bisa mencermatinya dengan bijak tanpa dibarengi dengan syak wasangka buruk yang berlebihan. Barrakallahu fiikum. Wallahu musta’an.

  13. hihihihi… masalah akhwat aja jd seru jg ya akhi…
    Ana usul neh…. Antum blm nikah ya sampe skrng? Nah antum punya bbrp alternatif neh :
    1. Nikah ama akhwat tarbiyah
    2. Nikahin akhwat salafi? (bisa ga ya?, kayaknya lom ada tuh di jama’ah tarbiyah kayak or alternatif ke-3…
    3. Nikah ama akhwat tarbiyah, trus antum ta’adud, nikah lagi ama akhwat salafi. wew dijamin lebih berwarna tuh… Heboh deh kaum pergerakan Islam se-Indonesia kl kejadian kayak gini… syukur2 seh akhwat salafinya jadi ngaji tarbiyah jg. Kira2 gmn tanggapan Ikhwan salafi kalau akhwat “mereka” kita ambil?
    Hayah…. ngomong or neghayal apa seh ane
    Udah dech akh, mendingan cepet2 yg no 1 aja
    Barakallohu fiik
    __________
    Ibn Abd Muis, menjawab:
    Ana serahin ke Allah saja dech akhi, insyaAllah ana ikhlas, apapun alternatifnya… :lol:

  14. Assalamu’alaikum
    Sebelumnya ana mau bertanya apakah cerita pendek di atas merupakan kisah nyata atau hanya cerita fiksi yang dilatarbelakangi oleh fenomena menikahnya sebagaian akhowat tarbiyah dengan ikhwan salafi?
    Kalau hanya cerita fiksi maka apa gunanya, akhi? Lebih baik blog ini diisi dengan ilmu agama dari pada cerita seputar “rebutan” akhowat.
    Akhi, sekedar saran, kalaupun akhi ingin membahas masalah munakahat maka alangkah lebih bagus jika membahas masalah yang lebih bermanfaat seperti syarat-syarat nikah, bagaimana mengadakan walimah yang sesuai dengan syari’at, bagaimana membina keluarga sakinah,dsb. Dengan demikian ana berharap pembaca bisa mengambil faidah dari blog yang antum buat.
    Mengenai komentar dari akhi jundi (masya allah –semoga benar-benar menjadi tentara Allah–) yang menawarkan berbagai macam alternatif yang ana rasa cuma berangkat dari khayalan-khayalan.
    Akhi, apa sih tujuan dakwah? Apakah hanya sekedar mencari massa pengikut dan pendukung? Supaya manusia masuk kelompok kita? Kalau sekedar itu, maka tidak heran jika antum menawarkan alternatif-alternatif tersebut. Cobalah akhi, kita berpikir lebih dewasa lagi. Boleh jadi seseorang tidak lagi berada di dalam organisasi kita, boleh jadi seseorang tidak lagi berada di dalam kelompok kita. Mungkin kita kecewa karena seolah-olah dakwah kita gagal. Padahal belum tentu dakwah kita gagal, karena walaupun seseorang yang dahulunya berada satu halaqoh dengan kita kemudian sudah tidak lagi bergabung dengan kita akan tetapi agamanya masih terjaga, masih pula tetap berdakwah walaupun tidak bergabung dengan kelompok kita lantas kenapa kita mesti kecewa? Kecuali jika orientasi dakwah mencari massa pendukung maka kemungkinan kita akan merasa kecewa dan berusaha membalas sebagaimana tersirat dari alternatif nomer tiga. Nah, sebaiknya kita mengintropeksi dakwah kita apakah sudah benar-benar ikhlas karena Allah dan berusaha berdakwah agar manusia berIslam dengan benar atau sekedar banyak-banyakan massa pendukung. Cobalah antum membaca kembali sikap ustadz Azri (jika cerita ini memang kisah nyata) bagaimana sikap bijak beliau dalam permasalahan ini. Semoga kita tidak lemah hanya gara-gara akhowat. Kalau iya, perlu kita menginstropeksii keikhlasan kita masing-masing.

    Mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan.
    allahu a’lam
    __________
    Ibn Abd Muis, menjawab:
    Wa’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
    Cerita ini hanyalah fiksi dan dilatarbelakangi dengan fakta yang terjadi di lapangan. Gunanya adalah, supaya kita mau berkaca, melihat sisi buruk diri kita, yang mungkin secara tidak sadar menggunakan standar ganda yang aneh.

    Alhamdulillah, kalau antum bisa mengambil hikmah dari cerita ini, misalnya bisa menjadi seperti ustadz Azri yang bijak dan membuang sifat ekpresif dan su’udzhan yang dimiliki tokoh utama dalam cerita ini.

    Mengenai masalah akhwat, alhamdulillah, mungkin sebagian yang kebakaran jenggot benar-benar mengalaminya, sementara ana tidak ada masalah sama sekali [semoga Allah melindungiku dari ujian wanita karena saat ini ujian hartalah yang ana rasakan berat]. Cerita ini hanya untuk menampar kesadaran kita saja, yang tidak mau jujur terhadap diri sendiri, tidak lebih dari itu.

    Justru ana malah kasihan dengan komentar antum yang ini :

    “Akhi, apa sih tujuan dakwah? Apakah hanya sekedar mencari massa pengikut dan pendukung? Supaya manusia masuk kelompok kita? Kalau sekedar itu, maka tidak heran jika antum menawarkan alternatif-alternatif tersebut.”

    Kalaulah hati kita mau bersih, sungguh jauh dari sangkaan tersebut. Ana justru menanyakan diri ana, siapakah yang tahu isi hati manusia selain Allah??? Atau justru malah kita yang terkena tuduhan tersebut. Wallahu a’lam.

    Dari Abu Hurairah ra. katanya: “Rasulullah saw. bersabda: “Hindarilah kamu dari prasangka karena sesungguhnya prasangka adalah perkataan yang paling dusta, janganlah kamu mencari-cari informasi dan janganlah kamu memata-matai, janganlah kamu saling membenci dan janganlah kamu saling bermusuhan dan jadilah kamu hamba-hamba Allah yang bersaudara”.
    (HR: Bukhari)

    Ini adalah sebuah usaha yang ana lakukan untuk diri ana pribadi khususnya, agar mau jujur terhadap diri, selalu melihat kekurangan diri, introspeksi, dan berkaca selalu. Menyadari bahwa diri kita selalu penuh kekurangan dan perlu mengambil manfaat dari orang lain tanpa mau melihat, dari mana mereka berasal. Alhamdulillah, bila orang lainpun mau mengambil hikmahnya. Barakallahu fiik.

  15. Wa iyakum….

    Nah, kalau kita bisa mengatakan dan bertanya siapa yang tahu isi hati manusia selain Allah, bagaimana dengan sikap kita sendiri yang menghakimi ikhwan-ikhwan tersebut menggunakan standar ganda? Kita tidak tahu isi hati ikhwan-ikhwan tersebut. Oleh karena itu, ana berikan salah satu contoh sikap ustadz di web resmi DPW Jogja ketika ada aktivis yang mengadukan fenomena ini (ini bukan fiksi lho, akh). Sebelum memberikan jawaban, ustadz tersebut bersyukur kepada Allah karena hal ini menunjukkan hasil tarbiyah pada akhwat kita yang dipandang bagus dan ”layak petik” oleh ikhwan dari gerakan lain. Subhanallah……! Ustadz tersebut tidak mengatakan mereka (ikhwan salafi) itu sebagai orang-orang yang menerapkan standart ganda sebagaimana perkataan dan sangkaan akhi, namun beliau justru bersyukur.

    Selanjutnya ana bertanya tentang diksi (pilihan kata) yang dipakai untuk judul. Di situ tertulis “rampas”. Coba akhi, kita buka kamus Bahasa Indonesia apa definisi merampas. Setahu ana ya akh, yang namanya merampas itu bermakna mengambil dengan cara paksa. Adapun setahu ana pula bahwa ketika ada ikhwan salafi yang menikah dengan akhwat tarbiyah tidak ada yang memaksa. Iya khan? Jadi sekedar saran jangan sampai kita justru menjadi fitnah bagi dakwah ini padahal ustadz-ustadz kita–insya Allah mereka lebih ‘alim dari pada kita–tidak bersikap demikian.
    Akhi, ana mengajak diri ana pribadi dan antum sekalian mari menyibukkan diri dengan perkara-perkara yang bermanfaat dengan terus belajar, beramal, dan berdakwah sebagaimana ilmu kita dan tidak lupa disertai sikap ikhlash. Jangan sampai amal kita sia-sia karena kita tidak ikhlash.
    Kita bergembira dan bersyukur ketika manusia menerima seruan dakwah al-haq walaupun mereka tidak bersama kita, walaupun mereka tidak sezaman dengan kita, walapun mereka tidak berkumpul dengan kita.

    allahu a’lam
    __________
    Ibn Abd Muis, menjawab:
    Menarik nih… :oops: Mengenai sebutan standar ganda, maksudnya adalah mengapa pada satu masalah bersikap A sementara di masalah lain bersikap B. Inilah keunikannya. Contohnya article ana ini http://ihwansalafy.wordpress.com/2008/01/21/keanehan-prinsip-standar-ganda-yang-diterapkan-para-pengaku-aku-pengikut-salaf/ Siapapun antum ana tahu antum itu berafiliasi kemana akhi [sok tau ya :lol: ] Insyaallah, nanti setelah perkembangannya bagus, ana akan belokkan misi blog ana, toh jelas kok kemana blog ana ini ditujukan. Kalaupun akhirnya mendiskreditkan yang lain, mungkin salafy yang baik dan IM sendiri, ya maap-maap aja. Membuat semua orang senang dan ikhlas kepada kita itu memang cuma harapan yang tidak akan pernah tercapai.

    Sekarang kan sudah ada yang bijak dan ilmiyah seperti http://www.al-ikhwan.net dan http://www.perisaidakwah.com sementara yang ngaco kan belum ada. Terkadang orang perlu digebrak-gebrak dengan yang agak galak dan sindiran kasar kalau tidak bisa di sentuh dengan yang halus. Mudah-mudahan antum paham akhi.

    Mengenai kata “RAMPAS”, ini hanya judul kok, supaya lebih menarik. Banyak kan cerita-cerita yang enggak seru terlihat heboh dengan judul yang spektakuler. Maksud ana begitu. Dan ternyata banyak juga yang kebakaran jenggot. Mengenai cerita antum tentang sikap ustadz di web DPW Jogja, masukan ke ane lagi tuh. Berarti cerita fiksi yang dilatarbelakangi fakta yang ana alami ada fakta lainnya lagi yang mendukung bahwa cerita fiksi ana ini benar adanya. Thank’s ya infonya.

    Mengenai yang komplen isi blog ana, bukan cuma antum akhi, sahabat-sahabat liqa ana apalagi MR ana lebih-lebih komplen dari siapapun. Tapi dasar emang anenya yang dableg [afwan ya bang Ichan--panggilan MR ane] :lol: Mungkin mereka fikir kok isi blog ana bertolak belakang banget dengan karakter ane :roll: Insyaallah, suatu saat ana akan rubah metode penyampaiannya. Anapun sadar dampak buruknya terutama terhadap diri ane. Mungkin apa yang ana lakukan tidak disenangi Allah [loch kok nyadar :roll: ], tapi ana janji ana akan rubah cara penyampaiannya, suatu saat nanti setelah ana lihat perkembangan yang baik dari orang-orang yang cuma ngaku-aku pengikut manhaj salaf tapi kenyataannya berkarakter ekstrim dan cuma perusak saja.

    BTW thank’s ya, syukran jazakallahu khair akhi…. Barakallahu fiik.

  16. kadang ada seseorang yang keras dalam penyampaian, tetapi bukan fitnah, kadang ada orang yang lembut penyampaiannya tetapi itu fitnah. Dan yang lebih baik adalah lembut penyampainnya dan bukan fitnah, dan keras dalam membuktikan sesuatu kebenaran itu diwajibkan.

    Ketika antum sudah mengazamkan diri untuk menyebarkan dakwah, antum perlu tahu gaya dakwah antum. Dengan cara keraskah, atau dengan cara lembut. Tetapi semua yang disampaikan juga baik dan benar. Pokoknya tidak menfitnah. Karena setiap orang lebih tahu cara dakwahnya sendiri dari pada orang lain.

    Seperti halnya di salafi pun seperti itu. Ada yang keras dan ada yang lembut (tetapi suangaattt… jarang) dalam penyampaiannya. Kalau ana setiap kali ngikutin liqo’ kajian mereka ana hanya menemukan kekerasan dalam bahasa dan kata. Untuk yang lembut masih belum :D

    Walaupun ana pernah disakiti oleh ikhwan “salafi” bukan berarti semua orang “salafi” musuh ana. Tidak, tetapi lebih2 mereka hanya batu sandungan dalam menguji iman dan kesabaran ana! Dan semoga kita semua juga seperti itu

    Sesungguhnya keimanan itu hanya Allah yang mengetahui. Suatu kali ana pernah ditanya “manakah orang yang sombong itu, yang bercelana isbal tetapi tidak sombong atau yang tidak isbal tetapi merasa paling benar”

    Jawaban hanya satu. Wallahu’alam hanya Allah yang mengetahui kesombongan pada diri manusia. Jadi biarkan Allah yang menghukumi masalah hati itu.

    Dan hukum khitbah jelas! Ketika wanita sudah dikhitbah, tidaklah boleh seorang ikhwan manapun yang menancapkan tali khitbah kepada seorang akhawat tersebut. Sebelum khitbah tersebut benar-benar diputus atas musyawarah duabelah pihak. (walah kok jadi mengingatnya lagi :( hem)
    __________
    Ibn Abd Muis, menjawab:
    Masyaallah… semoga semuanya mendapat hikmah. Sabar ya…. :oops:

  17. Dan hukum khitbah jelas! Ketika wanita sudah dikhitbah, tidaklah boleh seorang ikhwan manapun yang menancapkan tali khitbah kepada seorang akhawat tersebut. Sebelum khitbah tersebut benar-benar diputus atas musyawarah duabelah pihak. (walah kok jadi mengingatnya lagi hem)
    ———————————————————————–
    |
    |
    V
    ada dalil yang bisa mendukung?
    __________
    Ibn Abd Muis, menjawab:
    Sepertinya ada orang salafy yang sangat gemar terhadap sub kajian manhaj di majlis ilmunya ni. Bukankah seharusnya sudah tahu? Kok malah nanya? Jangan-jangan kita termasuk apa yang ada dalam hadits ini :

    “Akan keluar dari ummatku nanti kaum yang muda usia dan bodoh, mereka berkata dengan kata-kata kita, mereka membaca Al-Qur’an tidak melewati tenggorokan mereka dan mereka keluar dari Islam seperti panah dari busurnya.” (HR Muttafaq ‘alaih)

    Sebaiknya kita bareng-bareng baca yang ini yuk http://ihwansalafy.wordpress.com/2007/10/11/astaghfirullah-ternyata-kitalah-neo-khawarij/ Introspeksi bareng-bareng ya…. :roll:

    Mengenai pertanyaan antum, mudah-mudahan ini bisa menjelaskan akhi:

    Dari ‘Uqbah ibn ‘Amir menuturkan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda: “Orang Mukmin adalah saudara bagi Mukmin lainnya. Oleh karena itu, seorang Mukmin tidak boleh membeli barang yang telah ditawar sebelumnya oleh saudaranya, dan tidak boleh pula meminang (seorang wanita) yang telah dipinang oleh saudaranya sampai ia membatalkan pinangannya.

    Dari Abû Hurayrah r.a. juga menuturkan bahwa Nabi saw. bersabda: “Tidak boleh seorang pria melamar seorang wanita yang telah dilamar oleh saudaranya sampai ia menikahinya atau meninggalkannya.”

    Janganlah seseorang itu meminang wanita pinangan saudaranya sehingga si peminang sebelum dia meninggalkan wanita tersebut atau diberi izin olehnya (HR Bukhari)

    Semoga bisa dipahami. Barakallahu fiik.

  18. hehehe, Alhamdulillah sudah dijawab :D .
    __________
    Ibn Abd Muis, menjawab:
    “Maksud antum pertanyaan di atas ya?” :roll: *pura-pura bingung sambil garuk-garuk kepala*

  19. Untuk Jaisy01, di/pada Januari 23rd, 2008 pada 9:56 am Dikatakan:

    ….
    _____________

    Riza berkomentar: subhanallah, komentar Anda menyejukkan saya. Syukran. :-)

  20. assalamu’ailakum……

    akh setelah baca artikel ini ana jadi inget teman yg qodarullah salafiyun juga ,dia tuh bilang ke ana mau cari akhwat dr (–sensor, karena dilarang membicarakan pemerintah, sekalipun dzalim apalagi kalau nggak dzalim :lol: — : adm) ,bahkan minta cariin ama ana, tp sampe sekarang belum ana utarakan ke teman akhwat maupun ke link lain yg ana kenal.

    akhi menurut antum gimana ?
    klo ana liat teman ana tuh ,dulunya EXTREEM juga tp sekarang agak fleksibel.bahkan dia berani makai jaket (–sensor lagi, maaf– : adm) juga(ga tau dpt dr mana) klo menurut pandangan ana sih ,dia masih tulen salahfiyun

    allahu a’lam
    __________
    Ibn Abd Muis, menjawab:
    Wa’alaikum salam warahmatullahi wabakatuh,

    Wallahi, sungguh tidak ada sedikitpun kebencian atau kedengkian dalam hati ana terhadap mereka. Justru saking cintanya, ana ingin membuat mereka lebih berhati-hati dalam bertindak dan bertingkah laku.

    Mengenai jaket atau atribut apapun, ana adalah yang paling anti menggunakannya, kecuali kalau ada moment-moment tertentu, dan itupun atas pertimbangan yang cukup panjang, hitung maslahat dan mafsadatnya, buat ana pribadi maupun orang lain.

    Mengenai pertanyaan antum tentang akhwat, sebaiknya antum tanya akhwatnya saja, beri informasi yang jelas. Insyaallah, kalau mereka berjodoh, antum juga ketiban rejeki ‘pahala’ atas pernikahan mereka. Apalagi ana bukan abi akhwatnya akhi, jadi ana nggak boleh melarang dong. Bila seandainya ana abinya, insyaAllah ana akan ijinkan. Yang penting dia benar-benar istiqamah terhadap sunnah dan bersikap hati-hati seraya penuh pertimbangan dalam menerapkan hajr, jarh, tahdzhir atau apapun bentuknya. Mereka juga saudara kita, dan ana berharap mereka benar-benar bisa menjadi saudara kita ya akhi.

    Barrakallahu fiikum.

  21. Assalamu”alaykum warahmatullahi Wabarakatuhu

    Sebaiknya kita mengukiti pendahulu kita yang shalih dari ummat ini dengan berusaha mengambil ibrah dari sesuatu yang nyata. Apakah ini termasuk dusta? Saya kira semua tau kalau cerita ini tidak benar (hanya dusta belaka). Kami minta antum mendatangkan dalil contoh dari salafus shalih yang membuat2 atau mengarang2 cerita dusta dalam rangka da’wah atau berusaha mengambil “pelajaran” dengan cara2 cerpen seperti ini?
    Jangan antum katakan ini adalah wasilah da’wah…
    Kalau seandainya itu baik, maka pasti mereka(salafus shalih) telah mendahului kita dalam mengamalkannya…
    Barakallahu fikum
    __________
    Ibn abd Muis, menjawab:
    Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh,
    Sekali lagi, ana katakan dengan perlahan bahwa cerita ini adalah fiksi yang dilatar belakangi fakta. Mengenai dugaan bahwa ini salah satu wasilah dakwah, ana pun tidak pernah menganggapnya, ini hanya usaha penyadaran yang bisa ana lakukan, agar para thalibul ilmi berhati-hati dalam bersikap terhadap orang-orang di luar jamaahnya. Wafika barakallahu.

  22. Assalamu”alaykum warahmatullahi Wabarakatuhu

    Sekedar ingin mengomentari tulisan al akh al fadhil, “Tapi kenapa mereka malah mencari akhwat tarbiyah yang jelas-jelas ahlul bid’ah menurut mereka. Ini yang ana nggak ngerti,”

    ada beberapa hal yang ingin saya komentari dari sebuah kalimat di atas:
    1. Siapakah yang antum maksud dengan “mereka”? sebenarnya saya sulit untuk memulai dari mana saya mengkritisinya? Sebab antum tidak menunjukkan rujukan yang jelas.
    2. Siapakah yang antum maksud dengan “akhwat tarbiyah”? Apakah setiap akhwat yang ikut mentoring (liqaat) disebut masuk dalam kategori yang antum sebutkan?
    3. Siapakah yang antum maksud dengan ‘ahlul bid’ah’? Apakah antum penrnah mengetahui pembahasan tentang bid’ah? apakah setiap orang yang yang melakukan bid’ah layak disebut ahlul bid’ah? Apakah seseorang yang yang memang benar2 ahlul bid’ah langsung disebutkan di depan umum bahwa mereka ahlul bid’ah?
    atau cuplikan di atas hanya sesuatu yang tidak berfaidah ?

    Menurut ana yang lemah ini, hendaknya kita lebih banyak menyibukkan diri dengan sesuatu yang bermanfaat seperti thalibul ilm daripada sibuk dengan berita yang seperti ini. Jikalau kita duduk di majelis ilmu, niscaya kita akan tau, bahwa tidak ada satu ustadz apalagi ulama yang mengatakan secara umum bahwa akhwat tarbiyah adalah ahlul bid’ah.
    Antum boleh tanya dari satu ustadz ke ustadz yang lain, dari satu tempat kajian ke tempat kajian, dari satu kota ke kota yang lain, dari daerah ke daerah yang lain. Selama dia adalah ustadz salafy ahlus sunnah, saya menjamin bahwa TIDAK ADA SATUPUN DARI MEREKA mengatakan SECARA UMUM BAHWA AKHWAT TARBIYAH ADALAH AHLUL BID’AH. Lantas kalau antum tidak mendapatkannya, lantas darimana antum mengambil kesimpulan bahwa salafiyyun mengatkan seperti ucapan antum dalam cerpen di atas?
    Tolong juga kita memperhatikan adab2 cara2 dalam mengambil berita? Berkata ulama kita ” kalu lah bukan karena sanad, maka seseorang bisa berkata demikian dan demikan (seenaknya).
    Jazakumullah……
    __________
    Ibn Abd Muis, menjawab:
    Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh,
    Kalau ustadz yang mungkin paham bagaimana maslahat dan mafsadat dalam memperlakukan ahlul bid’ah mungkin saja tidak ada tapi kalau Ustadz atau Aktivis Baru Ghirahnya yang salah persepsi pasti banyak. Dan article ini adalah salah satu buah yang timbul dari asatidz dan du’atnya yang tidak bisa mengantisipasinya. Siapa yang berani menanam ketidakhati-hatian maka harus berani memanen dampak buruknya. Sementara petani yang jujur, dia akan bertanggung jawab melakukan ishlah atas kesalahan metode tanamnya dahulu. Barakallahu fiik.

  23. “Iya, kalau Abu Zainuddin mah nggak usah diomongin. Beliau itu udah the bestnya salafy dech, beda banget. Tapi, kenapa sich, mereka mau menikahi akhwat tarbiyah? Memangnya mereka nggak punya stock akhwat apa? Kalau mereka benci manhajnya, seharusnya mereka benci akhwatnya juga dong!”, teriakku lagi sambil nahan marah.


    Kepada Pemilik Blog:
    Ini lah buktinya salafiyyun bukanlah takfiry. Salafiyyun tidak mengharamkan apa yang dihalalkan dan tidak mengahalalkan apa yang diharamkan.

    Sungguh aku bertanya: Siapakah pembunuh Gamal Abdul Nasher??
    Adakah kalian mengenal Ustadz Rasul Dahry ? Dia adalah mantan Ikhwanul Muslimin yang ikut secara rahasia merencanakan pembunuhan terhadap para petinggi/pemimpin di Asia Tenggara :Malaysia.

    Menurutku disini juga ditemukan bukti IKhwanul Muslimin sendiri memiliki”kawan” yang berfaham takfiry.
    Dan anehnya IkhwanuL mUSLIMIN di negeri kita ini dan diseluruh dunia membaurkan diri ke sejumlah golongan/ komunitas.
    Saya amat heran melihat tulisan2 dalam web ini yang mana menyatakan diri telah berdiri “diatas hujjah dalil dan akal realitas” namun TANPA RASA TAQWA KEPada Alloh telah mencaci Syaikhul Islam.
    __________
    Ibn Abd Muis, menjawab:
    :oops: Subhanallah…. :roll:

  24. Saya sedikit bingung melihat anda /Pemiliki Blog ini .
    Anda ambil artikel manapun tanpa meneliti dengan baik.
    Anda ambil tulisan2 NU yang anda sendiri tahu kondisi mereka.
    Anda sendiri tahu pimpinannya bagaimana ??Namun anda “merelakan” tulisan2 yang menyudutkan salafiyyun Ahlusunnah ditampilkan.
    Adakah anda tidak takut kepada Alloh??
    Saya katakan; Dimanakah milis anda yang tidak bercampur baur antara ikhwan dan akhwat??
    Adapun salafiyyun Alhamdulillah amat gigih memegang tali agama ini- dan sama sekali tdk sesuai dengan pernyataan anda.
    __________
    Ibn Abd Muis, menjawab:
    Subhanallah, antum terlalu terburu-buru menilai orang lain. Ana hanya menyudutkan yang ekstrim saja agar semakin jelas mana yang salaf murni dan haddadiyah. Barakallahu fiik.

  25. Silakan anda buka web salafiyyun yang terbaru :
    http://www.al-ilmu.com beserta link nya.
    Anda tidak akan dapatkan satupun gambar makhluk di dalamnya. Anda tidak akan melihat gambar seorang wanitapun di dalamnya.
    Alhamdulillah anda periksa juga website khUSUS AKHWAT
    http://www.akhwat.web.id yang mana milisnya adalah khusus bagi akhwat.
    Sungguh saya amat bangga dengan salafiyyun..mungkin mereka tidak mengenaliku namun keteguhan mereka amat mengagumkanku.
    __________
    Ibn Abd Muis, menjawab:
    Subhanallah, sebaiknya memang tidak kenal akhi, karena hati itu mudah rapuh bila mendapat pujian atau perhatian, apalagi akhwat :oops:

  26. Bagaimana dengan situs NU,situs IKhwanul Muslimin, para hizbiyyin serta para pendukung mereka yang tidak diberikan Taufiq dari Alloh untuk mencintai sunnah dan menjauhi Bid’ah??

    Dulu saya ikutan milis myquran..saya sering menjumpai isi milis yang mana tampak para anggotanya “sembarangan”
    Isi milis nya pun terkadang memuat gambar wanita .
    Padahal kita mengakui bahwa hati kita tidak ada yang selamat melainkan dengan rahmatNYa.

    Maka saya katakan :D imanakah keindahan hidup yang nyata selain dalam pangkuan “MANHAJ SALAF”???
    __________
    Ibn Abd Muis, menjawab:
    Barakallahu fiikum.

  27. Anda menyatakan di depan :Saya banyak mengambil manfaat dari mereka (salafiyyun)>

    Anda mengakuinya namun mengapa anda tidak malu mencaci Syaikhul Islam??
    Anda tidak tahu balas jasa kalo begitu>>
    __________
    Ibn Abd Muis, menjawab:
    :mrgreen: Kasihan sekali antum akhi….

  28. Saya tanyakan pada Anda adakah anda mengetahui seorang alim salafy yang melabeli pentolan IM,Jama’ah Tabligh atau kelompok2 hizbi lain dengan gelar “LA’NATULLOHI ‘ALAIHI” ??
    adakah?? Mana ??
    Anda juga harus tahu bahwa Syaikhul Islam adalah gurunya Ibnu Qayyim. Dan Muhammad Al-Ghazali memperoleh gelar DR. nya dengan disertasi “Manhaj Tarbiyah Ibnu Qayyim”.
    Bagaimana kira2 posisi anda ??
    Saya lihat anda kurang berakal mencantumkan artikel sekeji itu.
    __________
    Ibn Abd Muis, menjawab:
    Ya akhi, tunjukanlah bukti kalau ana menyandangkan gelar “La’natullahi ‘Alaihi”, antum baru baca sebagian blog ana, dan langsung menuduh, apakah seperti itu tabiat dari sebagian antum akhi? Lihatlah article ana yang ini akhi http://ihwansalafy.wordpress.com/2007/10/27/pandanganku-terhadap-kesesatan-ibnu-taimiyah/ blog ana justru berusaha mengungkap orang-orang yang suka menghujat ulama baik dari luar salafy maupun dari salafy sendiri. Barakallahu fiik.

  29. Setiap kali menyimak debat antara salafiyyun dan selainnya, selalu kurasakan jelas dan kuatnya hujjah/dalil para salafiyyun. Akibatnya, mereka memang terkesan gigih, tegas (bagi lawan debat bisa bermakna keras, kaku). Bahkan dalam masalah-masalah yang “lembut” masih juga sangat terasa ketegasannya.

    Setiap kali menyimak debat antara salafiyyun dan selainnya (bermacam-macam), sering kurasakan “kepiwaian” nonsalafiyyun mengolah kata (maaf, saya tidak berani mengatakan “mengolah dalil”). Akibatnya, mereka kadang begitu gigih dan tegas, kadang terkesan muter-muter, dan kesimpulannya jadi rumit (setidaknya bagi saya).

    Itu kesimpulan saya saat ini. Saya baru mulai belajar memantapkan Islam ke dalam diri. Saya sangat berharap berada di golongan yang benar. Semoga Allah menolong saya dan dan menolong Bapak-bapak/saudara-saudara yang berdebat untuk menetapi kebenaran.
    __________
    Ibn Abd Muis, menjawab:
    Kalau antum meyakini bahwa itu adalah kebenaran yang mutlak maka tetapilah ia. Sesungguhnya berbeda antara orang yang taklid dan orang yang mau berfikir.

    “Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui tentang orang yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui tentang orang-orang yang mendapat petunjuk.”(QS. 006:117)

    (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).” (QS. 003:008)

    Semoga antum terlindungi dari fitnah kerancuan para ekstrim haddadiyah. Barakallahu fiikum.

  30. Assalammu’alaikum,
    Ya akhi sungguh cerpen ini bagus, tetapi sesungguhnya Islam itu rahmatan lil ‘alamin. Perbedaan manhaj (jalan) tidak akan mempengaruhi takdir Allah tentang pernikahan. Semoga Islam Jaya Sampai Akhir Zaman

    Wa’alaikum salam,
    Ana setuju akhi, mudah-mudahan cerpen ini bisa sedikit merubah sikap ghuluw kita. Barakallahu fiikum.

  31. Emang Salafy-un…… (—sensor—)…….
    kita2 yang pada tarbiyah di bilang Murtad… fiii naarr………..
    eh… gak taunya pada ngincar akhwat tarbiyah……

  32. Dari Abdullah bin ‘Amir Radhiyallahu ‘Anhu ia berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

    “Sesungguhnya Bani Isra-il telah berpecah belah menjadi 72 golongan, dan umatku akan berpecah belah menjadi 73 golongan. Mereka semua di neraka kecuali satu golongan”. Para shahabat bertanya: Siapakah golongan (yang selamat) itu, Wahai Rasulullah? Beliau menjawab: Apa yang aku dan para shahabatku ada di atasnya”.

  33. ana katakan dengan sesungguhnya bahwa blog ini merupakan contoh dari orang2 yang mengaku salafy..pake nama “ihwansalafy” lgi tpi…tulisan2 artikel2nya sok nyalaf dari salafy……(hizbiyyun berkedok salafiyyun)
    wahai saudaraku salafiyyun….inilah contoh nyata blog dari seorang “sururiyyah”.
    barokallahu fiik..

    Teramat banyak orang yang menuduh tanpa bukti dan langsung memberikan kesimpulan. Dan ana tidak perlu marah atas tuduhan tersebut. Ana hanya ingin memberikan masukan, kalaulah isi blog ini bermanfaat maka telitilah kebenarannya. Jika memang tidak bermanfaat maka tinggalkanlah. Jazakallahu khair akhi.

  34. waah.. ceritanya seru jg, ana alumni LIPIA 2005, ust.azrinya tahun brp ya…?
    tapi akhi,, tdk semua ikhwah di LIPIA cpat2 nikahnya, ada jg beberapa ikhwah yg selesai kuliah br nikah, namanya jodoh..
    ane sih nikahnya semester 6…

    Ibn Abd Muis, menjawab :
    Dosen ana saat di Mahad yang lulusan LIPIA benar-benar 19 tahun loch saat menikah… :lol: Sekali lagi ini hanya cerita fiksi yang dilatarbelakangi dengan kejadian nyata. Semoga dapat diambil hikmahnya.Barakallahu fiikum.

  35. assalamu’alaikum.
    kalo aku, nikah umur 26 trus sekarang anakku 6…istri baru 1, umur sekarang 37 tahun, itung-itung….11 tahun dapet 6, jadi tiap tahun punya anak berapa yach…..alhamdulillah….
    kalo soal kuliah, gak pernah sich….. cuma lulus smp tahun 85 dulu, trus kerja aja…. otak udang kali yach ….alhamdulillah…. udang juga dikasih rejeki ama Allah….nggak pernah kelaparan, apalagi kita-kita ya….jadi ngapain takut nikah…???

    Ibn Abd Muis, menjawab :
    Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh,
    Terimakasih pak Habib. Subhanallah ya, hebat banget. Saya jadi semakin terinspirasi nih. Memang benar, ketika keyakinan akan Allah menghujam dibarengi dengan keikhlasan dan ikhtiar yang kuat segalanya bisa dilewati. Tapi kalau saya masih belum ni pak. Tapi insyaAllah, sudah saya niatkan akhir tahun ini, semoga dimudahkan jalannya. Maksudnya rencana saya dan ridha Allah bisa sejalan. :o op:

  36. ee’eh salah ngeklik jadinya terpotong……he..he…he…
    soal salafiy ato tarbiyah ni…..sithik ae yo….
    kenapa juga si…kok pada sibuk soal nama dan kelompok, juga manhaj….ato madzhab sekalian…… entek umur gak rampung-rampung yo….. gini aja gimana kalo kita-kita ngeliat diri sendiri aja dulu, udah cocok dengan nabi pa lum? udah cocok berapa persen kita? trus emangnya kita ada sisa waktu apa kok sempet-sempetnya saling serang antara muslimin. wong mo ngikuti nabi aja nggak bakalan cukup waktu kita ini…..
    corry…omongya kakehan……

    Ibn Abd Muis, menjawab :
    Nggak apa-apa pak. Saya juga sangat setuju dengan bapak. Sebelumnya saya ngeri melihat kelakuan orang-orang yang menghujat Ibnu Taimiyah, Syaikh Abdul Wahab dll. Nah pas saya lihat orang-orang yang mengaku sebagai salafi kok juga melakukan hal yang sama seperti mereka dengan menghujat Syaikh Yusuf Qaradhawi, Sayyid Quthub, Hasan al-Banna dan lain-lain. Nah pas saya cek lagi kebelakang ternyata memang banyak orang-orang dari jaman dahulu sampai sekarang melakukan hal yang sama yaitu menghujat ulama-ulama. Makanya saya jadi kebawa-bawa. Tapi insyaAllah niatnya cuma satu pak. Hentikan penghujatan terhadap ulama jika tidak mau ulama yang dikaguminya dihujat juga. Salam pak, terima kasih kunjungannya. Semoga ukhuwah islamiyah bisa terwujud

  37. Perbaiki Niat.. untuk apa si kita nikah? bila niat sudah betul perbaiki planning nya, kalo ane sindiri ga usah tunggu punya rumah.. kita butuh generasi penerus yang kuat.. islamnya.
    Yang terpenting jangan anggap nikah itu tambah beban dan tambah masalah..
    Nikah salah satu kunci rijki. jadi siapa takut

    Ibn Abd Muis, menjawab :
    Hihihi.. jadi malu nih…. :oops: soalnya ana masih menjomblo. Insyaallah, akhir tahun ini planingnya dan semoga rencana ana diridhai-Nya. Do’ain ya… Barakallahu fiikum.

  38. Ehm, Ada yang ngingetin tuh! :D

    “Ibn Abd Muis, menjawab :
    Hihihi.. jadi malu nih…. soalnya ana masih menjomblo. Insyaallah, akhir tahun ini planingnya dan semoga rencana ana diridhai-Nya. Do’ain ya… Barakallahu fiikum.”

    Hehehe, planning kok terus :D

    Ibn Abd Muis, menjawab :
    Hush… jangan diomongin doong.. :oops: Tapi insyaAllah, ana serius nih… soalnya kreditannya sudah lunas ni…. hehehe…. :lol:

  39. pesen akhwat tarbiyah satu ya, biar ana konversi ke salafy :P

    Ibn Abd Muis, menjawab :
    Kaaaasiih daaaaaach… tapi ana pesen juga dunk dari antum, biar bisa sama-sama konversi… :lol: Maksud loch :mrgreen:

  40. mas2 ana jualan LPG 3kg nih konversi minyak tanah

    Ibn Abd Muis, menjawab:
    Tapi bukan jatah rakyat kan?? :roll: Kalau isi ulang Rp 15.000,- Tapi kalau beli baru berapa? Ada yang dibawah Rp 100.000,- nggak? Kalau ada mau dunk!! :lol:

  41. yooo maklum aja, klo mungkin akhwat tarbiyyah lebih milih ikhwan salafy,bukan karena ikhwan tarbiyah terlalu idealis atau terlalu sibuk tapi mungkin kualitas ikhwa salafy memang lebih baik,Gitooo………

    Yang benar, karena ikhwan tarbiyah itu 1 banding 10 mas, maklum akhwatnya militan banget jadi pertumbuhannya lebih cepat dibandingkan ikhwan. Dan mungkin karena nggak semua akhwat mau dipoligami. Tapi insyaAllah, kalau akhwat tarbiyahnya idealis, sabar dan istiqamah, pasti mereka lebih memilih untuk sabar dan berharap ada ikhwan tarbiyah yang mau menerima apa adanya. Dan kalau ada yang mau menikah dengan ikhwan di luar tarbiyah, kemungkinannya karena mereka tidak idealis, kurang sabar, dan tidak istiqamah, atau paling-paling memiliki karakter seperti ikhwan-ikhwan tarbiyah yang hijrah dan belum rampung tarbiyahnya kali… Mungkin loch ya… :oops: Afwan untuk yang tidak istiqamah jangan tersinggung…

  42. whehehe …. ternyata bisa ngelucu juga :) )

    Terkadang idealisme itu harus berbenturan dengan realitas mas. Selama masih dalam taraf wajar alias tidak menyalahi syariat so what ghitu loch…

    Sebenernya, diantara kami klo ada ikhwan salafy yg menikah dg akhwat yg berbeda manhaj, itu dianggap sbg perilaku yg “deviant” (menyimpang)…

    Sama mas, kita juga dari dulu begitu, cuma tingkat keistiqamahanlah yang membuat ukuran idealis itu berubah, biasalah berbenturan, kebanyakan ikhwan-ikhwan kita itu memang perfeksionis maklum 1 banding 10, jadi banyak yang nggak sabar dan akhirnya jadi begitu, sayang saja mereka belum menemukan saya… :mrgreen:

    Klo antum tanya ke ustadz, apakah sebaiknya menikah dg akhwat salafiyyah atw akhwat “lain”? walaupun dg niatan utk mendidiknya mjd akhwat salafiyyah, ustadz dg serta merta akan menjawab bahwa hendaknya ikhwan salafy menikahi akhwat salafiyyah, insya Allah ini ana pernah dengar langsung dari ustadz ana …

    Itu yang disebut dengan ukuran idealis mas, kenyataannya kan nggak semuanya seperti itu dan ini realita…

    Tapi toh klo ada kejadian spt itu, ikhwan salafy menikahi akhwat IM, atau sebaliknya, ana rasa itu manusiawi sekali, toh jodoh itu urusan ghaib Allah, klo Allah dah takdirkan jodohnya dg akhwat IM, ya sudah, mau diapakan … ?

    Setuju dan sesuaikan dengan cerita di atas?!!

    Sebenernya klo temen2 si ikhwan gak mw datang, pasti ada alasan tertentu, ana rasa alasannya adalah krn pernikahan itu tidak Islami, atau tidak sebagaimana idealnya pernikahan menurut salafy, ikhwan salafy itu kan strict bgt klo urusan syariat, gak spt org laen yg al-pramuki spt yg antum sebutkan, tapi klo pernikahannya Islami dan mengundang orang2 umum atwpun berbeda manhaj, ana rasa mereka akan ikut membantu pernikahan temennya itu, ana punya pengalaman sendiri ttg ini, ikhwan yg menikah scr Islami (semua temennya datang), dan ikhwan yg menikah dg adat jawa (hanya ana yg datang). … hehe …

    Kalau alasannya karena nggak islami berdasar latar belakang cerita di atas, justru ana mau tanya ke antum, yang islami banget itu seperti apa akhi?? Alhamdulillah, pernikahan akhwat ana itu menggunakan hijab dan memisahkan tamu wanita dan lelaki, sampai-sampai kita dibilang Wahabi yang sok keArab-Araban oleh masyarakat sekitar kita? Mungkin ada alasan lainnya kali… misalnya nggak mau berkumpul dengan ahlul bid’ah (meski baru tuduhan buta), dan kenyataannya yang amah mungkin lebih parah dari kita khan??

    Tapi kalau alasannya karena ukuran idealis, ana pikir antum telah melanggar ukuran idealis tersebut karena mau datang ke pernikahan dengan adat jawa. Dan itu juga terserah masing-masing orang khan???…. Kita tunggu aja keidealisan yang sempurna tersebut dech… wallahu musta’an.

    Oh ya afwan ya… ana terpaksa hapus url antum karena antum telah melakukan hal tersebut duluan. Sama seperti ikhwah-ikhwah salafy yang lain. Tapi ana apreciate karena antum mau nampilin komentar ana, biasanya sahabat-sahabat antum itu selalu mereject komentar ana loch… meski komentarnya berupa dukungan atau hanya berisi kutipan ayat-ayat al-qur’an dan hadits shahih. Afwan…. :oops:

  43. Klo akhwat tarbiyyah dianggap tidak idealis sehingga dia menikahi orang yg diluar manhaj mereka,
    ana rasa antum memaksakan konsep ideal menurut antum pada akhwat2 antum sendiri,

    Memaksakan konsep idealis??? Coba antum baca lagi jawaban ana yang lalu,
    “Terkadang idealisme itu harus berbenturan dengan realitas mas. Selama masih dalam taraf wajar alias tidak menyalahi syariat so what ghitu loch…” Mudah-mudahan bisa dipahami

    sedangkan tingkatan2 ideal itu sendiri ana tidak pernah temui dalam ajaran Islam, kecuali dari ajaran tarbiyah sendiri, apa ya namanya… ? muwashshaffat atau apa gitu, antum yg lebih tau … bukankah itu termasuk menggolong2kan keimanan ikhwah tarbiyah??? duh, seperti sufi aja, ada tingkatan syariat, haqiqat, ma’rifat …

    untuk yang ini ana nggak mau memperpanjang dech, soalnya sudut pandangnya sudah beda. POKOKNYA KALO UDAH SUFI, SESAT!!! Dan ana tidak punya paradigma seperti itu. Apa lagi antum tambahin pertanyaan “APA YA NAMANYA..?” Ini menurut ana sebagai bentuk ketidaktahuan. Sekarang antum renungkan: Apakah menggolong-golongkan keimanan itu SAMA dengan menggolong-golongkan keidealisan??? Apakah arti KEIMANAN SAMA dengan KEIDEALISAN??? Nggak perlu dijawab akhi, direnungkan saja

    Klo yg cari2 ikhwan salafy itu akhwat tarbiyah yg kurang istiqamah, hmm …. apa iya ya, apa temen ana yg jabatannya selangit itu masih kurang istiqamah tarbiyahnya, ana jadi berpikir ketika membaca tulisan antum, ya udah deh, klo ada waktu ana akan tunjukin artikel antum ini dan memintanya utk kasih komentar …

    Inilah yang ana katakan sebagai “Terkadang idealisme itu selalu berbenturan/tidak sejalan dengan realitas.” Alasannya banyak, dan selalu ana sebutkan dengan menggunakan kata MUNGKIN KARENA jadi alasannya tidak mutlak. Kalau mengenai ketidakistiqamahan, insyaAllah semua pejuang-pejuang harakah sejati pasti bisa paham isi dari bukunya Fatih Yakan berjudul “Yang Berjatuhan di Jalan Dakwah”. Kalau si pembacanya mau jujur introspeksi, inyaAllah dia akan tersindir telak. Wallahu musta’an.

    Klo ana datang ke acara temen ana yg menikah dg adat jawa, itu karena ana punya pandangan sendiri ttg itu, walaupun ana dianggap “aneh” oleh temen2 ana sendiri, pada kenyataannya, ana menemuinya di luar rumahnya, hanya duduk2 sebentar, menghadiahi dia kitab ttg rumah tangga, setelah itu ana pulang … dan ikhwan temen ana ini paham kenapa ana begitu … hiks2… jgn buru2 berstatemen… OK …

    Ana kutip lagi pernyataan ana “Selama masih dalam taraf wajar alias tidak menyalahi syariat so what ghitu loch…” Disinilah letak perbedaan keidealisan seseorang. Ana yakin tidak semua orang dalam satu jama’ah memiliki keidealisan yang sama. Contoh : Ada orang yang pokoknya tahdzir kalau terindikasi keliru. Tapi ada juga orang yang hati-hati dalam menerapkan tahdzir. Begitu juga dengan kasus menghadiri pernikahan teman. Ada yang POKOKNYA GUA KAGAK MAU DATANG LANTARAN PAKE ADAT TIDAK ISLAMI. Tapi ada juga yang berpikiran seperti antum “Klo ana datang ke acara temen ana yg menikah dg adat jawa, itu karena ana punya pandangan sendiri ttg itu, walaupun ana dianggap “aneh” oleh temen2 ana sendiri”. Dan mungkin saja, orang-orang yang mulanya SAKLEK nggak mau datang ke acara bukan islami, suatu saat nanti, dengan ijin Allah, bisa saja dia menikah dengan cara yang tidak Islami. Kita tidak tahu takdir Allah khan? Sekalipun harapan kita adalah KEIDEALISAN SEMPURNA. Mudah-mudahan bisa dipahami. Wallahu musta’an.

    Itu terserah antum mau menghapus alamat blog ana or gak, nggak masalah, ana rasa itu balasan yg adil, ttg temen2 ana yg biasa nggak meng-approve komen antum, Allahu a’lam, toh ana gak seperti mereka …

    Alhamdulillah sepertinya untuk masalah ini, kita punya kesamaan paradigma. Memang sebaiknya kita tidak perlu memikirkan pandangan orang terhadap kita, tapi sebaiknya kita pikirkan pandangan kita terhadap orang. Karena sesungguhnya KITA MEMANG TIDAK SEPERTI MEREKA/ORANG LAIN. Barakallahu fiikum. Jazakallahu khair karena sudah mau berkunjung.

  44. Wah, rasanya menyenangkan sekali diskusi dengan antum, apalagi antum sepertinya orang2 yg punya sisi logis, rasional, dan filosofis, tapi Islami … whahahaha …. ana sangat bersemangat …

    Saya selalu menanggapi pandangan orang itu dengan dua paradigma loch mas! Berusaha untuk selalu husnudzhan tapi juga berhati-hati dengan tidak meninggalkan sisi kemanusiaan manusia. Khawatir nanti sudah ge’er eh ternyata maksudnya malah beda? Tepatnya, sejujurnya saya tidak mengerti maksud ucapan anda di atas dengan pasti, jadi ambil positifnya aja dech meski mungkin aja ada maksud lain dari pernyataan tersebut hihihi.. :lol:

    Mungkin laen waktu sepertinya antum perlu ana kenalkan pada diri ana yg laen, Rengga si (calon) sosiolog, yg banyak bergelut dan tenggelam oleh olah pemikiran serta rasionalitas, tapi anehnya dia ini tetep jadi salafy… kok bisa yah .. ??? :D … sampai saat ini si Rengga memakai paradigma Post-Modern, yang banyak terpengaruh oleh pemikirannya Jacques Derrida, Jacques Lakan, Antonio Gramsci, dan tentu saja Neo-Marxisnya Jurgen Habermas …

    Huabat dunk!!! Kalau saya tetap menjadi diri sendiri aja ach…. Nggak neko-neko, berusaha menjadi muslim taat dan berhati-hati kalau sudah urusan syariat dengan tetap berprinsip berusaha berjalan sesuai realitas tanpa menghilangkan idelisme saya terhadap Islam. Kalau mengenai nama-nama yang mas Abu Umar or Rengga or whatever dech sebutkan. Saya nggak kenal apalagi baca karya-karyanya. Sepertinya saya belum tertarik untuk saat ini mempelajari sesuatu yang berhubungan dengan keyakinan dan bersumber bukan dari negeri asalnya Timur Tengah khususnya Arab Saudi dan Mesir. Tapi kalau hanya sekedar urusan duniawi seperti bagaimana memotivasi diri sendiri dan orang lain nggak masalah sich. Pokoknya saya nggak mau seperti JIL yang belajar agama dari barat. Ghila kale ye gue… :mrgreen:

    Yah, sekarang dia lagi sibuk tugas kuliahnya nih, lain waktu insya Allah ana suruh dia komen di tulisan2 antum, klo dia berbuat sesuatu yg tidak mengenakkan, silahkan laporkan aja pada Abu Umar … hhehehe… :) ) … sampe saat ini dia masih nurut ma Abu Umar ….

    Bingung yah… ah nggak kan … ana yakin antum paham tulisan ana diatas … kan antum orangnya hidup diantara hujjah dalil, akal, dan realitas …

    I’m burned ……. !!! =)) ;)

    Abu Umar dan Rengga beda orang??? Kayanya yang LIER dirimu dech mas?? Suwer!!! :mrgreen: Thank U… Thank U… Thank U….. Capeck dech….. [sambil pegang jidat dengan punggung tangan]

  45. Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

    Alhamdulillah ana mendapatkan secercah manfaat dari blog antum ini. Semoga antum medapat balasan kebaikan dunia dan akhirat dari Allah.
    Tulisan ini memang berdasarkan realitas yg terjadi dan ana menjumpainya, masih sepupu jauh. Sepupu ana seorang ikhwan ’salafy’ menikahi seorang akhwat ‘tarbiyah’ (hmm, walaupun sebetulnya ana krg setuju kalo umat muslim dikotak2kan) yg potensinya subhanallah banget . Tapi ya itu tadi, setelah menikah akhwat tsb gak aktif lagi. Kesannya menghilang gitu. Mau nanya ikhwan (sepupu ana tsb) ttg alasan tdk dibolehkannya beraktivitas di luar rumah tp ana sungkan. Yach ana memang sudah seharusnya berkhusnudzon aja atas keputusan mereka :) dan tetap menjaga silaturrahim.
    Tapi kalau boleh ana memberi saran, alangkah baiknya jika ikhwan2 tarbiyah yang sudah mampu segeralah menikah. Banyak akhwat yg sudah siap menikah sementara ikhwannya… (*tanda tanya*). Jumlah form ikhwan dan form akhwat yg dikumpulkan, satu banding berapaaaa gituuu…. he hehe. Ada sahabat yang pernah ngasi tau,”ketakutan seorang wanita adalah tidak menikah alias perawan tua, sedangkan ketakutan seorang laki2 adalah jika tidak mendapatkan pekerjaan”. Wallahua’lam. Oia, jika ada yg suka membaca e-book2 islami silakan kunjungi perpustakaan digital ana di: http://www.scribd.com/people/view/607812

    Wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

  46. Bener-bener Blog Goblog…

    Ibn Abd Muis, menjawab:
    Terima kasih mas. Semoga Allah memberkahi anda dan keluarga.

  47. hmmm lagi-lagi perempuan yang dijadikan obyek tulisan…..

    Begitulah, memang selalu ada yang menarik untuk didiskusikan mungkin??.. :roll:

    Dan perempuan selalu berada dalam posisi “dipilih”, “dilamar”, “dikhitbah” dan posisi-posisi lain yang sengaja dikondisikan pasif.

    Nggak juga dech, mungkin karena tabiat negeri kita dan keumuman dunia itu seperti ini, jadi sepertinya normalnya adalah terlihat seperti itu… :lol:

    Memangnya keliru ya kalau perempuan bertindak sebaliknya, aktif “melamar”, “memilih’ dan “mengkhitbah” laki-laki?

    Saya ingin tahu pendapat dirimu mengenai ini….

    Keliru??? :roll: Saya pikir itu tergantung cara pandang kita. Untuk kasus wanita bersikap aktif dalam memilih, menurut saya wajar-wajar saja bahkan sangat wajar dan harus! Kalau saya jadi wanita, tidak akan saya relakan diri ini menerima pasangan hidup yang misalnya tidak seakidah atau telah terkenal kebejatannya. Tapi kalau telah terjamin akhlak, agama, dan lain-lainnya baik, saya sangat senang loch bila bisa bersikap menerima dengan lapang dada.

    Sementara untuk kasus wanita aktif dalam ‘melamar’ atau ‘mengkhitbah’….. eeiiiith…. tunggu dulu. Musti dilihat realitanya dulu. Mungkin kalau budaya/kebiasaan masyarakat tempat kita tinggal memang seperti itu, ini hal yang wajar. Tapi kalau tidak??? Mungkin ini hal yang sangat aneh dan nyeleneh karena diluar kebiasaan. Tapi bila seandainya kita mau berkaca kepada apa yang dialami Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam atas lamaran Khadijah, itu nggak aneh khan? Tergantung sudut pandang mba, kalau wanita bisa senang dengan aktif ‘melamar’ pria, perduli apa dengan dengan orang lain. Tapi kalo kita tidak mau menanggung resiko mendengan ‘pandangan negatif’ dari masyarakat disekitar kita, ya jalankan sesuai dengan kebiasaan masyarakat umumnya toh.

    Tapi kalau mba tanya, apakah saya mau dilamar duluan oleh wanita? Hihihi… sepertinya saya tidak mau mba! Bisa hilang izzah saya sebagai calon kepala rumah tangga. Kemungkinannya saya akan menolak lamaran wanita tersebut atau paling tidak… kasarnya seandainya saya juga tertarik dengan dia…. :oops: dan saya tahu gelagatnya bahwa dia naksir saya dengan ke’charming’an dan pesona yang saya miliki [narsis banget ya?] tidak akan saya biarkan dia mendahului saya dalam melamar…. hihihi…. kok jadi lucu ya… :lol: :mrgreen:

  48. yang saya tanyakan, apakah keliru kalau perempuan melamar laki-laki?

    Ibn Abd Muis, menjawab:
    Sudah dijawab di atas. Enggak keliru kok. Tergantung sudut pandangnya. Saya sich asyik-asyik aja tuch…. InsyaAllah, saya akan berusaha memahami mengapa mba mau menjadi wanita aktif yang melamar pria…. Tapi bukan karena nggak laku khan??? :mrgreen: Semprul!!! Astaghfirullah!! maaf, kelepasan…. :oops: ….wushhh….. [kabur ambil jurus langkah kaki seribu..]

  49. soal perempuan melamar laki-laki? saya pernah ngalamin kok, coba liat di sini tapi memang sih di kalangan sahabat dulu, para ortu yang mencarikan jodoh untuk anak gadisnya….

    Ibn Abd Muis, menjawab:
    Hihihi… pasti mas Habib charming banget kali ya..??? :roll: Sampai wanita kepincut banget dan ingin melamar mas… :oops: Kalau memang kejadiannya seperti itu [wanita melamar lelaki : adm] ya sudah…yang pentingkan gayung bersambut, jadi si wanita nggak merasa malu gara-gara ditolak…. Kan kasihan….. tapi ya resiko sendiri lach…. :roll: memang aneh dunia ini….

  50. hmmmm…. ya sebenarnya wondering aja, kenapa kok yang terjadi itu lelaki yang melamar perempuan, kenapa gak bisa sebaliknya sih? Mengenai pandangan masyarakat? memang ada ya yang tidak setuju dengan ‘perempuan juga bisa melamar laki-laki’?

    kalo saya sih, setuju-setuju saja. Perkara diterima atau ditolak, itu urusan nanti….. *halah….. *

    Ibn Abd Muis, menjawab:
    Loch!!! Kan kenyataannya telah ada??… :roll: Seorang wanita melamar lelaki!! Cuex ajha lagi…. :lol: Apa lagi kalau sudah siap tanggung resikonya…. hihihi… kalau aku sich kasian ajha dan nggak tega kalau melihat mba Hilda menangis semalaman dan meratapi penyesalan seumur hidupmu lantaran lamarannya ditolak… hihihi…. :lol: Tapi kayaknya nggak akan sampe segitu dech… soalnya ada Alexnya…. [maksod lo... :mrgreen: ]

  51. bokap maxud lo? :)

    Ibn Abd Muis, menjawab:
    Loch..loch..loch… nama bokapnya??? :roll: Sorry!! Sorry!! Sorry!!! Maaf!! Ampun!! Maaf ya pak!! Nggak lagi-lagi dech!!! Sorry ya mba!! Jangan diaduin!!! … :mrgreen: [clingak-clinguk... kabuuuuur.....]

  52. eh……….coba liat…..
    kayaknya tema bubrah eh berubah ni, tadinya yg di judul itu, sekarang jadi perempuan nglamar laki2.
    trus…
    kayaknya juga mas Ibn dan mbak Hilda jadi tambah akrab ya….
    siapin panitia aja…..

    Ibn Abd Muis, menjawab:
    Aduh mas, jangan githu dunk…. jaji mayu nyi…. :mrgreen: Nanti mba Hildanya nggak mau main kemari lagi loch??… :roll:

  53. @habib
    hmmmm….

    Pak Ibnu seh emang dari awal saya berkunjung ke blognya selalu menyambut dengan hangat :) dan akrab :)

    Ibn Abd Muis, menjawab:
    Sudah seharusnya tamu yang datang baik-baik dan niat yang ikhlas disambut dengan hangat dan akrab khan?? :roll: apalagi kalau wanita…Tapi kalau datangnya bawa golok! marah-marah! plus bawa obor untuk bakar rumah dan pengunjung lain yang sedang menikmati hidangan di rumah saya… sepertinya wajar dan sah-sah saja kalau saya bogem! Usir dan membiarkan pengunjung lain bantuin saya ngelempar tamu tersebut apalagi tidak pernah diundang secara formal hihihi…. :oops:

  54. kenapa bisa hangat dan akrab? menurut beliau seh, kami punya kesamaan :)

    *halah….. kabuuuuuuuuuuur sebelum ditimpuk*

    Ibn Abd Muis, menjawab:
    Aduh…. please dunk…. jangan buka-buka cerita lalu… nanti kalau temen-temen aku lihat bisa malu nih…. :oops: WOY!! WOY!! BERHENTI!!! #Celingak-celinguk cari benda untuk nimpuk# :mrgreen:

  55. hatrixxx neh….

    bisa dilihat tanggapan beliau atas komentar-komentar saya di tulisan-tulisan lama… yang sayangnya telah beliau edit secara sepihak xixixixixi…..

    *terbirit-birit dan tunggang langgang setelah berguling2 ….*

    Ibn Abd Muis, menjawab:
    Astaghfirullah…. kok diungkit-ungkit sih mba?? Aku ini memang sedikit rada usil terutama dengan temen-temen yang sudah kelewat akrab, tapi insyaAllah aku bisa jaga diri aku kok!! Alasan kenapa aku edit adalah karena aku narsis banget dan kelewat charming…makanya sok jual mahal…. hehehe :mrgreen: [jadi inget si joesat ni..... :roll: ]

    Afwan ya ustadz, maklum temenku ini rada-rada…. :lol: Jadi kelewatan dech…. biasanya aku pemalu banget loch…. :oops:

    “Maksud lo?!! :roll: Rada-rada…. apa??? :roll: :evil: ” [berusaha membaca pikiran mba Hilda]

  56. hehehe
    tenang aja Pak… saya cuma becanda kok…. eh tapi beneran juga gak dilarang kan?

    *xixixixixi….. ditimpuk pake mahar…. halah mimpi kali yeee*

    *maap Pak, becanda kok, swear deh*

    Ibn Abd Muis, menjawab:
    [pose malu on :oops: :oops: :oops: ]

  57. afwan, ana pengen ngasih tanggapan ttg masalah ini..

    kenapa akhwat tarbiyah lebih memilih ikhwan salafi dari pada ikhwan tarbiyah. itu dikarenakan mereka mengetahui sosok ikhwan tarbiyah itu seperti apa. dan jelas hal itu membuktikan bahwa ikhwan salafi itu lebih baik dari ikhwan tarbiyah. bukannya ikhwan tarbiyah yg sok perfeksionis, tapi emang gitu kenyataannya bahwa ikhwan tarbiyah itu jauh banget jika dibandingkan dg ikhwan salafi yg dalam ilmunya.

    hal ini dapat antum lakukan survey kepada akhwat2 tarbiyah. bila perlu antum kasih kuisioner kepada akhwat2 tarbiyah, mana yg mereka pilih sebagai pendamping hidup ikhwan tarbiyah kah ato ikhwan salafi kah…????

    coba yah, udah gitu kasih tahu kita2….hiiiihhhiiiii….

    klo untuk masalah wanita melamar pria, hal itu diperbolehkan. apalagi wanita itu melamar laki2 yg sholeh. hal ini bukanlah sebuah celaan bagi wanita yg menyerahkan dirinya untuk dinikahi oleh laki2 yg sholeh, bahkan ini merupakan kemuliaan bagi wanita tersebut. hal ini seperti khadijah yg melamar rosulullah SAW dan seperti ada seorang sahabiyah yg melamar rosulullah SAW..

    Ibn Abd Muis, menjawab:
    Enggak perlu minta maaf mas. Lagian itukan pandangan anda menurut paradigma anda. Apalagi anda bukan orang yang tahu karakter dari mereka secara detail. Jadi ya terserah mas saja mau bilang apa. InsyaAllah saya tidak mau terlibat dengan perasaan mas yang wallahu’alam hanya Allah dan mas sendiri yang tahu. Toch jawabannya juga sudah ada di atas. Barakallahu fiikum.

  58. Waduh kok saya terus yang mampir. Gantian dong. Untuk mbak Hilda yang ketimpuk pake mahar, tolooooog mampir ke sini
    Kalo bicara jodoh. Jodoh ni ye…….
    Itu kan termasuk perkara Allah. Kita nggak tahu kan siapa jodoh kita. Soal siapa lebih baik dari siapa, kita lihat saja atsarnya. Apakah dia menjalani dien ini dengan benar? Lurus? Kita diganjar karena amalan kita. Pun kita di adzab karena dosa kita. Jadi ya… kita lihat diri kita sendiri saja lah. Tak usah merasa lebih baik dari yang lainnya. Tuuba li man sagholathu ‘aibuhu min ‘uyuubin naasi. Ya kan.
    Main yuk ke sini
    Orang itu kadang membatasi kebaikannya sendiri karena tak melihat kebaikan orang lain. Jadi dia merasa dirinya paling baik.
    (Pamit…….lari kuenceng……nabrak trus guling-guling, nekat tangi maneh trus lari lagi…tambah kuenceng…ikut-ikutan gaya mas ibn)

    Ibn Abd Muis, menjawab:
    Jazakallahu khair mas Habib. Saya juga sudah kunjungi situs anda dan ninggalin beberapa jejak bersejarah hehehe… :lol:

  59. assalamu’alaikum akh ibn abd muis ,ana sangat senang adanya blog ini ,ana jadi terbuka fikiran untuk masalah ini ,karena masalah ini yang sedang ana hadapi untuk memberi keputusan atas permintaan ta’aruf dari ikhwan salafy , masalahnya ana khawatir beliau tidak izin ana tetap dalm haroki ini n ntar ana gak bisa berkegiatan dakwah seperti biasa ,sementara ikhwan dari jamaah kita lebih sering memilih akhwat yang tidak aktif dalam kegiatan dakwah,hanya aktif liqo aja ,tapi ana berusaha tetap tsiqoh dlm dakwah ini,ada solusi akh utk ana akh?

    Ibn Abd Muis, menjawab:
    Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh, ukhti segala sesuatu itu telah ada ketetapannya,

    “…dan barangsiapa yang beriman kepada (takdir) Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Qs. At-Taghabun: 11)

    “Tiada sesuatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (lauh mahfuzh) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (Qs. Al-Hadid :22)

    Sebaiknya anti istikharah saja dulu, mohon petunjuk dan keyakinan kepada Allah. Kalau itu memang yang terbaik menurut Allah, insyaAllah, anti akan berjodoh dengannya, tapi kalau tidak, insyaAllah anti akan menikah dengan orang lain. Yang terpenting ukhti ridha dengan ketetapan yang Allah berikan terjadi pada ukhti.

    “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah Mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Qs. al-Baqarah:216)

    Sejujurnya ana pribadi tidak pernah bermasalah dengan salafi atau harakah manapun. Yang bermasalah adalah ketika keyakinan akan sebuah kebenaran itu dipaksakan dengan cara menjelek-jelekan, memfitnah dan mencela pihak lain yang tidak sama dengannya yang justru semakin memecah-belah umat Islam.

    Mengenai pandangan anti tentang, “ikhwan dari jamaah kita lebih sering memilih akhwat yang tidak aktif dalam kegiatan dakwah, hanya aktif liqo aja”, ana pikir itu terlalu sempit. Mungkin itu yang anti lihat dan terjadi dengan ikhwah-ikhwah yang anti kenal, tapi kenyataannya, banyak kok yang justru berharap mendapatkan istri yang aktif dan militan dalam dakwahnya, nggak cuma jadi ibu rumah tangga saja, meski itu adalah prioritas utamanya. Misalnya ana… :oops: [pose malu on], jujur berharap banget bisa menikahi akhwat yang militan dan aktif berdakwah di masyarakat. Islam itukan bukan cuma buat kita, tapi juga buat orang lain khususnya yang berada paling dekat dengan kita, yaitu tetangga-tetangga di lingkungan kita sendiri selain keluarga pastinya.

    Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu , sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa menyerbu kepada hidayah (petunjuk) maka baginya pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dari pahala mereka sedikitpun.”(H.R Muslim)

    Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu , dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:”Jika anak Adam mati, maka terputuslah semua amalannya melainkan tiga hal; shadaqah jariyyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendo’akannya.”(H.R Muslim)

    Atau coba saja ukhti mulai bicara dengan murabiyyahnya mengenai kriteria-kriteria yang diharapkan, sambil terus berdo’a mendapatkan yang memang menjadi harapan anti kepada Allah khususnya saat-saat qiyamulail. Mudah-mudahan segalanya dimudahkan. Kali aja murabiyyahnya langsung merespon dan melakukan lobi dengan ketua dpc, dpd atau dpp :lol: Wallahu a’alam :oops:

    Tapi ana ulangi lagi, setahu ana jika ikhwahnya aktif di dakwah kemasyarakatan insyaAllah, mereka sangat berharap mendapatkan istri yang aktif juga di dakwah, tapi kalau di dakwahnya kurang aktif misalnya karena sibuk menjadi karyawan dan agak-agak nggak perduli dengan tarbiyahnya ya… mungkin pilihannya seperti yang ukhti gambarkan. Mungkin karena khawatir terlihat tulalit kali di mata istrinya hehehe :lol: Dan kalaupun akhirnya Allah tetap juga menakdirkan seperti yang ukhti khawatirkan, justru menjadi tugas ukhti untuk membangkitkan ghirah suami agar bisa aktif juga dalam dakwahnya, dan dengan cara-cara yang tidak menyinggung dan merendahkan suami pastinya. Wallahu musta’an.

  60. ternyata antum tidak paham dengan qur’an dan sunnah….TIDAK PERNAH ALLAH DAN RASUL MENYURUH KITA UNTUK MENIKAHI AKHWAT HARAKI, ATO AKHWAT HT, ATO YANG SE-FIKROH..!!!!!
    Yang ada…menikahi wanita muslimah..dan empat syarat yang termaktub dlm hadst yg sohih, kalo ana boleh nanya : Berapa lama waktu yg antm hbskan untk membuat slog slog yang kesemuanya tdk berpijak atas dasar ilmu ini?, antm bilang : AL ‘ILMU QOBLA AL QOULI WAL ‘AMALI……akhi….. tlong kedepankan satu kaidah yang sangat berharga ini : pda dasarnya seseorang didalam meyakini satu pokok permasalahan agama yang mana manhaj adlah bagian dari agma, adalah ISTADALLA WA’TAQODA. adakah antum berpodoman pada qoidah diatas.????

  61. Assalamu’alaykum.
    Cuma maw bilang:
    “Biarkanlah cinta mengalir bila memang ada.”
    Dalam hal ini cinta kepada manhaj salaf.

    Wa’alaikum salam, “Ya, biarkan cinta mengalir apa adanya, dan biarkan takdir berjalan menelusuri jalan cinta terhadap manhaj Salafus Shalih yang sesungguhnya.”

  62. Tenang aja akhi, hilangnya beberapa gelintir akhwat belum tentu mempengaruhi jumlah perolehan suara pas Pemilu nanti koq.

    Maksudnya??? :roll: :evil: :roll: :evil: :roll:

  63. Maksudnya mas Rijal adalah hilangnya beberapa akhwat tarbiyah membuat sebagian ikhwan Tarbiyah bertanya-tanya ? hingga ahirnya para ikhwan ini menghadiri majelis Salafiyyin juga dan ….. semakin mempengaruhi jumlah perolehan suara pas Pemilu nanti, gak ya ?

    Ibn Abd Muis, menjawab:
    Ana nggak perduli tuh akhi Tilmidz. InsyaAllah, kereta dakwah akan terus berjalan, dengan ataupun tanpa kita, dengan ataupun tanpa wasihah. Barakallahu fiikum.

  64. Bismillah,

    Tadi pagi saya bikin Ebook ttg pernikahan. Alhamdulillah sore ini dah mateng. Baru aja diangkat dari oven. Sekarang masih panas sih, tapi insya Allah dah bisa dicicpin. mas Ibnu Abdul Muis kan dah zawaj dan punya dua anak. Ini untuk yg belum zawaj aja dan setelah baca ebook ini ndak ada alasan lagi untuk menunda pernikahan. Ayo main ke blog Sunniy Salafy dan ambil ebooknya. Semoga bermanfaat
    Ibn Abd Muis, menjawab:
    Ana sudah zawas dan punya anak dua?? :roll: :roll: Kalau githu bukan buat ana dunk?? :oops: Monggo, silakan bagi yang mau download merujuk ke link yang dimaksud. :lol:

  65. Assalamu’alaikum wr.wb..
    Wah…wah…wah… Ramai benar ya akhi blognya…. Sebelumnya ana ga pernah berfikir seperti itu “klo ternyata akhwat tarbiyah bnyk yang nyarter dari salafy” sampai akhwat kakak kelas ana dan teman seliqo-an ana digempur via sms, telp, artikel-artikel.. sempet bingung juga sih, memang diperbolehkan sampai datang ke kostan…
    Alhamdulillah…. hingga kini kedua akhwat tersebut masih beristiqomah

    Ibn Abd Muis, menjawab:
    Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh. Tapi afwan ukhti, ana masih belum jelas dengan komentar anti. Bisa lebih spesifik nggak??… :oops: :roll: :oops: :lol:

  66. knapa akhwat harokah mengejar ikhwan salafy???,, tentunya karena ikhwan harokah kurang tamassuk bissunnah,, penampilannya ga ada bedanya dgn orang awwam..Harusnya ini jadi bahan introspeksi diri bagi kaum harokah

    Ibn Abd Muis, menjawab:
    Akhwat harakah yang mengejar ikhwan salafy? :roll: Atau sebaliknya? :roll: :roll: Sebaiknya tanya sama akhwat harakah ajha dech…. :oops: Sementara untuk ikhwannya, ya uwis, kita introspeksi sama-sama ajha dech. Tapi kalo situ gak mau instrospeksi, ya udah… nggak masyalah tuch…. :lol: Ghitu ajha kok repot. Abis situ ngomongin baju lagi sich… :lol:

  67. Af1, kemaren sedikit Error …Begini ana jelaskan..
    Klo boleh ana bercerita agar diambil ibrahnya….
    Kasus pertama: Beberapa bulan belakangan, teman seliqo ana sering dihubungi ikhwan salaf (yang kami kenal di kampus) lewat berbagai media termasuk: sms, telp, artikel, mp3,bahkan didatangi sampai ke kostannya (kostan khusus akhwat tentunya). Saking gencarnya hingga tidak hanyasekali atupun dua kali teman liqo ana tersebut dihubungi. (Pertanyaan pertama yang terfikir: Apakah ahsan bila seorang ikhwan sangat sering menghubungi akhwat, padahal ga ada urusan yang urgent sekali, sampai datang ke kostannya lagi), waduh….
    Kasus kedua: Ternyata akhwat kakak tingkat anapun mengalami hal yang sama setahun kemarin sebelum beliau lulus.
    Jadi, sebenernya siapa yang mengejar siapa???? (Bingung berkali-kali…, bertambah-tambah)
    “Sebagai akhwat haroqi ana kasih masukan, Jangan geEr (bagi siapapun yang “merasa” dikejar akhwat)” Kembali (klo boleh ana luruskan), kami berharokah untuk dakwah, ilallah, bukan untuk mengejar ikhwan (sorry ya), ikhlaskah jika perjuangan yang selama ini kami lakukan jika hanya untuk itu? Kami yakin Allah telah siapkan seseorang yang terbaik. Masih banyak urusan umat yang perlu difikirkan dan dituntaskan daripada sekedar mengejar-ngejar ikhwan.

    Ibn Abd Muis, menjawab:
    Alhamdulillah, ana sebagai ikhwan memang tidak berkompeten untuk menjawab pertanyaan ikhwan di atas. Dan anti telah menjelaskannya dengan sangat baik, mudah-mudahan tidak ada alasan lagi bagi para ikhwan [yang sock ke-cakep-an] ngaku-ngaku dikejar-kejar akhwat. Mereka jauh lebih baik dalam banyak hal. Ana saksi hidup [waktu masih di dakwah sekolah, dakwah kampus, apalagi di dakwah syiyasi sekarang] dan mungkin ikhwan lainnya yang sadar, bahwa kalian jauh lebih militan, jauh lebih ridha, jauh lebih sabar, jauh lebih kritis, jauh lebih segala-galanya dibandingkan para ikhwan, apa lagi ikhwan yang sock ke-cakep-an, subhanallah….. Jazakillah atas informasinya.

  68. Adalah suatu kebahagiaan jika saudari kami teringatkan dan kembali meniti jalan illahi.
    Adalah suatu kebahagiaan jika perjuangan dakwah yang kami lakukan menghasilkan perubahan berarti bagi keluarga, rekan, masyarakat disekitar kami, juga negri ini.
    Adalah suatu kebahagiaan jika di jalan ini kami bisa berkontribusi membangun umat.
    Walau yang kami rancang hanya sebatas mengadakan seminar,tablig akbar, ta’lim-ta’lim rutin di masjid kampung, baksos-baksos kecil, mengajar anak-anak mengaji, membina remaja masjid. Namun, semoga dengan yang sedikit itu ada manfaat diri yang mampu dipetik.
    Karena kami yakin, ” Kebangkitan Islam akan qta jelang tak berapa lama lagi.” Semoga Allah azzamkan dalam diri setiap muslim untuk beristiqomah di jalanNya dan senantiasa berniaga hanya kepadaNya. Wallahualam…

    Ibn Abd Muis, menjawab:
    Amin ya Rabb…. Ridhailah mereka…. Wallahi, aku menjadi saksi atas apa yang mereka lakukan…

  69. Afwan, satu hal lagi…. untuk Abu Hamzah. Hanya 1 pertanyaan : Apakah nilai seseorang dilihat hanya dari penampilannya saja? Sesungguhnya Allah lebih mengetahui….

  70. Assalamualaikum wr.wb.

    Pemahaman manhaj idealnya menjadi dasar pada pembentukan nilai-nilai kekuatan fikrah dan pengamalan amal ijtima’i. Namun terkadang dalam konteks “jodoh”, tidak setiap akhwat tarbiyah mampu untuk membawa nilai-nilai tersebut menjadi karakter diri ketika ia menjadi bagian dari jamaah ini. Banyak faktor-faktor yang bersifat emosional-melankolik yang terkadang sulit dipahami secara rasional karena memang keterbatasan dari akhwat bersangkutan di tambah atas ketidakmampuannya memberikan argumentasi penolakan dengan hujjah yang jelas atas “kekuatan”perjodohan itu. Biasanya alasan klisennya, karena ikhwannya banyak yang belum siap menikah karena belum punya mai’syah, karena maharnya terlalu mahal, karena orangtua, dan lain sebagainya. Kondisi tersebut menyebabkan sang akhwat secara “terpaksa” mengambil pilihan untuk masuk pada “zona nyaman” (menikah dengan ikhwan jamaah lain)sehingga harus mengabaikan nilai-nilai /manhaj yang ia pahami di jamaah selama ini. Dengan alasan sementara mencegah munculnya friksi dalam internal keluarga yang memang sejak awal menginginkan sang akhwat cepat menikah dan segera memiliki momongan. Sehingga ini permasalahan bukan bersumber karena alasan manhaj semata….,namun juga ada faktor lain yang bergitu multiaspek yang ironisnya terkadang ikhwan menilai secara sepihak, tanpa ada tabayun, terlalu angkuh dan cepat menjustifikasi tanpa melihat konteks permaslaahannya secara jernih dan bijaksana.

    Ibn Abd Muis, menjawab:
    Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh,
    Alhamdulillahnya [kalau boleh ge'er] saya tidak termasuk ikhwah-ikhwah yang menilai secara sepihak mengapa ada akhwat yang mengenyampingkan idealisme manhaj. Saya nggak terlalu perduli dengan hal itu, justru sangat paham dengan kondisi selain karena faktor manhaj tadi. Mungkin sudah jodohnya, siapa yang bisa larang. Apalagi menurut saya, perbandingan ikhwan dan akhwat tarbiyah itu memang sangat jomplang, mungkin 1:5 atau bahkan lebih, jadi kemungkinan-kemungkinan karena faktor selain manhaj itu besar untuk terjadi.

    Maaf, kalau boleh saya kembalikan ke inti permasalahan articel ini adalah kebingungan saya :lol: ketika ikhwan-ikhwan yang menjelek-jelekkan sebuah manhaj, mulai dari asas, visi, misi, ulama, pemikiran, hasil yang terlihat [dalam persepsi sempit] dan apapun dari manhaj itu, ternyata masih juga bisa toleran untuk masalah akhwatnya :oops: Maaf, ini hanya pertanyaan manusiawi saja dan sekali lagi saya nggak keberatan sama sekali, cuma agak-agak aneh dan kontra. :roll: :oops:

  71. Yah, jodoh ada di tangan Allah. Tetapi jika kita tidak berusaha meraihnya, apakah Allah akan menjulurkannya kepada kita? :D

    (btw, busway, aniway, spilway. Undangan walimahan kok belum datang2 yah di email ana? Perasaan ada yang janji deh tahun ini!) :D

    Ibn Abd Muis, menjawab:
    Glegek… :oops: mmmm…. :roll: clingak-clinguk…. [Malu mode ON]

  72. @bunga
    waaah..akhowaat tarbiyah juga jngan geer x ya..hihihi…

    @Ibn Abd Muis, bunga dan smuanya

    sesungguhnya masalah hati (tertarik dg si fulan atau fulanah) masalah mereka.
    ada yg melihat dr aqidah, ilmu, akhlak, penampilan, wajah, beranekaragam… itu manusiawi.
    dan janganlah men-generalisasikan,
    mungkin kalian hanya membuat kesimpulan dengan fakta 10 perkara dari 1000 perkara yg ada..

    maaf…maaf sekali..bukan saya ingin mengatakan kalian pendusta, sekedar mengingatkan pentingnya ini
    “Cukuplah seseorang dikatakan pembohong apabila ia mengatakan semua apa yang ia dengarkan” (Hadits Riwayat Muslim)

    hmm…saya kira ini crita fakta tp ternyata fiksi yg dilatarbelakangi (beberapa) fakta…trnyta…

    sekian, ana cukupkan
    wassalaamu’alaykum wa rahmatullaah

    -al mar ah (as salafy)- (yg katanya penulis –yg sy tangkap– kurang baik hati dan lembut)

    Ibn Abd Muis, menjawab:
    Hihihi… masih seru juga ni article?? :roll: Baru hari ini saya tahu kalau article saya dijadikan bahasan di forum My Qur’an. Mungkin lebih baik, mba dan yang lainnya lihat ke http://myquran.org/forum/index.php/topic,41200.0/topicseen.html aja. Kalau belum jadi anggota monggo mendaftar. Diskusikan baik-baik di sana. Kalau di sini saya doang yang jawab nanti dibilang nggak adil. Disana khan banyak orang tuch, bisa lintas manhaj, tapi saya berharap esensi yang saya ketengahkan dalam article ini bisa diketemukan atau minimal direnungkan. Please dech, jangan terus-terusan merasa paling benar dan nyalaf. Kalo masih RASIS juga, berarti emang bener, para pengaku-ngaku salaf itu maunya cuma ribut dan anti ukhuwah. Sekali lagi, sindiran ini cuma buat para pengaku-ngaku pengikut salaf doang loch.

    Nggak usah tersinggung mba Leonny Pramitasari. Coba baca lagi article di atas. Apakah saya mengeneralisasi salafy?? :roll: Dalam banyak article saya bedakan salafy sejati dan salafy yang cuma ngaku-ngaku doang pengikut salaf alias salafy ekstrim dsb. Jadi nggak mengeneralisasi dunk… :lol:

    Statement mba sudah saya jawab, baik dalam article maupun dalam jawaban komentar. Tapi sayangnya banyak yang nggak bisa mencerna esensinya.

    Wa’alaikum salam warahmatullah.

  73. sy PRIBADI blm merasa ada esensi ikut forum spt itu. lebih baik menjelaskan dg baik2 kpd org2 yg bertujuan memahami bukan berdebat..lgpula sy masuk blog antum, yaa ibn abd muis, krn google salah menangkap keyword yg saya masukan –yah machine error–

    sy sudah menangkap antum akan berkata seperti ini, tp sptnya antum pun blm mengerti apa maksud ana (klo antum pake standar harusnya org2 bs mencerna maksud antum sy boleh dong jg pake standar antum harusnya mengerti maksud ana krn dg statement anda spt itu sy menangkap antum harusnya org yg cerdas :) )..
    jagalah lisan yaa akhiy..Imam Ahmad rahimahullaah bgitu banyak hadits yang bliau hafalkan tp yang beliau sampaikan hanya sebagian..kenapa? karena Beliau takut manusia terfitnah.

    Ana bisa bilang bgini karena ana pernah mendengar crita sperti crita antum ttpi crita yg SEBALIKNYA! itu pun kenyataan 100% insyaAllah tanpa fiksi2an. Dan an menyesal mendengar crita sperti itu.

    Saya tidak meminta antum menjawab, tetapi sy hanya mau mengingatkan. Wallaahi, hanya Allah Maha Pemberi petunjuk.

  74. walah kok fiksi. Wah jadi teringat deh masa lalu! :)

    Coba lihat ke-atas lagi. Sudah ada tuh korbannya. Bahkan sudah di khitbah, eeee kok masih dikejar2 juga akhwat tarbiyahnya. Ini bukan fiksi Ukhi Kopitawar (walah kok nggak enak yak manggil namanya :D )

    Wallahi, memang Allah yang memberi petunjuk. Tetapi sungguh, petunjuk Allah diberikan kepada orang2 yang tawadhu’. Ana hanya mengingatkan juga.

    Ukhi Kopitawar. Seseorang yang mengingatkan seharus tahu apa yang sebenarnya terjadi, bukan hanya mau mengingatkan saja tetapi tidak mau mendengar jawaban seseorang. Tabayyun itu sangat dianjurkan oleh Rasulullah. Jadi, jangan asal mengingatkan tetapi tidak mau menerima jawaban orang yang di ingatkan. Itu termasuk perkara yang dzalim. Tidak pernah dicontohkan Rasulullah. Sebelum mengingatkan seseorang, ketahuilah permasalahannya terlebih dahulu, jangan sampai mengingatkan karena sudah merasa “Benar Sendiri”. Ok. Saya juga sedang mengingatkan kok. Tapi kalau antum mau menjawab dengan bermaksud tabayyun juga Alhamdulillah :D

    Ibn Abd Muis, menjawab:
    Udah akh, lagi panas kale… :lol: :mrgreen:

  75. Assalamu’alaikum
    Wah lama juga ‘nggak ngasih komen ternyata sekarang udah banyak.
    Kalau permasalahannya seperti yang ditulis Mas Jaisy 01 (yang diulang-ulang di dalam forum ini) yakni peristiwa akhowat yang telah dikhitbah masih juga “dikejar-kejar” maka itu kasuistik.
    Jadi bisa saja orang lain juga membawa peristiwa yang sifatnya kasuistik yang justru berlawanan dengan hal tersebut. Setiap orang akan membela argumennya masing-masing dengan membawakan peristiwa-peristiwa yang dialaminya. Si A akan bercerita kemudian dibalas oleh si B dengan cerita lainnya untuk membantah si A. Kemudian ditanggapai si A. Demikian seterusnya. Padahal peristiwa-peristiwa tersebut sifatnya kasuistik cuman diulang-ulang (direpro) untuk mendukung argumennya masing-masing!
    Untuk siapa saja yang mungkin kurang suka dengan tulisan akh ibn Abdulmuis ini, ketahuilah bahwa ini adalah CERITA FIKSI! Jadi letak substansinya bukan pada cerita di atas. Jadi untuk cerita di atas menurut ana tidak perlu membawa kepada jidal yang kurang bermanfaat. Biarlah Akhi Ibn Abdulmuis yang akan mempertanggungjawabkan atas cerita fiksi yang dikarangnya di hadapan Rabb kelak.
    Jadi substansinya apa? Kalau itu SEBUAH peristiwa seperti yang sering ditulis oleh Akhi Jaisy01 secara berulang-ulang, maka sudah ana katakan bahwa itu kasuistik. Orang lain juga bisa membawakan peristiwa lain yang justru berlawanan. Kalau substansinya adalah fenomena menikahnya akhowat tarbiyah dengan ikhwan salafy (yang menurut akhi Ibn Abdulmuis anti manhajnya) maka ana rasa jawabannya sudah ada di komentar-komentar yang ada sebelumnya.
    Nah, selanjutnya tinggal kita semua para pembaca yang menilai, masih perlukan “panas-panasan” menanggapi artikel di atas. Padahal yang nikah aja adem-ayem kok. Hehehe……

    allahu a’lam

    Ibn Abd Muis, menjawab:
    Wa’alaikum salam,

    Sejujurnya saya masih belum yakin mas mengerti substansinya, afwan loch. Tapi dari komentar mas yang ini, sepertinya mas sudah mulai membaca paradigma orang lain, mudah-mudahan bisa juga merasakannya…. :oops:

    Sejujurnya, sampai dengan saat ini saya masih meyakini kalau mereka anti manhajnya, tapi halal orangnya meski telah tertuduh sesat, khawarij dan ahlul bid’ah :roll: hehehe… :lol: becanda kok….

    Yang penting kan yang kawin pada adem ayem, bahagia, berkah, bisa melahirkan generasi pembela umat, rukun, dan lain-lain…. mudah-mudahan itu titik awal kebaikan…. :oops: tapi mungkin nggak ya….. :roll: :roll: :roll:

    Wallahu musta’an.

  76. alhamdulillaah di sini dingin & dr kmrn adem2 aj tuh (sy tidak blg ini fiksi 100% tp penulis sendiri yg mengatakan:
    Ibn Abd Muis, menjawab :
    Dosen ana saat di Mahad yang lulusan LIPIA benar-benar 19 tahun loch saat menikah… :lol: Sekali lagi ini hanya cerita fiksi yang dilatarbelakangi dengan kejadian nyata. Semoga dapat diambil hikmahnya.Barakallahu fiikum. :) )
    >>dan u/ membuat crita fiksi apalagi crita nyata dicampur2 dg fiksi tentu sy sgt tdk setuju

    thayyib, ana akui dlm hal itu ana salah menulis. tp smoga antum juga bisa menyadari apa yg salah dan apa yg benar. dan sekarang ana serahkan semua kpd Allahu Ta’ala

    Ibn Abd Muis, menjawab:
    Alhamdulillah kalau begitu keadaannya… :roll:

    Mungkin ana juga salah kali ya?? :roll: Menyajikan cerita fiksi meski dilatarbelakangi fenomena nyata, dan meskipun niatnya baik dan ikhlas untuk menyadarkan orang yang berlebih-lebihan menuduh sesat, khawarij dan ahlul bid’ah orang lain. Kan mereka cuka oknum dan cuma segelintir orang. Apalagi ana nggak mengeneralisir semuanya. Sorry ya….. :oops: Kan mungkin aja yang nikah bukan bagian dari para penuduh itu…. :roll: :roll: :roll: :roll:

  77. Bukankah lebih baik akhwat tersebut dinikahi saudara kita sesama islam daripada dinikahi orang non-islam? Benar kan?
    Jadi sudahlah tidak usah dipermasalahkan dengan siapa akhwat-akhwat tersebut menikah, asalkan agamanya bagus, hanif, dari golongan ahlussunnah wal jama’ah (bukan dari syi’ah), untuk apa kita tolak?
    walahu’alam

    Ibn Abd Muis, menjawab:
    Setuju dengan mba Saffanah. Kalo ayE mah nggak mempermasalahkan akhwatnyE apElagi menolak, lach Emang udEh jodohnyE, pan di atas udEh adE nyang koment, banyak alasan kenape para akhwat harus mengambil keputusan demikian. AyE pan cumE mempermasalahkan SIKAP dari sebagian OKNUM ajE. :roll:

    Sukses terus yE para akhwat, berbakti samE suami, taat, dan tetep istiqamah dengan Qur’an dan Sunnah.

  78. Special to Ibunda Maryam di forum MyQ hal. 12,
    Saya coba kutip komentar anda,

    Saya copas jawaban dari penulis artikel (Ibn Abd Muis), di bagian tanya jawab.

    Sumber : http://ihwansalafy.wordpress.com/2008/01/03/mengapa-kalian-rampas-akhwatnya-jika-kalian-benci-manhajnya/

    Ibn Abd Muis, menjawab:
    Alhamdulillah kalau begitu keadaannya…

    Mungkin ana juga salah kali ya?? Menyajikan cerita fiksi meski dilatarbelakangi fenomena nyata, dan meskipun niatnya baik dan ikhlas untuk menyadarkan orang yang berlebih-lebihan menuduh sesat, khawarij dan ahlul bid’ah orang lain. Kan mereka cuka oknum dan cuma segelintir orang. Apalagi ana nggak mengeneralisir semuanya. Sorry ya….. Kan mungkin aja yang nikah bukan bagian dari para penuduh itu….

    So… Peace ahhh!?

    Bisa diperjelas maksudnya apa bu? :roll:
    Ini adalah jawaban saya atas pertanyaan mba Kopitawar, dan nggak ada hubungannya dengan article. Ada hal yang lebih besar yang lebih saya harapkan dari sekedar mengaku salah lantaran menyajikan cerita fiksi. Memang ada apa dengan cerita fiksi? Apakah dosa bila mengandung maksud kebaikan? Lantas bagaimana dengan para penulis cerpen2 Islam fiksi di beberapa majalah Islam semisal Anida?? :roll:

    Tapi kalau saya mencoba menggunakan paradigma positif, boleh saya menyimpulkan kalau maksud Ibunda Maryam seperti maksud saya adalah “Berdamai dunk!! Kan penulis cuma menyindir orang-orang ekstrimnya doang. Jadi bagi yang nggak ekstrim Peace juga dunk….”

    Special untuk Sieems yang fotonya luchu… saya pikir situ salafy :mrgreen: Komentar anda,

    ooh kisah piksi to bunda? khayalan tingkat tinggi dunk… Ngikik..

    Berarti selama anda komentar dalam thread ini anda belum baca full dunk article saya. Di article paling akhir saya tulis,

    Sekian

    Cerpen ini dibuat sebagai introspeksi buat ana dan semua ikhwah yang belum menikah. Jangan sedih ya, kalau akhwat-akhwat tarbiyah dinikahi oleh mereka J Peace !!!

    Sementara untuk akhwatnya, jangan minta mahar mahal-mahal ya, kasihan kita nih. Bilangin ke abi dan uminya juga loch…. J

    NB: Maaf bila ada kata-kata yang tidak sopan dan sedikit usil. Cerita ini terinspirasi dari diskusi di forum myquran dan pengalaman pribadi.

    Saya pikir sudah jelas kan?? :roll: Atau memang belum ngerti arti “terinspirasi”??? :roll: Ngikik juga akh…. peace… :oops:

    Special untuk Viraisti, komentar anda,

    sieems,
    cerita fiksi ini dilatarbelakangi fenomena nyata..

    @Bunda
    maksus dan tujuan saya menampilkan di sini juga sama, agar jangan ada yang berlebih-lebihan mem bid’ahkan orang dari kelompok lain. Selain itu juga kritikan buat perbaikan kedepannya.. Senyum manis

    Afwan, mungkin case closed aja.. jadi saya lock aja kali yaa.. Putar mata kuncinya dimana yak Peace ahhh!

    Mba Viraisti sudah paham maksud atau esensi article saya, tapi yang lain kayanya belum tuch…. So cuex ajha laghi :oops: Barakallahu fiik.

    Afwan, tadinya mau ikut nimbrung di forum MyQ, tapi sudah lebih dari 5 kali coba daftar dengan alamat email yang berbeda saya belum dapat feedback dari MyQ [saya juga sudah cek di kolom spam, tetep nggak ada].

  79. Assalamu’alaikum Warohmatulloh wabarokatuh

    salam kenal,
    ana baru sekali hadir disini, tapi ana merasa komentar-komentarnya mas ibn abd muis selalu adem.. tidak emosional..
    tetap istiqomah ..

    Ibn Abd Muis, menjawab:
    Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh,
    Salam kenal juga mas Bajul. Mungkin paradigma kita sama mas, jadinya terlihat seperti itu. Jazakallahu khairan sudah mau berkunjung. :oops:

  80. Assalamu’alaikum
    Wah, gue terpingkal-pingkal baca obrolan antum. Obrolan nakal tapi realistis. Bravo….
    Salam,

  81. Ass. orang yang mengantarkan ana ke dunia tarbiyah kini 180 derajat memusuhi ana sebagai ikhwan tarbiyah. Beliau pindah harakah gara-garanya ada masalah utang. Beliau kecewa, padahal beliau yang tidak bisa memenuhi janjinya. Sudah dibantu,

    Ibn Abd Muis, menjawab:
    Wa’alaikum salam, biasa akhi. Kebanyakan yang hengkang dari tarbiyah itu masalahnya adalah karena masalah pribadi bukan karena manhaj. Dan sebaiknya orang-orang ‘CEMEN’ kaya gitu memang pergi aja karena cuma akan menghambat kerja dakwah. Salam kenal dari ana dan semoga antum istiqamah. Barakallahu fiikum.

  82. assalamualaikum..
    ada akhwat yang siap nikah ??
    ana ikhwan siap nikah,,,,
    numpang ..iklan yaaa

    heheheheh

  83. wekz… ada artikel unik ni…

    Rasulullah Shallallhu alaihi wa Sallam bersabda
    “Tidak aku tinggalkan setelahku fitnah, yang lebih memudhorotkan kaum lelaki daripada (fitnah) wanita…”(H.R. Bukhari dan Muslim)

    Telah benar perkataan Rasul di atas. Sungguh aku sedang menyaksikannya… Rame banget…:)

    Akh…. emang akhwat tarbiyah itu banyak banget (unlimited), tapi jangan karena itu manhaj tarbiyah dibela-bela trus, sampe ngarang cerpen konyol begitu

    Ibn Abd Muis, menjawab:
    Aduwoh… please dech…. :mrgreen:

  84. Dear akhwat in dis blog…
    Ada nasehat dari Prof. Muhammad Ali Al-Shobuni dalam kitabnya Az Zawaaj Al Islami Al Mubakkir; Sa’aadatun wa Hasaanatun. Beliau mengatakan,”…Hendaklah para bapak memilihkan untuk anaknya perempuan mereka orang yang memiliki akhlak dan menjalankan agama dengan baik dan tidak memandang kepada harta…jika yang datang melamar adalah seorang pria yang berakhlak bagus, menjalankan agama(sunnah), memiliki kemuliaan dan harga diri, berilimu dan terhormat, maka alangkah indahnya dan mulianya dia(akhwat).
    Beliau juga menukil perkataan imam Al Ghazali, “Imam Al Ghazali mengatakan dalam kitab ‘Ihya Ulumuddin, ..apabila seseorang menikahkan putrinya dengan pria yang dzolim, fasik, suka berbuat Bid’ah atau peminum khamr, berarti ia telah menodai agamanya dengan siap menerima murka Alloh…”.
    DR. ‘Aidh Al Qorni dalam kitabnya Baitii Asas ‘Ala Taqwa, mengisahkan seorang Ulama, Sa’id bin Al Musayyab yang menolak menikahkan putrinya dengan Al Walid bin Abdul Malik, putra seoramh kholifah kaum muslimin. Bahkan beliua menikahkan putrinya dengan salah seorang muridnya yang fakir. Karena Rosululloh bersabda “Jika datang kepadamu orang kamu ridhoi agama dan akhlaknya(untukk meminang putrimu), maka nikahkanlah dia. Jika kamu tidak melakukannya, maka itu akan menjdai fitnah di muka bumi dan akan menimbulkan kerusakkan besar.” (HR. At Tirmidzi dan Al Baihaqi)
    de konklusionnya to ukhti yang nimbrung in dis blog (to yang laen boljug):
    Nikahilah dia (pria) yang menjalankan sunnah dan KEBENARAN diatas DALIL bukan menikahi pria yang mencari PEMBENARAN agama diatas DALIL.
    Klo ada yang datang ke rumah/ke kos-an anti…tes dulu agamanya.Remember…sefikroh bukan jaminan tapi Agama adalah jaminan.
    So istikhoroh dan doa adalah senjata, karena Alloh-lah yang menentukan
    Wa Allohu’alam
    Afwan ustadz blog-nya di pake utk nasehat bentar

    Ibn Abd Muis, menjawab:
    “Nikahilah dia (pria) yang menjalankan sunnah dan KEBENARAN diatas DALIL bukan menikahi pria yang mencari PEMBENARAN agama diatas DALIL.”
    :roll: Menjalankan sunnah dan kebenaran bukan berarti orang-orang yang cuma ngaku-ngaku pengikut salaf doang khan?? :roll: Udah ach akhi… pan katanya kita pada mau puasa… peace… barakallahu fiikum… :)

  85. pak de harusnya bersyukur banyak akhwat yg mendapatkan petunjuk ke thoifah al-manshuroh, dan bukankah Allah memberikan petunjuk kepada siapa saja yg dikehendakinya, maka nya pakde berdoa sama Allah sang pembolak balik hati biar pakde jadi salafy sejati, pasti pakde juga bingung salafy sejati itu kaya apa , ya kan? tak kasih tau deh kitabnya , (kun salafiyan ‘alal jaddah).

    Ibn Abd Muis, menjawab:
    Thoifah al-mansyurah loch ya?? Karena menurut saya thaifah al-mansyurah/firqah najiyah itu beda dengan para pengaku-aku pengikut salaf (hizb salafi ektrim).

    Salafy sejati?? :roll: Yang pasti bukan para penyebar fitnah, ghibah dan menghalalkan namimah, tahdzir dan jarh sana-sini dengan sembrono dan konyol. InsyaAllah, cahaya para pengikut salafus shalih sejati sudah dapat ana kenali. Sudah ya… peace… bahasan itu sudah sering diulas, saya nggak mau bahas lagi. Barakallahu fiikum.

  86. assalamu’alaikum…
    realnya, contohnya siapa to yg bener2 pengikut salafush shalih?
    jazakumullahu khairan..
    wassalamu’alaikum…

    Ibn Abd Muis, menjawab:
    Wa’alaikum salam…
    Siapa saja yang merasa menjalankan manhaj salafus shalih tapi yang pasti bukan yang merasa paling benar sendiri, paling salaf, paling ahlul atsar, paling nyunah, sambil hujat sana-sini dengan gegabah sehingga semakin memperuncing perpecahan yang ada di antara umat Islam. Thanks sudah mau berkunjung.

  87. Assalaamu’alaikum ya akhi,artikelnya menarik sekali
    tapi coba dengarkanlah kajian ini.

    Wa’alaikum salam, kajian yg mana?

  88. masya Allah….Wa Kholaqnakum azwaja…( an naba` ayat ke 8) Hanya Allah saja yang tahu siapa pasangan kita…kenapa ente ribut…..ente udah tarbiyah tentang tauhid malah menyesali nasib orang lain…..maaf ya ane udah kritikin para dai semuanya…

    :roll: :p :roll:

  89. Assalamu’alaykum warohmatullahi wabarokatuh

    ana bukan salafy
    bukan pula ikhwani

    tetapi
    ana seorang muslim :D
    dan
    ana
    mencintai ikhwah fillah sekalian …
    jangan lah kalian saling berdebat kusir
    yang gak ada manfaatnya…

    .;)
    simpan emosi kalian ikhwah
    simpan tenaga kalian ikhwah
    jalan dakwah masih panjang…
    jalan dakwah masih butuh kalian

    ttd

    bukansalafybukanikhwani

    Ibn Abd Muis, menjawab:
    Alhamdulillah, barakallahu fiikum.

  90. @faishool, di/pada Agustus 16th, 2008 pada 10:52 pm Dikatakan:

    assalamualaikum..
    ada akhwat yang siap nikah ??
    ana ikhwan siap nikah,,,,
    numpang ..iklan yaaa

    heheheheh
    ==========================================
    reply:
    yah nih anak pake iklan segala…
    ane tuh mimpiin ente nikah tadi malem :D

  91. Assalamualaikum….

    afwan, ana ikutan posting cerpen ini di blog ana, namun ada sebuah komentar yang mengejutkan, silakan antum cek disini:

    http://muslimahunited.multiply.com/reviews/item/11

    mohon tanggapan antum,

    Jzk,

    Ibn Abd Muis, menjawab:
    Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh,

    Ukhti Renni, ana sudah baca semua komentar dari Andy717, tafadhal anti mau hapus article ana atau tidak.

    Tapi kalau ana baca dari komentar-komentar Andy ini, anti bisa lihat sendiri bagaimana karakter dari orang ini. Anti sudah jelaskan dengan gamblang bahwa anti minta maaf dan menyuruh beliau menanyakan langsung ke ana sebagai penulis asli. Tapi apa yang anti dapatkan?? Hanya seperti biasa “Justifikasi kesalahan ada dipihak orang lain bukan salafy ekstrim”.

    Ana akan beri tanggapan, karena sepertinya orang ini belum mengerti esensi dari cerpen yang ana buat. Hatinya kalut dipenuhi kemarahan dan pembelaan mati-matian, kemudian muncul tuduhan-tuduhan ke arah lain. Sungguh menyedihkan nasib orang ini. Sebaiknya anti cuekkin aja. Biar ana yang tanggapi, dan anti cukup melihat.

    Terakhir, dengan anti menghapus cerpen ana di multiply anti, berarti anti seperti yang dituduhkan atau paling tidak menerima tuduhan orang ini. Bukankah seharusnya tuduhan itu terlimpah kepada ana sebagai penulisnya? Anti santai saja, inilah karakter mereka, semakin anti merasa bersalah dan terkejut, maka semakin kencang orang ini mengintimidasi anti. Faktanya sudah jelas dan diakui sendiri kok oleh ikhwah-ikhwah salafy, hanya saja esensinya yang belum bisa dimengerti (diterima) oleh orang ini, khususnya para salafy ekstrim.

    InsyaAllah, ana akan beri tanggapan, koment by koment setelah ana buat Multiply baru lagi (afwan, karena tidak mengelola blog ihwansalafy di multiply, blog ana ini mati dengan sendirinya). Mudah-mudahan esensinya bisa dia mengerti.

    Untuk ukhti Renny,

    Dari Suhaib r.a., bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mukmin; yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya.” (HR. Muslim)

    “…dan orang-orang yang bersabar dalam kesulitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar imannya dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa.” (Al-Baqarah: 177)

    “Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (Ali Imran: 146)

    “Dan bersabarlah kamu, karena sesungguhnya Allah itu beserta orang-orang yang sabar.” (Al-Anfal: 46)

    “…dan tidaklah seseorang itu diberi sesuatu yang lebih baik dan lebih lapang daripada kesabaran.” (Muttafaqun Alaih)

    Bersabarlah, orang ini hanyalah batu ujian kecil yang akan membuat anti lebih tegar dan kuat dalam mengarungi dakwah yang penuh liku ini.

    Barakallahu fiik.

    NB : Ijin ngelink ya.. :)

  92. Kenapa umat islam suka berpecah belah?
    Bukankah tuhan kita hanya satu?
    Bukankah rasul kita (yang mengajarkan islam seperti sekarang ini) hanya satu?
    Bukankah kitab suci kita hanya satu?
    Bukankah kiblat kita hanya satu?
    Bukankah semua manhaj yang ada (sesuai dengan Al Qur’an dan As Sunnah) memang harus saling melengkapi?
    Bukankah kita sebagai manusia diciptakan Allah untuk saling menghormati?
    Apakah Allah menyuruh kita untuk saling bermusuhan?
    Lantas mengapa kita semua saling bermusuhan?
    Lupakah kita bahwa ada sesuatu yang lebih penting dari pada bermusuhan antar saudara?
    Ah, coba kita fikirkan dengan lebih seksama…
    Semoga Dia memberikan cahayaNya kepada kita semua.
    Assalamualaikum.

  93. mungkin beruntung akhwat tarbiyah yang nikah ma ikhwan salafy kali ya. hehe….

    Wallahu a’lam. Iya kali :lol:

  94. Semua komentar, baik, buruk, sopan, kasar, rasanya sudah lengkap. Ada sedikit komentar nakal dari ana, kenapa ikhwa salafy suka sama akhwat tarbiyah, karena sudah kelihatan wajahnya, jadi gak ada risiko “kecele” saat ta’aruf. he he he. maaf, astaghfirullah

    Ibn Abd Muis, menjawab:
    Apa ada hubungannya dengan “cadar”???… :oops: Astaghfirullah.. :oops:

  95. “Waduh, malu banget ana nih ustadz. Ana yakin, ikhwan-ikhwan kita memang terlalu idealis, bertahan dengan kejombloannya, karena terlalu khawatir seperti ana. MasyaAllah….”

    ===========
    itu mah bukan idealis, tapi terlalu takut dengan bayangan yang tidak nyata.

  96. xixixixixi… lucu :)
    kaya pengalaman pribadi siapa yah…

  97. InsyaAllah target nikah 2 tahun lagi, nikah juli 2011. :-)

  98. kalau gak ingin dirampas, perkuat ukhuwah dengan para akhwat jamaah antum..semoga j ALLAH Swt membrikan jodoh yang terbaik buat antum semua. yang jelas tetep jaga ukhuwah islamiyah jangan sampai terkotak-kotak dalam lingkaran jamaah. go for ikhwan to got your wife..!!

  99. Tapio ada sedikit rasa khawatr jga bila target ta’ terpenuhi, soale ada tawaran beasiswa yang slah satu syaratnya ane harus tidak menenikah dalam masa 2 tahun:-( Wuihhh berat jga ya, dilematis antara studi kul n masa depan (nikah) ada saran gak?

  100. Asw…
    Ikhwah Fillah rahimakumullah,
    Kini saatnya qt hilangkan benih2 perbedaan manhaj dgn menyatukan visi&misi qt, yaitu: Kebangkitan Islam !
    Bersatulah Ikhwah Tarbiyah & Ikhwah Salafy !
    Perdalamlah ilmu dalam keikhlasan amal secara kualitatif & kuantitatif …
    Tatap, senyum, & rangkul lah sesama saudara muslim mu…
    Hadapi perbedaan manhaj dengan cinta ilallah…
    Ummat menunggu & Membthknmu, yaa Akhi wal Ukhti fillah…
    Dan selanjutnya, qt sama2 hancurkan musuh2 Tuhan&Rasul qt!
    Allahu Akbar!

  101. Assalamuaalikum…….
    Innalillahi…..kalau ana baca komentar2 yang ada.
    Kok pada saling serang.
    Surga manakah yang ingin anda2 masuki…….
    bersama imam2 sampeyan……bersama orang2tua sampeyan……tidakkah anda inginkan surga yang didalamnya Rasulullah SAW, para tabiin, semua orang tua kita, semua guru2kita, tidak tertinggal semua mukminin dan mukminat.

  102. Artikel di atas sangat memalukan, memperebutkan seorang wanita yang pada dasarnya telah menjadi istri orang lain. Apa antum nggak punya kewajiban untuk mengurus istri-istri antum sendiri? Apakah antum telah sempurna menjaga istri-istri antum dari fitnah-fitnah di luar sana? Mengapa malah sibuk dengan akhowat-akhowat yang lain….

    Lah, memang-nya sang istri (akhwat) wajib to’at sama antum apa sama suaminya?

    Dan mana ditulis: lain kali ndak mau bantuin proses pernikahan. Wow, sayang banget amal-nya terbang begitu saja, lantaran nggak ikhlas. Udah gitu dipertontonkan lagi, jadinya minus-deh…..

    Shame on you….

  103. sapa cepat dia yang dapat……….
    makax cepet-cepet nikah donk………….

  104. akhwat salaf sudah laku semua sihh…..
    jd cari yg akhwat lain
    bukankah jodoh di tangan Alloh, jd knapa harus diributkan
    ana jg akhwat salaf, tp ana jg bekerja & ana jg dan nikah

    temenku akhwat haroki malah belum nikah karena ia cari ikhwan yg haroki jg

  105. ko jadi kaya jualan pake istilah “laku”???..

  106. “Merampas” ? ge-er banget si penulis, memangnya “akhwat kalian” ndak boleh nyari yg lain?…Ikhwan lain dianggap ALIEN gtu….lutcu banget si Penulis…mo Nikah kok pake Proposal sgla, kyk Program Kerja aza:)

    Ibn : Wah… katro nie… :lol: Makanya kalau baca itu pakai hati bukan pakai emosi. Artikel ini ditulis karena sebuah kebingungan yang teramat sangat dengan orang-orang salafy ekstrim. Katanya benci IM lantaran ahlul bid’ah wal maksiat wal khawarij wal sufi wal bla bla bla… tapi ngapa pada mau nikah sama akhwat IM yang ahlul bid’ah wal maksiat wal khawarij wal sufi wal bla bla bla…. Please dech akh… :lol: Understand you’re? :roll:

  107. iya nie, ana katro…tp lebih katro lg klo nikah pake proposal.hehehe…afwan y klo gak nyambung coz kt “Rampas” d judul tu kasar bngt!!! sma2 muslim gtu …pny etika gak tuuh?…Ngapain bingung, lupa y klo wanita Ahli Kitab yg taat boleh di nikahi laki2 muslim, apalagi sekedar ahlul bid’ah…lagian Akhwat kalian mau2 aza tu menikah sma orang salafy…afwan, gak bermaksud nyinggung lho….komen diatas hapus aja dech, sekalian yg ini .hehehe…peace…barakallahu fiikum

  108. Salafi itu teh apa???

  109. Mengapa kalian rampas akhwatnya jika benci manhajx??? wah antum jangan gitu dong.. apakah mungkin kita katakan pada Rasulullah ketika menikahi ahli kitab “Mengapa ente rampas perempuannya jika benci agamanya”??? jangan karena kebencian engkau wahai saudaraku shingga ente mengkritik hal yang sebenarnya halal untuk dilakukan

    Ibn : Ndak usah tersinggung bung. Ini cuma kritikan untuk orang-orang yang sok suci yang mulutnya berbisa tuduh sana tuduh sini dengan sesat, khawarij an**ng-an**ng neraka, de-el-el. Eh ndak tahunya mau juga menikahi akhwat dari golongan yang dituduhnya sesat, khawarij an**ng-an**ng neraka. Apa ndak punya malu sama diri sendiri gheto?…. :roll: :oops: Kalau saya sech ndak masalah dan biasa-biasa aja, jodoh itu ditangan tuhan. Disini saya cuma sekedar ingin mengingatkan, “Makanya jadi manusia itu jangan LEBAY, biasa ajha ghetu, biar enggak kemakan ama omongannya sendiri.”

  110. Bismillah

    Wahai saudaraku karena islam, seorang yang mengikuti manhaj salaf dengan benar, pasti di dalam menasihati saudaranya tentunya berdasarkan kaidah/dalil, tidak asal menyalahkan, tidak seperti yang Antum kira kok.

    Mungkin ini karena jahilnya/bodohnya/minimnya ilmu+emosi sesaat, seharusnya kita menimbangya dengan ilmu syar’i.

    Ulama/ustadz salafy sangat sayang kpd saudaranya muslim, klo saudara mereka salah/menyimpang diperingatkan/dinasihati, karena mereka tidak ingin saudaranya terjerumus ke jurang.

    Wajar kan klo orang islam menasihat tentang islam yang benar menurut Qur’an,Sunnah, dengan pemahaman para salaf yang sholih disertai bimbingan orang tua mereka yaitu ulama yang robbani.

    Apakah kita akan menanti nasihat dari kuffar atau Yahudi?Kan tidak mungkin!!
    Baarokallohu fiik

    Ibn :

    Wajar kan klo orang islam menasihat tentang islam yang benar menurut Qur’an,Sunnah, dengan pemahaman para salaf yang sholih disertai bimbingan orang tua mereka yaitu ulama yang robbani.

    Wajar banget pak! Tidak wajar jika caranya gegabah dan katrok. Fitnah sana-fitnah sini, hujat sana-hujat sini, dakwah tidak dengan hikmah. Apakah cara seperti itu adalah dakwah salafus shalih?

    Atau jangan-jangan salafut thalih… :oops:

    Ini bukan rahasia umum pak. Kalau tidak sadar diri, kejadiannya bisa kaya di Indonesia Timur yang baru-baru terjadi kemarinan. Semoga segera berbenah. Amin.

  111. Nggak laku ya mas ampe curhat kek gini :D :D

    Ibn : Alhamdulillah dah nikah tuh mas dengan akhwat tarbiyah. Situ sendiri gimana? :roll:

  112. Assalamualaikum warahmatullah..

    untuk semua akhi dan ukhti, untuk semua kaum muslimin yang mukmin..

    Niatkan tujuan kita semua ini untuk berdiskusi dengan santun.. Dan ikhlas semata mencari ridha Allah.

    Pasukan syaithan yang menggoda akhi dan ukhti serta seluruh pencari ilmu agama, adalah pasukan syaithan level elit dengan jam terbang tinggi serta persenjataan super canggih nan lengkap.

    Untuk target operasi ditempat maksiat, iblis tidak perlu mengutus pasukan yang sedemikian hebat, karena orang2 yang berada disana memang mudah ditembus pertahanannya..

    Justru saudara dan saudari inilah, yang kala Online sebisa mungkin untuk tidak tergoda surga dunia internet yang menyajikan kemaksiatan dengan balutan keindahan..

    Dan meluangkan diri untuk membahas hal-hal keagamaan.. Subhanallah, semoga Allah azza wa jalla memudahkan kita dalam menemukan hikmah serta kebenaran yang Haq. Amiin.

    Justru anda-anda inilah yang membuat iblis merasa perlu menurunkan pasukan syaithan terbaiknya. Kadang jika kita merasa sedang bersyiar, bertabligh, bertarbiyah atau ber-apapun seputar masalah agama, kita merasa sedang berdiri diatas kebenaran. Kita ingin menyampaikan apa yang kita rasakan, apa yang kita pahami kepada orang lain.. Dan kita menginginkan orang lain untuk menangkap informasi sesuai dengan apa yang kita maksudkan.

    Tapi ternyata? Niat kita untuk menyampaikan kebenaran menjadi bumerang ketika orang lain menanggapi apa yang kita sampaikan dengan sudut pandang berbeda, dengan metode pemahaman yang berbeda, dengan segudang alasan dan dalil yang membalikkan isi dakwah anda..

    Lalu bagaimana seorang insan manusia yang diperintahkan untuk menahan hawa nafsunya, menyikapi hal ini?

    “Sebagian orang merasa apa yang diucapkannya adalah syiar, sementara dibalik itu syaithan tertawa lepas melihat tipu dayanya berhasil.”

    Orang-orang pintar pun kadang terperosok masuk lubang. Namun jangan ikuti masuk kedalamnya.

    Beristi’adzah lah sebelum menyalakan perangkat online anda..

    Mohon maaf untuk kebodohan-kebodohan dalam tulisan saya, hanya orang bodohlah yang berani berbicara selantang ini..

    Astaghfirullahal’adziim..

    Ampuni kami ya rabb, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berlaku aniyaya.

    Wabillahi taufiq.

    Wassalamualaikum warahmatullah

Tinggalkan Balasan