Keanehan Prinsip Standar Ganda yang Diterapkan Para Pengaku-aku Pengikut Salaf

  

Berikut aku sajikan kembali fakta keunikan dari para pengaku-aku pengikut salaf [Salafy ekstrim berkarakter Haddadiyah]. Apa yang kulakukan bukan untuk membuka aib mereka, tetapi sebagai bahan introspeksi yang mungkin bermanfaat buat mereka dan terkhusus buat aku pribadi. Sungguh sebuah keunikan jika kita terlalu sibuk dengan sikap su’udzhan terhadap orang lain, melihat nyamuk begitu jelas terpampang, sementara seekor gajah Thailand yang sedang mengandung lima ekor bayi pada bulan-bulan terakhir kelahirannya berdiri di atas hidungnya tidak terlihat. ??? 😆

 

Standar ganda adalah kenyataan aneh yang harus diterima. Di satu sisi, para penuduh menganggap Hasan Al-Banna dan tokoh-tokoh jamaahnya dekat dengan Syi’ah, tetapi mereka sendiri bungkam dengan kekuatan kafir yang mencengkeram kuat dan lama di Negara Teluk tempat mereka tinggal. Barangkali ada yang berkata, ‘Itu adalah keinginan penguasa, bukan mereka.’ Kami harus menegaskan, itulah letak keanehannya. Mengapa mereka berteriak ketika seharusnya diam dan terdiam ketika seharusnya berteriak? Kekeliruan yang besar di depan mata dan actual tidak tampak, sementara kekeliruan yang debatable pada masa lalu dan terkubur dalam buku sejarah amat tampak.

  

Lebih aneh lagi, sebagian mereka menamakan negeri mereka negeri tauhid1 yang diberkahi Allah SWT 🙄 . Wallahu a’lam. Negeri yang di dalamnya bercokol pangkalan militer musuh besar Islam yang tentara-tentaranya bebas berkeliaran beserta kejahiliyahan yang mereka bawa. Mereka menginjak-injak tanah haram ketika Perang Teluk berkecamuk. Apakah ada negeri tauhid memberikan wala’ (loyalitas) kepada musuh Islam, AS, bahkan membolehkan meminta pertolongan kepada mereka untuk melawan si Sosialis Saddam Husein?

  

Sungguh AS lebih kafir dibandingkan Saddam! Apakah ada negeri muslim sejati seperti ini dalam kegemilangan sejarah Islam dan kaum muslimin masa lalu? Apakah dibenarkan negeri yang menghormati system pemerintahan Islami justru menerapkan system kekuasaan warisan (dinasti/kerajaan) sebagaimana Kisra yang di-bid’ah-kan kalangan shigarus shahabah karena pergantian kepemimpinan bukan karena musyawarah Ahlus Syura’ atau dipilih menurut kehendak dan ridha rakyat, melainkan system dinasti. Yazid bin Mu’awiyah adalah orang pertama yang memperkenalkan mekanisme pergantian khalifah dengan system keturunan (dinasti) dan bukan musyawarah.

  

Bahkan ketika (Rajab-Sya’ban, Ramadhan dan Syawal 1423 H) AS dan Inggris berencana menyerang Irak, pangkalan militer baru telah bertambah di Kuwait seperti yang diberitakan harian Al-Wathan, 4 November 20022. Nah, lalu apa yang membuat mereka sibuk mencela Al-Banna, padahal upaya tauhidush shufuf-nya belum terjadi, sementara di depan mata mereka telah berkali-kali orang-orang kafir bermesraan dengan para pemimpin negeri tempat mereka tinggal dalam waktu yang lama sampai saat ini. Padahal, kita sama-sama mencintai dan memimpikan kebebasan negeri Islam dari tangan-tangan kotor AS dan bonekanya. Mudah-mudahan Allah SWT membukakan pintu hari kita semua.

  

Footnote:

[1] Zaid bin Muhammad bin Hadi Al-Madkhaly, Terorisme dalam Tinjauan Islam, hlm. 132-133

[2] Republika, 5 November 2002, hlm. 8. di Berita Kota disebutkan telah hadir seribu tentara AS di Kuwait sebagai persiapan untuk menyerang Irak. Kami berharap berita itu tidak dibantah karena dinilai sebagai khabar (berita) dha’if—wartawan media massa belum pernah diuji tsiqah atau dhabth—nya atau sanad-nya, muttashil (bersambung) atau munqathi’ (terputus). Belum ada ulama ‘wartawan’ yang menjelaskannya. Lagi pula sampai saat ini belum ada buku Jarh wa Ta’dil untuk wartawan.

Sumber: Farid Nu’man, Al-Ikhwan Al-Muslimun Anugerah Allah yang Terzalimi, Edisi Lengkap, Cetakan II, Mei 2004.

Iklan