SPANDUK PROVOKASI PEMBENTUKAN OPINI PEMILU CURANG JIKA JOKOWI KALAH

SPANDUK PROVOKASI PEMBENTUKAN OPINI PEMILU CURANG JIKA JOKOWI KALAH

2 Juli 2014, terjadi 2 peristiwa penting yang menggambarkan kekhawatiran Jokowi – JK terhadap potensi kemenangan Prabowo – Hatta. Terlebih setelah berbagai Lembaga Survei merilis hasil survei mereka yang menggambarkan naiknya elektabilitas Prabowo-Hatta dan Stagnan bahkan turun bertahapnya elektabilitas Jokowi-JK. Dua kejadian itu yang dibentuk dalam rangka membentuk opini publik Jokowi Kalah Jika Pemilu Curang dan Intimidasi Kerusuhan adalah :

  1. JK menyatakan kalau pemilu berlangsung jujur, Jokowi – JK mutlak menang.
  2. PDIP Kepung TV One Yogyakarta dan PKS Karawang

Lihat referensinya disini :

Republika : Kalau Pipres Jujur, JK Yakin Menang

Republika : Sekjen PDIP Siagakan Kader Partai Untuk Kepung TV One

Website PKS Piyungan : Kantor PKS Karawang Diserang, Jatuh Korban Luka

Klaim Jokowi – JK jika mereka kalah berarti ada kecurangan pemilu merupakan sebuah pesan tersirat untuk memancing kerusuhan dan kekerasan. Klaim adanya kecurangan jika kalah, saat ini sedang disebarluaskan secara massif oleh timses Jokowi – JK. Saya kira penyebaran informasi ini sangat sesat dan berpotensi menimbulkan kerusuhan jika benar Jokowi – JK kalah.

MEDIA PRO JOKOWI MASSIF MEMBERITAKAN KERUSUHAN PILPRES 2014 DI HONGKONG

Untuk semakin membentuk OPINI dan menambah keyakinan masyarakat bahwa “PEMILU CURANG JIKA JOKOWI KALAH”, maka dibuatlah tes drive pencoblosan di Victoria Park Hongkong kisruh.

Masyarakat jangan lupa dengan kejadian ini. Media Pro Jokowi begitu luar biasa membentuk opini PEMILU CURANG dengan menyiarkan KISRUH PILPRES DI HONGKONG.

Isu yang disiarkan begitu luar biasa, antara lain :

  1. Kompas.com : “RIBUAN TKI DI HONGKONG TERANCAM KEHILANGAN HAK SUARA”
  2. MetroTVNews.com : “Video Ratusan WNI Hilang Hak Suara di Hongkong ada di Youtube”
  3. Tempo.co : “Petugas Minta Pilih Prabowo TKI Hongkong Marah”
  4. Tempo.co : “Ratusan TKI Hongkong Histeris Teriakkan Jokowi”
  5. Liputan6.com “Kronologi Pilpres di Hongkong Ricuh Versi Migrant Care”
  6. Metrotvnews.com : “Rieke: Hak Politik WNI di Hongkong Harus dikembalikan”
  7. MetroTVNews.com : “Kisruh Pencoblosan di Hongkong: Kalau Satu Masuk Kalau Dua Enggak”
  8. Detik.com: “Pilpres Ricuh di Hongkong, Ketua MPR: A Big Joke!”
  9. Detik.com: “Pilpres Ricuh di Hongkong, Tim Prabowo: Jangan Dramatisasi Kecurangan”

Sampai akhirnya Bawaslu dan KPU menjelaskan kronologis fakta kejadian yang sebenarnya tentang kisruh Pilpres di Hongkong, tapi sayangnya kurang dipublikasikan oleh media Pro Jokowi seperti layaknya pemberitaan sebelumnya yang begitu masif. Berikut adalah fakta yang dijelaskan Bawaslu dan KPU :

  1. Sebagian besar pendemo adalah pemilih yang sudah mencoblos terbukti dengan jari-jari yang sudah menghitam karena tinta pemilu.
  2. Foto penampakan pukul 17.00 TPS Hongkong Sudah Tidak ada Antrian
Jam 17.00 TPS di Victoria Hongkong Sudah Tidak Ada Antrian

Jam 17.00 TPS di Victoria Hongkong Sudah Tidak Ada Antrian

000547_hongkonggateditutup3. Jawaban pendemo Hongkong “Kami hanya demo sebagai bentuk solidaritas terhadap pemilih yang tidak bisa mencoblos.

4. Pendemo muncul 30 menit setelah TPS ditutup, sambil berteriak-teriak JOKOWI seperti ada yang mengarahkan.

Pembentukan Opini kepada masyarakat dengan tagline pernyataan Kalla “Jika Jokowi-JK Kalah, Maka Pemilu Curang”, ditambah berita “Kisruh Pilpres di Hongkong” yang begitu masif adalah skenario yang berhasil dijalankan.

Penyebaran pesan “Jika Jokowi – JK kalah, maka pemilu curang” akan menimbulkan implikasi yang luar biasa besar di masyarakat.

KLAIM SEPIHAK DEKLARASI KEMENANGAN JOKOWI-JK SATU JAM SETELAH WAKTU PENCOBLOSAN DITUTUP

Ini adalah skenario yang paling penting dalam pembentukan Opini “Jika Jokowi-JK Kalah, Maka Pemilu Curang”.

Tak menunggu sampai hasil suara Quick Count masuk 90% apalagi 100%, kubu Jokowi langsung mendeklarasikan kemenangannya dengan dasar Lembaga Survei Komersil yang memang mendukung Jokowi. Khususnya Lingkaran Survei Indonesia dangan Tim Suksesnya Denny JA. Lembaga Survei Kompas yang kita tahu bagaimana dukungan media ini terhadap Jokowi dan katolik. Dan Saiful Mujani Reseach Center yang mendukung Jokowi. Untuk RRI kita tahu siapa dibaliknya karena uang bisa mengalahkan apapun untuk mencapai berbagai tujuan meski taruhannya adalah bangsa dan negara.

Anehnya, justru saat elektabilitas Prabowo naik dan elektabilitas Jokowi stagnan bahkan turun. Tiga lembaga survei yang disebutkan awal di atas justru tidak merilis survei yang hasilnya mengungguli naiknya elektabilitas Prabowo-Hatta. Rilis mereka berhenti saat jarak perbedaan selisih elektabilitas Prabowo dan Jokowi berkisar 2-8%. Setelah itu tidak mengeluarkan hasil survei lagi dan baru muncul saat Pilpres tanggal 9 Juli 2014.

Untuk semakin meningkatkan pembentukan Opini ini, Kubu Jokowi juga mendeklarasikan kemenangan sepihaknya di Tugu Proklamasi padahal masih terlalu dini apalagi KPU baru akan mengeluarkan hasilnya 22 Juli 2014 mendatang.

Selain itu pawai keliling pendukung Jokowi yang memang sudah diinstruksikan berlangsung di daerah. Agar harapannya publik semakin yakin dengan Opini “Pemilu Curang Jika Jokowi Kalah”.

Selain itu tak pernah sekalipun kubu Jokowi menyatakan di media seperti halnya Prabowo-Hatta kata-kata yang mengangdung ungkapan semisal “Siapapun yang menang maka kami legowo menerima hasil dengan bangsa dan tanah air”.

Bagi para pendukung Jokowi – JK, pesan tersebut akan menjadi hal yang dipercaya benar jika Jokowi – JK kalah. Artinya, masyarakat pemilih Jokowi – JK akan terbakar pikiran adanya kecurangan pemilu jika Jokowi – JK kalah. Hanya butuh sejumlah provokasi untuk melakukan kerusuhan dan kekerasan, maka bisa terjadi.