Pada 3 Juli 2014, The Jakarta Post, memunculkan karikatur kontroversial. The Jakarta Post, bagian dari jejaring Katolik di belakang Jokowi menayangkan karikatur yang dinilai melukai umat Islam.

Sumber : The Jakarta Post 3 Juli 2014

Penghinaan The Jakarta Pos terhadap umat Islam untuk membangkitkan amarah agar skenario kerusuhan kalau Jokowi kalah bisa terjadi

Penghinaan The Jakarta Pos terhadap umat Islam untuk membangkitkan kemarahan agar skenario kerusuhan kalau Jokowi kalah bisa terjadi

Lafadz Allah yang disandingkan dengan gambar tengkorak, lalu penembakan oleh ekstrimis Islam jelas melukai nilai Islam. Apalagi karikatur itu ditayangkan di koran skala nasional. Setelah serangkaian pemutaran film Mei 1998 di gereja-gereja Katolik. Lalu surat Frans Magnis kepada Prabowo yang mengkhawatirkan barisan fundamentalis Islam di belakang Prabowo. Lalu juga serangan fisik Jokowi – JK kepada TV One Yogyakarta dan PKS Karawang. Kemunculan karikatur The Jakarta Post tentu saja bisa kita nilai sebuah pancingan agar terjadi serangan fisik balasan kepada Jokowi.

– JK. Karikatur ini sangat sejalan dengan kegundahan Frans Magnis yang mengkhawatirkan barisan fundamentalis Islam di belakang Prabowo.

Apabila terjadi serangan fisik balasan dari Prabowo – Hatta tentu saja akan menguntungkan Jokowi – JK. Prabowo sebagai eks militer, tentu dekat dengan stigma kekerasan. Lalu Prabowo yang dituding terlibat kerusuhan Mei 1998, juga diberi stigma dalang kerusuhan. Apabila Prabowo – Hatta melakukan serangan fisik balasan, tentu saja akan menggenapi stigma-stigma tersebut. Jadi saya kira, tujuan Jokowi – JK menjelang Pilpres bergerak semakin intens dan offensif adalah untuk memancing serangan balasan.

Bagus sekali Prabowo – Hatta tidak terpancing melakukan serangan fisik balasan kepada Jokowi – JK, sehingga terhindar dari kerusuhan. Namun sepertinya, potensi terjadinya kerusuhan belum hilang. Masih ada satu permasalahan yang mengganjal, yaitu penyebarluasan “Jika kalah, maka pemilu curang” oleh Jokowi – JK.

Bagaimana jika skenarionya begini :

  1. Quick Count 9 Juli : Jokowi – JK kalah
  2. Timses Jokowi – JK kobarkan kecurangan pemilu.
  3. Kompas atau The Jakarta Post mempertajam serangan kepada Islam.
  4. Umat Islam marah.
  5. Serangan fisik ke Gereja (bisa dari oknum Katolik maupun Islam).
  6. Pendukung Jokowi serang fisik ke KPU dan basis Prabowo – Hatta.
  7. Indonesia Chaos.
  8. Dunia mengutuk kerusuhan di Indonesia.
  9. AS atau PBB atau pihak asing lainnya desak Pemilu ulang di Indonesia.
  10. Prabowo – Hatta batal naik pemerintahan, Pemilu Ulang.

Saya kira melihat tajamnya konfrontasi yang terjadi saat ini, peluang 10 alur di atas terjadi cukup besar. Polarisasi Islam versus Katolik telah terjadi. Polarisasi Konservatif (Prabowo – Hatta) versus Liberal (Jokowi – JK) telah terjadi. Potensi kerusuhan di depan mata. Apalagi, Jokowi – JK gencar sekali mengampanyekan “Jika kalah, maka pemilu curang”. Lalu jejaring Katolik sangat agresif menyerang Islam seperti pada karikatur The Jakarta Post.

Sasarannya hanya satu, menggagalkan Prabowo – Hatta menjadi memimpin Indonesia. Kenapa? Siapa diuntungkan?