Kronologis !

  

WARNING:

UNGKAPAN-UNGKAPAN YANG TIDAK LAYAK ADALAH BENTUK KEKALUTAN, KEKESALAN, PARADIGMA YANG NEGATIF, KETIDAK BIJAKSANAAN & KETIDAKDEWASAAN SEBELUM CAHAYA ITU MENERANGI. TAPI, ALHAMDULILLAH SEKARANG SEMUANYA TELAH SIRNA. DENGAN IJIN ALLAH, SEGALANYA SUNGGUH PENUH HIKMAH. SEMOGA ALLAH MENGAMPUNIKU.

    

Blog ini dibuat setelah kejadian yang gue anggap luar biasa dalam hidup gue. Bermula sekitar dua bulan yang lalu. Sahabat deket gue Abu Qatadah al-Depoki mengatakan “Ana Salafi!”. Gue menanggapi biasa aja, tidak terlalu surprise. Karena memang gelagat kehijrahannya sudah tercium sejak beberapa waktu yang lalu, masih wajarlah, mungkin Salafi yang hanif yang memang gue takjub dan ingin meruju’ terhadap mereka. Kezuhudan, wajah shaleh penuh keteduhan, jenggot yang panjang, tanda hitam di dahinya, celana sebetis, ceramah-ceramah akidah tauhid yang bersahaja yang justru gue salut-in banget buat mereka.

  

Kalo saat shalat Jum’at, gue selalu gilir dari satu masjid ke masjid lain di sekitar kantor untuk menghilangkan kejenuhan materi khutbah. Kadang ke masjid salafi untuk dengerin masalah-masalah fundamental tentang akidah tauhid. Kadang juga ke masjid umum untuk dengerin materi-materi khutbah yang agak umum dan kontemporer. Dan gue enjoy ngejalaninnya, seperti air mengalir tanpa dicampuri pemikiran-pemikiran yang sungguh sangat menguras energi. Maklum jadi karyawan, jadi harus pinter-pinter bagi waktu, tenaga dan fikiran. Dakwah, kerjaan dan pribadi/keluarga. Kadang suka nelongso juga sich, kalo iman lagi turun. Tilawah yang biasanya satu juz sehari, untuk baca satu lembar aja malesnya minta ampun. Kalo temen-temen gue bilang “Antum lagi futur akh, kayaknya perlu recovery dech!”. Kalo udah gitu, biasanya gue suka off alias libur, baca buku-buku tentang kematian, akhir jaman, akhirat, ikutan mabit, atau diskusi sama temen. Kadang pulih secara cepat, kadang juga butuh waktu lama. Sedih ya….

  

Balik lagi ke masalah “Ana Salafi!” di atas. Gue appreciate banget ama sahabat gue itu. Kok bisa ya? Dan lebih appreciate-nya lagi, terjadi perubahan drastis pada dirinya. Sample :

  

Satu, dia berseloroh “Khawarij gaya baru!”, no one else but me! Kalo bukan diarahin ke gue, ke siapa lagi? Hantunya Helen? Mungkin juga sich kalo gue paksain harus berhusnuzhan terhadapnya.

  

Dua, dia juga ngomong kalo “Said Hawa, Sayyid Quthb itu sesat”, wah dah lah. Dulu sich gue pernah denger kalo orang-orang yang menisbatkan dirinya sebagai Salafi emang suka menyesatkan dan mengkafirkan orang, tapi kan dari orang lain, alias gak pernah ngalamin sendiri, jadi agak-agak nggak percaya. Dan sungguh sampai dengan kejadian “Ana Salafi” diatas, pandangan gue terhadap Salafi masih tetap positif. “Mungkin dia salafi yang nggak hanif.” Sok tau banget ya gue.

  

Tiga, sahabat gue malah jadi agak menjauh dan justru deket sama orang salafi yang ada di lingkungan gue. Dan gue positif banget sama salafi tersebut, hanif, sholeh, gak macem-macem, teduh, adem, pokoknya positif bangetlah.

  

Empat, dia nanyain masalah tauhid Rububiyah, Uluhiyah dan Asma wash-Shifat serta prinsip-prinsip yang harus diketahui sampe ke masalah Wala’ wal Bara’. Kaco, materi-materi dasar tuch, cape deh gue jawabnya, kebanyakkan lupanya dari pada ingetnya. Pasti jawabannya gak muasin dia. Tapi jujur gua bilang “Materi dasar akh, ane perlu review lagi”. Dia Cuma senyum! Gue ????? Cape dech… Dan maaf, gue bersu’udzan dan membayangkan jadi sahabat gue “Tuh kan bener, orang-orang ihwan itu gak perduli dengan masalah tauhid! Hehehe..ketahuan loch, bener juga apa yang ustadz gue bilang…. Ah, nggak, itu pasti pikiran gue doang yang jelek, sorry Akh, paradigma negatif yang gue pake…. Berarti gue musti buka & ngulang lagi materi-materi dasar tarbiah gue yang mungkin sudah hilang dari memori gue. Ya,Rabb, ya murabbi, maaf karena ilmumu hampir aku sia-siakan. Selalu ada hikmah dalam setiap kejadian, itulah keyakinan gue.”

  

Lima, sahabat gue jadi seperti kehilangan jati diri, mudah marah dan tersinggung. Karakter sabarnya yang sangat gue kagumi hilang begitu saja. Padahal dulu dia adalah orang paling sabar yang gue kenal dilingkungan gue. Dialah yang selalu ngingetin gue untuk sabar. I don’t know, what’s wrong with him?

                                                                                               

Enam, kalo kita ngeluarin statement pasti dia nanya Ada dalilnya gak?”. Aduh mak, kalo semua harus pake dalil dan kita musti ngapalin semua, gak mampu dong. Kan, masing-masing orang punya ilmunya sendiri berdasarkan apa yang Allah kehendaki. Ada yang pandai dalam masalah agama, dan itupun masih terbagi-bagi lagi, ada yang cuma tafsir aja, ada yang fiqih aja, ada yang hadits aja dan lain-lain, jarang banget hari gini ada orang yang perfect punya ilmu komplet. Paling-paling satu banding seribu, bahkan sejuta kali? Ada yang cuma menguasai akuntansi aja, marketing aja, kimia aja. Dan semuanya akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah atas ilmu yang dimilikinya dan mendapatkan pahala atas manfaat yang dihasilkan oleh ilmunya tersebut atau dosa atas penyalahgunaan ilmunya tersebut. Contoh manipulasi data keuangan untuk menghilangkan jejak korupsi yang dilakuinnya. Kalo semua orang harus ngapalin dalil-dalil atas setiap tindakannya and musti ngomong dalilnya seperti ini ……., yang ada kita nih umat Islam jadi bakalan digencet oleh hegemoni orang-orang barat yang memang berharap kita tetap bodoh dan sibuk dengan persoalan internalnya. Nggak salah banget, tapi kalo mampu. Malah itu bagus banget, subhanallah, hebat banget. Tapi… Buku-buku agama kan banyak, bisa dipelajari disana. Lagian kan udah ada ulama-ulama yang sangat mumpuni untuk menjawab permasalahan umat bahkan banyak yang sudah buat fatwanya dan diakui oleh masyarakat. Masih berdalih, ulama yang mana? Capek deh jawabnya, mang gak punya otak apa buat mikir. Setiap fatwa itu kan disertai dalil-dalil. Masih berdebat juga, emang dalil-dalilnya qath’I dan shahih. Capek lagi dech jawabnya, cross cek dong jangan Cuma focus sama satu ulama aja, taqlid dan fanatik buta, kalo banyak orang yang mempermasalahkan fatwa ulama tersebut bandingin dong dengan ulama lain, apakah dalilnya lebih kuat atau lebih lemah? Baru putusin mau ambil fatwa yang mana.

  

“Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.” (QS. 39:18)

 

 

Masih nanya juga, kalo gitu masih gunaan nafsu dong dan keluarin dalil hadits arba’in ke-41 yang berbunyi:

  

Abu Muhammad Abdullah bin ‘Amru bin Al-‘Ash ra. Berkata, Rasulullah saw, bersabda, “Tidak sempurna iman seseorang dari kalian sehingga hawa nafsunya tunduk mengikuti apa yang telah aku bawa”.

  

Trus dijawab lagi, terus ditanya lagi, trus didebat lagi, gak kelar-kelar dong sampe lebaran semut. Akhirnya orang yang didakwahi jadi bingung, cengo, takut, eh akhirnya malah gak jalanin apapun alias ngaku Islam doang tapi gak ibadah, sekuler bahkan kafir.

  

Jangan tanya lagi, terus ngeluarin haditsnya Sufyan ats-Tsuari ra, yang diriwayatkan al-Lalikai, beliau berkata: “Bid’ah itu lebih dicintai iblis daripada maksiat, adapun maksiat bisa bertaubat darinya, sementara bid’ah tidak bisa bertaubat darinya”. Oh mai got, jaman milenium nih, jaman internet nih, kan banyak ulama-ulama yang mengeluarkan buku tentang bid’ah. Baca deh buku-buku keluarannya ulama salaf kalau takut salah dalam mendefinisikan bid’ah. Cari lagi referensi yang lain. Jadi dong orang yang bebas, tidak terbatas hanya pada manhajnya saja, tidak terbatas hanya pada jama’ahnya saja, tidak terbatas hanya pada ulama-ulamanya saja. Supaya otak tuh gak jadi tawanan. Syukur alhamdulillah kalo ulamanya atau ustadznya bener, taklid gak apa-apa. Lah wong kita bodoh, takut tersesat. Nah, kalo salah, apa gak rugi? Apa gak nyesel saat pengadilan Allah kelak, dan kita cuma bisa jawab, “Ya Allah, engkau mengetahui hambamu ini sangat dhoif, hamba taklid karena takut terseset kedalam bid’ah yang masih diperdebatkan oleh masyarakat hamba, ampuni hamba ya Allah…..” seraya memohon ampun sambil menangis. Paling tetangganya bilang, Emangnya elo tinggal jaman kapan men, jaman batu ya? Belum ada buku? Belum ada internet? Belum ada orang yang kenal Islam sehingga elo gak dikasih tau akan keajaiban Islam, apa emang elo gak punya otak? Oh mai got, capek deh…. Tapi gak papa juga sih, kalo kita punya keterbelakangan mental, otak yang kecil dan gak berfungsi, loss memory. Allah Maha Tahu hambanya.

  

Karena sebab-sebab di ataslah membuat gue penasaran. Dan terpengaruh, “Apa bener gua sesat?……” Jadi, saat ada waktu agak kosong, mulai deh gue menjelajah internet mencari kebenaran tersebut. Jujur kacau banget gue saat itu, apa bener gue termasuk ahli bid’ah? Sa’id Hawa, Sayyid Quthb, Yusuf Qardhawi, Hasan Al-Banna sesat? Hizb itu bid’ah? Politik bid’ah? …..bid’ah? …. Coba aja baca di KONTROVERSI!

  

Penjelajahan itu, sebagian gue masukin ke KONTROVERSI, sebagian lagi masuk jadi bagian koleksi pribadi gue yang gue jilid. Syukur alhamdulillah, kegamangan gue itu justru berdampak positif terhadap ruhiyah gue. Bukan riya’ loch, tilawah satu juz sehari bisa gue laksanain, Qiyamulail hampir tiap malem, baca buku, tafsir, hadits bener-bener sesuatu yang ajaib. Subhanallah. Sambil selalu berdo’a “Ya, Rabb, kalau memang apa yang saya jalani salah, tunjukilah kesalahan tersebut. Kalau memang sahabat saya yang benar maka tunjukilah kebenaran tersebut dan mudahkanlah saya memperolehnya, karena hanya Engkaulah yang Maha Pemberi Hidayah kepada siapa yang Engkau kehendaki. Dan hanya Engkaulah yang Maha berkehendak untuk menyesatkan hambamu sekalipun kebenaran itu begitu nyata diperlihatkan…”.

  

Banyak banget pertanyaan-pertanyaan yang timbul dalam diri gue, setiap kali membaca hasil penjelajahan tersebut. Apa bener gue seperti itu? Apa bener mereka seperti itu? Apa bener ini bid’ah? Apa bener ini salah? Apa iya seperti itu? Apa Cuma kesalahpahaman? Kebodohan? Taqlid? Fanatik buta? Berat sebelah dalam menilai sesuatu? Kalau bisa diibaratin balon, mungkin kepala gue udah pecah gara-gara pusingnya mikiran hal tersebut.

  

Diskusi terus gue jalanin, sama sahabat gue yang baru hijrah tersebut, ama guru ngaji gue, temen-temen dan Riyadhus Shalihin Imam Nawawi. Untuk buku-buku IM, maaf deh, ntar dulu. Takut nanti berat sebelah dalam menimbang sesuatu maklum gue dah lebih dari sepuluh tahun bergelut dengannya. Gue punya Risalah Pergerakan Ikhwanul Musliminnya Hasan Al-Bana, Membina Angkatan Mujahidnya Sa’id Hawwa, Tafsir Fi-Zhilalil Qur’annya Sayyid Quthb dll. Dan sepanjang itu juga gue gak pernah khatam membaca buku-buku tersebut. Takut terdokrin. Gue juga pernah jadi pengurus partainya loch. Justru buku-buku keluaran Salafilah yang banyak gua baca disaat pencarian gue, seperti Best seller Fathul Majidnya Syaikh Abdurrahman Hasan Alu Syaikh, Mengupas sunnah membedah bid’ahnya Dr. Said bin Ali bin wahf al-Qathani, Jadilah Salafi Sejatinya Syaikh Dr. Abdussalam bin Salim as-Suhaimi, Ensiklopedi Fatwa Syaikh Nashiruddin al-Albani, Membedah Akar Bid’ahnya Ali Hasan Al-Halabi al-Atsari dll. Dan semuanya justru atas saran guru ngaji gue, katanya “Beli aja, baca, nanti kita diskusikan dengan sebelumnya buat referensi atas buku-buku tersebut”. Subhanallah ya, sangat terbuka, dari dulu sampe sekarang gak pernah berubah, gue dan temen-temen ngaji gue dipersilahkan dengan luas banget untuk cari ilmu dari siapa aja tanpa dibatasi sedikitpun. Ada juga kisah ngerinya gue saat mencari buku Membuka Kedok Yusuf Qordowi, penasaran dengan komentar-komentar negatif terhadapnya. Waktu itu gue tanya ama penjual buku “Pak ada buku Membuka Kedok Yusuf Qardhawi gak? Atau kesesatan Yusuf Qhardawi?” pelan-pelan banget takut kedengaran orang lain. Eh,tuh abang malah ngomong keras tanya ke temennya tentang buku yang gue cari. Sontak saja hampir seluruh pembeli di kios itu ngeliat ke arah gue. Gue cume pura-pura aja gak denger, ngeri banget kalo sampe bikin sakit hati orang-orang tersebut. “Ya Allah, ampuni aku, aku hanya ingin cross cek informasi tersebut, Engkau mengetahui segala isi hati hamba-Mu”.

  

Waktu gue minta maaf ke murabbi gue, gara-gara beli buku itu, beliau Cuma nyengir kayanya agak malu. “Akhi, gak perlu ijin ke ana. Allah akan menunjuki siapa saja yang dia kehendaki. Ana bukan siapa-siapa yang harus disakralkan dan dipatuhi ucapannya. Kalau itu baik menurut antum, lakukan saja. Ana terbuka banget untuk kalo antum bingung dan ingin sharing masalah antum.” Afwan bang, tapi kalo merekakan anti banget untuk baca buku diluar kalangannya. Bahkan dilarang keras. Beliau Cuma senyum. Teduh banget, subhanallah.

  

Setelah agak puas mendapat pandangan-pandangan tersebut, ada yang positif dan banyak banget yang negatif, yang bisa saja merusak pondasi keadilan dalam menilai sesuatu. Mulailah gue baca buku Anugrah Allah yang Terzaliminya Farid Nu’man. Di sini gue melihat pandangan-pandangan yang adil dan bijak yang lebih bisa diterima. Ada dalil-dalilnya, sama seperti pandangan-pandangan orang-orang yang mengaku Salafi (yang Cuma ngaku doang. Jadi kalo gak ngerasa jangan marah ya). Tak percaya begitu saja dengan Anugrah Allah yang Terzalimi, gue mulai beli buku Halal wal Haramnya Dr.Yusuf Qardhawi, dan Pengkafiran Sesama Muslimnya Dr.Mustafa Helmi. Untuk sebagian dari isi buku-buku tersebut dapat dilihat di IHWAN dan KONTROVERSI.

  

Alhasil, gue menyimpulkan: tidak ada kebenaran yang mutlak menurut pandangan manusia sekalipun itu disertai dalil-dalil yang nyata. Tergantung dari sisi mana manusia itu melihatnya. Bila paradigmanya positif, sekalipun itu salah dan sesat dan disertai oleh dalil-dalil yang dhoif kemudian disalahkan/diluruskan oleh orang-orang yang mumpuni ilmunya dengan dalil shahih maka mentahlah semua pelurusan tersebut. Sebaliknya, bila paradigmanya negatif terhadap orang lain, sekalipun itu benar dan nyata seperti terangnya matahari di siang bolong dan disertai oleh dalil-dalil yang Shahih, maka akan dicari dalil-dalil lain yang digunakan untuk membenarkan pandangnya dengan kata lain sesuai dengan hawa nafsunya maka kebenaran yang nyata tersebut akan mentah dengan paradigma negatifnya.

  

Hanya Allahlah tempat segala kebenaran, Dialah yang akan mengungkap kebenaran dan kesalahan hamba-hambanya, tanpa ada yang dizalimi sebesar dzarahpun di pengadilannya kelak. Jangan tanya lagi Mizannya seperti apa? Ini mutasyabihat atau muhkamat? Kalau dijelaskan maka akan banyak pandangan yang saling berbantah-bantahan dan panjang tak berujung dan membikin tambah bingung orang-orang yang baru mengenal Islam apalagi yang belum mengenalnya.

  

“Dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) akan berkumpul menghadap ke hadirat Allah, lalu berkatalah orang-orang yang lemah kepada orang-orang yang sombong: “Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan daripada kami azab Allah (walaupun) sedikit saja? Mereka menjawab: “Seandainya Allah memberi petunjuk kepada kami, niscaya kami dapat memberi petunjuk kepadamu. Sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh ataukah bersabar. Sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri”. (QS. 014:021)


 
”Dan (ingatlah), ketika mereka berbantah-bantah dalam neraka, maka orang-orang yang lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri: “Sesungguhnya kami adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan dari kami sebahagian azab api neraka?”. (QS. 040:047)

 

 

Semua orang mempunyai hak untuk bicara dan mengeluarkan pendapatnya, mau itu berdasarkan dalil-dalil yang shahih atau pandangan akal atau yang nyeleneh dan aneh sekalipun. Tidak ada yang bisa melarangnya. Tapi yang gue yakini, semuanya akan diminta pertanggungjawaban oleh Allah, baik itu lisan, perbuatan atau tulisan kita ini.

  

Apakah pembuatan blog saya ini salah? Itu tergantung lagi paradigma masing-masing, bebas-bebas saja menanggapinya, terserah!! Kalo Gusdur bilang “Gitu aja kok repot!”.

  

Sekarang siapakah yang bisa menahan Aa’Gym yang lebih mementingkan Manajemen Qalbu dengan prinsip Kebersihan Hati dalam setiap dakwahnya. Sah saja kan kalau gue berpendapat beliau jengah dengan orang-orang yang saling hujat sesama muslim, merasa dirinya, golongannya, partainya, jamaahnya lebih baik, lebih selamat, lebih sempurna, lebih ditolong, lebih banyak jama’ahnya sehingga membuang jauh-jauh firqah-firqah, manhaj-manhaj, mahzab-mahzab yang justru malah memecah belah umat. Aa’ gym punya hak berdasarkan kata hatinya dan orang lain juga punya hak menyanggahnya dengan mengkritiknya mengeluarkan buku Raport Merah Aa’ Gym. Itu terserah masing-masing, tapi sayang justru dakwah beliau kurang syi’ar lagi setelah beliau berpoligami. Dalilnya seperti yang sering kita dengar, “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.”(QS. 004:003) dan manusia tidak perduli, pokoknya kalo gak suka ya gak suka, sampe orang yang gak pernah menghadiri majlisnya juga berpandangan negatif terhadapnya. Mau itu ada dalilnya kek! Bodo amat! Lantas siapa yang bisa melarang? Hak masing-masing kan? Sekalipun dijelaskan oleh orang-orang yang mumpuni, tetap aja mentah. Padahal banyak banget yang positif yang bisa diambil dari sana. Majlisnya selalu penuh dengan orang-orang yang mau mengenal Islam lebih dekat. Ada yang mau bertanggungjawab? Paling-paling tanggapannya beragam, ada yang sesuai dengan nafsunya, ada yang menggunakan dalilnya, dan lain-lain. Semuanya akan berpulang kepada Allah atas hal tersebut.

  

Lalu siapa yang bisa menahan gerak laju dakwah Ihwanul Muslimin? Sekalipun dihujat, disesatkan, dibid’ahkan tetap saja dia mendapat sambutan dari umat. Pernah gak berfikir kenapa Sayyid Quthb berbuat seperti itu? Ada nggak sih kemungkinannya karena penganiayaan dan kedzaliman yang pernah diderita oleh mereka sehingga akhirnya mereka jengah dengan kondisi yang terjadi. Mengapa kita tidak mau sejenak berfikir, bagaimana kalau kita menjadi mereka, apakah kita akan tahan terhadap ujian tersebut seperti halnya Syaikh al-Albani yang akhirnya memutuskan untuk hijrah dari negeri asalnya karena pemerintahan sekuler yang baru terbentuk. Atau justru melawan ketidakadilan dan kezhaliman tersebut dengan menggunakan sudut pandang kita sebagai manusia biasa seperti halnya para pendiri Ikhwanul Muslimin.

  

Lantas siapa yang bisa menahan gerak laju dakwah salafiah? Sekalipun dikecam oleh orang-orang akibat faham pengkafirannya (yang lebih terkenal) terhadap jama’ah diluarnya dibandingkan manhaj Salaf Shaleh yang subhanallah sungguh mulia. Dihubung-hubungkan dengan faham Wahabi, sehingga timbul penistaan terhadap ulama-ulama seperti Ibnu Thaimiyah secara tidak adil. (Lihat kontroversi) Apakah ada yang bisa menahannya? Pernahkah kita berfikir, bagaimana jika pemerintah Arab Saudi adalah pemerintahan seperti pemerintahan Mesir saat berdirinya Ihwanul Muslimin yang zalim dan merupakan boneka dari penjajah kaum kafir laknatullah. Apakah para ulama-ulama mereka akan tetap menjadi seperti Ahmad bin Hambal yang lebih menerima penganiayaan dari penguasanya, atau seperti Syaikh al-Albani yang hijrah untuk menyelamatkan diennya atau seperti Sayyid Quthb yang melakukan perlawanan? Jawablah berdasarkan jati dirimu yang sebenarnya sebagai manusia yang lemah dan memiliki banyak kekurangan! Berdasarkan karaktermu yang sesungguhnya! Bukan berdasarkan karakter ulama-ulama yang sungguh mulia apalagi memaksakan berdasarkan karakter Rasulullah saw yang ma’sum yang sungguh jauh kesempurnaannya dari kita!

  

Siapakah yang bisa menahan ucapan manusia jahil yang (maaf) menyebut salah satu ulama dengan nama binatang najis yang bertaring. (Tidak perlu ana tampilkan, karena sangat tidak pantas) Kita tidak ada apa-apanya dibandingkan mereka yang sungguh mulia. Satu pahala atas kesalahan ijtihad mereka dan dua pahala atas kebenaran ijtihad mereka adalah hak mereka dari Allah yang tidak bisa kita pungkiri. Kekeliruannya akan mereka pertanggungjawabkan dihadapkan Allah sama seperti kekeliruan kita yang jahil. Dan sungguh ngeri untuk dibayangkan bahwa kita tidak memiliki hujjah yang kuat seperti halnya mereka para ulama yang mulia. Kita hanyalah para penuntut ilmu yang berusaha memaksakan diri untuk menghafal dalil-dalil untuk menguatkan hujjah-hujjah yang wallahu’alam hanya kita sendiri dan Allah yang lebih mengetahui alasan dan tujuan kita menghafalnya!

  

Lalu, sekarang siapakah yang bisa menahan orang lain menggunakan haknya untuk mengeluarkan pandangan bahwa orang-orang yang menggunakan kata-kata kasar dalam aktifitas dakwahnya (khususnya di internet) kini sudah mulai berubah dan sadar. Tetapi yang disedihkan, kenapa kesadarannya baru tercabik dan terkoyak setelah dikeluarkan fatwa larangan! Apakah sebelumnya kita tidak memahami makna dalil-dalil ini :

  

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya. “(QS. 003:159)

 

“Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah-lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. 005:054)

 

 

“maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah-lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut”. (QS. 020:044)

 

 

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”(QS. 016:125)

  

Apakah sebelumnya kita tidak menggunakan nurani kita sebagai manusia yang penuh dengan kelemahan dan kekurangan!

  

Apakah kita hanyalah para fanatik dan pentaqlid buta dan menjadi tawanan atas hawa nafsu dan kejahilan kita!

  

Apakah kita tidak menggunakan akal kita dalam setiap keputusan yang kita jalani! Padahal kita tahu banyak ayat-ayat yang mengingatkannya!

  

Allah menganugerahkan al hikmah (kepahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa yang dianugerahi al hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).”(QS. 002:269)



Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat itulah pokok-pokok isi Al Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal. “ (QS. 003:007)

 

“Katakanlah: “Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS. 005:100)

 

“Dan tidak ada seorang pun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya. “(QS. 010:100)

 

“Dan mereka menetapkan bagi Allah apa yang mereka sendiri membencinya, dan lidah mereka mengucapkan kedustaan, yaitu bahwa sesungguhnya merekalah yang akan mendapat kebaikan. Tiadalah diragukan bahwa nerakalah bagi mereka, dan sesungguhnya mereka segera dimasukkan (ke dalamnya). (QS. 016:062)

 

“Dan sesungguhnya Kami tinggalkan daripadanya satu tanda yang nyata bagi orang-orang yang berakal.”(QS. 029:035)

 

“(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.”(QS. 039:009)

 

“Tentang sesuatu apa pun kamu berselisih maka putusannya (terserah) kepada Allah. (Yang mempunyai sifat-sifat demikian) itulah Allah Tuhanku. Kepada-Nya lah aku bertawakal dan kepada-Nya lah aku kembali. (QS. 042:010)

 

Allah menyediakan bagi mereka azab yang keras, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang yang mempunyai akal, (yaitu) orang-orang yang beriman. Sesungguhnya Allah telah menurunkan peringatan kepadamu,”(QS. 065:010)


 

Atau kita hanya menjadi manusia yang “apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami, mereka berkata: “Sesungguhnya kami telah mendengar (ayat-ayat yang seperti ini), kalau kami menghendaki niscaya kami dapat membacakan yang seperti ini, (Al Qur’an) ini tidak lain hanyalah dongengan-dongengan orang-orang purbakala”.  (QS. 8:31)

 

 

“Sehingga kita menjadi salah satu dari manusia yang dinyatakan dalam ayat dan ada (pula) orang-orang lain yang ditangguhkan sampai ada keputusan Allah; adakalanya Allah akan mengazab mereka dan adakalanya Allah akan menerima tobat mereka. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. 9:106)

 

 

Jawab itu wahai kita manusia yang sombong, yang merasa diri paling benar, paling selamat, paling shaleh, paling baik, paling Islami! Apakah kita tidak paham dengan ayat Katakanlah: “Dia-lah Allah Yang Maha Penyayang, kami beriman kepada-Nya dan kepada-Nya-lah kami bertawakal. Kelak kamu akan mengetahui siapakah dia yang berada dalam kesesatan yang nyata”.  (QS. 67:29)   dan kita pada akhirnya hanya mampu berkata: “Aduhai celakalah kita; sesungguhnya kita ini adalah orang-orang yang melampaui batas”.  (QS. 68:31)

  

Hai, para penyembah thagut laknatullah, para misionaris Yahudi dan Nasrani! Lihatlah kami telah memakan umpan yang telah kalian pasang dalam perangkapmu. Kalian tidak perlu bekerja, karena kami telah bertarung dengan sengitnya. Kalian tinggal menopang satu kaki kalian pada kaki kalian yang lainnya, sambil meminum khamr, menghisap cigaret dan ditemani para wanita kalian serta tersenyum puas atas kehancuran yang hampir-hampir tidak kami sadari.

  

Terakhir, blog ini saya kasih alamat ihwansalafy dengan judul blog Islamku Kini, bukan karena saya ingin menisbatkan diri terhadap ihwan, mereka jauh lebih baik dalam niat, amal dan ketaatan dibanding diri saya atau menisbatkan diri terhadap salaf, mereka para salaf sungguh sangat mulia dan juga kekhawatiran bila ada yang tidak ikhlas lantaran dianggap mengaku-ngaku salaf terus ngeluarin sebuah pepatah Arab: Semua orang mengaku kekasih Laila, Akan tetapi sayang, Laila sendiri tidak mengakuinya. Atau justru ditanggapi ingin mencampuradukkan antar haq dan bathil. Siapa yang haq? Siapa yang bathil? Whatever, semuanya saya serahkan kepada pembaca, dan menyerahkan seluruhnya berdasarkan paradigmanya masing-masing. Yang pasti saya tidak mau membuang energi saya untuk hal-hal yang justru malah akan menimbulkan keburukan yang lain, sekalipun pasti akan ada yang menanggapinya buruk juga, saya serahkan sepenuhnya kepada Allah SWT. Ini adalah kebenaran yang saya yakini saat ini merujuk pada nash-nash yang qath’I dan shahih, dan saya tidak perduli dengan kebenaran menurut persepsi dan paradigma orang lain.

  

Semoga Allah mengampuni kita semua atas segala dosa-dosa kita dan menunjuki kita kebenaran yang sesungguhnya.

  

“(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat” (QS. 001:007)

  

(Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).” (QS. 003:008)

  

“Maka mengapa kamu (terpecah) menjadi dua golongan dalam (menghadapi) orang-orang munafik, padahal Allah telah membalikkan mereka kepada kekafiran, disebabkan usaha mereka sendiri? Apakah kamu bermaksud memberi petunjuk kepada orang-orang yang telah disesatkan Allah? Barang siapa yang disesatkan Allah, sekali-kali kamu tidak mendapatkan jalan (untuk memberi petunjuk) kepadanya. “(QS. 004:088)

  

“Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudarat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. “(QS. 005:105)

  

“Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui tentang orang yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui tentang orang-orang yang mendapat petunjuk.”(QS. 006:117)

  

“Barang siapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barang siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.”(QS. 006:125)

  

“Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa yang disesatkan Allah, maka merekalah orang-orang yang merugi. “(QS. 007:178)

  

“Barang siapa yang Allah sesatkan, maka baginya tak ada orang yang akan memberi petunjuk. Dan Allah membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan.”(QS. 007:186)

  

“Dan barang siapa yang ditunjuki Allah, dialah yang mendapat petunjuk dan Barang siapa yang Dia sesatkan maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penolong-penolong bagi mereka selain dari Dia. Dan Kami akan mengumpulkan mereka pada hari kiamat (diseret) atas muka mereka dalam keadaan buta, bisu dan pekak. Tempat kediaman mereka adalah neraka Jahanam. Tiap-tiap kali nyala api Jahanam itu akan padam Kami tambah lagi bagi mereka nyalanya.”(QS. 017:097)

  

“Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari itu terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tak akan mendapatkan seorang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.”(QS. 018:017)

Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendakiNya. Dan barang siapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorang pun pemberi petunjuk baginya.”(QS. 039:023)

  

 

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?”(QS. 045:023)

  

“Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah Yang Paling Mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya; dan Dia-lah Yang Paling Mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”(QS.068:007)

   

Yang benar dari Allah semata, yang salah adalah saya pribadi. Semoga jadi renungan kita bersama.

  

ôõô 

Iklan