Pandanganku Terhadap Kesesatan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah

  

(Bantahan fitnah Kesesatan Ulama & Tokoh Islam)

    

Assalamu’alaikum warahatullahi wabarakatuh,

  

Dear Bro’, berikut adalah articleku terhadap fitnah-fitnah yang menimpa ulama & tokoh-tokoh Islam. Sebagai article pertama aku ketengahkan kepada kalian mengenai Syaikul Islam Ibnu Taimiyah. Article ini kubuat sebagai bantahan atas Kesesatan Ibnu Taimiyah dengan maksud untuk memperbaiki kekhilafan dan kekeliruan pandangan banyak orang-orang yang tidak mengenal beliau.

  

Sekalipun Kategori Kontroversi telah aku sebutkan dalam Latar Belakang sebagai gambaran/contoh orang-orang yang ghuluw, taklid dan jahil terhadap jamaah atau manhajnya. Tetap saja ada komentar yang sepertinya tidak tepat. Berikut aku tampilkan komentar dan jawabanku terhadap article Kesesatan Wahabi, sebelum kalian membaca article tandinganku terhadap kesesatan Ibnu Taimiyah:

 

5. Abbasi Hafaz  |  Oktober 17, 2007 at 12:24 am

 

·         Saya adalah orang dilahirkan di tengah lingkungan NU, sebagaimana maklum diketahui, secara organisatoris NU dikenal sebagai organisasi yang menganggap Ibn Taimiyah sebagai figur yang tidak mu’tabar, maka secara otomatis, karya-karyanya pun dianggap tidak mu’tabarah, sebagai anak lingkungan, saya jelas terpengaruh dengan doktrin tersebut, namun seiring meningkatnya perjalanan intelektualitas saya, maka saya harus berhadapan dengan beragam pemikiran dan aliran keagamaan, lebih-lebih setelah saya belajar di Kairo, saya dituntut untuk memposisikan diri sebagai hakim yang adil, oleh karena itu, saya harus mendengarkan semua klaim dan aliran pemikiran yang tengah bergulir di tengah masyarakat, maka saya memberanikan diri membuka referensi-rerensi yang selama ini tabu dibuka oleh keluarga saya, termasuk buku-buku Ibn Taimiyah, sebuah tradisi baru yang sama sekali bertolak dengan tradisi keluarga saya, dari sinilah saya mendapatkan kesimpulan, bahwa ternyata Ibn Taimiyah tidak sejelek yang saya pahami selama ini, demikian pula beliau tidak sepenuhnya sakral sebagaimana dipahami oleh orang Wahhabi, oleh karena itu, alangkah baiknya kalau kita belajar pada Imam Malik Ra. ketika berkata: “Kullun yu’khadzu wa yutraku illa shohibu hadzihi ar-Raudhah”, artinya, apa yang menjadi pendapat ulama, bisa saja diambil dan ditolaki kecuali perkataan Nabi Saw.

 

Dan, prinsip ini berlaku terhadap siapapun, termasuk Ibn Taimiyah, Imam Ghazali, bahkan Imam Syafi’i sekalipun.

 

Jadi saya sangat menyayangkan sekali terhadap pemilik blog ini, yang dengan serampangan dan tanpa ilmu mengatakan :Ibn Taimiyah la’natullah alaihi”. Na’udzubillahi min dzalik. Semoga kita dijauhkan dari ahli ilmu. Padahal, Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki, sebagai figur yang dimusuhi kaum Wahhabi, menyikapi semua ini dengan bijak dalam kitabnya “Mafahim yajibu an tushahhaha”. Di dalamnya kita bisa belajar, bagaimana dengan tanpa alergi, beliau mengutip perkataan Ibn Taimiyah. Thank’s

__________

Ibn Abd Muis, menjawab:

? ? ? ? ? ?

Afwan. lihat latar belakang kenapa ana buat blog ini.

 

·         5. Abbasi Hafaz  |  Oktober 17, 2007 at 12:24 am

 

Akhi…Saya mohon maaf, kemarin saya hanya membaca satu postingan Anda yang di dalamnya ada kata: “Ibn Taimiyah La’natullahi alaihi”, saat itu saya agak emosi, jadi tanpa melihat profil antum lebih dahulu, saya langsung memberikan tanggapan, tapi setelah kini saya membuka profil antum, saya jadi mengerti, bahwa Antum satu garis dengan saya, yaitu melihat sesuatu secara objektif dengan prinsip, tidak ada kebenaran mutlak, kecuali Rasulullah Saw.

 

Sekali lagi mohon maaf, dan terima kasih.

__________

Ibn Abd Muis, menjawab:

Barrakallahu fiikum akhi Abbasi Hafaz. Ana juga minta maaf, mungkin musti diperjelas lagi maksud article di atas, agar tidak salah tafsir bagi siapa saja yang membacanya. Karena sebenarnya artikel ini saya kutip untuk memperlihatkan kepada siapa saja yang membaca, sebagai gambaran bahwa ada orang-orang jahil yang bersikap ghuluw terhadap diennya. Ana memiliki beberapa buku karangan Ibnu Taimiyah dan ana banyak mengambil manfaat dari buku-buku tersebut. Wallahu’alam.

 

7. Suwito  |  Oktober 23, 2007 at 2:12 am

·         Sungguh pemikiran yang tidak berdasarkan pada ILMU, tapi hanya berlandaskan Copy n Paste dari Referensi Yang tidak Jelas.

 

Walyau’dzubillah Minzallik.

__________

Ibn Abd Muis, menjawab:

Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh, teramat banyak orang yang langsung menilai sesuatu padahal dia belum memahami secara keseluruhan mengenai sesuatu tersebut. Berikut ana kutipkan kembali sebagian dari isi yang ada di Halaman Latar Belakang Kronologis kenapa ana buat blog ini (kalau antum belum baca), agar antum bisa memahaminya secara utuh:

 

Lantas siapa yang bisa menahan gerak laju dakwah salafiah? Sekalipun dikecam oleh orang-orang akibat faham pengkafirannya (yang lebih terkenal) terhadap jama’ah diluarnya dibandingkan manhaj Salaf Shaleh yang subhanallah sungguh mulia. Dihubung-hubungkan dengan faham Wahabi, sehingga timbul penistaan terhadap ulama-ulama seperti Ibnu Thaimiyah secara tidak adil.

 

Ana pun mengucapkan “Walyau’dzubillah Minzallik” seperti antum saat ana membaca article Kesesatan Wahabi ini. Padahal ana bukanlah orang Salafy dan ana tahu benar pandangan dan kebencian orang-orang Salafy terhadap manhaj ana sekarang, tetapi ana tidak mau langsung menjudge dan memberikan kesimpulan akhir sebelum ana memahami profil orang tersebut mengapa mengeluarkan tindakan yang mungkin menurut kita salah. InsyaAllah, dalam waktu dekat ana akan membuat article bantahan atas article Kesesatan Wahabi yang ana copy paste ini menurut pandangan ana. Barakallahu fiikum. Akhi, ana paham perasaan antum!

  

Karena itulah dan karena banyaknya tuduhan dan fitnah yang menimpa ulama-ulama kita secara tidak adil, maka berikut article sanggahanku terhadap fitnah-fitnah tersebut, sebagai upaya pembelaan, penghormatan dan penghargaanku terhadap mereka:

  

Ibnu Taimiyah yang bernama lengkap Taqiyudin Abul Abbas Ahmad as-Syaikh Syihabuddin Abi al-Mohsin Abdul Halim Ibnu Syaikhul Islam Majdudin Abil Barakat Abdussalam Ibnu Abi Muhammad Abdullah bin Abi al-Qasim al-Khadar bin Muhammad bin al-Khadar bin Abdullah Ibn Taimiyah al-Harrani yang dinasabkan kepada Al-Harran di Negeri Syam (Subhanallah, panjang banget ya Bro’). Beliau adalah seorang ulama besar, mujahid dan diberi julukan sebagai Syaikhul Islam oleh para ulama Salaf as-Shaleh yang sangat dikenal oleh sebagian besar umat Islam di dunia dan sebagian umat bukan Islam.

  

Beliau dilahirkan di Harran pada 590H. menghafal al-Qur’an, mendalami hadits dari pamannya Fahruddin dan beberapa orang ulama sehingga menjadi penghafal hadis (Ahli Hadits). Ilmunya diperoleh hingga ke Bagdad ibukota kekhalifahan Abbassiyah pada tahun 603H dan wafat pada tahun 672H di Bagdad. (Lihat Al-Fatawa al-Kubra, Jilid I, muqaddimah, Qaddama lahu wa-‘arrafa bihi: Muhammad Makhluf, Dar al-Ma’rifah, Beirut)

  

Ratusan kitab yang dikarang oleh beliau diakui kebenarannya dan dimanfaatkan serta tidak dipermasalahkan oleh banyak ulama Islam di seluruh dunia hingga sekarang. Dan mendapatkan pujian dari az-Zahabi rahimahullah: “Setiap hadist yang tidak diketahui oleh Ibnu Taimiyah maka dia bukanlah hadist”. Dari segi ilmu, Ibnu Taimiyah menerima dan menggunakan ilmu-ilmu dari semua ulama salaf terdahulunya terutama keempat imam mazhab dan periwayat hadist-hadist utama seperti Bukhari, Syafie, Tabari, al-Asbahani, al-Lalakai, Ibnu Khuzaimah dan lain-lain yang dipakai dalam fatwa-fatwanya. (Lihat: Muqaranah baina al-Ghazali wa Ibnu Taimiyah. Hlm. 22. Dr. Muhammad Rasyad Salim. Cetakan. 1395H-1975M. Ad-Dar as-Salafiyah.).

  

Ikhwan dan akhwat fillah, berikut adalah tuduhan pertama yang dilontarkan oleh orang-orang ghuluw, taklid dan jahil terhadap beliau. Sebenarnya pernyataan ini bisa dibilang mudah tapi sulit. Dan bisa dibilang sulit tapi mudah. Kok, aneh sech? Ya, karena pernyataan ini telah menjadi perselisihan paham diantara ulama dan pengikutnya sudah dari jaman duhulu kala. Dan dari perselisihan ini timbul banyak tuduhan dan fitnah terhadap ulama lainnya dengan tuduhan berpaham wihdatul wujud. Tambah bingung nggak Bro’? Iniloch tuduhannya:

  

Ibnu Taimiyah dihukumi SESAT karena memiliki pandangan bahwa Tuhan mempunyai muka, tangan, tumit kaki, betis, mata, rusuk, bernafas, turun-naik, bersemayam (istiwa), berada atau bertempat di langit, dan Tuhan itu “masa”.

  

Please, jangan berkomentar dulu. Memang Aneh sich?! Tapi nyata loch Bro’?! Gua inget banget bro’ waktu gua kelas satu ESDE. Ada temen gua yang baru pindah dari Madrasah Ibtidaiyah Cirebon (sekolah agama setingkat SD di Jawa Tengah) yang berkomentar ke gua tentang beberapa hal di atas. Katanya: “Allah itu menciptakan seluruh alam ini beserta isinya dengan tangan loch?”. Katanya juga: “Dia juga selalu melihat apa yang kita lakukan, sehingga kita harus hati-hati kalau mau berbuat dosa”. Katanya juga: “Kalo dia melihat kita berarti dia punya mata”. Dan pernyataan maupun pertanyaan lainnya seputar hal-hal di atas.

  

Subhanallah ya Bro’, masih kelas satu ESDE aja udah mikirin hal-hal yang ngejelimet gitu. Ini udah urusan Tauhid loch bro’. Bisa gila kalo loch gak hati-hati dan mohon petunjuk-Nya. Untung aja waktu itu masih kecil, jadi gak dituduh berpaham wihdatul wujud.

  

Atas pernyataan dan pertanyaan tersebut, waktu itu gua cuma ngomong ke temen gua yang namanya Rahma (cewek bro’) “Ma, kalo gak salah, kata Mamak gua ‘Tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia’. Allah itu gak beranak dan diperanakkan. Berarti Allah kita beda dengan Allahnya orang Kristen, karena Allahnya mereka punya ibu kaya kita yaitu Bunda Maria. Berarti Allahnya orang Kristen itu manusia. Kok mereka mau nyembah manusia ya. Kan manusia bisa mati….”. setelah perkembangan waktu dan pemahaman baru deh kita tahu kalo itu firman Allah dalam surat al-Ikhlas.

  

Lanjut gua waktu itu, “Kalo tidak ada seorangpun yang setara dengan Allah, ya mungkin juga Allah punya tangan, tapi kita gak tau tangannya kaya apa, soalnya bumi itu kan gede banget, belom lagi ada langitnya tujuh lapis lagi, trus jarinya kaya gimana? Jumlahnya berapa, yak gak tau dah……”dan pertanyaan, pernyataan dan jawaban serta diskusi tersebut masih berlanjut sampai kita sadar bahwa itu adalah mutashabihat yang tidak perlu dibahas hingga detail. Ternyata, sekarang kita tahu, hal tersebut menjadi masalah yang diperselisihkan dan menimbulkan banyak fitnah dan pertumpahan darah antara sesama muslim. Sedih ya Bro’. Satu pihak mengatakan “Pokoknya gak boleh ditakwil, ditahrif dan ditamsil, titik! Elo kafir dan sesat kalo melakukannya!”. Sementara yang lain mengatakan, kita hanya berusaha menghentikan dan membatasi orang-orang bodoh untuk mentakwil, mentahrif dan mentamsil sesuai hawa nafsunya agar kesucian Allah tetap terjaga.

  

Mengenai fitnah terhadap Ibnu Taimiyah diatas (Tuhan mempunyai muka, tangan, tumit kaki, betis, mata, rusuk, bernafas, turun-naik, bersemayam (istiwa), berada atau bertempat di langit, dan Tuhan itu “masa”), ternyata pendapatnya ini adalah berdasarkan pemahaman para sahabat, tabi’in, tabi’ut at-tabi’in dan para ulama Ahli Sunnah wal-Jamaah juga yang bermanhaj Salaf as-Shaleh. Diantaranya:

  

Imam al-Auza’I yang dianggap Imam ahli Syam di jamannya. Beliau berkata: “Kami dan para tabi’in semuanya menetapkan dengan kesepakatan qaul kami bahwa: Sesungguhnya Allah di atas ‘Arasy-Nya dan kami beriman dengan apa yang telah dinyatakan oleh Sunnah berkenaan sifat-sifat Allah Ta’ala” (Lihat Fathul Bari halaman 406. Ibn Hajar al-Asqalani. Dar Ihya at-Turath al-Arabi. Beirut).

  

Imam Abu Hasan Al-Asy’ari rahimahullah, yang dikenali sebagai Imam Ahli sunnah wal-Jamaah beliau telah menegaskan bahwa al-Qur’an bukan makhluk dan diturunkan oleh Allah yang berada di langit dan beliau seterusnya menjelaskan: “Allah mempunyai sifat, mempunyai tangan, bersemayam di atas Arasy-Nya dan al-Qur’an diturunkan dari langit”. (Lihat Iktiqad Aimatul Hadist hlm 50-51. Ismaili).

  

Imam as-Syafi’i rahimahullah menjelaskan (sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abi Talib setelah beliau ditanya tentang sifat Allah): “Dan bagi-Nya dua tangan sebagaimana firman-Nya: (Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka. Bagi-Nya tangan sebagaimana firman-Nya: Dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Allah mempunyai wajah sebagaimana firman-Nya: Setiap sesuatu akan binasa kecuali Wajah-Nya. Baginya kaki sebagai sabda Nabi saw: Sehinggalah Dia meletakkan wajah dan Kaki-Nya. Dia mempunyai jari sebagaimana sabda Nabi Sallallahu ‘alaihi wa-sallam: Tiadalah hati itu kecuali antara jari-jari dan jari-jari Ar-Rahman (Allah). Kami menetapkan sifat-sifat ini dan menafikan dari menyerupakan sebagaimana dinafikan sendiri oleh Allah sebagaimana difirmankan: (Tiada sesuatu yang serupa dengan-Nya dan Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat)”. (Lihat Iktiqad Qimmah al-Arba’ah. Abi Hanifah, Malik, Syafie wa-Ahmad. Hlm 46-47).

  

Imam Syafi’i juga menjelaskan: “Dan Allah Ta’ala di atas ‘Arasy-Nya (Dan ‘Arasy-Nya) di langit”. (Lihat Iktiqad Qimmah al-Arba’ah. Abi Hanifah, Malik, Syafie wa-Ahmad. Hlm 40).

  

Imam Syafi’i juga menjelaskan: “Kita menetapkan sifat-sifat (Allah) sebagaimana yang didatangkan oleh al-Qur’an dan yang warid tentang-Nya dari sunnah, kami menafikan tasybih (penyerupaan) tentang-Nya karena dinafikan oleh diri-Nya sendiri sebagaimana firman-Nya” (Tiada sesuatu yang serupa dengan-Nya). (Lihat Iktiqad Qimmah al-Arba’ah. Abi Hanifah, Malik, Syafi’i wa-Ahmad. Hlm 42).

  

Imam Syafi’i juga telah menjelaskan tentang turun naiknya Allah: “Sesungguhnya Dia (Allah) turun setiap malam ke langit dunia (sebagaimana) menurut khabar dari Rasulullah sallallahu’alaihi wa-sallam”. (Lihat Iktiqad Qimmah al-Arba’ah. Abi Hanifah, Malik, Syafi’i wa-Ahmad. Hlm 47).

  

Pernyataan Ibnu Taimiyah dan Imam Syafi’i  yang sejalan ini ternyata berlandaskan hadist Rasulullah sallallahu’alaihi wa-salam: “Tuhan kita turun ke langit dunia pada sepertiga malam yang terakhir, maka Ia berfirman: Barangsiapa yang berdoa padaku maka akan aku kabulkan, barangsiapa yang meminta maka akan aku beri dan barangsiapa yang meminta ampunan maka akan aku ampunkan”. (HR. Bukhari:1141, /muslim:758, Abu Daud: 4733, Turmizi: 4393, Ibnu Majah: 1366, Ahmad:1/346)

  

Abdullah bin al-Mubarak rahimahullah ketika ditanya tentang bagaimana agar kita mengetahui di mana Allah? Beliau menjawab: “Dengan mengetahui bahwa Dia di atas langit ketujuh di atas Arasy”. (As-Sunnah. Hlm. 5. Abdullah bin al-Imam Ahmad).

  

Rasulullah sallallahu’alaihi wa-salam pun mengakui dan menerima pernyataan tentang di mana Allah dalam sabdanya: Berkata Muawiyah bin Hakam as-Sulami: Aku memiliki seorang hamba wanita yang mengembalakan kambing di sekitar pegunungan Uhud dan Juawainiyah. Pada suatu hari aku melihat seekor serigala menerkam dan membawa lari seekor kambing gembalaannya. Sedang aku termasuk seorang anak Adam kebanyakan. Maka aku mengeluh sebagaimana mereka. Karenanya wanita itu aku pukul dan aku marahi. Kemudian aku menghadap Rasulullah, maka baginda mempersalahkan aku. Aku berkata: “Wahai Rasullullah! Adakah aku harus memerdekakannya?”. Jawab Rasulullah: “Bawalah wanita itu ke sini”. Maka Rasulullah bertanya kepada wanita itu. “Dimana Allah?”. Dijawabnya: “Di langit”. Rasulullah beranya lagi: “Siapa aku?” Dijawabnya: “Engkau Rasulullah”. Maka baginda bersabda: “Merdekakanlah wanita ini,karena dia adalah seorang mukminah”. (HR. Muslim dan Abu Daud).

  

Fitnah lainnya mengenai Ibnu Taimiyah adalah beliau dituduh memiliki paham Musyabihah dan Jahmiyah. Padahal ada sabda Rasullullah yang berbunyi: “ Janganlah kamu maki ad-dahr (masa), karena sesungguhnya Allah itu adalah Masa”. (HR. Bukhari Muslim).

  

Dan Ibnu Taimiyah sendiri menulis dalam Syarah al-Akidah al-Wasitiyah hlm. 17-19. Cetakan ketiga. Al-Maktabah as-Salafiyah, Madinah al-Munawwarah. Saudi Arabia. “Beriman kepada Allah ialah beriman dengan apa yang disifatkannya sendiri (oleh Allah) tanpa tahrif (tidak merubah lafaz dan maknanya) mengikut sebagaimana di dalam kitab-Nya, mengikut sebagaimana disifatkan oleh Rasul-Nya tanpa tahrif, ta’til (meniadakan sifat Ilahiyah, mengingkari keberadaan sifat-sifat tersebut pada zat-Nya), tanpa takyif (diperbagaimana) dan tanpa tamsil (menyerupakan dengan makhluknya), sebaliknya beriman bahwa Allah Subhanallahu wa Ta’ala (Tiada sesuatu yang serupa dengan-Nya dan Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat)”.

  

Beliau juga telah menyatakan dalam Mujmal Iktiqad Salaf. Hlm. 86, Dr. Abdullah bin Abdulmuhsin at-Turky. Cetakan pertama. 1413-1993. Muassasah ar-Risalah. Beirut. “Pemahaman yang selamat ialah yang pertengahan, bukan golongan Jahmiyah yang menta’til (sifat Allah) dan bukan juga golongan ahli tamsil seperti Musyabbihah”.

  

Fitnah lainnya adalah tuduhan bahwa Ibnu Taimiyah menuduh para ulama seluruhnya termasuk keempat Imam Mahzab penganut khurafat dan bid’ah. Padahal kenyataannya beliau adalah salah seorang yang telah mempertahankan, memperjuangkan dan menghidupkan kembali ajaran-ajaran para Imam mahzab tersebut. Justru para pengaku-aku pengikut paham Imam mahzablah yang sebenarnya menolak pemahaman Imam mahzab yang diikutinya. Semuanya dilakukan karena taklid, menerima dan mengamalkan pendapat ulama dan ustadznya yang menasabkan ajarannya kepada imam mahzab tersebut tanpa meneliti lagi pandangan mereka.

  

Contohnya, para pengikut mahzab Syafi’i, secara tidak langsung dan mungkin tanpa sadar telah menentang paham Imam Syafi’i mengenai khurafat tariqat sufi filsafat, tasawuf dan tariqat kebatinan: Tasawuf dibina di atas kemalasan, jika sekiranya seseorang itu menganut tasawuf di awal siang (pagi), tidak akan sempat sampai Zuhur, dia sudah menjadi bodoh”. (Lihat Talbisu Iblis. Hlm. 159)

  

Imam Syafi’i juga berkata: “Siapa yang menganut agama ini (sufi) maka dia seorang yang zindik atau dengan kata lain dia adalah sufi yang zindik, maka pemahaman sufi sama seperti pemahaman yang menentang keimanan yang hak”. Dan juga berkata: “Saya lari meninggalkan kota Basrah karena di sana terdapat golongan zindik (sufi/tasawuf), mereka mengerjakan sesuatu yang baru yang mereka sebut dengan tahlilan”.

  

Hasan al-Basri rahimahullah berkata: “Tidaklah engkau ketahui sesungguhnya kebanyakan penghuni neraka ialah penganut sufi/tasawuf?”. (Lihat At-Tasawuf. Hlm 21. Dr. Mustafa Hilmi. Dar ad-Dakwah. Al-Iskandariah).

  

Fitnah terhadap Ibnu Taimiyah ialah bahwa ulama-ulama terdahulu dianggap sebagai penganut khurafat dan bid’ah. Padahal di dalam kitab-kitabnya seperti Majmu Fatawa yang berjumlah 37 jilid dipenuhi dengan nukilan fatwa-fatwa para ulama terdahulu seperti Syafi’i, Maliki, Hanafi, Hambali dan para ulama terkenal lainnya dari kalangan akidah, ahli tafsir dan para ulama hadist. Yang perlu kita garis bawahi adalah, sekalipun Ibnu Taimiyah mencegah dan banyak menyebut kemungkaran bid’ah dan kefasikan yang terjadi di zamannya, bukanlah berarti bahwa semua ulama di zaman itu telah dibid’ahkan atau dianggap fasik oleh ulama tersebut.

  

Ibnu Taimiyah difitnah bahwa beliau menentang orang-orang Islam yang menganut dan bertaklid kepada salah satu Imam Mahzab. Padahal para Imam Mahzab juga menentang pendapat tuduhan tersebut:

  

“Berkata Imam Syafie rahimahullah Ta’ala: Setiap apa yang telah aku katakan dan ada perkataanku itu yang bertentangan dengan (hadis) yang sahih, maka hadist Nabi Shallallahu’alaihi wa-sallam adalah lebih diutamakan dan janganlah kamu sekalian bertaqlid kepadaku”.

  

Imam Syafi’i juga berkata: “Siapa yang bertaklid pada sesuatu dalam pengharaman sesuatu atau penghalalannya sedangkan telah nyata hadist sahih yang bertentangan dengannya dan mencegah dari bertaklid karena diperintahkan beramal dengan sunnah, maka dia telah mengambil orang yang ditaklidkan itu sebagai Tuhan selain Allah subhanallahu wa-Ta’ala”. (Lihat Hal Muslim Mulzimun Fittiba’I Mazhabun Mu’ayan Minal Mazhabil Arba’. Hlm. 69. Muhammad Sultan al-Maksumi)

  

Berkata Imam Ahmad bin Hambal: “Dalam agamamu janganlah engkau bertaklid dengan siapapun dari mereka-mereka. Apa yang datang dari Nabi sallallahu’alaihi wasalam maka ambillah olehmu, kemudian ambil dari para tabi’in, adapun orang-orang yang sesudahnya, pendapatnya boleh diambil dan boleh ditinggalkan”. (Lihat Masail al-Imam Ahmad. Diriwayatkan oleh Abu Daud. Hlm. 277).

  

“Janganlah kamu bertaklid kepadaku, janganlah bertaklid kepada Malik, Abu Hanifah, Syafi’i dan Thauri rahimahullah Ta’ala. Ambillah dari mana (atau bagaimana) mereka mengambil”. ((Lihat Masail al-Imam Ahmad. Diriwayatkan oleh Abu Daud).

  

Berkata Ibn Hazm: “Sesungguhnya para fukaha yang menjadi ikutan mereka membatalkan pentaqlidan kepada mereka dan sesungguhnya mereka mencegah para pengikutnya dari bertaklid kepada mereka. Dan yang paling kuat menentang (perbuatan bertaklid) ialah as-Syafi’i.” (Lihat Al-Ahkam fi Usul al-Ahkam. Hlm, 118. Tahkiq Ahmad Muhammad Syakir. Cetakan kedua. Dar al-Afaq al-Jadidah. Beirut.).  

  

“Berkata Ali Hasan bin Abdul Hamid: Siapa yang tidak meninggalkan taqlid maka pada ilmunya tidak akan memberi banyak faedah”. (Lihat ‘Audah ila Sunnah. Hlm. 36).

  

Berkata Sanad bin Anan rahimahullah: “Ketahuilah sesungguhnya hanya dengan mengambil jalan mudah sehingga mendorong bertaklid adalah tidak digemari oleh seorang lelaki yang bijaksana. Sesungguhnya (bertaklid) adalah cara seorang yang bodoh lagi bebal dan si tolol yang keras kepala”. (Lihat Hal Muslim Mulzimun Fittiba’I Mazhabun Mu’ayan Minal Mazhabil Arba’. Hlm. 70. Muhammad Sltan al-Maksumi).

  

“Manusia telah sepakat bahwa para muqallid tidak terhitung sebagai kalangan ahli ilmu, bahwasanya ahli ilmu mengenali kebenaran melalui dalilnya”. (Lihat Hal Muslim Mulzimun Fittiba’I Mazhabun Mu’ayan Minal Mazhabil Arba’. Muhammad Sltan al-Maksumi).

  

Fitnah yang menimpah Ibnu Taimiyah lainnya yaitu bahwa Ibnu Taimiyah pernah mengatakan: “Duduknya Tuhan di atas ‘Arasy sama dengan duduknya Ibnu Taimiyah di atas kursinya dan turunnya Tuhan dari langit sama seperti turunnya Ibn Taimiyah dari mimbar dan Tuhan itu dilihat (di sebelah) atas, boleh ditunjuk dengan anak jari ke atas”.

  

Ternyata tuduhan ini, adalah berdasarkan buku “Rahlah Ibnu Bathutah”. Menurut para penyebar fitnah ini, Ibnu Bathutah mendengar dan melihat sendiri kejadian Ibnu Taimiyah berkata dan melakukan sebagaimana yang didakwakannya, yaitu: “Turunnya Tuhan sama sepeti turunnya beliau dari mimbar”.

  

Atas tuduhan di atas maka penjelasannya adalah sebagai berikut: Menurut catatan sejarah, Ibnu Bathutah sampai di Damsyik pada hari Kamis, 9 Ramadhan 727H. Ibnu Taimiyah dimasukkan ke penjara Damsyik pada bulan Sya’ban ditahun ynag sama.. Tercatat dalam sejarah bahwa Ibnu Taimiyah wafat pada malam 20 Zulqaidah 728H. Berdasarkan kejadian diatas, berarti Ibnu Bathutah, sebenarnya tidak pernah mendengar bahkan tidak pernah menghadiri majlis-majlis ilmu yang disampaikan oleh Ibnu Taimiyah. Persoalan yang timbul, bagaimana mungkin Ibnu Bathutah pernah menyampaikan ilmu di atas mimbar dan mendengar majlis ilmunya sedangkan setibanya Ibnu Bathutah di Damsyik, Ibnu Taimiyah stelah dimasukkan ke dalam penjara? (Lihat Syarah Hadist Nuzzul. Hlm. 2. zahir as-Syaawisy. Cetakan kelima. 1397H-1977M. Al-Maktab al-Islami. Beirut.).

  

Ibnu Taimiyah tidak pernah menyampaikan ilmunya di atas mimbar sebagaimana yang dinyatakan oleh Ibnu Bathutah. Malah Beliau tidak pernah berkutbah di atas mimbar walau Ibnu Bathutah berkata: “Dia turun dari tangga-tangga mimbar”.

  

Tuduhan yang paling tidak teliti adalah bahwa Ibnu Taimiyah menyerupakan istiwa allah sebagaimana duduk bersilanya beliau, sedangkan tidak terdapat di dalam kitab-kitabnya yang memaknai istiwa sebagaimana yang dituduhkan para pemfitnah.

  

Kenyataan yang sebenarnya Ibnu Taimiyah sepakat dan sependapat serta seakidah dengan para ulama salaf as-shaleh yaitu: “Allah bersemayam di atas Arasy-Nya dan Arasy-Nya berada di atas langit”. Ini bermakna Allah bertempat di langit sebagaimana penjelasan para ulama Salaf as-Shaleh berikut ini:

  

(1)          Berkata al-Imam Abu Hanifah rahimahullah: “Siapa mengingkari sesungguhnya Allah berada di atas langit, maka sesungguhnya dia telah kafir. Adapun terhadap orang yang tawaqquf (diam) dengan mengatakan: Aku tidak tahu apakah Tuhanku di langitt atau di bumi? Berkata al-Imam Abu Hanifah: Sesungguhnya dia telah kafir karena Allah telah berfirman: Ar-Rahman di atas Arasy al Istiwa”. (Lihat Mukhtasar al-Ulum, Hlm. 137. Imam  az-Zahabi. Tahqiq al-Albani.).

  

(2)          Berkata al_imam Malik rahimahullah: “Allah beraa di atas langit sedangkan ilmu-Nya di tiap-tiap tempat (di mana-mana), tidak tersembunyi sesuatupun dari pada-Nya”. (Lihat Mukhtasar al-Ulum, Hlm. 140. Imam  az-Zahabi. Tahqiq al-Albani.).

  

(3)          Berkata al-Imam as-Syafi’i rahimahullah: “Sesungguhnya Allah di atas Arasy-Nya dan Arsy-Nya di atas langit.” (Lihat Mukhtasar al-Ulum, Hlm. 179. Imam  az-Zahabi. Tahqiq al-Albani.).

  

(4)          Berkata al-Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah: “Benar! Allah di atas Arasy-Nya dan tidak sesiapapun yang tersembunyi daripada pengetahuan-Nya”. (Lihat Mukhtasar al-Ulum, Hlm. 188. Imam  az-Zahabi. Tahqiq al-Albani.).

  

(5)          Atsar Imam Ibnu Khuzaimah pula menjelaskan: “Barangsiapa tidak menetapkan Allah Ta’ala di atas Arasy-Nya dan Allah istiwa di atas tujuh langit-Nya, maka ia telah kafir dengan Tuhan-Nya”. (Lihat: Ma’rifah Ulum al-Hadis. Hlm. 84. Riwayat yang sahih, dikeluarkan oleh Hakim)

  

(6)          Atsar Syaikhul Islam Abdul Qadir al-Jailani rahimahullah menjelaskan: “Tidak boleh mensifatkan-Nya bahwa Ia berada di tiap-tiap tempat. Bahkan (wajib) mengatakan: Sesungguhnya Ia di atas langit (yakni di atas Arasy sebagaimana Ia telah berfirman: ArRahman di atas Arasy, Ia beristiwa. (Qs. Thaha: 5). Dan patutlah memutlakkan sifat istiwa tanpa takwil, sesungguhnya Allah istiwa dengan Zat-Nya di atas Arasy. Keadaan-Nya di atas Arasy disebut pada tiap-tiap kitab yang Ia turunkan kepada tiap-tiap Nabi yang Ia utus tanpa (bertanya): Bagaimana caranya (Allah istiwa di atas Arasy-Nya)?”. (Lihat Fatawa Hamwiyah Kubra. Hlm. 84).

  

(7)          Berkata al-Imam Abul Hasan al-Asy’ari rahimahullah: “Di atas langit-langit itulah Arasy, maka tatkala Arasy berada di atas langit-langit Allah berfirman: Apakah kamu merasa aman terhadap Zat yang berada di atas langit? Sesungguhnya Ia istiwa (bersemayam) di atas Arasy yang berada di atas langit dan tiap-tiap yang tinggi itu dinamakan ‘As-Sama (langit), maka arasy berada di atas langit. Bukanlah yang dimaksudkan di dalam firman: Apakah kamu merasa aman terhadap Zat yang berada di atas langit? Bukan di seluruh langit! Tetapi Arasy-Nya yang berada di atas langit.” (Lihat: Al-Ibanah an-Usul ad-Dainah. Hlm. 48)

  

Dari hujah-hujah di atas, amatlah jelas, bahwa larangan mentakwil terhadap sifat-sifat Allah oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, telah disepakati pula oleh seluruh ulama dari kalangan Imam-imam mazhab fiqih dan akidah yang antara lain: Maliki, Hambali, Hanafi, as-Syafi’I, abu Hasan al-Asy’ari, Ibnu Khuzaima dan lain-lainnya tetapi ditentang oleh orang-orang yang tidak senang terhadapnya.

  

(8)          Berkata pula Imaam Ibnu Khuzaimah (dari kalangan ulama as-Safi’iyah): “Kami beriman dengan berita dari Allah Jalla wa-Ala sesungguhnya Pencipta kami Ia beristiwa (bersemayam) di ataas Arasy-Nya. Kami tidak mengganti/mengubah kalam (firman) Allah dan kami tidak akan mengucapkan peerkataan yang tidak pernah dikatakan (Allah) kepada kami sebagaimana (perbuatan kaum) yang menghilangkan sifat-sifat Allah seperti golongan Jahmiyah yang pernah berkata: Sesungguhnya Dia istiwla (menguasai) Arasy-Nya bukan istiwa!! (bersemayam). Maka mereka telah mengganti perkataan yang tidak pernah dikatakan (Allah) kepada mereka, ini menyerupai perbuatan Yahudi tatkala diperintah mengucapkan: Hithtatun Ampunkannlah dosa-dosa kami), tetapi mereka mengucapkan (mengubah): Hinthah (makanlah gandum)! Mereka (kaum Yahudi) telah menyalahi perintah Allah yang Maha Agung dan Maha Tinggi maka seperti itulah (perbuatan kaum) Jahmiyah”. (Lihat: Kitabut Tauhid fi ithbatis Sifat. Hlm. 101. Ibnu Khuzaimah).

  

Karena itu, hati-hatilah dalam mengeluarkan sikap dan statement. Sesungguhnya Allah akan meminta pertanggungjawaban atas semua yang kita lakukan. Meskipun begitu, janganlah seseorang di antara kita langsung menyebut saudaranya apalagi beliau adalah seorang ulama dengan sebutan-sebutan yang tidak pantas seperti beliau kafir, dia berpaham Qadariyah, fulan sesat, mereka berpaham khawarij dan sebutan buruk lainnya hanya karena mendengar, melihat atau membaca sebagian dari ucapan atau karya-karyanya.

  

Atas apa yang telah dijelaskan di atas, kepada orang-orang yang terlalu memujanya janganlah bersikap ghuluw dan berbangga diri sehingga menyakiti orang lain yang melakukan kekhilafan, mungkin mereka tidak sadar dengan apa yang telah mereka lakukan, dan tugas kalian adalah menjelaskan kekhilafan mereka dengan cara-cara yang baik, tanpa paksaan dan merendahkan mereka. Kenalilah karakter mereka, dan masuklah secara lembut seperti apa yang telah Rasulullah lakukan terhadap umatnya.

  

Dan kepada orang-orang yang terpengaruh dengan fitnah-fitnah diatas, dan terlanjur membencinya, sadarilah, beliau adalah mujadid yang telah mencurahkan seluruh kemampuannya untuk berijtihad, mengorbankan waktunya, tenaganya, hartanya dan jiwanya hingga syahid dihadapan penguasa yang zalim. Dari beliaulah banyak ilmu-ilmu agama yang dapat kita manfaatkan melalui ulama dan ustadz-ustadz yang kita kagumi yang mungkin tanpa sepengetahuan kita mereka telah mengutip sebagian dari kitab-kitab yang diwariskannya.

  

Dan kepada saya pribadi, adalah sebuah kewajiban bagi saya menyampaikan kebenaran yang saya yakini berdasarkan paradigma saya terhadap beliau yang saya kagumi dan muliakan. Keyakinan saya, mungkin kini beliau sedang menikmati tidur panjangnya di alam Barzah, sementara pintu-pintu surga telah dibukakan oleh Allah dihadapannya dan beliau ditemani manusia sempurna sebagai perwujudan amal-amal baiknya untuk agama yang haq ini. Dan kita, dengan kejahilan, kekhilafan dan kemaksiatan kita, melakukan hal-hal yang justru mungkin akan mencelakakan kita.

  

Semoga bermanfaat dan menjadi renungan khususnya untuk saya pribadi dan kalian semua.

  

Sumber: http://members.tripod.com/rasuldahri/articles/kka1_satu.htm

  

Ini adalah article bantahan fitnah Kesesatan Wahabi I dan fitnah Kesesatan Wahabi II.

  

Iklan