Ternyata Kalian pun Berhak Menyandang Firqah Najiyah

(Bagian I)

  

Klaim bahwa Firqah Najiyah hanya untuk satu kelompok jama’ah tertentu ternyata hanyalah permainan doktrin kelompok tersebut yang tidak perlu dikhawatirkan.

  

Apa yang saya katakan bukanlah omong kosong belaka. Berikut ini akan saya kutipkan sebagian isi buku yang telah diberi sambutan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Bazz direktur Lembaga Riset Keilmuan, Fatwa, Dakwah dan Bimbingan Islam Kerajaan Arab Saudi.

  

Ternyata kalian pun berhak menyandang diri sebagai Al-Firqah An-Najiyah atau Kelompok yang Selamat. Selamat Mengikuti article bagian pertama ini….

 

Al-Khatib Al-Baghdadi meriwayatkan dari Imam Ahmad yang ketika menyebutkan sebuah hadits Nabi Shalallahu’alaihi wasalam yang berbunyi:

  

“Umat ini akan terpecah menjadi tujuh puluh sekian golongan. Semuanya masuk neraka kecuali satu golongan, “ beliau berkata, “Kalau mereka bukan Ahli Hadits, aku tidak tahu siapa mereka.” 1

  

Jika apa yang dikatakan Imam Ahmad benar, apakah ini berarti Ahlul Hadits termasuk Firqah Najiyah? Siapakah Ahlul Hadits yang dimaksud oleh kalimat tersebut?

  

Ahlul Hadits

Maksud dari Ahlul Hadits atau Ashabul Hadits adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Al-Hakim An-Naisaburi, “Mereka adalah kelompok yang berjalan di atas jalan orang-orang saleh, mengikuti jejak kalangan salaf, membantah para pelaku bid’ah, dan orang-orang yang menyelisihi sunnah Rasulullah Shalallahu’alaihi wasalam. Mereka lebih memilih berjalan mengarungi belantara daripada bermegah-megahan dengan memenuhi segala kebutuhan hidupnya, dan bernikmat-nikmat dengan susahnya perjalanan dalam rangka menuntut ilmu dan hadits. Mereka juga menolak penyimpangan yang disukai oleh jiwa yang dipenuhi oleh syahwat serta serentetan bid’ah, hawa nafsu, pertimbangan perasaan, logika, dan kesesatan…”2

  

Mereka adalah segolongan manusia yang banyak jumlahnya, jalan mereka adalah jalan yang lurus, setiap ahli bid’ah pura-pura menampakkan akidah di depan mereka (Ahli Hadits) dan tidak berani terang-terangan menampakan kebid’ahannya…”3

  

Mereka senantiasa meneliti dan mengkaji hadits-hadits sampai benar-benar memahami mana yang shahih dan mana yang dha’if, yang me-nasakh dan yang di-nasakh, mengetahui pendapat kalangan yang menyelisihinya dari kalangan fuqaha, kemudian mereka memberitahukannya kepada khalayak.

  

Jika istilah Ahli Hadits digunakan untuk menyebut kelompok-kelompok tertentu, maka istilah tersebut harus dipahami secara lebih luas dari sekedar pemahaman orang-orang ini.

  

Orang-orang yang memberikan definisi mereka (Ahlul Hadits) dengan sekelompok orang tertentu yang hanya memprioritaskan pengkajian hadits, baik secara riwayah dan dirayah maupun riwayah saja. Atau, sekelompok orang yang menisbatkan dirinya kepada permasalahan ini dan bersepakat atas permasalahan tersebut secara teori. Meskipun, sebenarnya mereka tidak memiliki ilmu sedikitpun dalan masalah hadits.

  

Jika para ulama dulu memaknai Ahlul Hadits dengan sebutan Firqah Najiyah dan Tha’ifah Manshurah, maka hari ini makna tersebut menjadi sempit menurut kebanyakan orang.

  

Sampai-sampai, istilah tersebut (Ahlul Hadits) telah menjadi trademark bagi beberapa kelompok tertentu yang menisbatkan diri mereka kepada Ahlul Hadits. Padahal, sebenarnya mereka bukanlah Ahlul Hadits.

  

Oleh sebab itu, tidak dibenarkan jika istilah Firqah Najiyah hanya ditetapkan kepada kelompok yang disebut dengan Ahlul Hadits, meskipun mereka benar-benar Ahlul Hadits. Akan tetapi, seyogyanya istilah tersebut (Firqah Najiyah) dikembalikan kepada pengertiannya yang luas dan benar, sebagaimana yang akan kita terangkan lebih lanjut.

  

Adapun faktor-faktor yang menyebabkan tidak dibolehkannya mengkhususkan istilah Firqah Najiyah hanya kepada kelompok tertentu yang menyandang sebutan Ahlul Hadits dan yang sejenisnya adalah:

  

Pertama: Karena mengandung konsekuensi bahwa selain golongan Ahlul Hadits, berarti termasuk kelompok yang akan binasa (Firqah Halikah), meskipun manhaj, akidah, dan landasan-landasan mereka sesuai dengan Firqah Najiyah, hanya saja karena tidak menyandang nama yang sama dengan kelompok Ahlul Hadits dan tidak bernaung di bawah panji mereka.

  

Dengan demikian, pengkhususan istilah tersebut kepada kelompok Ahlul Hadits merupakan pembatasan sesuatu berdasarkan orang per orang belaka. Misalnya, pada zaman sekarang ini, kita mendapati berbagai kelompok yang memiliki nama berbeda-beda, sesuai dengan negara asalnya masing-masing.

  

Bahkan, di dalam satu negara terkadang terdapat satu kelompok yang terpecah. Tidak sedikit pula di antara mereka terjadi perselisihan, perseteruan, dan ketidakharmonisan, sebagimana hal itu terjadi dengan kelompok lain.

  

Akan tetapi, pada hakikatnya manhaj mereka hampir sama dan dasar-dasar yang mereka jadikan pijakan serta mereka serukan juga satu. Intinya, secara global mereka memiliki latar belakang manhaj yang sama.

  

Seandainya ada yang mengklaim bahwa Firqah Najiyah hanya untuk kelompoknya dan tidak menyertakan kelompok lain dari kalangan Ahlu Sunnah yang memiliki berbagai karakteristik Firqah Najiyah, hanya karena perbedaan nama kelompok mereka. Pastilah keistimewaan yang agung ini tidak bisa dimiliki oleh kelompok-kelompok lain yang tidak menyandang nama Ahlul Hadits.

  

Karena itu, yang adil dan obyektif ialah Firqah Najiyah tidak boleh dikhususkan hanya kepada orang-orang tertentu saja. Namun, seharusnya ia merupakan bebeapa karakteristik dan ciri-ciri yang di atasnya dibangun sebuah manhaj yang diikuti, jalan yang dilalui, serta landasan-landasan yang dijadikan pegangan.

  

Dengan demikian, siapa saja baik individu maupun kelompok dengan keberagaman namanya yang ingin masuk pada golongan Firqah Najiyah, bisa mengambil dasar-dasar ini, mengikuti manhaj, dan mempraktekkan karakteristik dan ciri-cirinya. Yakni selama mereka tidak melakukan bid’ah dan dengan sengaja menyelisihi Al-Qur’an dan As-Sunnah.

  

Jika memang statemen yang dinisbatkan kepada Imam Ahmad di atas benar, maka yang beliau maksud dengan istilah Ahlul Hadits ialah kelompok yang menganut ideology yang bersumber dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wasalam dan para sahabatnya, komitmen dengan nash, menjauhi cara-cara Ahli Kalam, mengikuti kebenaran dan dalil, meskipun bertentangan dengan pemahaman serta ilmu yang sudah dipelajari dan diwarisinya.

  

Dengn demikian, selain kelompok yang sudah disebutkan tadi, banyak pula kelompok lain yang bisa dimasukkan dalam pengertian ini. Diantaranya:

  

(1)               Para pengikut mazhab fiqih imam yang empat dan mazhab lainnya dari golongan Ahlu Sunnah, selama mereka berada dalam akidah yang benar, tanpa melakukan takwil (dalam masalah asma dan sifat), tahrif (mengubah), tabdil (mengganti), dan tasybih (menyerupakan). Mereka adalah orang-orang yang jika mengetahui dalil yang benar dan jelas, langsung kembali kepadanya dan berkata dengannya, meskipun berseberangan dengan pendapatnya.

(2)             Sebagian kalangan awam umat ini yang tidak terjerumus ke dalam bid’ah dan berbagai penyimpangan. Mereka juga beriman kepada Allah, nama dan sifat-sifat-Nya, mengakui tauhid, menjauhi syirik, berkomitmen dengan perilaku yang baik, istiqamah, memakan makanan yang halal, menjauhi perbuatan-perbuatan keji, dan lain-lain.

  

Mereka tidak dituntut harus mengetahui perbedaan-perbedaan ideology manusia serta tidak diharuskan mempelajari dasar-dasar dan prinsip-prinsip dari manhaj yang benar. Akan tetapi, cukup dengan bersihnya akidah mereka—secara global—yang merupakan hasil pemahaman mereka setelah mendengarkan ayat-ayat dan hadits dengan fitrah mereka.

  

Jelasnya selama fitrahnya belum terkena polusi dan tidak menyimpang. Karena itu, Imam Al-Qadhi Iyadh berkata, “Yang dimaksudkan oleh Imam Ahmad dengan Ahlul Hadits adalah Ahlu Sunnah dan meyakini mazhab Ahlul Hadits.”4

  

§§§

  

Dikutip tgl 4 Nopember 2007 oleh Ibnu Abd Muis dari buku Thaifah Manshurah, Dr. Salman bin Fahd Al-Audah, Penerbit: Jazera, Cetakan pertama: Agustus 2007.

  Info: Pengarang buku ini juga ditahdzir di negerinya oleh kelompok pengaku-aku manhaj salaf loch! Mau bukti?

Please Klik http://www.islamgold.com/view.php?gid=2&rid=9

  

Agar keyakinan Ternyata Kalian pun Berhak Menyandang Firqah Najiyah jangan lewatkan bagian keduanya dengan mengklik ini.

  

Endnotes:

1. Lihat Syarfu Ash-Habil Hadits. Di dalam sanadnya ada keterputusan, karena Ibrahim bin Muhammad berkata, “Aku meriwayatkan hadits ini dari Ahmad.” Saya (Dr. Salman Al-Audah) belum menemukan biografi para perawi hadits tersebut selain Ibrahim bin Muhammad Al-Hasan, biografi orang ini ditemukan di Dzikru Akhbari Ashbahan: iI/189, dan Thabaqatul Muhadditsin bi Ashbahani wal Waridina ‘alaiha, karya Abu Syaikh: III/224

2. Lihat Syarfu Ashabul Hadits, karya Al-Khatib Al-Baghdadi

3. Lihat Syarfu Ashabul Hadits, karya Al-Khatib Al-Baghdadi

4. Lihat Syarhu Shahih Muslim. Karya Imam An-Nawawi.

Iklan