Posts from the ‘al-banna amal Anis Anis Matta Dari Qiyadah untuk Para K’ Category

Wahai Ikhwah, Telah Matikah Hati Kita?

Kematian Hati


(alm) Ust. Rahmat Abdullah

Banyak orang tertawa tanpa (mau) menyadari sang maut sedang mengintainya.

Banyak orang cepat datang ke shaf shalat layaknya orang yang amat merindukan kekasih. Sayang ternyata ia datang tergesa-gesa hanya agar dapat segera pergi.

Seperti penagih hutang yang kejam ia perlakukan Tuhannya. Ada yang datang sekedar memenuhi tugas rutin mesin agama. Dingin, kering dan hampa, tanpa penghayatan. Hilang tak dicari, ada tak disyukuri.
Baca lebih lanjut…

Iklan

Wahai Ikhwah, Jagalah Lisan Kita…

Wahai Ikhwah, Jagalah Lisan Kita…

sederhana-itu-indah1KEWAJIBAN MENJAGA LISAN

Perbuatan-perbuatan iman selain terkait dengan hak-hak Alloh Azza wa Jalla seperti mengerjakan kewajiban-Nya dan menjauhi larangan-Nya, juga terkait dengan hak manusia yang lain, diantaranya adalah menjaga lisan. Rosulullah shollallohu alaihi wa sallam bersabda : Barangsiapa beriman kepada Alloh dan Hari Akhir, hendaklah ia berkata benar atau hendaklah ia diam. Barangsiapa beriman kepada Alloh dan Hari Akhir hendaklah ia berbuat baik kepada tetangganya. Barangsiapa beriman kepada Alloh dan Hari Akhir hendaklah ia memuliakan tamunya”. (HR. Bukhori dan Muslim).

Baca lebih lanjut…

Wahai Ikhwah, Janganlah Bisik-Bisik!

BisikBisik

negeri-di-atas-awan-11Sumber : Perisai Dakwah

Khitob Ilahi

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ نُهُوا عَنِ النَّجْوَى ثُمَّ يَعُودُونَ لِمَا نُهُوا عَنْهُ وَيَتَنَاجَوْنَ بِالْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَمَعْصِيَةِ الرَّسُولِ وَإِذَا جَاءُوكَ حَيَّوْكَ بِمَا لَمْ يُحَيِّكَ بِهِ اللَّهُ وَيَقُولُونَ فِي أَنْفُسِهِمْ لَوْلَا يُعَذِّبُنَا اللَّهُ بِمَا نَقُولُ حَسْبُهُمْ جَهَنَّمُ يَصْلَوْنَهَا فَبِئْسَ الْمَصِيرُ (8)

Apakah tidak kamu perhatikan orang-orang yang Telah dilarang mengadakan pembicaraan rahasia, Kemudian mereka kembali (mengerjakan) larangan itu dan mereka mengadakan pembicaraan rahasia untuk berbuat dosa, permusuhan dan durhaka kepada rasul. dan apabila mereka datang kepadamu, mereka mengucapkan salam kepadamu dengan memberi salam yang bukan sebagai yang ditentukan Allah untukmu. dan mereka mengatakan kepada diri mereka sendiri: “Mengapa Allah tidak menyiksa kita disebabkan apa yang kita katakan itu?” cukuplah bagi mereka Jahannam yang akan mereka masuki. dan neraka itu adalah seburuk-buruk tempat kembali. Baca lebih lanjut…

Ciri-Ciri Kader Cemen?!

Ciri-Ciri Kader Cemen?!?!

Ikhwan wa akhwat fillah, pagi ini ana dapat komentar menarik dari seseorang yang mengaku bernama Entong. Mungkin dilatar belakangi dengan article ana yang berjudul “Selamat Tinggal Kader Cemen!”, terus beliau mikirnya jauh dan mulai menginventarisir ciri-ciri kader cemen. Lucu juga bacanya dan mulai kepikiran untuk ana coba inventarisir ciri-ciri tersebut. Hik! Inspirasi memang bisa didapat dari mana ajha?? 🙄 Jazakallahu khairal jaza akh Entong.

Berikut komentar yang dimaksud : Baca lebih lanjut…

Budaya Saling Menasihati Sesama Kader Dakwah

Budaya Saling Menasehati Sesama Kader Dakwah

Oleh : Ust. Dr. Ahmad Satori

Sendi stabilitas dunia ada empat : keberdayaan ulama (dengan ilmunya), keadilan penguasa, kedermawanan orang-orang kaya dan doa para fuqara. Bila salah satu sendi tak berfungsi sebagaimana mestinya, maka akan terjadi instabilitas dalam berbagai aspek kehidupan manusia.

Baca lebih lanjut…

Selamat Tinggal Kader Cemen!!!

Setengah Perjalanan Menjadi Kader

Tidaklah sama antara mu’min yang duduk (yang tidak turut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat..” Baca lebih lanjut…

Menempuh Suatu Tempat

Menempuh Suatu Tempat

Saudaraku tercinta…

Engkau berjalan di dunia ini… dan di sana ada satu hari di mana perjalananmu akan dihentikan dan sebuah kafilah akan bertemu denganmu, akan tetapi:

Jika engkau tidak melakukan perjalanan dengan membawa bekal berupa ketakwaan,

dan kelak engkau akan berjumpa dengan orang yang berbekal setelah mati.

Maka engkau akan merasa menyesal,

mengapa tidak sepertinya dan tidak berbekal diri seperti dirinya yang berbekal diri.[1]

Saudaraku tercinta, di manakah kita diantara mereka? Baca lebih lanjut…