Kehadiran Dubes AS sehari sebelum penangkapan Ahmad Fathonah

Kehadiran Dubes AS sehari sebelum penangkapan Ahmad Fathonah

Ahmad Fathanah (AF), sebuah nama yang berarti seseorang yang Terpuji lagi Cerdas. Entah mengapa, saya tidak begitu tertarik dengan teori konspirasi yang baru saja dilontarkan Sang Presiden baru PKS saat konferensi pers pertama itu.

Tapi saya lebih tertarik dengan sosok si Terpuji dan Cerdas ini. Karena bagi saya, “keterpujian” dan kecerdasan perilakunya dalam kasus ini lebih terlihat seksi untuk dibahas dibanding terpilihnya Anis Matta sebagai Presiden PKS, lagi-lagi subyektif menurut saya. Mengapa begitu?

Pertama, AF bukanlah kader PKS. Menurut Tifatul Sembiring, AF adalah teman dekat LHI sewaktu mondok bersama-sama di Pesantren Gontor. Saya membayangkan, ada seorang teman semasa SMA dulu di Madiun yang kemudian bertemu di Jakarta. Hal minimal yang saya lakukan adalah bertanya-tanya background dia; kerja apa, tinggal dimana, keluarga berapa, selama ini kemana saja, dsb.

Dalam dunia intelijen hal diatas dinamakan clearance. Tujuannya adalah memastikan bahwa latar belakangnya itu clear atau tak ada masalah. Siapapun kita saya yakin pasti akan melakukan hals erupa,meski secara tak sadar, hanya sekedar untuk basa-basi mengakrabkan percakapan. Tahap lebih lanjut adalah cross check, datang ke rumahnya atau kantornya, cek facebook, cek twitternya, cek linkedin, kenalan dengan keluarganya, kenalan dengan temannya, dsb. Terlebih untuk posisi seorang yang sangat penting, proses clearance seharusnya dilakukan lebih canggih lagi. Tentunya hal ini bukan langsung dilakukan oleh ybs, tetapi oleh protokoler, ajudan, staff ahli, staff khusus, atau orang-orang disekeliling yang bertanggung jawab terhadap keselamatan beliau.

Pernah suatu saat saya diajak teman untuk bertemu pejabat Eselon 1 di UKP4. Dari ujung telpon sana sang pejabat minta nama lengkap serta beberapa data pribadi saya lewat teman saya itu. Data dikirim dan setengah jam kemudian ada konfirmasi, “Lu dah clear Way.”

Balik maning ke AF, proses clearance seperti apa yang dilakukan sehingga AF begitu mudah dekat dengan LHI tanpa terdeteksi? Saya curiga AF adalah agent yang disusupkan serupa dengan Sigid Haryo Wibowo yang”menangani” Antasari Azhar. Masih inget dunk kasus Antasari yang membuat semua orang terperanjat. Ternyata kini kita tahu bahwa itu adalah konspirasi yang diskenariokan untuk menjatuhkannya karena kasus Century. Atau Pollycarpus yang `ngerjain’ almarhum Munir. Info dari staff KPK yang muncul di portal online menyatakan bahwa AF ini memiliki 5 istri dan 11 anak, WOW … saya musti ke pucuk dan bilang … pucuk ..pucuk…!?!?! Ikut aliran pencak silat apa dia sampai bisa beristri 5?

Jika satu parameter ini (istri 5) saja terdeteksi di awal bisa dipastikan logika akan berkata “There is something wrong!”

Kedua, hal yang membuat AF begitu seksi dimata saya adalah covering yang dibuatnya sangat khas seorang agent. Saya aduk-aduk si mbah Google untuk menelusuri jejak-jejak AF di dunia maya, namun nihil. Yang ada hanya laman berita-berita keterkaitan dia dengan kasus LHI. Setidaknya sampai saat ini saya tidak mengendus facebooknya, twitter, blog, atau lain sebagainya sebagaimana “manusia umum”. Jika ada diantara pembaca yang mendapatkannya tolong beritahu saya. Saya malah nemu facebook Maharany hehehe ☺.

Dalam dunia intelijen, pantang seorang agent membuat jejak di dunia maya. Dia akan berusaha menutupi (covering) setiap identitas dirinya serapat mungkin. Baik identitas di dunia nyata maupun maya. Bahkan ada pameo didunia intelijen,”1000 covering tak pernah cukup!”.

Lebih menarik lagi pengakuan kakak kandung AF di beberapa portal berita yang mengatakan bahwa tak tahu usaha atau bisnis apa yang sedang dijalankan AF. Wow, kalau yang ini saya musti salto, koprol, kayang, dan naik ke pucuk lagi … pucuk… pucuk…! Bagaimana mungkin seorang kakak tidak tahu bisnis apa yang sedang digeluti adiknya. Secara logika aja, hanya ada 2 kemungkinan, sang kakak bohong atau sang adik punya cover yang sangat tebal.

Belum lagi jika dikaitkan dengan 5 istrinya. Dengan salah satu apartemen istrinya di Margonda Residence, saya dulu pernah lihat-lihat harganya sekitar 300 juta. Anggap saja AF bisa berlaku adil dengan semua istrinya, maka masing-masing istri menerimatempat tinggal yang selevel yaitu 300 juta x 5 istri = 1,5 milyar. Belum harta-harta yang lain, mungkinkah orang dengan penghasilan segitu besar keluarga tak tahu asalnya dari mana?

Atau hitungan jika hanya kontrak misal 1,5juta/bulan x 5 istri = 7,5 juta/bln. Belum biaya 11 anak, konsumsi sehari-hari, biaya pulsa, bayar listrik, bayar air, dan lain sebagainya. Dengan asumsi biaya kontrak adalah 1/3 dari penghasilan sebulan maka pengeluaran sebulannya bisa mencapai min 22,5juta. Adakah kira-kira orang dengan gaji 22,5 juta sebulan yang keluarga tidak tahu asal-usul hartanya? Sungguh aneh secara logika, namun tidak aneh untuk seorang agent.

Dugaan saya, AF sebenarnya belum menyelesaikan misi utuhnya. Tapi keburu ditangkap KPK. Mengapa demikian? Karena AF belum sempat menyerahkan uang tersebut ke LHI. Mungkin setelah menyerahkan uang tersebut pun, masih ada misi-misi lain yang harus diselesaikan juga. Artinya masih terbuka lebar missing link dalam kasus ini yang membuat LHI ada kemungkinan bisa bebas dan jadi pihak yang terdzalimi. Dalam hal ini saya pribadi menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya pada KPK, karena saya tidak bisa membayangkan jika misi AF sampai COMPLETED! Mungkin tsunami efeknya bisa merubuhkan sebuah organisasi sebesar PKS sampai lumat.

Ketiga, akhirnya kita jadi tahu bahwa organisasi sebesar PKS masih sangat rawan dibobol operasi intelijen. Dengan hanya seorang operator sekelas AF, walo tak dipungkiri pasti banyak actor di belakangnya, organisasi sekuat PKS mampu dijebol. Ibarat perang, yang langsung tertembak saat ini adalah Panglima, itu artinya symbol pertahanan dan kebanggaan pasukan tertinggi. Apalagi di tingkat bawah. Dengan tanpa mengesampingkan asas praduga tak bersalah, symbol organisasi yang tertusuk langsung ini suatu alarm besar bagi seluruh organisasi. Harus ada program dan system “melek intelijen” yang segera di set up. Jika tidak, maka tunggu satu per satu symbol-symbol organisasi lain akan di acak-acak lebih lanjut. Sampai akhirnya tumbang tak bersisa.

Mengenai salah tidaknya LHI dalam kasus ini, mari kita serahkan pada proses hukum yang sedang berjalan.

Saya pribadi masih percaya KPK satu-satunya lembaga terbersih saat ini. Saya juga percaya LHI adalah sosok bersih. Karena saya pernah berkesempatan mendapat arahannya langsung saat Ramadhan tahun lalu, dan kata-katanya luar biasa penuh energy selayaknya orang-orang berjiwa bersih. Ibarat menangkap ikan dengan perangkap bambu tradisional, peran KPK hanyalah sebagai perangkap yang menunggu ikan-ikan masuk ke dalamnya.

Yang sedang saya tulis adalah peran orang yang menggiring ikan-ikan itu sehingga tanpa sadar dimasukkan perangkap KPK. Merekalah sebenarnya pembuat tipu daya yang bisa dicegah jika kita memiliki ilmunya.

“Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (Qs. Al-Anfal : 30)

Allah swt telah berjanji akan membalas tipu daya manusia culas dengan tipu daya sebaik-baiknya tipu daya. Namun janji Allah swt tidak akan bekerja jika manusianya tidak berusaha, hanya pasrah, hanya berdoa, serta hanya menyalahkan teori konspirasi. Menurut info tak valid yang saya terima, operasi intelijen di tubuh PKS telah dimulai sejak tahun 2006. Wallahua’lambishshowwab.

Namun dalam sebuah wawancara di stasiun TV swasta tahun 2010an, Hendropriyono (waktu itu sudah pensiun) mengatakan kurang lebihnya saya masih ingat betul, “Saya telah mendeteksi OTB sejak tahun 70an di kampus-kampus besar sebagai basisnya. Kemudian saya berkejar-kejaran dengannya, hingga saya mencapai posisi tertinggi di BIN. Namun sayangnya, pas saya sudah punya power untuk menggilasnya, reformasi datang dan OTB itu menjadi Partai resmi.”

Kawan saya complain, loh Hendropriyono kan sudah pension lama? Hey man, the Agent never retired, he just rest for relax.

Saya mencermati kalimat “berkejar-kejaran” diatas. Apa interpretasi atas frase ini? Sedang sebuah kalimat “kamu cantik deh” bisa diasumsikan berbagai macam, pun kalimat di atas yang keluar dari mulut seorang ex pejabat tertinggi intelijen negara. Dalam psikologi, perilaku yang nampak merupakan cermin dari sesuatu yang tersimpan dalam kognisin

Yya, bahkan cermin dari alam bawah sadarnya. Mungkinkah?? Mari kita bertanya pada Hendropriyono yang bergoyang. :-)

Sumber : akun FB Rahmad Puryodo

About these ads