mursi-speaking1

DR. Mohamed Morsi Isa al-Ayyat, seorang pemimpin (Presiden Mesir terpilih) dan hafidz Quran 30 juz (anak-anaknya pun semua Hafidz Quran) dijatuhi vonis mati oleh Pengadilan Mesir, dengan dakwaan yang sebenarnya remeh, yaitu mengorganisir demo menentang pemerintah Mubarak.

Beliau dijatuhkan dari kepresidenan hanya karena beliau seorang Ikhwanul Muslimin (100% yakin tidak ada alasan lain). IM dicap teroris oleh Amrik, Israel dan sekutunya. Dan kita paham, kalau yang memberi label mereka (dan sekutunya), makna bagi kaum muslim adalah kebalikannya.

Sedihnya, Presiden Morsi dijatuhkan atas kontribursi golongan muslim lain berlatar Hizbut Tahrir Mesir dan Partai An Nuur (Salafy). Tidak terbayang oleh mereka, bahwa kerusakan yang diakibatkan sedemikian parah. Sensor-sensor TV dan internet tentang pornoaksi dicabut, para Hafidzin ditangkapi, ceramah mesjid diawasi.

Entah kenapa, banyak sekali diantara aktivis dakwah Islam, yang beraneka warna itu banyak yang belum bersikap dewasa dan bijak atas perbedaan bendera gerakan. Tentu sangat banyak ikhtilaf dalam memaknai sesuatu, itulah yang membuat benderanya berbeda, tapi keputusan mana yang Al Haq itu prerogatif Allah semata, bukan manusia. Jadi ikhtiar takfir semestinya bukan area manusia.

Saya bersyukur berkuliah di IPB. Kota Bogor memang menjadi pusat pertumbuhan pergerakan dakwah termasuk yang saya sebut di atas. Saya yang ikut bendera Tarbiyah IM selalu ingin paham apa beda diantara bendera tersebut. Dan untuk itu saya selalu mengusahakan hadir di liqo Salafy yang Rabu sore di Masjid Alumni IPB, pengisinya Ustadz Ja’far Umar Thalib dan Ahad di Masjid As Syifa PMI pengisinya Syaikh Abdul Qadir Jawwas. Materi fiqh, hadis, adab dll saya ikuti dan simak.

Sedangkan untuk HTI, saya ikut liqo selama setahun dan ikut pengajian rutin di Masjid Alumni IPB yang terkadang diisi secara bergantian oleh Ustadz Muhammad Al Khatthath dan Ustadz Ismail Yusanto.

Ada persamaan suasana liqo di dua bendera tersebut yang saya rasakan. Manakala hadirin sudah mulai bosan dan terkantuk kantuk, penceramah kadang membelokkan membahas kekurangan dakwah tarbiyahnya Ikhwanul Muslimin, dan sontak semua hadirin melek dan takbir Allahu Akbar. Disitulah saya merasa sedih. Itu memori 13 tahun yang lalu, semoga saat ini tidak seperti itu lagi, tidak ada lagi pelabelan atas pergerakan lain yang membuat kita lupa esensi tujuan dakwah kita.

Sedih, manakala materi ibadah, fiqh, dan kekinian dan membahas pergerakan Yahudi tidak lagi menarik hati qalbu mereka, dan begitu indahnya bahasan tentang kebobrokan IM ala mereka.

Bahagianya saya saat itu adalah hampir di setiap sesi saya menemukan peserta majlis (Salafy dan HTI) yang tidak seperti itu. Saya berkawan dengan beliau hingga saat ini. Karena framing kami sama, nahnu duat qabla kulli syay’in, kita ini da’i diluar atribusi kita yang lain. Lupakan bendera apa, dakwahlah seluas mungkin. Jangan bawa beban perbedaan bendera hingga ke ubun-ubun. Bahwa musuh kami yang nyata adalah sama, dan kami bergerak menghadapi mereka, dengan baju dan bendera masing-masing.

Alangkah indahnya hidup ini, jika saat ini dan esok, saya menemukan saudara seiman yang memiliki framing yang sama seperti itu lagi.

Karena jika tidak, siapa pun Khalifah Jamaatul Muslimin yang di bai’ah tidak akan langgeng, karena masih lagi menilik dia dari gerakan mana.

Tsumma, Karena jika tidak, siapa pun Khalifah Jamaatul Muslimin yang di bai’ah tidak akan langgeng, karena masih lagi menilik dia dari gerakan mana.

Tsumma, Karena jika tidak, siapa pun Khalifah Jamaatul Muslimin yang di bai’ah tidak akan langgeng, karena masih lagi menilik dia dari gerakan mana.

(Deny Rahmad Sikumbang)