Beginilah watak asli orang-orang yang suka mengaku-aku salafy. Tidak di manapun terlebih di Indonesia. Mereka ibarat duri dalam daging atau organ busuk dalam tubuh pengidap diabetes. Hanya ingin untung sendiri tanpa mau berkontribusi. Teriak-teriak haram memberontak terhadap pemerintah tapi fakta membuktikan mereka malah memberontak pemerintahan yang sah. Dan lebih celakanya lagi mereka memberontak terhadap presiden muslim yang hafal al-Qur’an 30 juz dan telah terbukti memusuhi Zionis dengan membuka perbatasan Gaza Mesir dan berusaha mewujudkan syariah di Mesir serta mensejahterakan rakyatnya. Mereka para pengaku salafy yang telah mengkapling surga lebih memilih menjadi barisan pemberontak pemerintahan sah dan bergabung dalam barisan orang-orang kafir, sekuler, liberal yang telah nyata memusuhi Islam. Analogi macam mana yang bisa meyakinkan umat Islam bahwa bergabung dengan orang kafir lebih baik dari pada dengan orang-orang ahlul bid’ah yang pada kenyataanya bid’ah yang dimaksud masih menjadi masalah khilafiyah di kalangan ulama.

dakwatuna.com – Kairo. Dalam sebuah acara talkshow yang disiarkan stasiun televisi At-Tahrir, Selasa (14/1/2014) kemarin, diangkat tema tentang Partai Salafi An-Nur yang dinilai tidak bisa mengerahkan massanya untuk mendukung konstitusi baru dalam referendum baru yang sedang berlangsung (14-15/1/2014).

Dalam sebuah sambungan telepon, seorang reporter dari kota Marsa Mathruh melaporkan bahwa Dakwah Salafiah (basis utama Partai Salafi An-Nur) ternyata tidak berhasil mengerahkan massanya. Lalu para tamu acara memberikan komentar atas laporan tersebut. Komentar menyentuh masalah keberadaan Partai Salafi An-Nur dalam gerbong pendukung kudeta dan map road.

Seorang pengamat, bernama Akram, mengatakan bahwa sangat mudah menentukan wilayah-wilayah yang menjadi kantong Partai Salafi An-Nur, misalnya di Giza dan Alexandria. Mereka harus membuktikan perannya dalam mendukung referendum. Kalau sampai di wilayah-wilayah itu referendum kalah, maka kita harus membicarakan lagi keberadaan partai ini. Menurutnya, Partai Salafi An-Nur adalah partai yang paling banyak berbohong. Partai ini tidak mau capek-capek, tapi selalu ingin menikmati hasil. Kita ingat mereka tidak ikut dalam Revolusi 25 Januari 2011, tidak juga dalam demostrasi 30 Juni 2013, tapi mereka ingin menikmati kuenya.

Seorang pengamat lain, menyebutkan bahwa satu-satunya peran yang diharapkan dari partai ini adalah dukungan basis fanatisnya. Kantong-kantong basis bisa diketahui dengan detail. Oleh karena itu, kita pasang target-target perolehan suara yang harus didapatkan An-Nur, per TPS. Misalnya saja, seandainya saja di kota Mathruh, konstitusi tidak mendapatkan 100 ribu suara “yes”, maka kita harus mengeluarkan An-Nur dari koalisi map road. (msa/dakwatuna/tahrir)

Redaktur: Moh Sofwan Abbas

Iklan