fuad-ash-shufi2

Sungguh keliru orang yang beranggapan bahwa krisis di Mesir hanyalah sebuah konflik antara partai-partai politik dalam memperebutkan kekuasaan. Yaitu kekacauan akibat digulingkannya partai penguasa yang di dalamnya terdapat Partai Keadilan dan Kebebasan (FJP) dan partai-partai yang berafiliasi gerakan Salafi (di antaranya Partai An-Nur).

Konflik yang sesungguhnya lebih dari sekadar politis. Sudah bersifat konflik ideologis. Konflik ini telah menggulingkan dan mengasingkan presiden yang dipilih secara demokratis. Partai-partai yang tadinya meraih kekuasaan dengan proses demokrasi, kini menjadi sasaran intimidasi dan pemberangusan. Negara, yang kemarin berada dalam alam demokrasi tanpa ada penindasan, kini menjadi arena peperangan antara pihak-pihak yang tidak berimbang.

Pengusung Islam dan pendukung demokrasi dibantai bukan karena mereka berbuat kesalahan dalam menjalankan pemerintahan, atau karena ada usaha ikhwanisasi seperti yang dituduhkan selama ini. Sebab utamanya adalah karena ada orientasi mayoritas rakyat Mesir yang lebih memilih proyek kebangkitan Islam. Mayoritas rakyat telah memilih para pengusung Islam (Ikhwanul Muslimin dan Salafi) untuk berkuasa menggantikan rejim polisi Mubarak. Mereka tidak memilih kaum liberal dan sekular yang telah lama gagal dalam memimpin negara-negara Arab dan memperjuangkan rakyatnya.

Rakyat Mesir berhasil memenangkan perubahan ini melalui dua etape; pemilu presiden dan referendum konstitusi. Perlu ditegaskan, konstitusi yang disetujui oleh 63% rakyat ini jauh lebih baik dari konstitusi-konstitusi dunia dalam hal perlindungan HAM bagi rakyat dan kaum minoritas.

Yang menyedihkan, Front “Penyelamatan” yang menjadi wadah kaum oposan pemerintahan Presiden Mursi, berhasil menarik sebagian pengusung Islam untuk bersama-sama menentang pemerintahan sipil-demokratis pertama di Mesir ini. Padahal tidak ada ideologi dan pemikiran yang mempersatukan atau mendekatkan mereka. Yang menyatukan mereka hanyalah ambisi untuk menggagalkan proyek Islam yang terwakili oleh Presiden Mursi dan pemerintahannya yang sah. Pengusung Islam itu terkesan tidak mempertimbangkan hal-hal buruk yang akan timbul akibat kudeta.

Di antara kelompok yang mengambil posisi menentang Ikhwan dan proyek Islamnya adalah Partai An-Nur yang berasal dari gerakan Salafi. Memang di antara ciri mereka adalah selalu membahas permasalahan akidah; dan tak jarang terjebak kepada mengkafirkan orang hanya karena kesalahan dan alasan yang kecil. Banyak sikap mereka yang menentang Ikhwan, mulai dari oposisi hingga menyetujui kudeta. Sebenarnya tidak ada sebab yang pantas untuk mengharuskan mereka bergabung dengan para oposan.

Koalisi Ikhwan-Salafi boleh dikatakan berakhir pada demonstrasi 1 Desember 2012. Terjadi silang pendapat dalam menyikapi kebijakan Presiden Mursi yang memberhentikan seorang tokoh Salafi yaitu Dr. Khalid ‘Alamuddin (ketua Partai An-Nur) dari jabatannya sebagai penasihat presiden. Pimpinan Partai An-Nur pun bergabung dengan barisan oposisi, yang pada akhirnya melakukan kudeta dan mengamandemen konstitusi untuk menghilangkan identitas Islam Mesir. Sampai sekarang pun partai ini masih sering mengambil tindakan dan kebijakan yang mengecewakan, dan bahkan bertentangan dengan prinsip-prinsip manhaj salafi yang mereka yakini.

Lebih dari itu, Partai An-Nur berkeinginan untuk menjadi wakil kubu Islam jika terjadi koalisi dengan kubu sekular. Kalau sudah demikian, bisa dipastikan akan banyak lagi prinsip yang dikorbankan demi menghalangi adanya pihak lain yang berusaha untuk menjadi wakil dari kubu Islam.

Beberapa waktu yang lalu pun salah seorang tokoh partai ini bahkan memposisikan dirinya sebagai seorang yang menasihati Ikhwanul Muslimin. Beliau meminta Ikhwan untuk menghentikan aksi-aksi demonstrasi, dan agar Ikhwan memeriksa kembali laporan-laporan yang diterimanya berkaitan dengan masih besarnya dukungan rakyat kepada Ikhwan. Tokoh ini seakan tidak melihat gelombang massa yang demikian besar, turun ke jalan bersama Ikhwan dalam demonstrasi-demonstrasi Jumatnya.

Latar belakang persaingan inilah yang telah membuat Salafi demikian memusuhi Ikhwanul Muslimin, bahkan menjadikan mereka musuh terbesar melebihi golongan yang lain atau bahkan partai-partai sekular sekalipun. Permusuhan inilah yang juga melatar-belakangi banyaknya buku yang ditulis untuk mengkritik Ikhwan selama ini.

Lalu, apakah mereka menyadari bahaya menyetujui kudeta dengan segala kejahatan politik dan kemanusiaanya?

* General Supervisor situs www.wefaqdev.net (Yaman). (dakwatuna.com)