dlg

Sebuah bom meledak di dekat konvoi Menteri Dalam Negeri Mesir Muhammad Ibrahim di timur laut Kairo Kamis pagi hari ini (5/9/2013), petugas keamanan Mesir mengatakan kepada Ahram Online. Ledakan itu terjadi di dekat tempat tinggal menteri di ibukota distrik Nasr City.

Menteri sendiri lolos tanpa cedera, yang televisi pemerintah gambarkan ledakan itu sebagai ‘upaya pembunuhan’ terhadap Muhammad Ibrahim. Setidaknya tujuh orang, termasuk seorang anak, terluka dalam serangan itu, menurut laporan Otoritas Ambulans Mesir.

Laporan sebelumnya mengatakan ledakan tersebut berasal dari bom mobil, tetapi televisi pemerintah mengatakan bom itu dilemparkan oleh para penyerang tak dikenal dari sebuah gedung di dekatnya.

Dan anehnya mobil pemadam kebakaran dan ambulans sudah siaga terlebih dahulu di samping jalan sebelah rumah Mendagri, seolah sedang menunggu suatu reaksi.

Padahal kemarin Menteri Dalam Negeri Mesir merumuskan langkah-langkah keamanan untuk melindungi tempat tinggal para pejabat dan para petugas keamanan.

Jurnalis senior asal Palestina, Yaser Zaatreh melalui akun Twitternya mengatakan bahwa bom hari Kamis di dekat rumah Mendagri Kabinet Kudeta hanyalah mainan intel kemanan negara (Al’ab Mabahits Amn Al-Daulah) yang dipropagandakan untuk memobilisasi massa dalam rangka melawan “terorisme” (Ikhwanul Muslimin) yang mereka rancang sebagaimana mereka pernah meledakkan bom di Gereja Saints – Alexandria tahun 2010.

Yaser Zaatreh menambahkan bahwa wacana membasmi terorisme dalam tuntutan hukum Mesir bertujuan untuk membenarkan kebijakan grup keamanan, sekaligus sebagai upaya mengalihkan perhatian dari kebusukan Pemerintah Kudeta yang saban hari setahap demi setahap semakin terungkap.

Sementara itu, pejabat Ikhwanul Muslimin, Amr Darrag mengecam keras upaya pembunuhan terhadap Menteri Dalam Negeri Mesir Muhammad Ibrahim pada hari Kamis ini (5/9/2013).

“Pemboman yang diduga menargetkan menteri dalam negeri saat ini sangat disesalkan dan aliansi mengutuk tindakan itu,” kata Darrag dalam sebuah pernyataan atas nama Aliansi Anti Kudeta yang dipimpin oleh Ikhwanul Muslimin untuk mendukung mantan Presiden Muhammad Mursi.