1185322_506551086094854_2066050352_n

Pengamat Timur Tengah, Nandang Burhanuddin, Lc., menyatakan bahwa rezim kudeta militer mencoba menghapus dan menutupi jejak pembantaian di Lapangan An Nahdhah dengan serangkaian rencana yang sudah diatur sebelumnya.

“Sejak kemarin, saya mendapat berita bahwa para wartawan TV Mesir yang prokudeta diangkut terbang menggunakan helikopter-helikopter polisi dan militer. Mereka merekam dan meliput demonstran dari udara. Ada apakah? Ternyata, hari ini (14/0813) pertanyaan itu terjawab sudah. Tujuannya, meliput aksi-aksi demonstran proMursi untuk kemudian dirangkai dengan peristiwa pembantaian hari ini. Targetnya tiada lain menghapus jejak tragedi pembantaian,” terangnya.

Bahkan, pihak Amn Daulah (Badan Intelijen Negara) mencoba mengadudomba antar demonstran. Salah satunya dengan menyalakan api -seakan terbakar- di gereja-gereja seantero Mesir, terutama wilayah Sha’id.  Tak ada lain targetnya, memperburuk pendukung Moursi sebagai teroris dan menyulut perang SARA. Targetnya: menutup kebusukan militer-polisi dan rezim kudeta yang melakukan pembantaian terhadap pendukung Moursi.

Pihak demonstran diminta berhati-hati, dan mewaspadai semua provokasi. Selain diminta untuk tidak menyebarluaskan berita tentang kebakaran gereja.

Menurut Muhammad Maher, mobil-mobil ambulans menolak membawa jenazah dan korban luka. Tapi mereka tetap memasuki Lapangan Rab’ah Al Adawiyah. Ternyata, ambulans-ambulans itu menjadi penyuplai senjata dan membawa 5 polisi dan tentara bersenjata.

Militer-polisi-preman membakar gudang obat RS lapangan Rab’ah Al-Adawiyyah. Media centre dan peralatan reportase (siaran) milik pendukung Mursi dihancurkan pasukan khusus. Internet di seputar Rab’ah dan Nahdhah diputus juntam militer. Warga sekitar diminta membuka WIFI.

Situs Cristiandogma dan On TV yang dimiliki Kristen Koptik, memutar video senjata yang -katanya- ditemukan di sekitar Rab’ah. Melihat situasi, diyakini video tersebut rekaman dan dipastikan bukan milik demonstran. Sejumlah pihak menyebutkan bahwa senjata itu dibawa oleh polisi dan kemudian difoto untuk menjadi alat propaganda.

Sementara itu, kantor berita CNN, memberitakan korban tewas dari pihak polisi sebanyak 2 orang dan menafikkan jumlah korban meninggal dari pendukung presiden terpilih Muhammad Mursi yang mencapai ratusan orang.

*Fimadani.com