1000567_215371298621141_1083518885_n

Pihak keamanan Mesir hari Rabu, (14/08/2013) kembali melancarkan serangan kepada para pendukung mantan Presiden Mesir terguling Mohammad Mursy, di lapangan Rabiah al-Adawiyah dan lapangan al-Nahdhah.

Serangan ini dilakukan sebagai upaya pembubaran masa pro Mursy yang tetap mempertahankan tuntutannya agar Mursy kembali menjadi presiden.

Al-Jazera Misr Mubaser, situs TV Aljazeera melalui streaming merekam bagaimana salah seorang pihak keamanan menembaki para demonstran dari atap sebuah gedung dengan senjata api. Serangan ini dimulai pada pukul 7 pagi hari atau sekitar pukul 12 WIB.

Reuters menulis, pasukan keamanan telah memblokir semua akses lapangan an-Nahdha, tempat berlangsungnya protes pro Mursy. Tayangan televisi menunjukkan anggota pasukan keamanan mencari tenda-tenda di kamp.

Korban masih simpang siur. Media-media Barat menyebut korban tewas belasan, namun TV Aljazeera mengutip pihak rumah sakit di lapangan Rabi’ah saat ini korban jiwa telah mencapai lebih dari 120 orang, dan sekitar 5000 orang mengalami luka-luka.

Sementara itu, menurut pernyataan dari panggung Rabi’atul Adawiyah, hingga pukul 17.00 WIB, korban meninggal telah mencapai 800 orang.

Para korban dibantai dengan cara-cara yang sadis. Kebanyakan korban meninggal karena ditembak oleh sniper yang berada di atas gedung sekitar lokasi unjukrasa dan helikopter.

Selain itu, militer menghancurkan kemah-kemah pengunjukrasa dengan membakarnya hingga mayat-mayat demonstran yang belum dievakuasi ikut terbakar.

Dilaporkan juga wanita dan anak-anak ikut menjadi korban kebutralan rezim kudeta Mesir. Di antaranya seorang bayi yang meninggal akibat sesak nafas oleh serangan gas air mata tentara dan polisi Mesir. Selain itu, seorang ibu dan bayinya terlindas kendaraan berat yang digunakan untuk merubuhkan kemah-kemah pengunjukrasa.

Sementara itu, pihak Kementerian Dalam Negeri menyataka bahwa polisi tidak menggunakan senjata tajam dan hanya menembakkan gas air mata.