Gambar sebagain kecil korban pembantaian AlSisi di RS Rabiah. (foto: Khadijah Ashraf-Mesir)

By. Masykur A. Baddal 

Kekhawatiran yang dirasakan oleh dunia internasional terhadap rencana pembersihan bunderan Rab’ah Adawiyah, Nahdah dan tempat-tempat lainnya di seantaro Mesir oleh militer Mesir, akhirnya terjadi juga. Peristiwa terburuk dalam sejarah modern Mesir ini betul-betul sangat menyayat hati. Hanya dalam durasi waktu tujuh jam saja serdadu Jenderal Al Sisi berhasil membantai rakyat Mesir sebanyak 2200 orang lebih korban tewas, dan puluhan ribu lainnya luka-luka.
Memang sangat disayangkan, sampai detik ini belum ada satu negara dunia pun yang serius  membantu menyelesaikan kasus pembantaian berseri ini secara serius, kecuali negeri Turki. Dengan seluruh jalur diplomasi, ekonomi dan politisnya,  Turki sejak awal pecahnya konflik politik di Mesir terus berupaya mencari berbagai solusi untuk mengembalikan pemerintah legitimasi ke posisinya. Namun nyatanya tembok yang harus dihadapi oleh Turki sendiri cukup tebal, sehingga usaha ekstra keras itupun hingga kini belum mampu memberikan hasil maksimal, sebagaimana yang diharapkan.
Dari informasi yang ditayangkan secara live oleh Aljazeera TV. Operasi pembantaian tersebut mulai dilancarkan sejak  jam 06.30 waktu Cairo. Yaitu dengan mengerahkan mobil keamanan dan militer ke arah bunderan Rab’ah dan Nahdah. Kemudian operasi  meningkat dengan menyemprotkan berbagai jenis gas ke dalam kerumunan massa pro legitimasi. Puncaknya adalah melepaskan peluru tajam baik dari darat maupun udara dengan menggunakan heli militer. Akhirnya, jatuhnya korban ribuan jiwa pun sudah tidak dapat dihindari lagi.
Menurut saksi mata di lapangan, sebagaimana yang diinformasikan oleh Aljazeera TV. Sehari sebelum penyerangan, di sekitar bunderan Rab’ah banyak terlihat mobil ambulan, sehingga membuat curiga sebagaian massa disana. Malah ada saksi mata yang melihat, jika ambulan tersebut secara sembunyi-sembunyi memasok senjata api ke wilayah itu. Akhirnya paska pembantaian,  skenario itupun menjadi jelas, bahwa senjata api tersebut digunakan sebagai pembenaran atas aksi barbarisme yang dilakukan oleh Alsisi dan konco-konconya, dengan dalih massa pro legitimasi sedang menyiapkan penyerangan, dengan senjata-senjata tersebut.
Kini sungai darah sudah mengalir di Mesir, yang berhulu dari tangan jenderal Al Sisi. Nampaknya sungai tersebut bakal terus mengalir tanpa dapat dibendung lagi. Kecuali jika ada kekuatan dahsyat yang mampu menghentikannya, atau mukjizat Ilahi.
Melihat perkembangan situasi keamanan yang semakin memburuk, KBRI Cairo bekerja sama dengan berbagai elemen masyarakat Indonesia di Mesir, sudah mulai melakukan koordinasi dan pemantauan lapangan langsung, demi mengantisipasi berbagai kemungkinan akibat memburuknya situasi keamanan di negeri fir’aun tersebut. Yaitu dengan menyediakan hotline di:  02-27947200 / 02-27947209.

*http://luar-negeri.kompasiana.com/2013/08/14/mesir-jadi-kolam-darah-jenderal-al-sisi-bantai-2200-rakyat-mesir-hanya-dalam-7-jam-583760.html