dakwatuna.com – Kudeta atas Presiden Mursi adalah konspirasi yang melibatkan militer, media, oposisi, dan hakim-hakim rejim Mubarak. Di antara oposisi itu adalah Baradai, seorang liberalis yang mempunyai catatan buruk dalam melayani kepentingan-kepentingan Barat.

Japan Time melansir, revolusi Mesir telah mati dengan terjadinya kudeta atas Presiden Mursi yang terpilih secara demokratis. Hal ini ditulis dalam artikel berjudul “Demokrasi ala Baradai Telah Mengkhianati Revolusi”.

Dalam artikel tersebut ditambahkan, saat memimpin “International Agency for Atomic Energy” (Badan Internasional untuk Energi Atom) Baradai benar-benar telah melayani kepentingan Barat. Dan apa yang dilakukannya saat ini menunjukkan dirinya tengah mengalami krisis moral dan politik. Genrenya adalah politikus oportunis.

Saat menginspeksi Irak terkait dugaan memiliki senjata pemusnah massal, dirinya kadang melawan ketika mendapat tekanan berat yang bertubi-tubi untuk menghukum Irak.

Dia dulu sungguh bermanis lidah, tapi kini berubah drastis menjadi politikus yang buas yang selalu menuntut pemerintah berkuasa layaknya oposan-oposan yang selalu kalah dalam pemilu. Dia sama sekali tidak berjiwa demokratis. (msa/sbb/dkw)

Redaktur: Saiful Bahri