KAIRO — Militer Mesir berhasil menggulingkan Mohammad Mursi dari kursi presiden pada Rabu (3/7) waktu setempat atau Kamis (4/7) dinihari WIB. Kudeta militer ini dianggap telah menghancurkan politik negara yang baru saja menghirup udara demokrasi untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade itu.
Kudeta militer ini dinilai kolomnis di The Guardian, Jonathan Steele akan menjadi bencana bagi masa depan Mesir. Militer yang tampaknya mundur dari politik setelah lengsernya Hosni Mubarak pada Februari 2011 telah kembali melangkah ke arena kekuasaan.
Menurut Steele, menolak hasil pemilihan yang bebas dan adil serta mengesampingkan hukum negara merupakan langkah yang seharusnya tidak diambil militer.
“Kenyataan bahwa langkah tentara disambut oleh banyak kaum revolusioner yang pertama kali berani pergi ke jalan-jalan melawan Mubarak pada 2011 adalah komentar putus asa pada kenaifan politik dan kepicikan mereka,” kata Steele.
Steele menekankan dia tidak mengatakan Presiden Muhammad Mursi tidak bersalah. Tuduhan politik melawannya panjang dan rinci dimana pelanggaran terburuk Mursi adalah penerbitan keputusan memperpanjang kekuasaannya pada November lalu. Tapi, dengan cepat Mursi mencabut keputusannya setelah ada protes.
Selama gejolak terbaru demonstrasi di jalanan, Steele mengatakan Mursi kembali menunjukkan kemauan untuk berkompromi dan menawarkan pembentukan pemerintahan persatuan nasional serta mempercepat pemilihan parlemen baru.
“Namun, membuatnya (Mursi) bertanggung jawab pada kekecewaan selama dua tahun terakhir adalah tidak masuk akal,” ujar Steele.
Bahkan, Steele juga menyatakan pemimpin partai oposisi yang justru bertanggung jawab atas dominasi Ikhwanul Muslimin pada pemerintahan Mursi. Ini karena Mursi telah mengundang mereka (oposisi) untuk bergabung dalam kabinet, tapi tawaran Mursi tersebut ditolak.
Steele mengatakan banyak pihak yang mengancam demokrasi Mesir dari dalam tubuh negara. Hal itu seperti birokrasi yang masih terdiri dari pejabat Partai Nasional Demokrasi bekas Mubarak, pengusaha elite dan kroni-kroninya.

“Untuk Mesir yang mengikuti tradisi ini adalah bencana,” cetus Steel.

*ROL