Tarik-menarik politik dalam proses pencalonan Gubernur Daerah Khusus Ibu Kota terasa menyebalkan. Apalagi muncul isu adanya setoran miliaran rupiah ke partai sebagai mahar bagi pencalonan seorang figur. Tapi harapan muncul lagi setelah beberapa partai berani menyodorkan calon yang cukup berkualitas.

Dalam pendaftaran calon gubernur di Komisi Pemilihan Umum Jakarta yang ditutup semalam, nama baru bermunculan. Wali Kota Surakarta Joko Widodo alias Jokowi yang berpasangan dengan Basuki Tjahaja Purnama termasuk yang resmi mendaftar. Keduanya diajukan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dan Partai Gerindra. Kejutan juga datang dari Partai Keadilan Sejahtera, yang tiba-tiba mengusung Hidayat Nur Wahid. Mantan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat ini berpasangan dengan ekonom Didik J. Rachbini.

Peta persaingan calon pemimpin Jakarta menjadi lebih seru. Kalangan yang pro-perubahan di Ibu Kota selama ini memiliki pilihan terbatas. Sosok yang menawarkan visi berbeda itu misalnya ekonom Faisal Basri, yang berpasangan dengan Biem Benyamin. Keduanya tampil sebagai calon independen. Dari jalur yang sama, ada juga mantan Komandan Puspen TNI Hendardji Supandji, yang berpasangan dengan Ahmad Riza Patria.

Calon lain tentu saja Gubernur DKI sekarang, Fauzi Bowo, yang maju lagi. Ia menggandeng Nachrowi untuk calon wakil gubernur. Keduanya disokong oleh Partai Demokrat. Adapun Partai Golkar dan Partai Persatuan Pembangunan mengusung Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin, yang berpasangan dengan Nono Sampono.

Masalahnya, penduduk Jakarta telah memahami betul sepak terjang Fauzi. Orang yang menginginkan perubahan lebih cepat mungkin kurang antusias menyokongnya lagi. Alex Noerdin juga belum mampu memikat pemilih. Apalagi nama dia dikaitkan dengan kasus proyek Wisma Atlet di Palembang, kendati sejauh ini Komisi Pemberantasan Korupsi belum menyentuhnya.

Itulah yang membuat nama seperti Jokowi, Hidayat Nur Wahid, dan Faisal Basri menarik perhatian. Orang berharap kualitas mereka bisa mengatasi berbagai persoalan di Ibu Kota yang selama ini tak terpecahkan. Problem yang serius itu antara lain kemacetan lalu lintas, banjir, ruang terbuka hijau yang menipis, dan semrawutnya penataan kota.

Tampilnya Jokowi dan Hidayat juga mengurangi antipati orang terhadap partai politik. Kalangan partai selama ini dianggap tak berani mencalonkan figur yang relatif bersih lantaran terjebak pada praktek mahar. Berkembang kabar para calon diwajibkan memberikan setoran yang tak sedikit ke partai untuk bisa dicalonkan. Ini tentu merusak kaderisasi partai. Tokoh yang bermodal besar dengan mudah bisa mendapatkan “tiket pencalonan” dari partai. Sebaliknya, kader partai yang tumbuh dari bawah tidak pernah diorbitkan.

Hanya, perkembangan terakhir di bursa pencalonan gubernur membuat publik Jakarta pantas untuk tetap optimistis. Bukan cuma karena ada calon dari jalur independen, tapi juga muncul calon yang lumayan bermutu dari partai. l

Sumber : http://koran.tempo.co/konten/2012/03/20/268587/Berharap-kepada-Calon-Gubernur

Iklan