Eramuslim.com, Mursyid ‘Aam Ikhwanul Muslimin Muhammad Badi menuduh bahwa kekalahan Mesir di tangan Israel dalam perang tahun 1956 dan 1967 serta jatuhnya Presiden Hosni Mubarak, semuanya akibat dari murka Allah karena penganiayaan yang terjadi terhadap anggota Ikhwan.

Dia menambahkan bahwa penangkapan anggota Ikhwan oleh Presiden Gamal Abdel Nasser pada tahun 1954 menyebabkan kekalahan pada perang 1956 dan serangkaian penahanan anggota Ikhwan pada tahun 1965 juga menyebabkan kekalahan pada perang 1967 melawan Israel. Demikian pula, pemenjaraan anggota Ikhwan oleh Mubarak berakibat terjadinya revolusi 25 Januari sehingga mengakibatkan Mubarak jatuh.

Badie menyampaikan hal tersebut dalam khotbah Jumat minggu lalu, bersamaan dengan peringatan kekalahan pasukan Mesir oleh Israel pada tanggal 5 Juni 1967, sembari menegaskan juga bahwa Ikhwan adalah yang pertama untuk berbicara melawan ketidakadilan di Mesir dan telah menderita selama bertahun-tahun akibat penyiksaan dan penjara sebagai akibat keberanian mereka melawan rezim Mesir.

“Namun Allah telah memungkinkan Ikhwan untuk membuka markas baru mereka di daerah Muqattam, di mana banyak para syuhada yang meninggal di penjara militer dikuburkan di sana,” kata Badi menambahkan.

Selain itu, pemimpin Ikhwan ini menyatakan bahwa kekalahan tahun 1967 adalah suatu peristiwa yang mengejutkan dunia Arab terlepas dari upaya oleh banyak politisi Mesir untuk membenarkan kekalahan dengan mengatakan bahwa itu hanya sebuah pertempuran dan bukan perang.

Badi juga mengecam semua politisi yang bersikeras bahwa perang tahun 1967 itu sebenarnya adalah kemenangan dan bukan kekalahan. Dia menyatakan bahwa kondisi yang represi, kurangnya kebebasan dan kediktatoran yang memerintah Mesir pada saat itu menjadi indikator kekalahan yang segera melanda negeri ini. Tingkat korupsi yang tinggi, kata Badi, telah menanamkan ketakutan, kemunafikan dan kepasifan dalam bangsa ini.

Dia menambahkan bahwa semua diktator hanya peduli untuk mempertahankan terus kekuasaan mereka dan akan berhenti sampai negara telah dihancurkan atau diduduki oleh pasukan asing.

Badi juga menyerang gerakan petugas bebas yang mengatur Revolusi 1952, mengatakan bahwa ketika revolusi berlangsung, mereka berjanji akan adanya kebebasan, demokrasi dan keadilan namun yang terjadi malah sebaliknya, orang-orang dibantai dan demokrasi ditindas.

“Tapi sekarang fajar terang akhirnya datang,” kata Badi. “Para Intifida dari bangsa-bangsa Arab di Tunisia, Mesir, Libya, Yaman dan Suriah telah menyebabkan jatuhnya korupsi dan tirani oleh rakyat yang berbaris menuntut keadilan dan kebebasan. Sekarang para diktator dan fir’aun jatuh seperti boneka. ”

Orang-orang Arab akhirnya terbangun dari koma mereka, tambah Badi, dan sekarang buah dari revolusi Mesir sudah terungkap dengan rekonsiliasi antara faksi Fatah dan Hamas Palestina dan pembukaan perbatasan Rafah.

Ia menyimpulkan dengan mengatakan bahwa kebijakan yang sekarang diadopsi oleh Mesir difokuskan pada peningkatan kehidupan masyarakat, dan dari sekarang, AS dan Israel tidak akan bisa ikut campur dalam keputusan internal negara Mesir.

“Kemenangan akan datang Insya Allah tidak ada keraguan tentang itu,” kata Badi menambahkan. “Dan kembalinya Palestina, Yerusalem dan Dataran Tinggi Golan dan semua tanah yang diduduki oleh Israel bukan lagi mimpi tapi harapan yang akan menjadi kenyataan segera. Sekarang setelah orang memberontak, era superioritas Israel telah berakhir dan sekarang Israel meragukan bahwa keberadaan mereka apakah akan terus ada. ” (fq/alahram)