Hari ini liat berita tentang sewotnya bupati karang anyar atas dua sekolah yang ada di wilayahnya karena tidak melaksanakan upacara bendera. Karena menurut Linda Gumelar (Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak), hormat pada bendera merah putih itu penting untuk membentuk karakter anak agar cinta tanah air dan bangsanya. Jadi sudah selayaknya seluruh anak negeri mengikuti peraturan yang ada di negeri ini. Pertanyaan mendasar, seberapa besarkah korelasi antara menghormati bendera dengan cinta tanah air? Memangnya para koruptor itu selama ini tidak pernah hormat bendera? Pasti dari TK, SD, SMP, SMA, Kuliah bahkan setelah jadi PNS sekalipun upacara bendera sekaligus hormat bendera tetap diikuti. Tapi kenyataannya kelakuan bejat dengan merampok kekayaan negeri begitu luar biasa. Bahkan katanya jauh lebih mengerikan dibandingkan jaman Soeharto. Apa ini yang dinamakan cinta tanah air dan bangsa? Pemerintah memang suka lebay terhadap hal-hal sepele tapi santai saja dengan kasus kaburnya para koruptor. Nggak penting banget…. Hmmmm……

Detik.com, Jakarta – Dua sekolah di Karanganyar, Jawa Tengah melarang siswanya untuk memberikan hormat pada bendera merah putih. Menurut Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P2PA) Linda Gumelar, hormat pada bendera merah putih itu penting untuk membentuk karakter anak agar cinta tanah air dan bangsanya.

“Karakter anak-anak untuk cinta pada tanah airnya dan bangsanya itu harus dipupuk sejak dini. Salah satunya dengan hormat pada bendera,” ujar Linda di Gedung DPR, Jl Gatot Subroto, Jakarta Pusat, Selasa (7/6/2011).

Menurut Linda, menghormati bendera merah putih berbeda dengan menyembahnya. Maka, ia menyesalkan kebijakan dua sekolah dasar tersebut.

“Sebagai warga negara yang mempunyai cinta tanah air, hormat pada bendera merah putih tentu enggak ada salahnya tergantung pada niatnya. Sebagai seorang muslim saya kira itu tidak menduakan Allah,” kata istri Agum Gumelar ini.

Ia pun berharap agar rencana penutupan sekolah tersebut dipikir secara
matang. Jangan sampai siswa-siswi sekolah tersebut menjadi korban.

“Jika memang dilakukan (penutupan-red) harus ada jaminan mereka disalurkan ke sekolah tertentu dan dipantau sejauh mana mereka mendapat pendidikan. Karena pendidikan itu hak mereka,” tuturnya.

Dua sekolah di Karanganyar, Jawa Tengah terancam ditutup jika tetap menolak menghormat bendera Merah Putih dan menyanyikan lagu kebangsaan. Pengurus
kedua sekolah tersebut berkeyakinan, menghormat benda mati, termasuk
bendera, adalah perbuatan syirik.

Kedua sekolah itu adalah SMP Al Irsyad di Kecamatan Tawangmangu dan SD Islam Sains dan Teknologi (SD-IST) Al Albani di Kecamatan Matesih. Kedua sekolah tersebut tidak mengadakan upacara bendera setiap hari Senin, seperti layaknya sekolah lainnya.

Kepala SMP Al Irsyad Tawangmangu, Sutardi, menegaskan menghormati benda mati, termasuk bendera, sama halnya dengan perbuatan syirik. Gerakan hormat,
dia samakan dengan gerakan i’tidal dalam salat.

(adi/mok)

Liputan6.com, Karanganyar: Sekolah Dasar Al Albani Matesih dan Sekolah Menengah Pertama Al Irsyat Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah, tidak mewajibakan para siswanya untuk hormat kepada merah putih. Pihak sekolah menyatakan tak pernah melarang atau mengajarkan para siswanya untuk menghormat pada bendera merah putih.

Sebagian siswa serta guru menolak hormat pada bendera merah putih karena keyakinan pribadi masing-masing dan pihak sekolah tidak dapat mencampurinya. “Sebagian kaum muslimin ada yang berpendapat hormat bendera itu tidak haram, sebagian dari kaum muslimin beranggapan tidak boleh,” kata Heru Ichwanuddin, Kepala SD It Albani, Senin (6/6).

Sementara Sutadi, Kepala SMP Al Irsyad, menyatakan tidak hormat bendera karena bagian dari keyakinan sebagai muslim. “Kalau kami hormat bendera berarti telah bertentangan dengan keyakinan kami, yaitu telah melakukan suatu kemusyirikan kepada Allah SWT,” ucapnya.

Sikap kedua sekolah yang menolak hormat pada bendera merah putih dengan dalih keyakinan ini amat disayangkan Kepala Kantor Kementerian Agama Karanganyar Juhdi Amin. Pihaknya menilai kedua sekolah tersebut mengadopsi Timur Tengah dan tindakan itu salah. Untuk itu, pihaknya akan mengundang kedua pihak sekolah tersebut untuk duduk bersama membahas permasalahan ini.(BOG)

Eramuslim.com, Tidak seperti sekolah dasar pada umumnya, dua sekolah dasar berbasis agama di Karanganyar jutsru melarang siswanya memberi hormat kepada sang saka merah putih.

Kedua sekolah ini menganggap sikap penghormatan ini merupakan perbuatan musyrik yang dilarang agama. Namun pemda setempat akan mencabut ijin kedua sekolah ini, bila kebijakan itu tetap dipertahankan.

Salah satu sekolah yang menolak untuk menghormati bendera adalah SMP Al Irsyad di Kecamatan Tawamangu.

Menurut kepala sekolah, Ustadz Sutardi, menghormati benda mati seperti bendera merah putih sama dengan perbuatan musyrik. Jika pihaknya dipaksa melakukan penghormatan kepada bendera merah putih, hal itu sama saja dengan mengadaikan akidah yang akan mengakibatkan terhapusnya amal dan pihak sekolah menolak dianggap tidak mempunyai rasa nasionalisme. Karena bendera merah putih tetap berkibar di halaman sekolah.

Selain SMP Al Irsyad, sekolah lain yang tidak menghormati bendera merah putih adalah Sekolah Dasar Al Albani di Kecamatan Matesih. Bupati Karanganyar, Rina Iriani sudah memperingatkan kedua sekolah ini dan meminta agar sekolah mengelar upacara rutin termasuk menghormati bendera merah putih. Rina mengancam akan mencabut ijin pendirian sekolah, jika kedua sekolah tidak mematuhi imbauannya.

Hingga Senin, pemerintah setempat sudah melayangkan surat teguran, namun belum ada tanggapan dari kedua sekolah. Dinas Pendidikan Kabupaten Karanganyar rencananya akan menggelar dialog dengan kedua sekolah ini. (pz/indo)

Iklan