Eramuslim.com, Salah satu gerakan Islam Mesir Al-Jamaah Al-Islamiyah (JI) telah merilis pernyataan yang mengecam aksi protes “Hari Kemarahan Kedua” yang ditetapkan berlangsung pada Jumat ini (27/5).

Dalam pernyataannya, Al-Jamaah Al-Islamiyah, sebuah kelompok Islam yang dilarang sejak tahun 1980-an atas keterlibatannya dalam pembunuhan mantan presiden Anwar El-Sadat dan tindakan kekerasan lainnya, mengatkan bahwa seruan untuk melakukan aski protes pada Jumat ini hanya akan melawan kehendak rakyat Mesir yang telah memilih mendukung amandemen konstitusional pada tanggal 19 Maret lalu dan memberikan kewenangan parlemen mendatang untuk membentuk sebuah komite untuk menyusun rancangan konstitusi baru.

Sebelumnya jamaah Ikhwanul Muslimin dan aktivis Salafi juga menyerukan untuk memboikot aksi demonstrasi besar-besaran pada hari Jumat ini.

Kelompok itu juga mengatakan tuntutan dari para penyelenggara aksi protes akan melemahkan angkatan bersenjata dan mengalihkan perhatian mereka dari hal-hal yang lebih mendesak. Hal ini, kata mereka akan datang pada saat tentara negara-negara Arab menghadapi kehancuran dan hanya akan melayani kepentingan musuh-musuh umat Islam, dan menyebabkan ketidakstabilan, karena adanya vakum keamanan dan kerusakan perekonomian negara.

Kelompok tersebut juga meminta Dewan Tertinggi Angkatan Bersenjata (SCAF) untuk membuat keputusan darurat dalam upaya menjawab tuntutan rakyat Mesir, khususnya mengenai dewan lokal dan segera melakukan persidangan tehadap seluruh mantan antek-antek rezim. Mereka juga meminta SCAF untuk membebaskan semua tahanan rezim Mubarak sebelum Revolusi 25 Januari, termasuk tahanan politik.

Mereka juga meminta SCAF untuk mengeluarkan sebuah hukum yang menetapkan pengawasan peradilan dari aparat keamanan nasional yang baru dibentuk untuk menggantikan polisi negara mantan rezim yang sekarang telah dibubarkan.

Mereka juga meminta Mesir, pemuda revolusi dan semua kekuatan politik untuk berkoordinasi secara bersama untuk memenuhi tuntutan Revolusi 25 Januari. (fq/alahram)