INILAH.COM, Jakarta – Pepi Fernando menyesal dengan aksi teror yang dilakukannya.

Pepi mengaku bom buku yang ditujukan kepada tiga subjek sasarannya bertujuan untuk pengetesan. Mantan wartawan tersebut sama sekali tidak berniat membunuh orang.

“Saya tidak niat membunuh, saya mau tes, pipanya pecah juga. Saya menyesal yang korban polisi, apalagi agamanya Islam juga, bom Ulil juga saya kaget kok bisa meledak,” kata Kepala Badan Nasional Penanggulan Terorisme (BNPT) Inspektur Jenderal (Purn) Ansyaad Mbai menirukan ucapan Pepi, Rabu (4/5/2011).

Pepi mengaku paket bom untuk Komjen Gories Mere karena Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) itu anggota Densus 88 yang menangkap para teroris. Sedangkan bom untuk Ketua Umum Pemuda Pancasila, Yapto Soeryosumarno dan musisi Ahmad Dhani karena diangggap simbol Yahudi.

Selain itu, penempatan bom di aliran pipa gas, dekat Gereja Christ Cathedral, Serpong, Tangerang, agar daya ledakan makin besar dan menghancurkan gedung yang ada di sekitar.

“Kan pipa itu di bawah, bom itu mampu nggak mengangkat ke atas, kalau bisa, itu bisa digunakan untuk menghancurkan gedung,” ujarnya.

Namun rencana Pepi dan rekan-rekannya untuk meledakkan pipa gas itu tidak tercapai. Aksinya sudah terlebih dahulu diketahui oleh Kepolisian yang juga menangkap jaringan Pepi. [bar]