Oleh Abu Al-Faruq

Berita syahidnya Mujahid besar abad 15 H Usamah Bin Ladin (bukan Osama Ben Laden) di Pakistan Ahad 1 Mei 2011, mendapat sambutan luar biasa dari sebagian masyarakat Amerika, Eropa dan para bonekanya di berbagai Dunia Islam, termasuk di Indonesia yang mayoritas penduduknya adalah Muslim.

Presiden AS, Barrack Obama dan jajaran militernya merasa bangga karena berhasil membunuh Usamah yang mereka rancang siang dan malam sejak 10 tahun lalu dan telah menghabiskan dana puluhan dan bahkan ratusan milyar dolar AS. Pada waktu yang sama, Obama juga yakin, persoalan yang mereka hadapi belum selesai dengan kematian Usamah yang mereka tuduh sebagai gembong teroris kelas wahid dunia.

Alasannya, Usamah telah berhasil melahirkan sejumlah pemuda yang sangat militan dan siap mati kapan saja diperlukan demi melawan hegemoni dan kejahatan politik Amerika dan boneka-bonekanya di seluruh dunia. Sebab itu, pemerintah Amerika menyerukan peningkatan penjagaan seluruh asset dan kedubesnya di seluruh dunia.

Konflik Amerika dengan Usamah Bin Ladin bermula dari tuduhan Amerika atas Usamah sebagai dalang penghancuran gedung kembar Word Trade Center (WTC) di New York dan pengrusakan gedung Pentagon 11 September 2001. Para boneka AS di dunia Islam ikut-ikutan pula meniru ucapan dan ocehan tuan mereka, tanpa mau mencerna dan sedikit kritis terhadap peristiwa yang menggemparkan dunia itu. Padahal, tidak sedikit pakar arsitektur dan politik, termasuk di Amerika sendiri yang meragukan, bahkan tidak mepercayai penabrakan gedung WTC dan Pentagon itu dilakukan oleh Usamah.Paling tidak ada dua alasan kuat yang mereka kemukakan dan sulit dibantah oleh orang yang berakal.

Pertama, mereka meragukan kemampuan kerja pasukan Usamah di sebuan negara adidaya seperti AS yang memiliki perangkat intelijen dan teknologi detector dan radar yang sangat canggih di seluruh airport dan wilayahnya, sehingga sulit bagi siapapun melakukan pembajakan tiga pesawat dalam waktu yang bersamaan dan menempuh jarak yang cukup jauh ke arah sasaran.

Kedua, berdasarkan analisa para ahli bangunan dan arsitektur kelas dunia (penulis memiliki video simulasinya), runtuhnya, atau luluhnya gedung kembar WTC terlihat nyata 100 % seperti gedung-gedung tua yang dihancurkan dengan teknologi penghacur gedung, yakni dengan memasang bom-bom di berbagai sisi dan penjuru strategisnya.

Dari hasil rekaman runtuhnya dua gedung WTC itu terlihat sekali keduanya menggelembung ke arah luar seperti balon yang ditiup secara rata dan seimbang dan terlihat efek ledakan-ledakan di sebagian lantainya sehingga hancur menjadi debu dan berkeping secara teratur, yakni dari lantai teratas sampai ke dasarnya. Para ahli tersebut membuat komparasi dengan gedung yang terbakar di Spanyol akibat peristiwa kebakaran biasa. Untuk sampai gedung yang terbakar itu hancur semuanya memerlukan bebarapa hari dan itupun kerangka besi baja dan bangunannya banyak yang tersisa. Bandingkan dengan dua gedung WTC yang memiliki 110 lantai, bisa luluh lantah menjadi debu dalam beberapa menit saja. Apalagi belakangan, diketahui bahwa sekitar 4.000 Yahudi yang bekerja di dua gedung tersebut selamat, tak satupun yang masuk kantor pada hari peristiwa itu terjadi.

Anyhow, kata orang sono, dari 6 milyar penduduk dunia, ternyata tidak banyak yang cerdas, termasuk di negara maju seperti Amerika dan Eropa. Mereka lebih mempercayai media massa yang disetir sesuai kepentingan politik pemerintah Amerika dan negara-negara koalisinya ketimbang fakta ilmiyah yang dipaparkan oleh para pakar dari berbagai ilmu.

Sampai detik ini, milyaran manusia yang mengamini semua kebijakan dan informasi dari Amerika masih meyakini Usamah-lah yang menjadi aktor peristiwa WTC 10 tahun lalu yang menyebabkan jatuh korban ribuan manusia yang tak bersalah, termasuk berbagai teror bom di berbagai penjuru dunia, tak terkecuali di Bali dan Jakarta. Sebab itu, Usamah pantas mati, bahkan jasadnya akan dikubur Amerika di dasar laut. Lalu mereka berpesta pora dengan kesyahidan Usamah Bin Ladin itu.

Islam Amrikani

Kenapa Amerika bernafsu sekali membunuh Usamah dan melibas habis semua kaum Muslimin yang berfikiran sama dengannya? Apakah benar karena Usamah dan jamaah Al-Qaidah terbukti menghancurkan tatanan keamanan dunia dengan melakukan teror di seluruh dunia sejak dari yang sekelas bom buku di Jakarta dan Syarif di Cirebon beberapa waktu lalu sampai penghancuran dua gedung WTC di Newyork 10 tahun lalu?

Kalau itu alasannya, Amerika sampai detik ini belum bisa membuktikannya secara faktual, kecuali hanya bersifat klaim dan bercuap-cuap di media massa dan kemudian dilansir oleh seluruh media massa dunia, khususnya yang menjadi bonekanya. Faktanya tidak ada. Apa bisa pemerintah Amerika membantah analisa ilmiah para ahli seperti disebutkan di atas?

Kemudian, setelah Usamah syahid dan jasadnya akan dikubur di bawah dasar laut pula, kenapa Barrack Obama masih khawatir dengan lahir-nya Usamah-Usmah baru? Jawabanya tak lain adalah “Islam Amrikani”.

Apa sih Islam Amrikani itu? Islam Amrikani adalah sebuah istilah yang diluncurkan Syahid Sayyid Qutb di awal tahun 60an. Ketika itu Sayyid Qutb melihat pemerintah Amerika itu aneh bin ajaib. Amerika ingin Islam yang berkembang si seluruh dunia, —termasuk di Amerika sendiri yang diprediksi CIA 50 tahun yang akan datang jumlah kaum Muslimin di AS mencapai 75 juta orang— adalah Islam versi Amerika.

Apa itu Islam versi Amerika? Islam yang tidak berdaya di hadapan hegemoni dan penjajahan Amerika yang kuat nuansa Ahlul Kitab (Yahudi dan Nasrani)-nya.

Islam Amerikani harus menerima perbudakan Amerika terhadap manusia lain di luar Amerika dan pemahaman yang mengakui semua agama sama serta umat Islam haram hukumnya mengatakan agama mereka adalah agama kemerdekaan, perlawanan, anti penindasan, perbudakan dan penjajahan.

Amerika hanya membolehkan pemahaman Islam yang terkait akhlak, budaya dan aktivitas sosial. Amerika ingin memusnahkan pemahaman Islam yang membolehkan, dan bahkan dalam waktu tertentu mewajibkan perlawanan atas penindasan yang dilakukan Amerika terhadap bangsa-bangsa lain, khususnya bangsa Muslim di seluruh dunia. Setiap ada fenomena ke arah perlawanan, kebebasan dan kemerdekaan politik, ekonomi dan beragama, maka harus dimusnahkan dengan strategi ‘stick and carrot’-nya yang terkenal itu.

Sayyid Qutb sudah melihat dengan nyata kecenderungan politik Amerika sejak awal 60an, khususnya yang terkait dengan Palestina dan umat Islam di seluruh dunia, termasuk meletakkan para bonekanya menjadi pemimpin di berbagai negeri Muslim. Sebab itu, Amerika akan naik pitam jika tulisan-tulisan Sayyid Qutb mengkritisi politik Amerika dan para bonekanya di negeri-negeri Muslim, khususnya di Mesir.

Akibatnya, dendam kesumat (istilah Al-Qur’an: hasadan min ‘indi anfusihim) tertanam kuat dalam lubuk hati politik pemerintahan Amerika. Dendam kesumat tersebut diwariskan secara turun temurun kepada siapapun yang menjadi Presiden AS, termasuk Obama yang pernah mengenyam pendidikan dasar di Jakarta.

Kendati Sayyid Qutub sudah syahid di tiang gantung rezim Mesir Jamal Abdunnashir tahun 1965, artinya sekitar 46 tahun lalu, dalam lembaran politik Amerika sampai hari ini, Sayyid Qutub masih dimusuhi dan dianggap paling berbahaya dan masih dituduh sebagai sumber teror yang terjadi setelah puluhah tahun Beliau wafat.

Alasan Amerika sederhana, semua karya ilmiah Sayyid Qutb, khususnya Fi Zhilalil Qur’an dan Ma’alim Fit-Thariq tidak sesuai dengan paham “Islam Amrikani”, alias mengajarkan perlawanan terhadap semua rezim dan penguasa zalim, siapapun dia dan di manapun negerinya.

Amat disayangkan, yang mengecam dan mencaci maki Sayyid Qutub itu bukan hanya Amerika dan bonekanya saja, akan tetapi ikut-ikutan pula sebagian kelompok atau jamaah yang menamakan diri berpegang pada Islam yang generasi awal, tanpa memahami pemahaman Sayyid Qutub yang sebenarnya. Disadari atau tidak, mereka seperti ini telah terjebak ke dalam skenario musuh Allah SWT dan musuh Rasulullah SAW terbesar abad ini, yakni pemerintahan dan politik Amerika yang disetir Zionis internasional.

Ajaibnya, Sayyid Qutub dicaci-maki habis-habisan, tanpa dasar yang kuat. Amerika dibiarkan merajalela memusnahkan negeri-negeri Muslim sejak dari Palestina, Irak, Afghanistan dan sebagainya. Tak satu katapun terdengar dari mulut mereka menasehati umaro’ apalagi mengecamnya.

Penutup

Berdasarkan fakta-fakta di atas, Amerika tidak akan berhenti beraksi memerangi kaum Muslimin yang memiliki semangat dan jiwa perlawanan terhadap kejahatan Amerika dengan keberhasilan mereka membunuh Usamah. Pasti ada alibi dan trik-trik yang bisa dijadikan alasan atau digunakan untuk membumihanguskan kaum Muslimin yang tidak menganut paham “Islam Amrikani”. Buktinya, Sayyid Qutub sudah syahid 46 tahun lalu, namun tetap masih dijadikan alasan ancaman kepentingan Amerika sampai hari ini.

Istilah JIHAD yang mereka coba palingkan pemahamannya dari perang senjata melawan musuh Allah dan Rasul SAW gagal total. Jihad tetap saja berkobar di banyak wilayah di dunia. Tuduhan fundamentalisme dan fanatisme agama yang dituduhkan kepada kaum Muslimin yang taat, kemudian ditingkatkan menjadi terorisme juga gagal dengan sendirinya meredam perlawanan sebagian kaum Muslimin terhadap kejahatan Amerika di beberapa dunia Islam seperti di Irak dan Afghanstan juga mengalami kegagalan.

Ada indikasi kuat, sekarang Amerika memahami sumber kekuatan umat Islam yang jika mereka menguasainya tidak akan pernah dapat dilawan, apalagi dikalahkan. Sumber tersebut adalah Al-Qur’an. Amerika sadar betul bahwa sumber kekuatan Sayyid Qutub, Syekh Abdullah Azzam, Ziaul Haq dan semua tokoh besar Islam sejak Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan seterusnya adalah Al-Qur’an.

Sebab itu, mereka mencoba mengutak-atik Al-Qur’an. Caranya banyak, sejak diluncurkan Al-Qur’an palsu sebagaimana yang disebarkan oleh para misionaris di seluruh dunia ini, sampai kepada menyalahkan terjemahan Al-Qur’an seperti yang hangat diperbincangkan para boneka Amerika di Indonesia belakangan ini.

Mereka menuduh terjemahan Al-Qur’an keluaran Kementrian Agama RI adalah sumber dan biang kekerasan, termasuk aksi Syarif di Cirebon beberapa waktu lalu. Tanpa malu dan sungkan, seorang pengamat dari kalangan mereka di salah satu tv swasta dalam acara dialog beberapa hari lalu menegaskan Kementrian Agama RI harus menarik semua Al-Qur’an terjemahan yang beredar karena banyak kekeliruannya yang menyebabkan tindakan kekerasan di negeri ini.

Anehnya, menurut pengamat tersebut, satu-satunya terjemahan Al-Qur’an yang benar ialah yang sekarang sedang disusun oleh Tim Majlis Mujahidin Indonesia (MMI) yang ditinggal pendiri dan guru spiritualnya, Ust Abu Bakar Ba’asyir yang selalu diupayakan oleh pihak Amerika dan bonekanya di negeri ini bagian dari jaringan Usamah Bin Ladin dan semua tindakan kekerasn yang terjadi.

Ia menyamakan dengan kasus industri mobil Toyota, jika ada yang salah dalam produknya, maka semua unit yang sudah tersebar ditarik ulang. Apa artinya dari pernyataan tersebut? Silahkan pembaca yang menafsirkannya.

Usamah bin Ladin sudah syahid, semoga beritanya benar, sebagaimana sebelumnya Syekh Abdullah Azzam, Ziaul Haq, Syekh Yasin, Rantisi, Sayyid Qutub, Hasan Al-Banna dan sebagainya.

Generasi Qur’ani pasti mati atau syahid pada waktu yang ditentukan Allah, bukan Amerika yang menentukannya. Para musuh Al-Qur’an dan Jihad juga mati pada waktu yang ditentukan Alllah.

Namun, di antara kedua kelompok manusia tersebut memiliki perbedaan antar bumi dan langit. Generasi Qur’ani akan masuk surga sedangkan musuh mereka akan masuk neraka.

Pertanyaannya adalah, apakah Al-Qur’an yang menjadi sumber kekuatan umat Islam bisa dihapus, dan Jihad yang menjadi spirit perjuangan kaum Muslimin dalam melawan setiap kezaliman di muka bumi ini dapat dihilangkan dari lembaran-lembaran Al-Qur’an dan hati kaum Muslimin?

Sejarah umat Islam yang sudah berusia lebih 1440 tahun cukup sebagai bukti Al-Qur’an dan para pejuang Al-Qur’an tetap eksis menghadapi berbagai konspirasi dan kejahatan musuhnya. Hal tersebut sesuai dengan informasi dari Tuhan Pencipta Alam semesta :

Sesungguhnya Kami (Allah) yang menurunkan Al-Qur’an itu dan Kami (Allah) pasti menjaganya (dari tangan-tangan jahil). (QS. Al-Hijr [15] : 9)

Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur (dibunuh) di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhan Penciptanya dengan mendapat rezki. [169] Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. [170] Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman. [171] (Yaitu) orang-orang yang mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud). Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan diantara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar. [172] (Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.” [173] Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridhaan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar [173]. (QS. Ali Imran [3] : 169–174)

Sumber : Eramuslim.com

Artikel Terkait :