PROLOG : Para salafy bengis yang dikomandoi Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali yang sekarang masih berseteru dengan Syaikh Ali Hasan Al-Halabi (sama-sama mengaku Salafy) menuduh bahwa akar permasalahan atas pengkafiran terhadap kaum muslimin terkhusus pemerintah adalah beberapa ucapan Sayyid Qutbh dalam bukunya Al-Adalah Al-Ijtima’iyah (Keadilan Sosial) dan Fi Dzilalil Qur’an (Di bawah Nauangan Al-Qur’an). Maksud hati membalas buku Imam Samudera “Aku Melawan Teroris” malah membantai tokoh-tokoh ikhwan. Padahal Sayyid Qutbh sendiri telah mendapat pujian bahkan pembelaan dari ulama-ulama rujukan para salafy bengis seperti dalam artikel “Kesaksian Ulama Dunia Terhadap Kesesatan al-Banna & Sayyid Quthb???” atau “Fatwa Syaikh Abdullah bin Al-Jibrin Mengenai Kesesatan Sayyid Quthb dan Hasam Al-Banna“, juga ulama-ulama rujukan salafy bengis sendiri seperti Syaikh bin Bazz (mantan Mufti Kerajaan Saudi Arabia dan Ketua Hai’ah Kibaril Ulama), Syaikh Al-Albanny, Syaikh Shalih al-Luhaidan, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah Alu Asy-Syaikh (pengganti Syaikh bin Bazz sebagai Ketua Hai’ah Kibaril Ulama), Syaikh Abdullah bin Hasan al-Qu’ud yang justru memberikan kesaksian positif terhadap tokoh-tokoh ikhwan. Tapi itulah kebencian, jika tidak sesuai dengan pandangannya maka akan tetap dibenci dan dicari-cari terus kesalahan-kesalahan Sayyid yang lain demi mendukung pendapat mereka. Alhasil sampai sekarang pemahaman mereka terhadap Sayyid tetaplah seperti itu. Begitu juga untuk para eks IM, sekalipun pernah mendapat hidayah pemahaman Islam dari jamaah ini, ketika keluar dan bergabung ke jamaah salafi bengis, maka dengan serta merta tabiat bengispun menjangkiti mereka setali tiga uang ikut-ikutan menjelek-jelekkan, mensesat dan mengkafirkan Sayyid seolah mereka lebih alim dari ulama padahal ilmunya tak sebanding dengan debu di ujung kukunya bila dibandingkan dengan Sayyid. Baiklah, berikut jawaban untuk Salafiyyun: Mengapa Ulama Tidak Mengafirkan Penguasa Terdahulu, Misalnya Khalifah Al-Ma’mun?

Sebagian dai yang mengaku bermanhaj salaf sering berdalil, mengapa para ulama tidak memvonis kafir sebagian dari penguasa terdahulu, seperti Khalifah Al-Ma’mun? Bukankah Khalifah Al-Ma’mun berpendapat bahwa Al-Qur’n adalah makhluk? Dan bukankah orang yang mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk berarti ia telah kafir?

Pertanyaan ini pernah diajukan kepada Syaikh Umar Mahmud Abu Umar (Abu Qatadah Al-Filasthini), dia memberikan jawaban sebagai berikut:

“Diantara alasan orang-orang yang tidak mau memvonis kafir pemerintah yang mengganti syariat Allah bahkan membolehkan baiat pada mereka, adalah perkataan mereka: “Sesungguhnya para ulama, dan seniornya adalah imam Ahmad bin Hambal tidak memvonis kafir khalifah Al-Ma’mun walaupun dia berpendapat bahwa Al-Qur’an adalah makhluk serta berpendapat bahwa Allah tidak memiliki sifat, dan beliau juga tidak melancarkan pemberontakan untuk menggulingkannya.”

Kami jawab, semoga Allah memberi petunjuk pada kami, “Alasan ini hanya bisa dikatakan oleh orang-orang bodoh dan orang awam. Orang yang mengatakannya, jika bukan orang bodoh, berarti dia adalah orang yang mempermainkan agama Allah. Mereka yang mengerti realitas kita hari ini, juga mengetahui sebab kafirnya pemerintah saat ini, dan dia juga mengetahui sikap para imam Ahlus Sunnah terhadap mereka yang salah dalam menakwilkan nash, dia akan memahami bahwa kondisi Khalifah Al-Ma’mun tidak dapat dibandingkan dengan realitas pemerintah saat ini dari sisi manapun.

Sesungguhnya terdapat perbedaan besar antara mereka yang sengaja dan bermaksud untuk berpaling dan menolak hukum Islam dengan mereka mencari kebenaran, namun dia salah memahaminya. Seperti kasus khalifah Al-Ma’mun dan Al-Mu’tashim yang berpendapat bahwa Al-Qur’an adalah makhluk, serta mereka yang berpendapat demikian dari golongan Jahmiyah, yaitu kelompok yang beranggapan bahwa Allah tidak memiliki sifat, dan orang-orang yang salah paham terhadap ajaran Islam. Mazhab Ahlussunnah memiliki sikap tersendiri terhadap mereka yang salah dalam memahami dalil. Dapat kita katakan bahwa ulama salaf telah sepakat atas hukum mereka yang salah paham, walaupun terdapat perbedaan di kalangan umat yang lahir kemudian.

Definisi salah paham atau takwil adalah meyakini ayat atau hadits sebagai dalil, padahal ayat atau hadits itu bukanlah dalil dalam masalah ynag dimaksudnya. Prakteknya adalah ketika seseorang berpendapat tentang sesuatu, atau meyakini sebuah keyakinan, atau melakukan suatu perbuatan, sedang dia mengira bahwa pendapat, keyakinan, atau perbuatan ini adalah benar seperti yang diajarkan oleh nabi. Sementara pada hakikatnya hal itu tidaklah demikian. Dia ingin mencari kebenaran, namun tidak mendapatkannya. Ini adalah kondisi ahlul bid’ah. Mereka sebenarnya mereka ingin melakukan kebenaran, namun salah dalam menerapkannya, sedang bid’ah dapat terjadi pada keyakinan dan perbuatan. Adapun khalifah Al-Ma’mun dan kaum Jahmiyah, walaupun keyakinan dan pendapat mereka menyimpang seperti itu, namun mereka dimaafkan karena tujuan mereka yang baik, maka para ulama melarang kita memvonis kafir bagi mereka yang salah paham.

Ibnu Hazm telah menuliskan pembahasan ini dalam kitab Ihkamul Ahkam, dan inilah mahzab Ahlussunah wal Jama’ah, berbeda dengan pendapat Khawarij dan Mu’tazilah yang memvonis kafir bagi mereka yang tidak sependapat dengan mazhabnya. Sedangkan Ahlussunnah wal Jama’ah, meskipun mereka tetap berkeyakinan bahwa ada diantara pendapat ahlul bidah yang menyebabkan pelakunya menjadi kafir seketika, namun mereka tidak langsung memvonis kafir bagi setiap orang yang berpendapat demikian. Karena terdapat perbedaan besar antara vonis kafir terhadap perbuatan dengan memvonis kafir pelaku perbuatan tersebut. Hal ini pun diketahui oleh pelajar ilmu tingkat pemula.”

Ibnu Taimiyah mengatakan, “Ucapan yang dapat menyebabkan orang yang mengucapkan menjadi kafir, bisa jadi si pengucap belum mengetahui dalil-dalil yang membuatnya memahami dalil-dalil yang membuatnya memahai kebenaran. Mungkin dia telah mengetahui, tetapi dia beranggapan dalil itu lemah, atau tidak dapat memahami dalil itu dengan pemahaman yang benar. Bisa jadi juga karena dia mengalami kerancuan dalam memahami dalil itu, sehingga dimaafkan oleh Allah. Siapa saja dari orang mukmin yang mencari kebenaran, namun dia salah dalam memahaminya, maka Allah mengampuni semua kesalahannya dalam seluruh permasalahan, baik dalam permasalahan pemahaman maupun dalam masalah ibadah praktis, inilah pendapat seluruh sahabat Nabi dan jumhur ulama kaum muslimin…

Imam Ahmad mengkafirkan orang-orang jahmiyah yang mengingkari nama dan sifat Allah, karena pendapat mereka yang jelas-jelas menyalahi ajaran Nabi, tetapi beliau tidak mengkafirkan setiap orang yang berpendapat demikian, karena yang mengajak orang lain lebih berat dibandingkan dengan orang yang sekedar mengatakannya. Adapun orang yang menghukum siapa yang tidak mau mengikuti pendapatnya lebih jahat dari mereka yang sekedar mengajak orang lain. Pada waktu itu, para pejabat pemerintahan yang menganut pendapat kaum jahmiyah menyeru manusia untuk menganut pendapat mereka, dan menghukum serta memvonis kafir bagi yang tidak mau mengikuti pendapat mereka. Meskipun demikian, imam Ahmad tetap berbuat baik kepada mereka dan memintakan ampunan kepada Allah bagi mereka, karena beliau tahu pasti bahwa mereka tidak sadar bahwa mereka mendustakan Nabi dan menentang ajarannya, tetapi hanya salah dalam memahami kebenaran dan mengikuti orang lain….”[1]

Beginilah sikap para ulama terhadap orang-orang yang salah dalam memahami nash, karena sebenarnya, mereka menginginkan kebenaran dan tidak pernah bermaksud mendustakan Nabi serta menentang ajarannya. Sehingga hal ini menjadi penghalang untuk memvonis kafir kepada mereka.

Adapun para pemerintah pada zaman kita saat ini, jelas sekali secara sengaja memang ingin menyelisihi syariat Islam, bahkan mereka mendeklarasikannya di dalam undang-undang dan peraturan mereka bahwa; kedaulatan berada di tangan rakyat, dan maksud dari kedaulatan adalah kekuasaan pemerintahan tertinggi secara mutlak berhak untuk menentukan segala sesuatu.

Karena itulah, diantara yang menjadi ijma’ ulama kita adalah, bahwa pembuatan dan penetapan undang-undang yang menyelisihi hukum Allah adalah perbuatan kufur, sebagaimana yang dinyatakan oleh Imam Syatibi dalam kitab Al-I’thisham jilid 1 hal 61:

“Para ulama bersepakat bahwa mengganti aturan agama adalah perbuatan syirik dan kufur”. Sedangkan Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Kapan saja seseorang menganggap halal sesuatu yang disepakati keharamannya, atau mengharamkan sesuatu yang disepakati kehalalannya, atau mengganti syariat (aturan) yang telah disepakati para ulama, maka para fuqaha sepakat bawa dia telah kafir dan murtad (keluar dari Islam).[2]

Lalu, apakah yang dilakukan para pemerintah yang mengganti syariat Islam dengan hukum positif buatan manusia termasuk salah ta’wil, atau mereka memang berniat untuk menyingkirkan Al-Qur’an dan Sunnah serta memegang erat-erat aturan barat dalam mengatur negara?

Siapa saja yang menyangka bahwa pemerintah yang mengganti syariat Islam sebenarnya berniat baik, yaitu ingin menerapkan syariat Islam, namun mereka salah memahaminya–sebagaimana khalifah Al-Ma’mun–, berarti dia telah berbohong tentang realita pemerintahan itu dan membohonggi dirinya sendiri.

Sedangkan realita yang ada membantah dan mendustakan anggapannya itu, karena penyimpangan pemerintah yang mengganti syariat Islam dengan syariat lain bukanlah karena mereka salah memahami syariat Islam, tetapi karena mereka memang ingin menyelisihi, melawan dan menandingi syariat Allah. Ini adalah sesuatu yang sangat jelas dan terang, bahkan secara terang-terangan, mereka menyatakan bawa syariat Islam tidak masuk dalam urusan politik dan perundang-undangan, syariat Islam hanya mengatur hubungan antara hamba dan Rabb-nya, menurut anggapan mereka. Hendaknya orang-orang itu takut kepada Allah dan tidak berbohong kepada masyarakat atas nama agama.”[3]

Kesimpulan
Jawaban dari syaikh Abu Qatadah A-Filistini cukup gamblang. Perbedaan antara pemerintah sekarang dengan pemerintah Al-Makmun sangatlah jauh. Pemerintah sekarang benar-benar tak sudi mengunakan syariat Islam sebagai dasar hukum sedang pemerintah Khalifah Al-Ma’mun masih bertekad menerapkan syariat Islam namun hanya salah takwil belaka. Dua perbedaan mendasar ini tidak bisa disamakan begitu saja.

Yang di atas adalah pandangan ulama-ulama yang mulia. Lantas bagaimana pandangan para pembela Imam Samudera yang bukunya dibantah dengan buku Mereka Adalah Teroris karya Lukman Ba’abduh yang juga sudah dijarh oleh sebagian Salafy bengis yang dulu memuja-muja Lukman Ba’abduh. Untuk bukti Lukman Ba’abduhpun telah dijarh juga oleh sesama salafy tunggu artikel selanjutnya saja di blog ini. Berikut adalah dua pandangan (artikel) para pembela Imam Samudera terhadap jamaah Salafy Bengis :

1. SALAFIYYAH YAHUDIYYAH
2. SALAFIYYAH QADIYANIYYAH

Foot note:
[1] Nawaqidhul Iman Al Qauliyyah wal Amaliyyah. Dr Abdul Aziz Al Abdullathif hal 52-53
[2] Majmu’ Fatawa: III hal 267
[3] Syaikh Abu Qatadah menulis jawaban ini pada tanggal 14 Muharram 1418H, 21 5 1997

Sumber : Syubhat Salafi, Jazera, Feb 2011

Iklan