Oleh: Ust. Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

“Dunia ko lah tabaliak,” begitu ungkapan banyak masyarakat mengomentari situasi peradaban manusia saat ini. Yang benar bisa dianggap salah, yang salah bisa dianggap benar. Kebenaran seolah-olah tak berarti, dikalahkan oleh alasan kepentingan.

Seseorang yang melakukan kebenaran bisa dianggap salah karena mengganggu kepentingan kelompok tertentu. Dengan menggunakan rekayasa informasi, orang tersebut bisa dijadikan musuh bersama, atau dibunuh karakternya yang dikenal dengan istilah character assasination.

Akibatnya, kebathilan merajalela, kebenaran terpuruk entah kemana. Sekuen selanjutnya, maksiat, korupsi, kriminalitas, kebodohan dan kemiskinan kian merajalela. Korupsi, perkosaan, perampokan, kenakalan remaja menjadi berita sehari-hari yang memekakkan telinga dan membuat hati miris.

Siapa yang peduli dengan masalah ini? Siapa yang mau tampil menjadi pahlawan menumpas segala persoalan tersebut? Tak ada yang berani, takut dianggap pahlawan kesiangan. Lagipula masing-masing orang sudah disibukkan dengan masalah dan urusan masing-masing.

Sebenarnya disanalah fungsi pemimpin. Ialah yang harus bertugas membereskan semua masalah itu. Menyelesaikan masalah yang rumit, yang memekakkan telinga dan membuat hati miris yang tak seorang pun mampu, mau atau peduli dengan masalah itu.

Sadar dengan beratnya tanggung jawab itu, saat ditugaskan menjadi calon gubernur oleh Partai Keadilan Sejahtera tahun lalu, saya langsung menolak. Saya sadar betul beratnya tanggung jawab yang harus saya pikul. Amanah itu harus saya pertanggung jawabkan dunia dan akhirat. Perdebatan itu berlangsung cukup lama.

Namun dengan sejumlah argumen yang diberikan kawan-kawan dan petinggi partai, dukungan masyarakat yang antusias dan ditutup dengan shalat istikharah, dengan mengucapkan bismillah, tawaran itu akhirnya saya terima.

Setelah bertugas sebagai gubernur, tantangan dan beban berat yang saya perkirakan semula memang jadi kenyataan bahkan jauh berlipat ganda. Tapi insyaAllah saya siap, tantangan bagi saya justru menjadi energi yang luar biasa. Saya juga yakin masih banyak orang yang peduli dan ingin membangun Sumatera Barat menjadi lebih baik. Masih banyak orang yang menginginkan nama Ranah Minang dan tokoh-tokoh Minang kembali harum dan mencuat ke permukaan.

Lalu ketika acara pelantikan kepala SKPD pekan lalu sangat teringat lagi masalah amanah dan tanggung jawab itu. Aneh juga melihat sejumlah oknum yang kasak-kusuk dengan berbagai cara agar diberi jabatan tertentu. Ada juga yang mengerahkan massa untuk meminta jabatan. Namun banyak juga yang tenang-tenang saja, tapi tetap terlihat intelektual dan pretasi kerja mereka.

Karena itu, pada kesempatan tersebut saya mengingatkan bahwa jabatan adalah tugas berat yang harus dipertanggung jawabkan dunia dan akhirat. Jabatan membuat kita kehilangan privasi, waktu dan berbagai pengorbanan lainnya. Jadi jabatan bukan diminta, tapi diamanahkan. Justru aneh kalau ada orang yang meminta-minta jabatan.

Khalifah Umar Bin Khatab, pahlawan perang paling berani di zaman Nabi, menangis tersedu-sedu dalam shalat malamnya sampai subuh, karena beratnya tugas memimpin yang harus dipertanggung jawabkannya di hadapan Allah Swt. Umar juga menangis dan merasa berdosa ketika ia tahu ada rakyatnya kelaparan.

InsyaAllah saya juga siap mengorbankan waktu keluarga, karena kami sekeluarga sudah terbiasa berjuang hidup sejak masih kuliah dulu. Kami mulai hidup dari nol, tak ada fasilitas. Saya tak gentar ke Mentawai dan menginap di sana disaat Tsunami dan badai masih menjadi hantu menakutkan. Saya juga tak menyerah mendatangi pelosok-pelosok kampung di Sumbar, disaat staf dan SKPD tak sanggup lagi mengikuti perjalanan.

Yang saya takutkan adalah seperti yang ditakutkan Nabi Muhammad dan Khalifah Umar, yaitu pertanggung jawaban dihadapan allah SWT. Hal itulah yang membuat hati saya pilu.

Namun saya yakin, jika kita melakukan yang terbaik, pasti hasilnya baik pula. Kalau padi yang ditanaman, apalagi kalau dirawat dengan baik, tak mungkin ia akan menjadi ilalang.

Mari kita bersama membangun Sumatera Barat dengan saling bahu membahu. Saling menuding dan saling menyalahkan hanya akan membuat energi terbuang percuma. Katakan yang benar itu benar, jangan memutar balikkan fakta. Jangan mengadu domba, mari kita bersatu menjadikan Sumatera Barat Provinsi terdepan.

Padang Ekspres 21 Februari 2011

Sumber : Situs Web Resmi Irwan Prayitno, Prof., Dr., Psi, MSc