https://i0.wp.com/ikhwanonline.com/Data/2011/4/20/asd1.jpg

Islamedia – Ikhwanul Muslimin akhirnya mendeklarasikan berdirinya sebuah partai politik dengan nama  Partai Kebebasan dan Keadilan (PKK). Berbagai pihak telah memberikan kontribusinya dalam rangka mendirikan partai PKK. Prof. Dr. Muhammad Badie, Mursyid Am Ikhwanul Muslimin, menegaskan kembali tentang kontribusi kristen Koptik Mesir dalam mendirikan Partai Kebebasan dan Keadilan. Penegasan tersebut disampaikan dihadapan ribuan orang yang hadir dalam muktamar masyarakat propinsi Bahirah. Muktamar tersebut dilaksanakan di kota Damanhur, Bahirah, pada Rabu sore 20/4/2011. Badie berharap partai ini dapat menjadi contoh yang baik dalam perpolitikan di Mesir.

Disamping pendirian partai politik, Ikhwan juga mengklaim telah mempersiapkan berdirinya stasiun televisi bernama “Egypt 25” atau “Mesir 25”. Dalam waktu dekat Ikhwan akan melaunching surat kabar “Ikhwanul Muslimin”. Semua yang dilakukan Ikhwan tidak akan mengeluarkan jatidirinya sebagai Jamaah Islam yang integral. Justru semua itu akan menegaskan kembali akan eksistensi Ikhwan sebagai organisasi Islam yang komprehensif dan tidak membeda-bedakan garapan dakwah. Ikhwan tidak pernah membedakan antara ekonomi, politik, ataupun sosial kemasarakatan.

Pada muktamar tersebut Badie mengajak seluruh masyarakat Mesir agas menjaga semangat revolusi yang telah berhasil menggulingkan rezim Mubarak. Badie mengatakan, “Kita berkewajiban menjaga Mesir dan semangat revolusi. Jadilah kalian sebagai orang-orang yang amanah atas darah para syuhada yang telah mengalir untuk revolusi ini. Jangan sampai kalian terprovokasi oleh pihak-pihak yang berupaya menggagalkan revolusi ini. Mereka akan selalu berusaha untuk memecah belah kalian. Para syuhada telah mengorbankan yang termahal yang mereka miliki. Insya Allah mereka akan mendapatkan surga yang Allah janjikan. Kewajiban kita sekarang adalah menjaga buah dari revolusi ini, serta terus mengupayakan tuntutan yang telah kita serukan pada saat masih berdemonstarasi”.

“Majelis Syura Jamaah Ikhwanul Muslimin telah menentukan raihan target yang harus dicapai dalam pemilu DPR dan MPR. Oleh karenanya, untuk pemilu yang akan datang Ikhwan menganut prinsip ‘Musyarakah Laa Mughalabah’ (berpartisipasi bukan menjatuhkan). Prinsip ini pula yang kita gunakan dalam pemilihan ketua organisasi profesi”, tambah Badie.

Mursyid ‘Am mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada masyarakat Bahirah yang telah memberikan sambutan dan penghormatan luar biasa atas kegiatan muktamar ini. Hal ini suatu kebanggaan tersendiri bagi Badie yang disambut meriah di propinsi tempat Imam Syahid Hasan Al Banna dilahirkan, pendiri Jamaah Ikhwanul Muslim dan Mujaddid islam. Imam Hasan Al Banna telah bersungguh-sungguh membangun bangunan dakwah dengan niat yang ikhwan demi untuk kejayaan islam dan muslimin.

“Ustadz Al Banna telah memberikan pelajaran yang berharga kepada kita semua, bagaimana seharusnya kita bersusah payah bekerja untuk membahagiakan orang banyak. Kita bergadang agar masyarakat bisa tidur dengan nyenyak. Semua itu harus kita lakukan dengan penuh persiapan. Kita siap untuk mengorbankan nyawa yang kita miliki, asalkan rakyat bisa hidup”, kata Badie.


Badie juga menekankan, hanya orang-orang dari rezim Mubarak lah yang ingin memecah belah rakyat Mesir. Mereka menggunakan banyak cara untuk menggoyang stabilitas keamanan dalam negeri Mesir. Salah satu upaya yang telah mereka lakukan adalah mengadu domba dan menyulut konflik antara umat islam dan kalangan kristen.

Ikhwan harus dapat menjadi contoh dan teladan yang nyata bagi masyarakat sebagaimana yang pernah dilakukan di Lapangan Tahrir. Tidak ada orang yang mengingkari peran Ikhwan saat melakukan aksi di lapangan Tahrir.

Badie memohon kepada Allah agar persatuan dan kesatuan rakyat semakin diperkuat. Kita rakyat Mesir adalah tangan yang satu. “Jangan biarkan oknum-oknum tertentu memecah belah kita. Masih ada anasir-anasir yang tidak senang dengan kebersamaan diantara kita, diantara masyarakat Mesir. Mereka menginginkan agar Mesir terpecah”, jelas Badie.

Rezim lama masih terus berupaya memunculkan api permusuhan antara Ikhwan dan tentara Mesir yang pemberani. Mereka menggiring masyarakat dengan opini agar dilakukan mahkamah militer untuk para petinggi militer yang pernah terlibat dalam rezim Mubarak. Namun Ikhwan menolak itu semua. Karena kita masih percaya dan membutuhkan tentara Mesir yang agung ini untuk menjaga Mesir dan wilayah teritorialnya.


Dalam penjelasannya Badie mengatakan, “Ikhwan merupakan salah satu komponen bangsa yang dizalimi oleh Rezim terdahulu. 40 ribu anggota Ikhwan mendekam dalam penjara. Ada diantara mereka yang dipenjara sampai puluhan tahun. Diantara mereka ada guru besar, insinyur, dokter, dan yang lainnya. Mereka dilarang untuk berkontribusi bagi tanah airnya sendiri”.

Muktamar ini juga di meriahkan dengan berbagai kegiatan, dari mulai aksi kepanduan Ikhwan dan kepanduan akhwat. Bahkan wartawan cetak dan elektronik nampak tidak ingin tertinggal kegiatan yang luar biasa ini.

[ikhwanonline/akml]