Oleh : Ust. Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Dalam suatu majlis seorang pemuda Badui bertanya pada Rasul : “Ya Rasul, kapan kiamat itu datang?”. Kemudian Rasul bersabda : “Apabila sudah hilang amanah maka tunggulah terjadinya kiamat.” Orang itu lalu bertanya lagi: “Bagaimana hilangnya amanah itu?” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah terjadinya kiamat.” (Hadits riwayat Buchari dan Muslim)

Ada dua poin penting yang terkandung dalam kisah di atas, pertama pemimpin haruslah amanah, kedua pemimpin haruslah orang tepat, sesuai keahlian dan kemampuannya. Jika hal itu tidak dipenuhi, maka kehancuran (kiamat) akan terjadi.

Hal itu pula yang selalu merisaukan nabi Umar Bin Khatab saat diangkat menjadi khalifah. Pahlawan perang yang terkenal gagah perkasa ini selalu mengevaluasi diri setelah shalat malam. Beliau menangis mohon ampun dan petunjuk Allah Swt agar ia mampu bersikap adil dan amanah dalam menjalankan tugas sebagai khalifah.

Suatu kali apa yang ia kuatirkan itu terjadi juga, beliau mendapat informasi bahwa beliau telah berlaku tidak adil, ada satu keluarga rakyat beliau yang kelaparan. Umar langsung mendatangi keluarga itu dan setelah yakin kebenaran informasi itu beliau langsung memanggul sendiri sekarung gandum untuk diserahkan ke keluarga tersebut.

Umar sangat terkejut dengan kejadian itu, air matanya berurai. Ia sadar bahwa kepemimpinannya harus ia pertanggung jawabkan di dunia, juga akhirat.

Dari teladan yang dicontohkan Nabi dan khalifah Umar di atas terlihat jelas betapa beratnya tanggung jawab seorang pemimpin. Fikiran ini ingin saya bagikan kepada hampir semua kepala SKPD di lingkungan Pemprov Sumbar yang hadir saat pelantikan kepala dinas Tarkim Praswil Sumbar pekan lalu.

Nasihat itu tidak hanya ingin saya bagikan kepada seluruh SKPD, tapi juga terutama saya sendiri. Saya juga sangat menyadari beratnya tanggung jawab itu, kerongkongan saya tercekat sesaat, suara saya menjadi pelan, nyaris hilang. Saya juga takut berbuat salah seperti apa yang ditakutkan Umar. Subhanallah….

Saya kemudian melanjutkan, bercermin dari pengalaman Umar dan sabda Nabi seharusnya kita justru takut jika ditunjuk jadi pejabat/pemimpin. Tidak hanya pertanggung jawaban dunia dan akhirat yang diminta, tapi juga pengorbanan. Pengorbanan waktu, perhatian terhadap keluarga dan lain-lain.

Anehnya justru banyak orang yang meminta-minta untuk diangkat jadi pejabat. Berbagai cara dilakukan, termasuk cara-cara yang tidak etis sebagai bangsa yang beradat.

Sayangnya peristiwa ini diterjemahkan dengan cara berbeda dan dengan informasi yang tidak tepat oleh sejumlah pihak. Saya dinilai cengeng, seolah-olah frustasi dan menyesal, karena kehilangan waktu untuk keluarga dan seterusnya.

Sedikitpun itu bukan tipe saya, sangat bertolak belakang. Kami berkeluarga mulai dari nol, bahkan minus malah. Lalu kami berjuang sedikit-demi sedikit dengan kemampuan sendiri untuk menghidupi keluarga, tak ada fasilitas. Kami sekeluarga juga punya cara tersendiri dan sudah terbiasa mengatur waktu. Meski waktu terbatas namun intensitas keakraban tetap terjaga. Itu telah kami jalani selama puluhan tahun.

Saya bersedia mendatangi berbagai pelosok daerah di Sumbar, termasuk Mentawai, esoknya bekerja lagi seperti biasa tanpa menyerah dan berkata letih. Saya juga menghindari atribut yang membuat kita terkesan sombong karena saya sadar itu adalah bagian dari amanah. Dari dulu saya pantang menyerah, sederhana adalah keseharian saya.

Lebih parah lagi, saya dikatakan menyesal karena terpilih jadi gubernur. Wajar saja seorang tokoh masyarakat yang ditanya wartawan emosi ketika hal itu ditanyakan kepadanya. Tapi semua itu tidak benar, kata-kata itu tak pernah terucap dari mulut saya. Ratusan orang yang hadir saat itu bisa menjadi saksi.

Kembali kepada sabda Nabi di atas, kita memang harus teliti memilih pemimpin dan jika telah dipilih menjadi pemimpin bersikaplah amanah dan bekerjalah bersungguh-sungguh. Jika tidak, yakinlah apa yang dikatakan Nabi akan terjadi, yaitu kiamat (kehancuran). Buktinya sudah kita lihat di berbagai, baik di dalam maupun luar negeri.

Saya yakin, dengan kekuatan bersama kita mampu membangun Ranah Minang ini menjadi lebih baik. Mari kita katakan yang benar itu benar, jangan sampai kita terpecah belah, saling menyalahkan hanya akan menghabiskan energi kita untuk membangun

Singgalang 22 Februari 2011

Sumber : Situs Web Resmi Irwan Prayitno, Prof., Dr., Psi, MSc