Imam Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu juga berkata :
“Salafiyyah adalah ittiba’(penauladanan) terhadap manhaj Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan sahabat-sahabatnya, dikarenakan mereka adalah salaf kita yang telah mendahului kita. Maka, ittiba’ terhadap mereka adalah salafiyyah. Adapun menjadikan salafiyyah sebagai manhaj khusus yang tersendiri dengan menvonis sesat orang-orang yang menyelisihinya walaupun mereka berada di atas kebenaran, maka tidak diragukan lagi bahwa hal ini menyelisihi salafiyyah!!! Akan tetapi, sebagian orang yang meniti manhaj salaf pada zaman ini, menjadikan (manhajnya) dengan menvonis sesat setiap orang yang menyelisihinya walaupun kebenaran besertanya. Dan sebagian mereka menjadikan manhajnya seperti manhaj hizbiyah atau sebagaimana manhaj-manhaj hizbi lainnya yang memecah belah Islam. Hal ini adalah perkara yang harus ditolak dan tidak boleh ditetapkan. Jadi, salafiyah yang bermakna sebagai suatu kelompok khusus, yang mana di dalamnya mereka membedakan diri (selalu ingin tampil beda) dan menvonis sesat selain mereka, maka mereka bukanlah termasuk salafiyah sedikitpun!!! Dan adapun salafiyah yang ittiba’ terhadap manhaj salaf baik dalam hal aqidah, ucapan, amalan, perselisihan, persatuan, cinta kasih dan kasih sayang sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam : “Permisalan kaum mukminin satu dengan lainnya dalam hal kasih sayang, tolong menolong dan kecintaan, bagaikan tubuh yang satu, jika salah satu anggotanya mengeluh sakit, maka seluruh tubuh akan merasa demam atau terjaga.” Maka inilah salafiyah yang hakiki!!!”
[lihat : Liqo’ul Babil Maftuuh, pertanyaan no. 1322 oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin; dinukil dari Aqwaalu wa Fataawa al-Ulama’ fit Tahdziri min Jama’atil Hajr wat Tabdi’, penghimpun : Kumpulan Para Penuntut Ilmu, cet. II, 1423/2003, tanpa penerbit.]

السلفية هي اتباء منهج النبي صلى الله عليه و سلم وأصحبه لأنه من
سلفنا تقدموا علينا, فاتباعهم هو السلفية. وأما اتخاذ السلفية كمنهج
خاص ينفرد به الإنسان ويضلّل من خالفه من المسلمين ولو كانوا
على حق فلا شك أن هذا خلاف السلفية. لكن بعض من انتهج
السلفية في عصرنا هذا صار يضلل كل من خالفه ولو كان الحق معه
واتخاذها بعضهم منهجا حزبيا كمنهج الأحزاب الأخرى التي تنتسب
إلى الإسلام وهذا هو الذي ينكر ولا يمكن إقراره. فالسلفية بمعنى أن
تكون حزبا خاصا له مميزاته و يضلل أفراده سواهم فهؤلاء ليسوا من
السلفية شيء. وأما السلفية التي هي اتباع منهج السلف عقيدة وقولا
وعملا واختلافا واتفاقا وتراحما وتوادا كما قال النبي صلى الله عليه و
سلم ((مثل المؤمنين في توادهم وتراحمهم وتعاطفهم كمثل الجسد الواحد
إذا اشتكى منه عضو تداعى له سائر الجسد بالحمى والسهر)). فهذه هي
السلفية الحقة.

=======================

Berkata al-‘Allamah Bakr Abu Zaid hafizhahullahu :
“Di zaman kita sekarang ini, turut mengambil andil di dalam peredaran fitnah yang perputarannya berada di dalam kulit orang-orang yang menisbatkan diri kepada sunnah yang ditutupi dengan balutan dengan kain wool, mereka menyandarkan hal ini kepada salafiyyah untuk menzhalimi dakwah salafiyah ini, mereka tegakkan diri mereka dengan melemparkan tuduhan keji yang dibangun di atas hujjah-hujjah yang lemah, dan mereka sibukkan diri dengan kesesatan tashnif …“
[lihat : Tashnifun Naas Bayna azh-Zhonni wal Yaqin, karya : DR. Bakr Abu Zaed, cet. I, 1414/1995, Darul Ashimah, hal. 28-29]

وفي عصرنا الحاضر يأخذ الدور في هذه الفتنة دورته في مسلاخ من المنتسبين إلى
السنة، متلفعين بمرط ينسبونه إلى السلفية ظلمًا لها ، فنصبوا أنفسهم
لرمي الدعاة بالتهم الفاجرة المبنية على الحجج الواهية ، واشتغلوا
بضلالة التصني

Beliau hafizhahullahu juga berkata :
“Perseteruan yang terjadi di barisan ahlus sunnah pada awal mulanya, sebagaimana kita ketahui, ditemukan pada orang-orang yang menyandarkan diri padanya ada orang yang memusuhinya, dia kerahkan dirinya untuk menemani mereka dan berbantal sejengkal keinginan untuk memadamkan bara apinya, berhenti di jalan dakwah mereka, dan melepaskan kendali lisan untuk membuat kedustaan terhadap kehormatan pada da’i, dan didapatkan di dalam jalan mereka adanya fanatisme yang menyedihkan (gegabah)…“
[lihat : Tashnifun Naas Bayna azh-Zhonni wal Yaqin, op.cit., hal. 40]

================================================================

Imam Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu berkata :
“Diantara manusia ada yang bertahazzub kepada suatu kelompok tertentu, menetapkan manhajnya, beristidlal (menggunakan dalil) dengan dalil-dalil yang seringkali merupakan dalil yang membantah dirinya sendiri dan terkadang dalil yang menyokongnya. Dia hinakan selain kelompoknya dan dia vonis sesat, walaupun mereka ini adalah (kelompok) yang lebih dekat kepada kebenaran namun diantara mereka (ada oknum) yang gemar menvonis bid’ah dan mengambil mabda’ (landasan) “Barangsiapa yang tidak sepakat denganku maka ia musuhku“, dan ini adalah mabda’ yang khabits (buruk).”
[lihat : Kasyful Haqo`iq al-Khofiyyah ’inda al-Mudda’i as-Salafiyyah oleh Mat’ab al-Ushoimi, didownload dari http://www.tarafen.com]

=======================================================================

Ma’ali Syaikh Shalih bin ’Abdil ’Aziz Alu Syaikh hafizhahullahu berkata :
“Kebenaran diterima dari mana saja datangnya walaupun dari seorang kafir, sebagaimana diterimanya kebenaran dari Syaithan di dalam kisah Abi Hurairoh bersama Syaithan di dalam kisah penjagaan gudang beras yang berisi beras fithri yang telah ma’ruf. Dimana Syaithan datang (hendak mencuri) namun Abu Hurairoh menangkapnya, ia datang lagi ditangkap lagi, kemudian ia datang lagi dan ditangkap lagi, kemudian Syaithan berkata kepadanya : “maukah engkau aku tunjukkan sebuah kalimat yang apabila engkau mengucapkannya maka engkau akan menjadi aman atau terjaga seluruh malammu, yaitu bacalah ayat kursi setiap malan karena sesungguhnya engkau akan senantiasa terjaga oleh penjagaan Alloh sampai datangnya waktu pagi.” Kemudian Abu Hurairoh mengabarkan hal ini kepada Nabi ‘alaihi Sholatu wa Salam, lalu Nabi ‘alaihi Sholatu wa Salam menukas : “Dia telah jujur padamu padahal dia adalah pendusta.” Beliau menerima pengajaran ini dan mengambilnya padahal pengajaran ini datang dari Syaithan.”
[lihat : Masaa`il fil Hajri wa maa yata’allaqu bihi, op.cit.]

فيقبل الحق ممن جاء به ولو كان كافر ا، كما قبل الحق من الشيطان
في قصة أبي هريرة مع الشيطان في صدقة الفطر المعروفة؛ حيث جاء
يأخذ فمسكه أبو هريرة، ثم جاء يأخذ فمسكه، ثم جاء يأخذ
فمسكه، ثم قال ل ه: ألا أدلك على كلمة إذا قلتها كنت في أمان أو
عصمتك ليلتك كلها اقرأ آية الكرسي كل ليلة فإنه لا يزال عليك
من الله حافظ حتى تصب ح. فأخبر النبي عليه الصلاة والسلام بذلك
سلم ذا « صدقك وهو كذو ب » فقال عليه الصلاة والسلام
التعليم وأخذ به مع أنه من الشيطان.

======================================================

Perhatikan pula ucapan Ma’ali Syaikh Shalih Alu Syaikh hafizhahullahu berikut ini :
“Siapakah (yang layak) dihukumi dengan bid’ah? Bid’ah itu merupakan hukum syar’i, dan menghukumi orang yang mengamalkan suatu bid’ah merupakan hukum syar’i yang sangat berat. Karena hukum syar’i yang ditujukan kepada seseorang sebagai kafir, mubtadi’ dan fasiq, maka salah satu dari setiap hukum ini adalah haknya ahli ilmu (ulama). Karena tidaklah mesti kekufuran itu menyebabkan pelakunya kafir, dan tidaklah setiap orang yang melakukan kekafiran maka ia (dengan serta merta) menjadi kafir. Suatu tsana’iyah (pasangan) itu tidaklah saling mengharuskan. Tidaklah setiap orang yang melakukan kebid’ahan maka ia menjadi mubtadi’ dan tidaklah pula setiap orang yang melakukan kefasikan ia dengan serta merta menjadi fasiq.”
[lihat : Masa`il fil Hajr, op.cit, Nashihatu Lisy Syabab]

============================================================

al-’Allamah Shalih Fauzan al-Fauzan tatkala ditanya dengan pertanyaan : “Fadhilatusy Syaikh, apa nasehat anda kepada para pemuda yang meninggalkan mempelajari ilmu syar’i dan berdakwah kepada Allloh dan mereka menceburkan diri mereka di dalam perselisihan yang terjadi diantara para ulama tanpa disertai ilmu dan bashiroh?”. Syaikh hafizhahullahu menjawab :
“Aku menasehatkan kepada semua saudara-saudaraku terutama para pemuda dan penuntut ilmu, supaya mereka mau menyibukkan diri mereka dengan menuntut ilmu yang shahih, baik di masjid-masjid, sekolahan, ma’had ataupun di perkuliahan, agar menyibukkan diri dengan pelajaran-pelajaran mereka dan kemashlahatan mereka dan supaya mereka mau meninggalkan menyelami permasalahan ini (perselisihan), karena hal ini tidaklah mendatangkan kebaikan dan tidaklah akan membawa kemashlahatan memasukinya, membuang-buang waktu di dalamnya dan meruwetkan fikiran dengannya. Hal ini (menyelami perselisihan) merupakan penghalang amal shalih dan termasuk perusakan kehormatan dan penghasutan di tengah-tengan kaum muslimin.”
[lihat : Muhadhoroot fil Aqidah wad Da’wah oleh Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan, cet. I, 1424/2003, cetakan Markaz Fajr lith Thoba’ah, Kairo, jilid III, hal. 332]

Sumber : http://antiirjai.multiply.com/