Eramuslim.com, Abdul Mun’im Al-Syahat, juru bicara Salafi Mesir, menjelaskan kepada surat kabar, AlSharq AlAwsat pada hari Senin kemarin (18/4) bahwa demokrasi adalah ideologi yang berbahaya karena mengambil sumber perundang-undangan dari orang-orang kafir. Meskipun banyak dari aspek demokrasi yang bisa diterima, namun lebih banyak aspek dari demokrasi yang bertentangan dengan kehendak Allah.

Al-Syahat menambahkan bahwa partisipasi perempuan di parlemen bertentangan dengan sifat emosional mereka dan majunya mereka sebagai calon presiden dan pencalonan non-Muslim sebagai calon presiden hukumnya haram dalam Islam.

Ia juga menyatakan bahwa Salafi menganggap Koptik Mesir sebagai kelompok minoritas dan meskipun menggunakan kata “minoritas” yang mungkin merupakan isu sensitif bagi sebagian orang, ia menganggap hal itu merupakan fakta umum bahwa di banyak negara ada mayoritas dan minoritas kelompok agama.

Dia juga menyangkal bahwa Salafi berencana untuk membentuk sebuah partai politik, tetapi menegaskan Salafi akan mendukung calon tertentu yang memajukan Islam sebagai sumber perundang-undangan, termasuk Ikhwanul Muslimin.

Mengenai Dewan Tertinggi Angkatan Bersenjata (SCAF) dan kritik yang diarahkan untuk memperpanjang persidangan mantan presiden terguling Mubarak dan keluarganya, Al-Syahat mengatakan bahwa, secara pribadi, ia dapat menerima alasan SCAF ketika berhadapan dengan mantan penguasa militer, seperti halnya dengan mantan presiden Mesir, menjelaskan bahwa orang harus memandang secara realistis sehingga Mesir tidak berakhir seperti Libya.

Al-Syahat juga menggambarkan Iran sebagai negara yang rasis dan mengatakan bahwa Iran berurusan dengan Muslim Sunni melalui tindakan penindasan dan kekerasan.(fq/alahram)

Iklan