Kaidah dalam Bermajelis dengan Ahli Bid’ah

Setelah megetahui definisi ahli bid’ah barulah kita akan mendudukkan masalah bermajelis dengan ahli bid’ah. Bermajelis disini bisa dengan sekelompok orang yang mempunyai bid’ah, namun mereka bukan ahli bid’ah. Bisa juga dengan sekelompok ahli bid’ah dan mereka bermanhaj bid’ah. Masing-masing mereka itu mempunyai beberapa keadaan. Dr. Lutfhfullah bin Abdul Azhim Khaujah menjelaskan keadaan-keadaan tersebut sebagai berikut:

Pertama,bermajelis dengan sekelompok yang mempunyai bid’ah ketika mereka melakukan bid’ah. Ini tidak boleh kecuali dengan syarat: mengingkari mereka atau mendakwahi, menasehati dan mengajari mereka. Apabila ia takut mafsadatnya (kerusakannya) malah lebih besar jika tidak mau duduk bersama mereka, sehingga ia terpaksa duduk dan bermajelis dengan meraka.

Misalnya, mereka itu adalah keluarganya. Dia takut jika hubungan silaturahim dengan mereka malah terputus dan ia berharap duduk bersama mereka akan membawa kebaikan–meskipun tidak terjadi seketika–karena dengan duduk bermajelis dengan mereka ia bisa mendakwahi dan meluruskan mereka. Jika memang niatnya demikian, maka duduk bersama mereka itu tidak apa-apa.

Kedua,bermajelis dengan sekelompok orang yang mempunyai bid’ah ketika mereka tidak sedang melakukan bid’ah. Hal ini tidak apa-apa. Namun harus ada niat untuk mendakwahi dan meluruskan mereka.

Ketiga, bermajelis dengan orang-orang yang bermanhaj bid’ah ketika mereka melakukan bid’ah. Ini tidak boleh, kecuali dengan syarat yang telah disebutkan dalam point pertama. Orang yang terpaksa mempunyai hukum tersendiri, seperti juga telah disinggung. Namun demikian, haruslah diketahui bahwa mendakwahi dan meluruskan mereka merupakan tugas orang yang berilmu. Apabila seseorang tidak mempunyai ilmu, dikhawatirkan justru dia akan terpengaruh oleh mereka.

Keempat, bermajelis dengan orang-orang yang bermanhaj bid’ah ketika mereka tidak sedang melakukan bid’ah. Hal ini tidak apa-apa. Namun, harus ada niat untuk mendakwahi dan meluruskan mereka. Ini merupakan tugas orang yang berilmu dan dai. Adapun orang awam, dia harus waspada terhadap mereka. Sebab, orang yang mengadopsi manhaj bid’ah biasanya selalu dalam keadaan siap untuk mendakwahkan bid’ahnya.

Jadi, bermajelis dengan ahli bid’ah yang dilarang adalah bermajelis seraya meridhai atau mendiamkan kemungkaran mereka padahal mampu mengingkari atau meninggalkan mereka. Adapun bermajelis dengan niat untuk mendakwahi dan meluruskan mereka, maka ini merupakan suatu kebaikan dan kebajikan.

Hal ini tidak apa-apa. Demikian juga orang yang terpaksa bermajelis dengan mereka. Atau, orang yang ada kepentingan syar’i dengan mereka.

Perlu diketahui bahwa mengisolasi (hajr) ahli bid’ah secara total hanya bisa dilakukan pada masa terwujudnya kekuasaan syariat dan sunnah. Sebab, pada saat itu hajr terhadap mereka bisa mendatangkan manfaat. Adapun hajr pada zaman kekuasaan Islam lemah, maka hal ini tidak akan mendatangkan maslahat.

Sumber : http://www.islamtoday.net/fatawa/quesshow-60-52756.htm
Syubhat Salafi, Jazera, Februari 2011

Artikel Terkait :