Hukum Berinteraksi dan Bermajelis dengan Ahli Bid’ah

Masalah Bid’ah menjadi tema utama dalam dakwah pengikut pengajian “Salafi”. Mereka mengajak kaum muslimin untuk kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah serta mengamalkannya secara murni sesuai yang dicontohkan oleh generasi Salaf Shalih. Karena itu, hal-hal baru yang mereka pandang bukan bagian dari ajaran Islam merupakan bid’ah yang harus ditinggalkan. Pelakunya pun harus diwaspadai dan dijauhi.

Semangat memurnikan Islam dari berbagai bid’ah merupakan sesuatu hal yang positif. Tetapi, tidak jarang mereka bersikap ekstrim. Perkara-perkara ijtihadiyah yang menjadi perbedaan pendapat di antara ulama dan belum tentu bid’ah, mereka sikapi sebagai bid’ah qath’iyyah. Mereka pun bersikap keras terhadap orang-orang yang mengikuti atau mengamalkan pendapat tersebut karena dipandang sebagai ahli bid’ah.

Sangat jarang mereka mau berdiskusi dalam satu forum dengan orang-orang yang dipandang sebagai ahli bid’ah itu. Mungkin mereka khawatir terpengaruh bid’ah atau sedang melakukan hajr atau boikot terhadap pelakunya.

Pada pembahasan ini kita tidak akan membicarakan orang-orang yang dipandang sebagai ahli bid’ah padahal bukan ahli bid’ah. Tetapi kita akan membicarakan hukum bermajelis dengan ahli bid’ah yang sebenarnya. Benarkah kita harus berlepas diri secara total dengan ahli bid’ah dan tidak boleh bermajelis dengannya sedikitpun tanpa alasan?

Berikut adalah pokok-pokok yang akan kita bahas mengenai hal tersebut :

Siapakah yang Layak Disebut sebagai Ahli Bid’ah?
Kaidah dalam Bermajlis dengan Ahli Bid’ah
Fatwa Syaikh Abdurrahman bin Nashir Al-Barrak

Sumber : Syubhat Salafi, Jazera, Februari 2011

Iklan