Fatwa Syaikh Abdurrahman bin Nashir Al-Barrak Tentang Hukum Bermajelis dengan Ahli Bid’ah

Syaikh Abdurrahman bin Nashir Al-Barrak, mantan anggota Lajnah Da’imah, dosen Universitas Islam Imam Muhammad bin Su’ud, pernah ditanya mengenai masalah bermajelis dengan ahli bid’ah. Pertanyaannya adalah sebagai berikut, “Ada banyak atsar dari salaf mengenai larangan berteman atau bermajelis dengan ahli bid’ah, sesuai hukum yang berlaku bagi ahli bid’ah itu sendiri. Apakah hukum ini benar demikian atau sekedar agar orang menghindari bermajelis dengan ahli bid’ah? Lalu, apa beda kedua perkara ini? Apakah atsar ini berarti semua bentuk bermajelis atau dilihat dulu sebab-sebab bermajelis ketika mengghukumi?”

Syaikh Abdurrahman bin Nashir Al-Barrak menjawab, “Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpah pada Rasulullah. Wa ba’du. Allah Ta’ala berfirman,

Sungguh, Allah telah menurunkan kekuatan kepada kalian di dalam Al-Qur’an bahwa apabila kalian mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kalian duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraaan yang lain. Sesungguhnya (kalau kalian berbuat demikian), tentulah kalian serupa dengan mereka. (An-Nisa’ [4]:140)

Ayat ini merupakan dalil yang jelas bahwa orang yang duduk di suatu majelis di mana ayat-ayat Allah dingkari dan diperolok-olokkan di tempat itu maka dia serupa dengan orang-orang kafir yang memperolok-olok itu. Menurut pendapat lain, ayat ini juga merupakan dalil mengenai larangan bermajelis dengan ahli bid’ah ketika sedang membicarakan dan mendakwahkan bid’ahnya. Orang yang bermajelis dengan ahli bid’ah ketika sedang membicarakan kebatilan dan menyesatkan manusia, maka dia serupa dengannya. Sebab, duduknya orang itu bersama ahli bid’ah–tanpa mau mengingkarinya–menunjukkan keridhaannya terhadap kebatilan dan pelakunya. Barang siapa tidak mampu mencegah kemungkaran, maka hendaknya dia tidak mendatangi majelis ahli bid’ah. Akan tetapi, dia harus meninggalkan majelis tempat Allah didurhakai.

Adapun jika orang yang biasanya berbuat kebatilan tersebut tidak membicarakan kebatilan, baik itu kekufuran, kebid’ahan, atau kemaksiatan; maka duduk bersamanya ketika itu berbeda-beda hukumnya sesuai perbedaan maksud, sebab, dan pengaruhnya. Duduk dan bermajelis dengan ahli bid’ah terkadang justru dianjurkan. Misalnya, apabila seseorang berniat mendakwahinya tanpa merasa khawatir tertimpa mudharat dalam agamanya. Terkadang bermajelis dengan ahli bid’ah itu makruh. Terkadang juga boleh-boleh saja jika karena ada keperluan yang diperbolehkan. Terkadang pula haram jika bisa menimbulkan kerusakan pada agama yang menimpa orang yang bermajelis itu atau orang-orang yang mengikutinya.

Mengisolir para pelaku maksiat dan ahli bid’ah terkadang dilakukan sebagai bentuk kehati-hatian terhadap keburukan mereka. Terkadang dilakukan untuk mengingkari mereka agar bertaubat. Atsar dari salaf yang memperingatkan agar kita tidak bermajelis dengan ahli bid’ah tidak lain karena dikhawatirkan keburukan mereka akan mempengaruhi orang yang bermajelis dengan mereka. Padahal, mayoritas orang tidak mempunyai ilmu dan iman yang kuat sebagai tameng pelindung dari keburukan ahli bid’ah dan penyeru kesesatan. Menurut para ulama, melindungi diri itu lebih baik dari pada mengobati. Wallahu’alam”

Sumber : http://www.muslma1.net/vb/showthread.php?t=13052
Syubhat Salafi, Jazera, Februari 2011

Artikel Terkait :


Iklan