Siapakah Salafiyun? Bolehkah Menamai Diri Dengannya?

Syekh AbuBashir Ath-Tharthusi dalam bukunya Al-Manhaju fith Thalabi wat Talaqi wan Ittiba’ hlm 32-33 pernah menjawab pertanyaan, “Siapakah Salafiyun? Bolehkan Menamai Diri Dengannya?” Beliau pun memberikan jalan tengah.

Kata “Salafiyah” dan “Salafiyun” (jamak dari “Salafi”–pnj), jika mengacu pada makna kembali kepada Al-Kitab dan As-Sunnah menurut pemahaman Salaf Shalih dari shahabat, tabiin yang mengikuti mereka dengan ihsan (baik) pada kurun pertama yan dipenuhi kebaikan, dan mengacu pada sifat orang yang meniti manhaj tersebut, maka termasuk kata yang terpuji…tidak ada masalah jika ada yang menggunakannya.

Adapun jika mengacu pada sikap tahazzub (cenderung pada golongan tertentu) dan sikap picik, apalagi fanatik terhadap figur-figur kontemporer tertentu, serta memecah-belah umat ke dalam berbagai golongan, perumpulan, dan kelompok yang Allah tidak menurunkan landasannya, bahkan–ada kalanya–cenderung kepada para thaghut yang zalim dengan mengikatkan tali persahabatan dan muwalah (kesetiaan), maka ini yang kami tolak.

Kami mengatakan demikian karena–sayangnya–termasuk di antara ungkapan dan konsep yang sering disinggung, digunakan, sekaligus disalahgunakan. Jadi, istilah tersebut mempunyai beberapa aspek dan makna (konotasi) rangkap; ada yang shalih (positif) dan ada yang thalih (negatif). Karena itu, untuk mengetahui maksud penggunaannya, Anda harus menanyakan terlebih dahulu apa maksudnya dan apa motifnya menggunakan istilah tersebut. Sebaliknya, jika ada yang mengunakannya, sudah seharusnya ia menjelaskan dengan memberikan qara’in lafzhiyyah (isyarat-isyarat dalam bentuk lafal) yang menunjukkan bahwa yang dimaksudkan adalah positifnya sehingga tidak disalahpahami.

Jika penggunaan nama “salafi” dan “salafiyun” ditujukan sebagai pengganti nama “muslim” dan “muslimin”, atau sebagai alternatif dari nama “muslim” dan “muslimin”, maka saya tidak melihat itu diperbolehkan. Alasannya, terdapat dalil tentangnya dan karena shahabat serta yang mengikuti mereka dengan baik (tabiiin) dari tiga generasi awal belum pernah menyatakan keridhaan terhadap penamaan tersebut bagi diri mereka.

Disamping itu terdapat pula dalil yang melarangnya, sebagaimana firman Allah Ta’ala :

Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalan (Al-Qur’an) ini ( Al-Hajj: 78 )

Yaitu, di dalam Al-Qur’an ini, dan Dia telah meridhainya bagi kalian. Dengan demikian tidak diperbolehkan berpaling dari nama pemberian Allah melalui lisan nabi-Nya Ibrahim as. Yang diridhai bagi kita.

Allah Ta’ala berfirman:

(Yaitu) orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami dan adalah mereka dahulu orang-orang yang berserah diri (muslimin). ( Az-Zukhruf:69 )

Allah Ta’ala berfirman:

Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang (hanif) lagi berserah diri (muslim) (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik. ( Ali ‘Imran: 67 )

Allah Ta’ala juga berfirman tentang nabi-Nya Yusuf as:

Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam (sebagai muslim) dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh. ( Yusuf: 101 )

Allah Ta’ala juga berfirman tentang para tukang sihir yang kemudian beriman:

“Ya Rabb kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepada-Mu) (sebagai muslimin).” ( Al-A’raf:126 )

Dan masih banyak ayat-ayat lain yang menunjukkan bahwa nama Islam dan muslim serta muslimin telah diridhai Allah Ta’ala bagi para hamba-Nya; diridhai pula oleh segenap nabi dan rasul bagi umat-umat dan pengikut mereka.

Ketika Imam Malik ditanya tentang As-Sunnah, beliau menjawab, “Itu adalah sesuatu yang tidak memiliki nama selain As-Sunnah.” kemudian ketika ditanya tentang Ahlussunnah, beliau menawab,Ahlus Sunnah adalah orang-orang yang tidak memiliki panggilan (lain) yang dengannya mereka dikenal; bukan pengikut Jahmiyah, Qadariyah, maupun Rafidhah.”

Sumber : Syubhat Salafi, Jazera, Cet. I, 2011

Artikel Terkait :

Ø Fatwa Syaikh Shalih al-Utsaimin Tentang Wajib Mengikuti Salaf; Bukan As-Salafiyyun!

Ø Fatwa Syaikh Al-Fauzan: Penamaan As-Salafi atau Al-Atsari tidak ada asal-usulnya