Penanya : Ya Syaikh! Apakah kita mengambil ilmu dari seseorang yang di jarh (cela) wahai Syaikh? Apakah bisa diambil ilmu darinya?

Pembawa acara : Orang yang bagaimana?

Penanya : Mujarrah (orang yang di cela untuk dijauhi)

Pembawa Acara : Mujarrad ?

Penanya : Mujarrah (orang yang di cela)

Pembawa Acara : Baik, apa pertanyaan anda?

Penanya : Apakah boleh mengambil ilmu dari nya Wahai Syaikh?

Pembawa acara : Baik, siapa yang menjarh orang tersebut

Penanya : Syaikh Rabi

Pembawa acara : Terimakasih.Salam.Hayyakallah.
Penuntut ilmu wahai Samahatusy Syaikh! Tatkala diberitakan kepadanya baik dari yang orang yang dapat dipercaya atau tidak ,bahwa fulan telah di cela (di jarh) atau dilarang untuk diambil ilmu darinya,bagaimana wahai Syaikh?

Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah Alu Syaikh hafidzahullah: Akhi! Perkara seperti ini terkadang adalah hawa nafsu, menjarh manusia,mencelanya terkadang penyebabnya adalah hawa nafsu dan kemaslahatan personal.Dan saya tidak suka memasuki perkara seperti ini.Saya katakan : Thulabul Ilmi diharapkan darinya kebaikan-kebaikan,apabila kita merasakan sesuatu dari kesalahan seseorang, maka berdialoglah jika mungkin,atau kita tanyakan kepada orang yang kita percayai dari kesalahan ini.Adapun menjarh manusia,mencela dan mendeskreditkan dan memilah manusia dengan (mengatakan) orang ini tidak pantas dan ini baik,maka kebanyakan dari perkara seperti ini adalah hawa nafsu , mencela seorang muslim adalah kefasikan ,dan menghormati martabat seorang muslim adalah wajib.

Pembawa acara : Jazaakumullah khair Samahatus Syaikh

Sumber video suara dan gambar selengkapnya : moftie (size 1,5 mB) , acara tanggal 1 januari 2010

Sumber : http://www.direktori-islam.com/2010/02/mengambil-ilmu-dari-orang-yang-di-jarh/