Sungguh luar biasa kejahilan umat manusia saat ini. Mereka jauh lebih stress ketika menonton bola apalagi ketika tim idolanya kalah. Bahkan sampai ada yang mati karena hal ini.

Sementara, mereka tenang-tenang saja ketika meninggalkan atau menunda waktu shalat Isya mereka hanya karena untuk menonton bola yang pasti tidak akan dapat menambah amal pahala mereka dan mereka termasuk orang-orang yang merugi karena menyia-nyiakan waktu.

Sejak ba’da Maghrib, hampir seluruh jalanan di Jakarta lancar tidak seperti biasanya. Supermarket tempat belanja susu anakku juga sepi, juga warung-warung makan yang biasa mangkal berjejer di pinggir jalan daerah rumah. Beberapa jalanan ditutup hanya karena ada acara nonton bareng. Mungkin juga terjadi di berbagai tempat di Indonesia dan Malaysia.

Apalagi mushala tempat biasa aku shalat berjamaah. Biasanya bisa dua sampai tiga shaff penuh mushala itu terisi, tapi hari saat acara pertandingan bola berlangsung, hanya ada segelintir orang yang shalat berjama’ah di sana, satu shaffpun tidak penuh.


Kita benar-benar telah lupa dengan tugas kita sebagai hamba Allah karena penyakit al-wahn (cinta dunia dan takut mati) telah bersarang di dada. Tidakkah kita berfikir, tidak ada keuntungan sepeserpun bagi kita selain jiwa stress yang kering kerontang karena telah menguras emosi kita. Rasa gundah dan kekesalan menghantui kita selepas kekalahan tersebut. Sampai-sampai melampiaskannya dengan hardikan-hardikan yang tidak penting dan mencari pembelaan atas kekalahan tersebut.

Tidakkah kita berfikir, mungkin saja Allah tidak ridha akan perbuatan kita yang telah mengabaikannya. Yang menganggap sesuatu yang tidak penting menjadi penting, seperti perbuatan segelintir ulama dalam istighasah yang disiarkan secara langsung oleh salah satu stasiun televisi swasta. Alhasil, Tim Garuda tetap KEOK bahkan dibuat gundul dengan skor 3-0.

Tak ada harapan apapun dalam tanding laga kedua nanti di GBK. Allahlah yang lebih berhak memutuskan siapa yang menang siapa yang kalah, karena sesungguhnya tidak ada manfaatnya buat aku dan juga kalian meski ada kecenderungan hati untuk berharap. MasyaAllah, benar-benar miris hati ini. Ini bukanlah karena aku tidak bangga dan tidak cinta dengan Indonesia, tetapi hanyalah sebagai sebuah renungan khususnya buat aku pribadi dan kaum muslimin seluruhnya.

Berikut adalah artikel menarik yang mudah-mudahan bisa menjadi renungan kita bersama….KETIKA DO’A KIAI TAK LAGI MUSTAJAB

[Baca selengkapnya]

129-177

Iklan