Ocehan Gak Penting Mengenai Pencontrengan Kemarin!

hasil-quick-qount

Keterangan: LSI (1): Lembaga Survei Indonesia, LSN : Lembaga Survei Nasional, LSI (2) : Lingkaran Survei Indonesia, CIRUS : CIRUS Surveyors Group

Nggak mau ketinggalan dengan postingan hasil pemilu 2009. Apalagi saya termasuk orang yang turut menjadi saksi dalam pemilu kemarin. Sungguh melelahkan, karena dari jam 6.00 pagi [menjadi saksi parpol yang datang paling pertama] sampai dengan jam 9.00 malam [menjadi saksi parpol yang pulang paling belakangan] turut berjibaku dengan seluruh kegiatan pada hari itu. Banyak banget hal-hal yang mengecewakan atas penyelenggaraan pemilu kemarin. Selain DPT yang ngaco luar biasa sampai dengan KPPS yang nggak ngerti sama sekali dengan penyelenggaraannya.

Gimana nggak ngaco, abang saya yang kebetulan juga menjadi saksi, pada pemilu kemarin nggak bisa mencontreng karena tidak tercantum dalam DPT. Padahal dalam pemilu-pemilu sebelumnya namanya selalu tercantum. Sementara orang yang sudah meninggal masih saja muncul dalam DPT tersebut. Belum lagi omelan orang-orang lain yang sudah datang, tapi karena di DPT tidak ada mereka pulang lagi dengan muka kecewa. Direktur saya saja sampai telp ke saya dan marah-marah karena tiga orang keluarganya nggak bisa mencontreng. Beliau meminta saya menghubungi tim advokasi partai tempat saya bernaung untuk mengajukan tuntutan ke KPU. Bener-bener katro, itu dana yang trilyunan rupiah dalam hal mengupdate-an data DPT digunain buat apa sech pak KPU? 👿

Dan lebih anehnya lagi, penyelenggara TPS tempat saya kemarin menjadi saksi, bener-bener buta hukum dan aturan. Mereka nggak tahu suara yang masuk kategori tidak sah dan sah selain tanda contreng. Alhasil, saya selalu dijadikan rujukan untuk penentuan sah atau tidak sahnya. Jujur itu sangat menjadi beban psikologis bagi saya, lantaran khawatir tidak dianggap netral oleh pemantau dan masyarakat yang menonton penghitungan suara.

Satu lagi, yang lebih membuat saya terbebani adalah ketika hasil penghitungan suara pada Berita Acara Pemungutan dan Penghitungan Suara yang saya miliki justru menjadi salinan mereka untuk pelaporan ke PPS lantaran saat penghitungan suara terjadi kebingungan panitia mengenai penulisan seandainya yang dicontreng adalah nama parpol dan nama calegnya. Padahal sudah saya jelaskan pemilu kali ini caleg adalah yang terpenting, maksudnya bila terjadi pencontrengan seperti di atas, maka yang dilakukan adalah cukup mencatat suara calegnya saja agar tidak terjadi penambahan jumlah pada surat suara yang terpakai. Bisa dibayangkan seandainya suara yang dipakai adalah 400 buah tetapi saat penjumlahan hasil penghitungan suara menjadi 600 buah karena efek penulisan ganda tersebut.

Mudah-mudahan pemilihan presiden mendatang KPU lebih siap lagi dalam mengemban amanahnya.

Masa harus saya yang jadi KPPS!! :mrgreen: “GUBRAK!!! :lol:” *Songong mode ON*

Iklan