Cerpen bagian dua:

Tidak Mengenal Kata-Kata Yang Tercela

Oleh : Ibn Abd Muis

 

pink-roseMendengar pertanyaan dari Opick ini, Hanif seperti berhenti sejenak. Kemudian berkata, “Sebenarnya ana nggak muluk-muluk akh. Ana orangnya nggak ribet dan emang nggak mau ribet. Kecantikan itu relative, kekayaan juga bias dicari, tapi yang shalihah dan baik agamanya, ini yang sulit dicari.”

 

“Sulit? Kan di luar sana banyak stock akh?”, sergah Opick dan semakin merapatkan duduknya ke samping Hanif.

 

“Iya, di luar emang banyak. Banyak banget, bejibun dah. Sampe-sampe mungkin kalo ana serok bisa dapat puluhan ekor kaya ikan cere di got depan rumah ana.”

 

“Ente tu ye…. 😆 kalau ngomong suka hiperbola ghitu”, omel Aris sambil menepuk lutut kanan Hanif. “Lantas criteria yang kaya gimana yang ente mau, kalau bukan seperti wanita-wanita kebanyakan?”

 

“Hmmm…. Kalau ana inventarisir dari dalil-dalil yang sudah ana sebutkan di atas, ada beberapa yang termasuk criteria wanita idaman ana.”

 

“Misalnya?”, Tanya Opick penasaran sambil menggerakkan beberapa kedutan ujung bibir kanannya sebelah atas seperti Tukul Empat Mata. Melihat kekonyolan tingkah Opick, ustadz Ilyas menggeleng-gelengkan kepala dan terlihat senyumnya semakin lebar.

 

“Ya, yang pasti dia harus shalihah dan baik agamanya. Kalau lebih diperinci dari dalil yang tadi ana sebutkan, jika ana memerintah, pastinya bukan dalam keburukan, ia mentaati perintah ana. Kedua, jika ana memandangnya, ia mampu membuat ana senang dan bahagia….”

 

“Tapi bukan berarti dia ngelawak di depan antum khan?”, tanya Opick dengan kerenyitan dahi yang semakin kentara.

 

Mendengar pertanyaan nggak serius kaya ghitu, Yazid terlihat agak bete dan berkata “Hush! Shut up! Berisik aja ente akh!”

 

Kemudian Hanif melanjutkan ucapannya, “Jika ia bersumpah terhadap ana, dia pasti akan memenuhi sumpahnya, jika ana pergi meninggalkannya, maka ia dengan tulus mengikhlaskannya kemudian menjamin akan menjaga dirinya dan harta kami dengan baik.”

 

Setelah mendengar ucapan Hanif, apalagi setelah ditegur Yazid, Opick hanya mengangguk-angguk.

 

“Ana ingin istri ana nanti dapat mendukung dan memotivasi ana atas perkara akhirat.”

 

“Misalnya bro?”, sela Opick.

 

Berpikir sejenak, “Misalnya ketika ana terlalu sibuk dengan sebuah urusan, tiba-tiba adzan berkumandang, istri ana harus bisa mengingatkan ana untuk menghentikan pekerjaan dan mengajak ana shalat, contoh kecilnya seperti mengingatkan shalat lewat telpon. Selain itu, wanita idaman ana adalah wanita yang selalu berbuat baik kepada ana, selalu berusaha mencari ridha dari suaminya, dan menyelarasi berbagai tindakan yang tidak mengundang murka Allah yang dilakukan suaminya. Kan kalau sudah kompak kaya gini, insyaAllah rumah tangga ana akan langgeng tuh. Juga, ia adalah wanita yang haus akan ilmu karena mengetahui keutamaanya dan berusaha mencarinya.”

 

“Waduh, kaya istri ana dunk, yang cerewet banget kalau ngingetin shalat ke ana dan jundi ana”, jelas Yuda tiba-tiba.

 

“Yee… ge-er sendiri daah…”, sungut Opick pada Yuda. “Terus yang lainnya apa lagi akh?”.

 

“Emmmm…. Wallahi, ana tidak mau menikah dengan istri yang annanah, mannanah, hannanah, haddaqah, barraqah, dan syaddaqah.” Jawab Hanif singkat.

 

“Maksudnya?”, sepertinya Opick kebingungan. “Aduuh…. Ni bujang epleng ya? Ana kan nggak ngerti bahasa arab bro!”.

 

“Hush! Eplang-epleng-eplang-epleng. Ngaco ente!”, teriak Yazid sambil menutup mulut Opick dengan gulungan kertas materi yang tadi didapatnya dari ustadz Ilyas. “Untuk lebih jelasnya kita Tanya ustadz Ilyas aja.”

 

“Oh iya stadz, apa maksud dari annanah, mannanah, hannanah, haddaqah, barraqah, dan syaddaqah yang dikatakan hanif tadi?”, Tanya Opick kepada ustadz Ilyas sambil berusaha menyingkirkan gulungan kertas yang menyilang di depan mulutnya.

 

“Ehm..em…”. dehem ustadz Ilyas, memperbaiki posisi duduknya dan mengeluarkan sejumlah air mineral gelas yang ada dibelakangnya. “Sebentar ya…”. Tiba-tiba ustadz Ilyas memanggil pelan Istrinya yang memang sedari tadi tidak pernah keluar selain menyodorkan beberapa nampan berisi air mineral dan makanan kecil dengan tangannya tepat di pintu sebelah belakang ustadz Ilyas. “Umii… masih punya sesuatu yang bisa membuat tangki kami penuh nggak nggak?”.

 

“Jee… ustadz, ngelucu…. Pake tangki-tangki segala. Emang kita mobil yang punya tangki bensin hehehe….”, celetuk Yoga tanda mengerti maksud ustadz kepada istrinya.

 

Annanah, mannanah, hannanah, haddaqah, barraqah, dan syaddaqah. Dalam al-Ihyaa’ bab IV halaman 712 sampai 713 dijelaskan sebagai berikut:

 

Ditanyakan kepada Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu‘anhu : “Siapakah wanita yang paling utama?” Ia menjawab: “Yaitu wanita yang tidak mengenal kata-kata yang tercela dan tidak berfikir untuk menipu suaminya, serta hatinya kosong kecuali berhias untuk suaminya dan untuk tetep memelihara keluarganya.”

 

Seorang Arab mengabarkan kepada kita tentang wanita yang sebaiknya dijauhi, ketika berpikir untuk menikah.

 

Ia mengatakan: “Janganlah menikahi enam jenis wanita, yaitu yang annanah, mannanah, hannanah, haddaqah, barraqah, dan syaddaqah.”

 

Annanah ialah wanita yang banyak merintih, mengeluh serta memegang kepalanya setiap saat. Sebab, menikah dengan orang yang sakit atau pura-pura sakit tidak ada manfaatnya.”

 

Mendengar penjelasan ustadz Ilyas, Opick kembali nyeletuk, “Astaghfirullah, apes banget ya itu suami yang dapet istri kaya ghitu. Apa tadi, Annanah? Iyyy…. Pegang kepala mulu. Nyebelin banget. Capek dech…”.

 

“Akhi Opick…. Pleaseeee….. Shut up….”, potong Yazid sambil memberikan tanda dengan jari di depan bibirnya.

 

Kemudian ustadz Ilyas melanjutkan kembali, “Mannanah ialah wanita yang suka mengungkit-ungkit (kebaikan) di hadapan suaminya, dengan mengatakan: “Aku telah melakukan demikian dan demikian karenamu.”

 

Hannanah ialah wanita yang senantiasa rindu kepada suaminya yang lain (yang terdahulu) atau anaknya dari suami yang lain. Ini pun termasuk jenis yang harus dijauhi.”

 

Seperti biasa, Opick menyela lagi “Janda ustadz?”. 🙄

 

“Hei… hei… hei… hei… nggak semua janda kaya ghitu kali”, potong Yuda pada Opick sambil mendelikkan matanya.

 

“Hehehe…. Bener tuh akh Yuda. Nggak semua janda kaya ghitu. Kalau jandanya kaya Khadijah istri Rasulullah, ana nggak akan keberatan kok. So what ghetu loch!”, bela Hanif sambil nyengir.

 

Kemudian ustadz Ilyas menyambung penjelasannya, Haddaqah ialah wanita yang memanah segala sesuatu dengan kedua matanya lalu menyukainya dan membebani suami untuk membelinya.”

 

“Hah! Memanah dengan matanya?”, Tanya Opick bingung sambil memandang ke arah teman-temannya.

 

“Pak Opick….” Ujar Hanif pelan, “Memanah disini maksudnya, gila mata kalau lagi jalan-jalan dan melihat barang-barang yang disukainya. Misalnya kalau lagi ke mall dia lihat baju bagus… mau punya, lihat tas bagus…. mau punya; liat perhiasan… mau punya… lihat orang pake ini… pengen punya… lihat eno mau punya…. Terus meminta sama suaminya dan kesel kalau nggak dibeliin.” Jelas Hanif panjang lebar.

 

Mendengar penjelasan Hanif, Opick terkejut dan berkata, “Astaghfirullah!! Apes banget ya tu suami. Kalo istri ane kaya ghitu, bisa langsung bangkrut dah. Mending dicerein aja kale istri kaya ghitu. Iyyy…. Amit-amit dah. Untung istri ana nggak kaya ghitu. Tawadhu banget dah dia… pokoknya top markotop abis…. Dia itu paling malu kalau minta sesuatu ke ana, sampe ana yang bingung sendiri, ni yayang ngape kagak pernah minta ama ane ya? Apa takut? Apa emang enggak punya keinginan? Makanya justru ane yang sering cerewet ke dia setiap kali abis dapet uang dan menawarkan banyak hal kaya salesmen hihihi”.

 

“Ya ampuuun….. ge-er amat ente. Ampe muji-muji diri sendiri kaya ghitu?”, canda Yuda pada Opick. Sementara yang lain Cuma senyum-senyum. Termasuk ustadz Ilyas.

 

Tiba-tiba ada suara wanita dari pintu di belakang ustadz Ilyas, “Bi… nih batu bara dan bensinnya….”. Terlihat sebuah piring ukuran besar berisi roti bakar dan sebuah nampan dengan gelas-gelas berisi minuman berwarna coklat keputihan.

 

“Makasih mi….”, jawab ustadz Ilyas sambil menyambut sodoran makanan dan minuman tersebut. “Yo… sambil dimakan roti bakar dan kopi susunya akhi.”

 

“Waaah…. Ustadz…. Jazakallah…. Kebetulan banget ghitu loch. Nih gembel-gembel sudah pada teriak dan nonjok-nonjok perut ane…”, ujar Opick dengan wajah cerah sumringah langsung menyambar roti bakar yang baru saja disuguhkan ustadz.

 

“Astaghfirullah….. akhiii…. Antum tu ye…. Rada-rada…..”, ujar Aris sambil memegang kepalanya dengan kedua tangan. Sementara Hanif, Cuma nyengir kemaluan sendiri.

 

“Tafadhal… tafadhal… akhi…. langsung diisi aja tangkinya, kasian khan” ucap ustadz Ilyas sambil tersenyum. “Ana lanjutkan ya… selanjutnya adalah barraqah. Barraqah mengandung dua makna:

 

  1. Wanita yang sepanjang hari merias wajahnya agar wajahnya menjadi berkilau yang diperoleh dengan cara meriasnya.
  2. Marah terhadap makanan. Ia tidak makan kecuali sendirian dan menguasai bagiannya dari segala sesuatu. Ini bahasa Yaman. Mereka mengatakan: “Bariqat al-Mar-ah wa Bariqa ash-Shabiyy ath-Tha’aam,” jika marah pada makanan itu.”

 

“Ya Allah, kalau seharian kerjanya Cuma dandan, siapa yang ngerjain pekerjaan rumah dan mengurus anak? Ditambah lagi sering marah-marah sama makanan. MasyaAllah, ana akan langsung menceraikan istri ana kalau seperti itu. Iyyyy….astaghfirullah….”, ujar Yoga dengan wajah khawatir.

 

“Dan yang terakhir, syaddaqah. Syaddaqah ialah wanita yang banyak bicara.”

 

“Wah, kalau yang ini ciri wanita yang paling ana sebelin tuh,” potong Aris.

 

“Hehehe…. Mending disuruh jadi tukang obat aja, biar kuping kita para suami adem,” celetuk Opick sambil nyeruput kopi susu panas yang ada ditangannya.

 

“Kalau kaya ghitu, ana yakin, bukan Cuma bujangan kita ini aja yang nggak mau. Pasti semua laki-laki, apalagi kita, teramat sangat pasti nggak akan pernah mau mendapatkan istri yang kaya ghitu. Bener-bener ciri-ciri wanita yang bikin kita bakal sengsara dunia akhirat.” Terang Yazid.

 

“Terus… criteria wanita idaman antum itu apalagi?”, tanya Indra pada Hanif yang sedang asyik menggigit roti bakarnya.

 

“Ehh… ooh….”, Hanif sedikit terkejut kemudian tersenyum dan diam sejenak terlihat seperti sedang berpikir.

 

“Kriteria wanita idaman yang akan ana jadikan istri yang lainnya adalah….”

 

Bersambung.

 

Sebelumnya :

Mencari Kriteria Wanita Idaman

Iklan