Cerpen :

Mencari Kriteria Wanita Idaman

rose-pink-tile1 

Oleh : Ibn Abd Muis

 

Seperti pekan-pekan biasanya. Hanif selalu saja memburu waktu setiap kali memenuhi janji halaqah. Maklum jarak antara kantor dan majlis halaqahnya yang berpindah-pindah seringkali mengacaukan perkiraan Hanif akan waktu yang sudah dia prediksi. Malam ini terasa lebih dingin dari pekan yang lalu. Mungkin karena berada di lantai dua dan sedikit mendung atau mungkin karena hal lain yang dia nggak tahu.

 

“Assalamu’alaikum akhi fillah….”, sapa Hanif ketika masuk kedalam ruangan tempat mereka merecharge ruhiyah. “Afwan, terlambat…”, lanjutnya malu sambil menyalami ikhwan-ikhwan lain yang sedang asyik mendengarkan taujih dari MR.

 

“Macet khan?”, tanya Indra pada Hanif sambil senyum menyambutnya. Seraya bergeser dan memberi celah untuk duduk. Hanif cuma senyum malu dan mengangguk lunglai. Pikirnya, alasan klise yang memang nggak perlu dijawab. Iyyy… kesel…. Kenapa sech musti telat lagi.

 

“Capek akhi?”, tanya ustadz Ilyas sambil menyodorkan air mineral gelas kepadaku.

 

“Afwan stadz…..”, jawab Hanif singkat dengan senyum kecut tanpa anggukan. Udah malu soalnya…. 😳

 

“Nih akh, materi hari ini”, bisik Aris dari samping kanan dan menyerahkan lembaran foto copy materi yang sedang dibahas ustadz Ilyas. Setelah Hanif baca judul materinya, dia cuma senyum sambil menoleh ke Aris. “Masalah nikah…. Cocok buat antum nih”, bisik Aris lagi seraya mengerlingkan mata kanannya padanya.

 

“Ggrrrr…. Mulai dah Lebay lagi…”, piker Hanif dan menyungutkan mulut ke arah Aris yang masih tersenyum.

 

Beberapa puluh menit kemudian kami hanya serius mendengarkan penjelasan ustadz Ilyas mengenai permasalahan nikah……

 

Sambil mendengarkan beliau memberikan taujihnya, lamunan Hanif mengelana ke pekan yang lalu. “Oooh… pantesan pekan yang lalu liqa kita cuma nonton film tentang ‘Mencari Jodoh Idaman’. Kayanya ada yang mau ditawarin nie…”.

 

………..

 

Akhirnya halaqah tersebut ditutup sekitar pukul 9:30 malam. Dan benar saja dugaanya kalau dialah target dari materi tersebut, “Kenapa harus aku coba?” 🙄 *Deg-degan…*

 

“Afwan akhi, antum jangan pulang dulu”, ujar ustadz Ilyas sambil memegang bahu kiri Hanif.

 

“Astagfirullah! Gue yang ditawarin bro!”, teriak Hanif dalam hati. “Aduh gimana nih???”

 

Setelah semua ikhwan-ikhwan yang lain menghilang di balik pintu, Hanif cuma senyum dan berusaha menahan diri untuk tetap tenang. Lagian kenapa musti takut coba. Kaya mau dikasih ke macan aja ya…. :mrgreen:

 

Setelah memberikan beberapa alas an kepada Hanif, ustadz Ilyas menyerahkan selembar biodata akhwat dan foto ukuran post card. Hanif langsung melipatnya dan memasukkan kedalam tas punggungnya.

 

“Loch! Kenapa dimasukin ke tas?”, tanya ustadz Ilyas sambil senyum.

 

“Ana baca di rumah aja ya ustadz?”, jawab Hanif malu.

 

“Buka aja, baca di sini.”

 

Terpaksa dia ambil kembali selembar kertas berisi data-data pribadi seorang akhwat. Sekilas dia melihat wajah yang terlukis di foto tersebut. Tapi langsung dibaliknya dan berusaha membuang berbagai pikiran yang mencandainya dengan genit. Hanif melirik wajah ustadz yang terus-menerus tersenyum melihat tingkah polah dirinya. Dan diapun sadar, kenapa dia musti kikuk enggak karuan gini ya.

 

“Dibaca aja akhi, gimana menurut antum.”

 

“Emmm…”, Hanif cuma bergumam dan terus focus membaca biodata tersebut. Tiba-tiba dia terperanjat dan mengajukan pertanyaan bingung ke ustadz Ilyas, “Kerjanya di bank stadz?”

 

“Iya,” jawabnya singkat.

 

“Bank konvensional atau syariah stadz?” tanya Hanif lagi sambil mengerenyitkan dahi. “Kalau konvensional afwan stadz, ana ndak mau.”

 

“Antum punya alasan kenapa nggak mau?”, tanyanya pura-pura tidak tahu. Dia cuma tarik nafas dalam sambil terus bingung kenapa ustadz memberinya calon istri yang kerja di bank. Dia lihat ustadz cuma tersenyum dan berkata, “Antum fikirkan dulu baik-baik dirumah, kemudian istikharahlah. Ana tunggu jawaban antum minggu depan soalnya biodata antum juga sudah ada pada orang yang sedang antum baca biodatanya.”

 

Hanif makin bingung, kok ustadz malah maksa dan gimana bisa biodatanya sampai ke sana, kan dia belum pernah minta dicariin jodoh?

 

Tiba-tiba ikhwan-ikhwan yang tadi keluar pada masuk lagi dan mengelilingi Hanif. Dia terkejut bukan kepalang, “Loch! Loh! Loch!….. Ana pikir antum semua sudah pada pulang?” tanyanya bingung.

 

“Tadinya memang mau pulang akhi”, jawab Yazid.

 

“Tapi karena ada yang seru, kita nggak jadi pulang bro’”, lanjut Yuda sambil menepuk bahu Hanif.

 

“Iya, kita penasaran nie…”, timpal Opick dengan senyum cengengesan khasnya.

 

“Hei! What are you doing? Get out! Please…..”, pinta Hanif pada mereka. “Ini urusan pribadi tau!”.

 

“Pribadi apa sech?”, goda Aris dengan mimic katro.

 

Kali ini Hanif meminta ustadz Ilyas mengusir temen-temen yang kebetulan memang sudah pada nikah semua, “Ustadz, mau apa mereka di sini? Tolong dunk stadz, suruh mereka pergi??”. Tapi anehnya ustadz cuma senyum yang membuat Hanif makin bingung, kikuk dan nggak jelas.

 

Secepat kilat, Yuda merampas biodata yang ada di tangan Hanif, “Coba lihat biadatanya akhi”.

 

“Heit! Itu nggak sopan akhi. Tolong balikin!”, teriak Hanif kaget. Sementara Yuda cuma cengengesan dan lari ke pojok ruangan.

 

“Kenapa ditolak tawaran ustadz akhi? Apalagi hanya karena alasan kerja di bank? Antum tuh aneh, padahal belum jelas status banknya apakah konvensional atau syariah. Antum terlalu terburu-buru akhi,” tanya Opick panjang lebar.

 

“Ooh… mungkin karena sudah dapat akhwat dari jama’ah lain kali ya?”, duga Indra sambil senyum.

 

“Uuuups, nggak! Antum terlalu mengada-ada. Kayanya enggak akan asyik dech kalo nggak sefikrah!” tolak Hanif yakin.

 

“Loch, kenapa?” tanya Aris penasaran.

 

“Ana nggak mau akh. Ana khawatir nanti aktivitas ana dikebiri lagi.”

 

“Dikebiri gimana maksudnya?”, tanya Aris makin penasaran.

 

“Coba, sekarang antum pikirkan. Misalnya ketika ana akan pergi halaqah ke tempat ini, bisa jadi istri ana akan berusaha menahan ana dengan banyak alas an.”

 

“Alasan apa akhi?”, timpal Yuda.

 

“Ya, mungkin alasannya, ‘Kita ke ta’lim ustadz Lukman aja besok di masjid I’thisom’ atau alasan mengada-ada lainnya”.

 

“Hehehe… antum bisa aja. Enggak semuanya kaya ghitu kali akh”, bela Aris.

 

“Ya, mungkin memang nggak semua, tapi antisipasi boleh dunk.”

 

“Lantas, memang kalo sejama’ah kenapa?”, tanya ustadz Ilyas tak mau kalah dengan para mutarabinya.

 

“Jelas kalau sefikrah khan enggak akan terlalu timbul konflik dengan kebiasaan ana ustadz. Misal ketika ana akan pergi liqa, pasti istri ana akan ingetin ana, ‘Bi, hari ini liqa khan? Tadi siang umi bikin kue, dibawa ya, untuk temen-temen abi.. hehehe…”.

 

“Yeee…. Kali dah…. Kaya ghitu?….” sungut Yuda sambil ngelelin lidah. Yang lain tersenyum cerah mendengar penjelasan ana.

 

“Atau misalnya, ketika kita akan pergi munasharah ke Bundaran HI. Pas kita bilang, ‘Mi, besok abi mau munasharah ke HI ya.’ Pasti dia akan bilang ‘Munasharah? Ke HI? Ikut dong bi…. Please…. Sambil lendotan ke ana dengan manjanya hihihi…” 😳

 

Mendengar penjelasan Hanif, ikhwan-ikhwan yang lain makin terkekeh geli, “Iiyy…. Antum tu ya…. Lebay banget kalo mengkhayal…..”.

 

“Jijay…. Dech…”, ujar Aris sambil mencoba menutup mulutnya menahan tawa.

 

Tiba-tiba Yazid yang dari tadi cuma senyum berucap, “Hush, sudah-sudah. Kita kembali ke topic permasalahan. Kenapa antum langsung menolak biodata yang ustadz ujukan ke antum akhi?”.

 

“Iya, kenapa?”, tanya Yuda. Lanjutnya, “Dari biodata ini, tertulis kalau dia anak tunggal, berpendidikan, anak dari pengusaha show room mobil, muda, cantik, dan hal-hal lainnya yang enggak akan ditolak pria manapun. Kenapa akhi? Apalagi antum sendiri belum yakin kalau pekerjaannya di bank konvensional. Kenapa?”.

 

“Bukan itu masalahnya akhi! Kaya, cantik, dari keturunan yang luar biasa itu bukan ukuran yang harus dipertimbangkan. Ana nggak terlalu mempedulikan itu.”

 

“Apa bener kaya ghitu akhi?”, tanya Aris.

 

Inna akhramakhum ‘indallahi athqaakhum, …Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu… Surat al-Hujurat: 13, bukankah ustadz tadi juga sudah menjelaskan ‘Wanita dinikahi karena empat perkara; karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya; maka pilihlah wanita yang taat beragama, niscaya engkau beruntung’ masa kita lupa dengan taujih ustadz tadi.”.

 

Mendengar penjelasan Hanif, yang lain saling pandang dan mengangguk-angguk.

 

“Tapi wanita yang mau dijodohin ke antum kan cantik banget akh!”, sergah Yuda yang memang sudah menikah dan berusia paling tua diantara ikhwan-ikhwan yang lain.

 

Mendengar ucapan akhi Yuda, Hanif langsung ingat salah satu hadist Rasulullah yang diriwayatkan oleh Ibnu Madjah dalam kitab an-Nikaah no. 1859, lalu mengatakannya, “Dari Abdullah bin ‘Amr secara marfu’, ia mengatakan: “Jangan menikahi wanita karena kecantikannya, karena bisa jadi kecantikannya itu akan memburukkannya; dan jangan menikahi wanita karena hartanya, bisa jadi hartanya membuatnya melampui batas. Tetapi nikahilah wanita atas perkara agamanya. Sungguh hamba sahaya wanita yang sebagian hidungnya terpotong lagi berkulit hitam tapi taat beragama adalah lebih baik.” Syaikh al-‘Azhim Abad berkata : makna ‘fadhfar bidzaatid diin (ambillah yang mempunyai agama) adalah pertimbangan yang harus diperhatikan, terutama berkenaan dengan pendamping hidup.”

 

“Stadz, bujangan kita ini makin matang aja kayanya,” ujar Yazid kepada ustadz Ilyas.

 

“Kayanya udah siap nikah banget ni stadz hehehe…”, goda Yuda dan bangun dari pojok ruangan.

 

“Satu lagi akh, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, Seorang mukmin tidak mengambil manfaat sesudah takwa kepada Allah, yang lebih baik dibandingkan wanita yang shalihah: Jika memerintahnya, ia mentaatinya; jika bersumpah terhadapnya, ia memenuhi sumpahnya; jika bepergian meninggalkannya, maka ia tulus kepadanya dengan menjaga dirinya dan harta suaminya.’ Ini hadist Ibnu Majah dalam kitan an-Nikaahnya no. 1857 dan disahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam al-Misykaahnya no. 3095.”, tambah Hanif kepada teman-teman halaqahnya yang memang sudah pada menikah dan sebagiannya punya anak.

 

“Eehem…ehem… memangnya criteria apalagi yang antum inginkan dari wanita idaman antum akh?”, tanya Opick masih dengan cengengesan khasnya.

 

“Kriteria wanita idaman ana?”, tanya Hanif untuk lebih mempertegas.

 

“Iya… criteria wanita idaman antum itu memang seperti apa akhi? Mungkin kita bisa bantu cariin. Iya khan akh? Iya khan ustadz?”, lanjut Opick lagi.

 

Bersambung.

Iklan