Gue Sakit? Sukurin Loe!

Akhirnya hari ini aku punya kesempatan untuk menulis lagi. Alasannya bisa dibilang tragis tapi bisa juga anugerah. Kok bisa?

Mungkin karena telah sekian minggu berjibaku dengan pekerjaan yang enggak ada habisnya dan aku yakin emang enggak akan pernah bisa habis, kecuali takdir memutuskan lain. Mulai dari stock opname barang, buat laporan, nyiapin data untuk kunjungan supplier, melakukan pembelian, ngejar-ngejar kargo internasional plus minggu kemarin harus bersihin kamar yang biasanya cuma disapu lantainya dan sebagian barang yang berdebu yang memang sering dijamah.

Secara ghitu loh… hehehe… alergi debu. Langsung hari itu juga aku bersin-bersin sampai tadi malam. Untungnya cuma kena flu meski berat banget. Karena biasanya kalo udah kena debu, kulit tuh bisa gatal-gatal nggak jelas. Lebay banget ya… :mrgreen: Mungkin karena debunya tiga meter kali plus terdiri dari bulu ulat yang menumpuk 😆 Belum lagi ditambah panas dalam yang bikin kawah putih di bawah lidah. Fiuuh…. Setelah sekian lama bertahan, akhirnya aku harus “tepar” juga di tempat tidur.

Aku emang aneh. Kalau udah stress suka males makan. Kalo lagi sibuk luar biasa suka lupa minum. Apalagi olah raga. Hhhmmm…. Secara nggak sadar aku justru telah menanam sumber penyakitnya sendiri.

Balik lagi ke point bahasan, Kenapa penyakitku ini bisa dibilang tragis tapi bisa juga dibilang anugerah?

Coba kita renungkan hujjah dalil-dalil hadits berikut ini :

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, “Sesungguhnya Allah tidak akan melakukan penganiayaan (ketidakadilan) terhadap orang mukmin. Kebaikan yang ia lakukan akan dibalasnya dengan kebaikan di dunia serta diberinya pahala di akhirat. Adapun orang kafir, maka hasil kebaikannya akan dinikmatinya di dunia ini, sehingga apabila datang di akhirat nanti maka tak ada satu pun balasan kebaikan yang akan diterimanya.” (HR. Muslim dan Ahmad)

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, “Apabila Allah menghendaki kebaikan terhadap hambanya Ia segerakan siksaan baginya di dunia dan jika Ia kehendaki kejelekan bagi hambanya Ia tahan akan dosanya (yakni tidak disiksanya) sehingga Ia balas keseluruhannya nanti di hari kiamat. (Hadist shahih diriwayatkan dari Anas, Abdullah bin Mughaffal, Ammar bin Yasir, dan Abu Hurairah- Al Jami’).

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, “Umatku ini adalah ummat marhumah (ummat yang disayangi), mereka tidak akan disiksa di akhirat nanti, siksaan mereka ialah di dunia ini, yaitu berupa fitnah-fitnah, gempa bumi, dan pembunuhan (kematian-kematian).” (HR. Abu Dawud)

Mengapa bisa dibilang tragis?

Semalam ketika aku coba introspeksi memuhasabah diri. Banyak banget kemungkinan-kemungkinan yang bisa membuat aku harus istirahat hari ini.

Pertama, kesibukan pekerjaanku telah mengurangi kualitas interaksiku dengan Allah. Tragiskan bro? Padahal kita sudah tahu, dunia ini fana dan tidak akan abadi. Segala usaha yang kita kerjakan untuk meraihnya pasti akan kita tinggalkan suatu saat kelak. Mungkin beberapa puluh tahun lagi, atau beberapa tahun lagi, atau beberapa bulan lagi, atau beberapa hari lagi, atau mungkin besok. Kita tidak pernah tahu kapan muara kehidupan kita ini berakhir. Lantas apa yang sudah kita perbuat untuk bekal kehidupan akhirat kita brother?

Berbekallah untuk hari yang sudah pasti

Sungguh kematian adalah muara manusia

Relakah dirimu menyertai segolongan orang

Mereka membawa bekal sedangkan tanganmu hampa

Kedua, tentang sariawanku. Selama ini kita selalu berpikir, pasti itu disebabkan karena kita kekurangan vitamin C. Mungkin karena malas makan buah dan sayur-sayuran. Atau alasan-alasan lainnya yang lebih masuk akal logika manusia modern dan ilmu medis. Itu mungkin adalah alasan yang tepat. Tapi pernahkah kita berpikir, mungkin ini karena kita sering membicarakan orang? Apalagi aku…. 😆 … astaghfirullah, sering banget ngomongin tingkah polah keanehan salafy ekstrim di blog ini yang sering banget memfitnah jamaah lain dengan alasan jarh wa ta’dil yang dipaksakan. Meski niatnya baik agar umat Islam bisa menyadari bahwa musuh sebenarnya adalah para penyembah thogut selain Allah bukan orang Islam atau jamaah di luar salafy ekstrim. Meski tujuannya adalah untuk membuat mereka sadar dengan membalas kata-kata dan tulisan-tulisan mereka. Tetap saja kita tidak pernah akan tahu tentang rahasia Allah atas situasi ini. Wallahu mustaan semoga Allah mengampuniku jika aku salah dan meluruskannya. Amin.

Ketiga, sakit ini akan menjadi tragis karena mungkin aku yang tidak secara maksimal menjaga anugerah Allah berupa kesehatan. Tragis karena aku harus sering telat makan. Tragis karena sering lupa minum. Tragis karena harus tidur larut malam. Tragis karena membiarkan tubuh ini memaksimalkan kemampuan kerjanya. Padahal semuanya bisa diantisipasi. Hemmm…. 😥 😥 Setelah semuanya terjadi, sepertinya tetap aku harus istirahat di tempat tidur juga. Huiiih… meski kemaren malam aku sempat minum susu melebihi takaran yang seharusnya. Bayangkan lebih dari setengah gelas ku isi dengan susu dan hasilnya susu yang ku buat seperti pasta karena saking kentalnya. Ditambah vitamin yang melebihi dosis juga nggak bisa membantu. Tetep, aku harus istirahat juga.

Terus, kenapa bisa dibilang anugerah?

Ya…. Meskipun ini sangat memalukan tetap aku harus anggap ini sebagai anugerah.

Paling enggak aku bisa membuang sebentar kesibukan pekerjaanku dan secara ghitu loh. Aku kan muslim, alhamdulillah bini’matillah dan semoga Allah menetapkan hati ini dalam iman kepada-Nya sampai aku menghadap-Nya. Amin.

Kalau kita lihat hujjah dalil di atas, di sana dinyatakan bahwa “Kebaikan yang ia lakukan akan dibalas-Nya dengan kebaikan di dunia serta diberinya pahala di akhirat”, amin ya Rabb. Dan “Apabila Allah menghendaki kebaikan terhadap hambanya Ia segerakan siksaan baginya di dunia”, astaghfirullah, kalau boleh memilih aku lebih berharap untuk tidak disiksa di dunia dan akhirat, atau “Umatku ini adalah ummat marhumah (ummat yang disayangi), mereka tidak akan disiksa di akhirat nanti, siksaan mereka ialah di dunia ini.”

Setelah kita renungi hujjah dalil di atas, sepertinya siksaan kita di dunia ini merupakan bentuk dari ketragisan karena kebodohan kita sendiri dan Allah dengan Kemaha Penyayang-Nya terhadap hambanya tetap saja memberikan anugerah itu kepada kita. MasyaAllah, sudah seharusnya kita malu terhadap-Nya. Karena Allah telah memberikan aturan-aturan yang lengkap dalam al-Qur’an dan Sunnah tapi kita sendiri yang telah mengundang siksaan itu datang di dunia karena pelanggaran-pelanggaran atas larangan-larangan-Nya. Menurutmu sendiri, ini tragis atau anugerah bro n’ sis?? 🙄

And then, bagaimana dengan nasib orang non muslim. Sebagian besar dari manusia di dunia yang tidak percaya Allah Subhanahu WaTa’ala tak terkecuali sebagian dari kita yang muslim dan kurang ilmu agama dan keyakinan kepada Allah berpendapat. “Bahwa kebahagian dunia adalah ukuran bahwa apa yang dilakukannya merupakan bentuk dari keridhaan Tuhan atas apa yang dilakukannya”, mereka mengatakan “Tuh kan, liat dong realita kita, sebagian besar dari kita adalah orang-orang kaya yang memiliki banyak harta dan tahta, kalian… Cuma kaum muslim miskin yang selalu ditimpa musibah dan bencana serta terusir dari tanah airnya sendiri seperti muslim Palestina dan Rohingya di Thailand dan bumi Islam lainnya.” Sehingga beberapa dari mereka yang tidak tahan dengan ujian dunia dan godaan kenikmatan materi, rela membuang kunci surganya sendiri. Padahal Allah sendiri telah memberikan wasiat-wasiat-Nya. Beberapa diantaranya adalah hujjah dalil-dalil di atas, “Adapun orang kafir, maka hasil kebaikannya akan dinikmatinya di dunia ini, sehingga apabila datang di akhirat nanti maka tak ada satu pun balasan kebaikan yang akan diterimanya.” (HR. Muslim dan Ahmad) atau “dan jika Ia kehendaki kejelekan bagi hambanya Ia tahan akan dosanya (yakni tidak disiksanya) sehingga Ia balas keseluruhannya nanti di hari kiamat.” (Hadist shahih diriwayatkan dari Anas, Abdullah bin Mughaffal, Ammar bin Yasir, dan Abu Hurairah- Al Jami’).

Coba dech cek ulang lagi hujjah dalil-dalil di atas. Jadi you-you pada nggak perlu keki dan bersedih hati dengan segala musibah dan ujian yang menimpa loe. Bukankah kita lebih mengharapkan hasil akhir yang baik? Sementara mereka, kalo gunain kata-kata gue, seperti kata hujjah dalil di atas, mereka akan diberikan kenikmatan dunia secara penuh atas kebaikan umum yang mungkin kita anggap sebagai kebaikan mereka agar ketika mereka mati (mati? Binatang kali 😆 ] Allah tidak perlu berhutang lagi terhadap mereka. Mungkin kasarnya kalo gue tuhannya, gua akan bilang, “Heh katro! Segala kebaikan yang telah elo lakukan di dunia telah gua balas dengan segala kenikmatan dunia. Elo inget khan? Malah gue kasih bonus banyak banget! Elo punya harta banyak, rumah banyak, kendaraan banyak, tubuh dan muka-muka loe sempurna, atletis, sexy, cantik, tampan, cakep luar biasa dan sangat menarik perhatian, kalo sakit elo bisa dirawat di rumah sakit mahal. Tapi tetep, elo masih belum bersyukur dan mensekutukan gua. Gua udah balas semua kebaikan loe di dunia dan telah impas semuanya. Sekarang, gua balas kekufuran loe ke gue! Nyaho loe! 👿

Jadi sodara-sodara, please dech. Nggak usah ngiri sama mereka apalagi sampe muji-muji mereka kaya orang-orang JIL yang memuji Yahudi atau mungkin loe-loe pada yang nggak tahan pada tekanan hidup. You cukup bersabar, melakukan keta’atan terhadap-Nya dan Rasul-Nya dan mengambil hikmah atas semua kejadian yang elo alami. InsyaAllah, Dia pasti akan membalas semua kebaikan loe dan elo enggak akan rugi.

“Umatku ini adalah ummat marhumah (ummat yang disayangi), mereka tidak akan disiksa di akhirat nanti, siksaan mereka ialah di dunia ini, yaitu berupa fitnah-fitnah, gempa bumi, dan pembunuhan (kematian-kematian).” (HR. Abu Dawud)

Wallahu a’lam bishawab.

Iklan