Negara Israel’ Hanya Sebuah Mitos

INILAH.COM, Jakarta – Resolusi PBB Nomor 181 yang dibuat 29 November 1947 terus menyisakan banyak pertanyaan. Sejumlah kalangan mulai mendesak membuka kembali resolusi tersebut yang mengukuhkan eksistensi Israel menjadi negara di wilayah Palestina.

Resolusi itu ibarat surat ijin menjajah bagi Israel di tanah Palestina. Betapa tidak, resolusi itu menjadi alasan bahwa anak keturunan Israel yang beragama Yahudi memiliki hak untuk pulang ke ‘tanah leluhurnya’.

Padahal apa yang tercantum dalam resolusi PBB itu sangatlah tidak ilmiah dan tidak dapat dipertanggung jawabkan dari segala disiplin ilmu. Tak satupun sejarawan dan pakar-pakar arkeologi menemukan apa yang disebut dengan “Kerajaan Yahudi” atau “The Promise Land”.

Yang diistilahkan dengan “Negara Israel” tak lebih hanya sebuah pernyataan Ben Gurion, pimpinan zionis pada 14 Mei 1948 yang memproklamirkan negaranya dengan mengundang 100 orang terkemuka dan wartawan di Musium Tel Aviv (ibukota tanah rampasan itu).

Proklamasi itu disebut dengan negara tanpa wilayah. Sehingga sejatinya resolusi tersebut tak lebih dari sebuah ‘mitos’ atau tidak ilmiah agar penjajahan di bumi Palestina sah legalitasnya dan orang-orang Yahudi dapat mendirikan negara seperti yang mereka impikan ribuan tahun lamanya.

Israel adalah garis ‘keturunan’ atau ‘ras’ dan bukan sebuah bangsa. Karena tak satupun arkeolog di planet ini dapat membuktikannya secara ilmiah walaupun sudah memakai peralatan tekhnologi canggih sekalipun.

Hingga saat ini para arkeolog masih membongkar dan mengorek bumi Luxor (salah satu wilayah di Mesir) untuk membuktikan kepada dunia bahwa Israel pernah berkuasa mulai dari Sungai Nil sampai Efrad.

Fakta ada dari catatan kuno dan ukiran batu yang ada di Luxor terlihat jelas hanya Mesir dengan rajanya mulai dari Thutmosis hingga Ramsis I dan II atau Thunk Amun (sering diistilahkan dengan Firaun atau sebutan seorang raja Mesir) yang pernah memimpin orang-orang Yahudi. Kerajaan Mesir saat itu tercatat sebagai penguasa yang terbesar dan terluas wilayahnya dan hal itu telah disepakati oleh para arkeolog dan sejarawan.

Munculnya istilah Israel menurut ajaran agama Yahudi adalah penisbahan kepada Yackub (istilah Islam dipahami sebagai Nabi Yakub AS) dan anak cucunya disebut Bani Israel.

Sedangkan istilah Yahudi diambil dari nama cucu Yackub, dan tertulis dalam sejarah Israel dengan istilah ‘Yehuda’. Saat ini agama Yahudi dipeluk mayoritas warga Israel selebihnya banyak yang pindah agama atau sama sekali tidak meyakini agama manapun.

Resolusi PBB bernuansa mitos tersebut menyeret pada ranah agama. Apalagi Israel selalu mengatasnamakan bahkan menunjukkan dalil-dalil di salah satu kitab sucinya yang menguatkan posisinya untuk membangun negara.

Perlu diketahui jika ditinjau dari aspek disiplin informasi dan komunikasi dimulai dari abad ke-3 Masehi, hingga detik ini hanya satu pengikut agama yang mampu menghapal kitab sucinya secara kolektif tanpa ada perbedaan yaitu Islam.

Selain itu juga memiliki universitas ataupun dan lembaga penghafal Al Quran yang tersebar di beberapa negara tidak terkecuali di Indonesia. Sehingga dari segi akurasi dan jauh dari kemungkinan orang-orang yang mencoba memalsukan kitab tersebut.

Apalagi memiliki bahasa yang maha tinggi dan tak satupun sastrawan di bumi ini yang dapat meniru karyanya. Di kitab milik warga muslim ini tidak ada satupun petunjuk tentang Israel yang pernah membuat negara.

Fakta lain yang di temukan bahwa Israel tak lebih dari garis keturunan, atau suku-suku di jazirah Arab yang diistilahkan kabilah. Sejarawan yang netral (bukan yahudi) hanya menuliskan bahwa orang-orang Israel puluhan abad yang lalu hidup berpindah-pindah dan tersebar diseluruh wilayah Arab atau disebut dalam sejarah orang ‘Nomaiden’

Bagaimana sikap Indonesia? Bagi Indonesia, resolusi tersebut dipandang sebagai sebuah pelajaran sangat penting agar menjaga situs-situs sejarah yg menunjukan keberadaan dan kebesaran wilayah pertiwi.

Contohnya situs Majapahit yang menunjukan adanya kerajaan besar dengan wilayah sangat luas mulai dari Kamboja, Myanmar, Thailand, Singapura dan Malaysia. Fkta sejarah ini dapat dipertanggung jawabkan dari segala disiplin ilmu manapun selain bukti petunjuk yang masih ada.

Tidak menutup kemungkinan satu saat nanti ada negara lain yang mencoba mengklaim wilayah Idonesia menjadi bagian negara lain. Contohnya saja Sipadan dan Ligitan yang yang di klaim Malaysia menjadi bagian dari territorial negaranya. Bahkan seekarang sudah masuk peta wilayahnya sendiri setelah menang di persidangan internasional.

Kemudian yg menjadi pertanyaan besar bagi masyarakat dunia saat ini adalah, apa yang menjadikan Israel ngotot berdiri di tanah jajahan dan seenaknya membunuh orang-orang tak berdosa di tengah sorot mata seluruh dunia?

Hamas: Perang Gaza Kemenangan Hebat Bagi Rakyat Palestina

Gaza – Pemimpin Hamas mengklaim bahwa perang dengan Israel di Gaza memberikan “kemenangan hebat” bagi rakyat Palestina.

“Tuhan telah memberikan kita kemenangan hebat. Bukan untuk satu faksi atau partai atau daerah, tapi untuk seluruh rakyat kita,” tegas Ismail Haniya, perdana menteri yang ditunjuk kelompok Hamas di Gaza.

“Kita telah menghentikan agresi dan musuh telah gagal mencapai tujuan-tujuannya,” imbuh pemimpin senior Hamas itu seperti dilansir kantor berita AFP, Senin (19/1/2009).

Penegasan itu disampaikan Haniya kurang dari 24 jam setelah Israel menghentikan operasinya di Gaza yang telah berlangsung selama 3 pekan.

Israel mulai menarik pasukannya dari Gaza setelah gencatan senjata berlaku efektif pada Minggu, 18 Januari pukul 2 dini hari waktu setempat. Namun pemerintah Israel mengancam, militernya akan kembali melancarkan serangan jika diserang Hamas.

Lebih dari 1.300 warga Palestina telah tewas sejak Israel melancarkan agresinya ke Gaza pada 27 Desember 2008. Menurut Israel, agresi itu sebagai pembalasan atas serangan-serangan roket yang kerap dilancarkan Hamas.

(ita/nrl)

Iklan