Menengok Jalur Gaza Setelah Dikuasai Hamas

Kispa.org Semenjak Jalur Gaza dikuasai Brigade Izzuddin Al-Qasam, kota kecil terkendali. Prostitusi, obat terlarang diberantas. Tapi pers Indonesia kok memberitakan lain?

Bagaimana keadaan para imam masjid yang berjenggot? Keamanan jalur Gaza? Serta bagaimana penduduk Palestina hidup setelah berkuasanya Al-Qasam di sana?

Sejumlah pendunduk dari berbagai tingkatan mengungkapkan dengan gembira ketenangan yang mereka rasakan, yang telah hilang sejak beberapa tahun.

Adalah Syakir Ashfur. Pelajar dari Khan Yunis Gaza selatan yang juga mahasiswa di Universitas Islam Gaza mengungkapkan bahwa dia bisa aktif kembali untuk pergi ke universitas setelah sebelumnya hal itu tidak bisa ia lakukan dikarenakan ia berjenggot. Selain itu, ujarnya, posisi Universitas Islam Gaza sendiri berada di tengah-tengah titik konflik.

Aku menghadapi kesulitan yang amat sangat ketika pergi untuk melaksanakan shalat Subuh dan isya di masjid. Aku merasa tidak akan kembali dalam keadaan hidup setelah shalat, kami merasa tidak aman sama sekali.”

Namun kekhawatiran itu ternyata tak terjadi. Yang terjadi adalah hancurnya kelompok Dahlani. Yang dimaksud dengan Dahlani ada pengikut setia pasukan Ahmad Dahlan, kelompok bersenjata di bawah Presiden Mahmood Abbad.

Menurut Ashfur,  hancurnya sempalan Dahlani adalah bentuk murka Allah terhadap mereka, dikarenakan pembangkangan mereka terhadap Allah, ulama dan para imam masjid.

Istriku sudah tidak menantiku lagi di depan pintu setelah hancurnya sempalan Dahlani, dikarenakan dia sudah tidak mencemaskan keselamatanku lagi setelah kembali dari masjid,” ujarnya sembari tersenyum.

Padahal, menurutnya, dulu,  rumah sakit-rumah sakit pun tidak pernah berhenti mengumumkan keadaan darurat, dan beberapa rumah sakit yang berada di jalur Gaza pun tidak mampu lagi menampung jumlah korban yang disebabkan vakumnya keamanan. Unit darurat terbuka di setiap rumah sakit, hingga seakan-akan tempat itu telah berubah menjadi barak militer.

Kami tidak membesar-besarkan jika kami mengatakan, jika engkau datang menjenguk salah seorang pasien engkau merasa berada di dalam barak militer yang penuh dengan prajurit dengan bermacam jenis senjata.”

Tidak Ada Korban

Sebuah Organisasi Independen untuk Hak-Hak Penduduk Palestina dalam data statistiknya pada tahun 2007 menunjukkan bahwa dalam satu bulan rata-rata 54 orang tewas di jalur Gaza dikarenakan perselisihan keluarga, pencurian dan sebab-sebab lainnya yang menyebabkan hilangnya rasa aman.

Adapun sekarang, hanya dalam waktu dua minggu Gaza di bawah kontrol Al-Qasam beberapa sumber dari kalangan medis menyebutkan bahwa seluruh rumah sakit yang berada di penjuru Gaza tidak didatangi seorang pasien pun yang sakit atau terluka dikarenakan hilangnya kontrol keamanan.

Juga tidak tersiar lagi dari radio-radio setempat berita jatuhnya korban akibat keamanan yang tidak terkendali, sebagaimana yang biasa tersiar sebelum Al-Qasam berkuasa, dimana beberapa keluarga jika ada perselisihan mereka tidak segan-segan untuk menggunakan senjata api dan peluru bahkan kemungkinan sampai kepada tahap penggunaan bom dan mortir.

Menurut Ashfur, saat ini tidak memungkinkan lagi bagi siapa saja untuk mengeluarkan dan “memamerkan” senjata api, karena hal itu akan menyebabkan penyitaan senjatanya dan penangkapan terhadapnya. Ashfur menambahkan, kira-kira sepekan yang lalu terjadi pertengkaran antar beberapa keluarga di sebuah kamp pengungsian di Gaza barat. Namun, tak ada lagi penyelesaikan dengan senjata. kecuali tongkat.

Minuman Keras dan Obat Terlarang

Setelah Al-Qasam mengumumkan bahwa seluruh penjuru jalur Gaza dikuasai di pagi hari, tepatnya, Jumat, 15 Juni 2007, Izzuddin Al-Qasam terus bergerak-tanpa melakukan “istirahat” yang biasa dilakukan pasukan setelah memenangkan pertempuran.

Pasukan Al-Qasam bergerak  menuju pusat-pusat penjualan minuman keras yang terkenal dengan At Tahliyah daerah Khan Yunis, Gaza daerah selatan. Tempat itu bisa dikuasai seluruhnya oleh Al-Qasam dan dibunuhnya tiga “dedengkot” penjual dan produsen obat-obatan terlarang kemudian memusnahkan barang haram ini dengan jumlah yang amat besar.

Ahmad Asthal, salah satu penduduk yang tinggal satu wilayah dengan pusat obat-obat terlarang itu mengungkapkan rasa gembiranya atas “hukuman” yang ditimpakan kepada tiga “bandar” obat-obat terlarang itu. Ia menceritakan bahwa para penduduk enggan melakukan shalat jenazah untuk tiga orang itu, bahkan mereka menolak tiga janazah itu dibawa ke masjid, hanya dua orang saja yang mengubur mereka di pemakaman Khan Yunis.

Tempat Prostitusi

Selain membasmi minuman keras, Al-Qasam juga mendatangi rumah-rumah bordir dan tempat praktek prostitusi yang sebelumnya dilegalkan oleh pihak yang bertanggung jawab.

Sekarang sudah tidak ditemukan lagi di jalur Gaza. Sudah banyak diketahui bahwa di tempat inilah Israel menciptakan “tentara” dengan jumlah yang amat besar dari orang-orang Palestina sendiri, yaitu dengan mengambil gambar ketika meraka melakukan perzinaan dan mengancam akan menyebarkan gambar itu jika ia enggan membantu Israel. Biasanya, pria-pria yang direkam gambarnya ini lantas diperas agar bersedia menjadi ”mata-mata” Israel.

Juru bicara dari petugas keamanan, Islam Syahwan menegaskan bahwa sejak Al-Qasam mengendalikan jalur Gaza, tidak ditemukan lagi praktek asusila di seluruh penjurunya.

Bubarnya Pasar Senjata

Sebelum Al-Qasam datang, perdagangan senjata berjalan sangat liar. Perdagangan ini, kabarnya “didirikan” oleh para penguasa sempalan revolusi, di mana senjata api bisa diperjualbelikan dengan bebas di sana, baik untuk mereka yang gemar berkelahi atau anak-anak muda yang suka pamer senjata.

Sehingga jadilah pasar mobil yang berada di jalan Shalahuddin timur kota Gaza sebagai pusat perdagangan senjata yang diperuntukkan khusus bagi rakyat sipil. Adapun gerakan perlawanan tidak pernah “merendahkan martabat” untuk pergi ke pasar mobil guna membeli senjata dari para penghianat. Gerakan perlawanan memiliki sumber persenjataan sendiri yang dirahasiakan, guna menghadapi Zionis.

Abdullah Hijazi, seorang penduduk yang tinggal di dekat pasar mobil mengatakan, ”Beberapa waktu yang lalu kami tidak merasakan ketenangan ketika tidur dan istirahat, dikarenakan percobaan senjata oleh para pedagang senapan dan pistol, serta penjajahan dagangan mereka kepada para pengunjung pasar.”

Hijazi menambahkan, ”Tidak mungkin hidup di tengah letusan senapan dan di antara pedagang senjata serta obat-obat terlarang. Dan kami tidak memungkinkan untuk melarang mereka, karena hanya berbicara kepada mereka pun nyawa menjadi taruhannya.”

Ia juga mengatakan, ”Akan tetapi saat ini keadaan telah berubah, berbalik 360 drajat, anda tidak melihat lagi orang menenteng di jalanan Gaza, bahkan di pasar mobil sekalipun, dan kami tidak lagi mendengar letusan-letusan senjata api sehingga memungkinkan bagi anak-anak kami untuk keluar dari rumah sejak Al-Qasam menguasai Gaza, juga mereka bisa menikmati transportasi air serta pergi ke sekolah tanpa dibayangi kekhawatiran atas nyawa mereka,” ujarnya sebagaimana dikutip Mafkarah Al Islam.

Meski demikian, Hijazi sempat juga melontarkan kritikan, dengan mengatakan, mestinya Al-Qasam mengambil langkah seperti ini sejak dulu.

Mengatur Lalu-Lintas

Selain itu, ada suasana simpati yang dilakukan para pejuang sayap militer Hamas, Izzuddin Al-Qasam. Selain mengontrol keamanan, mereka juga menertibkan lalu-lintas.

Untuk pertama kalinya Anda merasakan bahwa Anda berjalan di atas jalan-jalan teratur yang belum pernah terbayangkan sebelumnya dan yang lebih unik lagi, bahwa yang mengatur lalu litas adalah para remaja masjid yang umurnya tidak lebih dari 18 tahun, dimana mereka menggunakan gamis berwarna kuning yang memakai tanda Harakah Muqawamah Islamiyah (Hamas). Keadaan ini disambut gembira oleh para pengemudi kendaraan yang mulai merasakan kenyamanan saat berkemudi.”

Dan yang paling mencolok dari personel Al Qasam adalah konsistensi mereka dalam melaksanakan shalat berjamaah di pos-pos penjagaan mereka, di mana, kata Hijazi, akan dijumpai  sekumpulan dari mereka berada di tengah pasar mencari tempat yang agak luas dan meletakkan senapan-senapan di depan mereka, lalu mendirikan shalat.

Seorang pengemudi yang bernama Syaikh dari Distrik Tengah mengatakan, ”Saya tidak mengira bahwa peraturan akan berlaku di jalanan Gaza. Dulu kami –para pengemudi- mengatakan bahwa Gaza adalah negara tanpa peraturan, tidak pernah sedetik pun berlalu di halte, kecuali terjadi percekcokan yang terkadang berakhir dengan penggunaan senjata api. Akan tetapi keadaan telah berubah, seorang remaja yang berumur 16 tahun telah menjadi petugas pengatur lalu-lintas yang berada di tangah-tengah lalu-lalang…”

Setelah beberapa presatasi diraih oleh Brigade Izzuddin Al-Qasam, apakah Gaza akan tetap aman? Ataukah “arus revolusi” telah bersumpah agar Gaza tidak pernah aman sesuai dengan keinginan Washington dan Tel Aviv?  Ataukah ini hanya “bulan madu” yang akan berakhir dan berlalu, karena tank-tank Zionis telah berbaris menanti di belakang NATO, menunggu lampu hijau untuk menghakimi Gaza?

Agak naif bagaimana ketika asing begitu buruk menggambarkan Hamas dan Gaza tanpa pernah merujuk sumber-sumber utama di tempat itu. Yang lebih naif lagi, media dan pers Indonesia justru ikut-ikutan menkopi-nya. (Thoriq/www.hidayatullah.com/fn)

Dikutip dari http://www.kispa.org/index.php/view/berita/datetimes/2007-07-19+15:10:03