Orang Tua Gua Sialan !!!


“Gua nyesel banget dilahirin oleh wanita seperti nyokap gua! Sudah miskin! Kolot! Norak! Kampungan lagi!”

“Gua juga sama! Meski dia nggak senorak nyokap loe, dia itu cerewet, nggak pernah bisa liat gua lagi nganggur, bawaannya pengennya nyuruh gua mulu!”

“Apalagi gua! Huh!! Pulang sekolah kalau jam tiga sore belum sampe rumah bisa semaleman gua diomelin beliau.”

“Lantas bagaimana dengan bokap loe??”

“Kagak beda jauh dah dengan emak gua! Udah pelit kerjanya Cuma nasehatin gua terus. Bikin budeg kalau gua terus-terusan di rumah!”

“Wah coy, bokap gua lebih parah. Udah nggak bisa nyenengin gua, kalo lagi kumat stresnya…. gua bisa dipukulin pake gagang sapu! Bahkan sabuk yang besarnya seperti punya tentara. Meski kalau gua pikir wajar juga sih kalo dia marah. Hehehe… abis gua emang bandel seh.”

“Kalau gua sih fine-fine aja tuh. Abis gua udah pernah bilang ke bokap. Kalau gua lagi sama temen-temen gua jangan muncul ya. Soalnya bisa bikin malu. Maklum… hehehe… Cuma tukang bajaj doang.”

“Heh!!! Tukang bajaj mah masih belom seberapa kale. Bokap gua tuh Cuma tukang Koran keliling. Nggak punya otak kali tu ya bokap! Hari gini mau aja jadi tukang Koran, ya nggak bakal bisa nyenengin gua lah….”

…….

…….

…….

Sahabat… Celotehan di atas bukanlah sebuah cerita belaka. Itu adalah realita kita saat ini. Mungkin sebagian dari kita pernah mendengar secara langsung dialog-dialog semacam itu. Atau mungkin kita sendiri yang pernah melakukan dialog-dialog tersebut? Atau mungkin memang bukan kita secara langsung, tapi hati kecil kita pernah secara sadar atau tidak sadar mengatakan hal tersebut. Atau mungkin pernah sekelebat muncul kekecewaan terhadap orang tua kita sehingga keluarlah sebuah penyesalan “Mengapa aku bukan menjadi anak si fulan atau fulanah saja. Yang baik hati. Yang selalu dapat memenuhi semua permintaan kita meski tanpa diminta.” Atau mungkin sebuah perasaan yang nelangsa ketika kita dihadapkan pada sebuah ujian iman “Ya Rabb, mengapa engkau lahirkan aku dari orang tuaku ini.”

Atau mungkin hal tersebut tidak pernah kita lakukan sama sekali bahkan tidak pernah kita rasakan penyesalan dan kekecewaan terhadap orang tua kita sama sekali. Mereka…. Ibu dan bapak kita dapat memenuhi semua kebutuhan kita dengan sangat maksimal. Saking sayangnya mereka terhadap kita dan saking cintanya kita terhadap mereka, keakraban kita justru terkadang hanya dibalas dengan ucapan “Aaahh mamah… entar dulu dong, kan aku lagi asyik nonton sinetron ni” atau “Apaan sih pah, uuuh…. Sebentar dong tanggung ni.” Atau ketika kedua orang kita tidak mapan, kita justru begitu proaktif membantu meringankan kedua orang tua kita dengan bekerja di tempat-tempat yang justru mendatangkan murka Allah.

Ya… demi dapat memenuhi kehidupan kita, beberapa diantara kita memaksa harus mencuri bahkan menjual diri…. masyaAllah….

Sahabat…. Tahukah diri kita, atau minimal pernahkah kita mendengar bahwa Allah Subhanahu Wata’ala berfirman dalam kitab-Nya yang suci, Jika salah seorang di antara kedua orang tua kita apakah ayah atau ibu kita atau kedua-duanya ayah dan ibu kita sampai berusia tua berada dalam pemeliharaan kita, maka kita dilarang untuk sekali-kali mengatakan “ah” apalagi membentak mereka ??

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah sekali-kali kamu mengatakan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah : “Wahai Tuhanku, kasihanilah mereka keduanya, sebagaimana mereka telah mendidik aku waktu kecil.” (QS. Al-Isra’: 23-24)

Tahukah engkau sahabat, bahwa Dzat yang telah menciptakan kita telah memerintahkan kita untuk selalu berbuat baik terhadap ayah ibu kita??

Allah Ta’ala berfirman : “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orang tuanya, dimana ibunya telah mengandung dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu.” (QS. Luqman: 14)

Sahabat, tahukah engkau bahwa salah satu amalan yang paling disukai Allah Tuhan Semesta alam ini adalah berbuat baik kepada Ayah dan Ibu kita??

Dari Abu Abdurrahman bin Mas’ud ra ia berkata : “Saya bertanya kepada Nabi saw. : “Amal apakah yang paling disukai oleh Allah Ta’ala?” Beliau menjawab : “Shalat pada waktunya.” Saya bertanya lagi : “Kemudian apa?” Beliau menjawab : “Berbuat baik kepada kedua orang tua.” Saya bertanya lagi : “Kemudian apa?” Beliau menjawab : “Berjihad (berjuang) di jalan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sahabat, sadarkah kita bahwa salah satu dosa besar adalah durhaka kepada Ayah dan Ibu kita??

Dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash ra dari Nabi saw, beliau bersabda : “Dosa-dosa besar adalah menyekutukan Allah, mendurhakai kedua orang tua, membunuh orang dan sumpah palsu.” (HR. Bukhari)

Sekarang tolong!!! Camkan!!! Renungkan!!! Pikirkan!!! Rasakan!!!

Berapa banyak dosa yang sudah kita lakukan terhadap mereka?!!

Ibu kita…. Dengan segala keterbatasan yang dia miliki. Dengan segala beban kehidupan yang harus dia hadapi. Dengan banyaknya pekerjaan yang selalu saja memaksa dan menindas mereka. Mulai dari mencuci, memasak, membersihkan rumah. Mengatur segala tetek bengek untuk dapat membahagiakan kita. Rela untuk membawa kita selama kurang lebih sembilan bulan sepuluh hari dalam kandungannya. Dalam setiap aktifitasnya. Betapa melelahkan. Betapa menyakitkan. Tapi tidak pernah sedikitpun dia mengeluh. Tak pernah sedikitpun dia bersedih. Tak pernah sedikitpun dia berteriak dan kesal dengan berat dan segala yang menyebalkan dari buah hatinya yang sedang dikandungnya. Sepanjang hari dibelainya kita dan teramat sangat dinantikan untuk segera keluar dari rahimnya.

Sementara ayah. Semenjak ibu kita bilang bahwa kita telah memberikan tanda kehadiran dengan tidak datangnya tamu bulanan ibu, semangat dan motivasinya untuk mencari nafkah begitu kuat. Hujan, panas terik matahari, kelelahan yang teramat sangat, seluruh badan menjadi pegal tak karuan. Dia hiraukan demi kita seorang. Banting tulang yang dilakoninya dan begadang menjaga ibu yang sedang mengandung kita adalah aktivitas yang harus dilakukannya dengan senang hati.

Kemudian setelah kita keluar bersama segala hal yang menjijikan dari diri kita. Kotoran. Darah. Cairan ketuban. Kita menangis seperti suara kaleng rombeng yang memekakkan telinga semua orang. Sesaat itu juga kita menjadi sangat menyebalkan karena terus menangis, meronta ingin diberi susu. Tapi ibu kita…. Dengan tenaga yang masih tersisa. Bahkan mungkin nyawa yang menjadi taruhannya. Menghiraukan segala hal yang paling menyebalkan dari diri kita. Dia meminta dokter atau suster untuk segera memberikan kita kedalam dekapan cintanya dan memberikan apa yang paling kita inginkan sahabat. Sementara ayah, dia tinggalkan seluruh aktivitasnya hanya demi menyaksikan kita keluar dan memberinya azan. Kepanikannya bisa membuatnya celaka ketika ngebut diperjalan menuju rumah bersalain.

Kemudian…. Setelah kita dibawa pulang dari rumah bersalin. Ayah dan ibu kita terus menerus menjaga kita. Melindungi kita. Memenuhi segala apapun padahal kita tidak pernah memintanya. Kita hanya butuh susu dan kehangatan. Tidak lebih. Tapi mereka mati-matian. Membanting tulang. Begadang. Panic tidak terkira ketika ada sesuatu yang aneh terjadi pada kita. Tak bisa makan. Bahkan seringkali menangis saking sayangnya mereka terhadap kita. Tak pernah sedikitpun perhatian mereka lengah dari kita. Semuanya adalah untuk kita. Bahkan cinta ibu terhadap ayah. Apalagi cinta ayah terhadap ibu. Mereka hiraukan setelah kita lahir. Tidak ada makhluk apapun dalam kehidupan mereka yang lebih mereka cintai selain kita sahabat.

Tapi apa lacur sahabat. Setelah itu… kita menjadi makhluk aneh yang paling menyebalkan di jagat raya ini. Kita terus-menerus menuntut mereka seperti lintah yang kehausan darah. Menyakiti hati mereka. Memberontak. Marah. Kecewa. Kesal. Durhaka. Menolak permintaan mereka dengan “AH!! UH!! AKH!!”

Ya…. Semua penderitaan, cinta dan kasih sayang yang mereka curahkan bahkan sampai mereka mati hanya kita balas dengan sifat dan sikap kita yang teramat sangat menyebalkan bahkan bagi diri kita sendiri. Cuma itulah yang bisa kita balas dan berikan kepada pengorbanan tanpa pamrih mereka. Sungguh ironis dan menyedihkan sahabat. Padahal Abu Hurairah ra berkata bahwa Rasulullah saw bersabda : “Seseorang tidak dapat membalas budi kedua orang tuanya, kecuali jika mendapatkan orang tuanya menjadi budak, kemudian ia beli dan memerdekakannya.” (HR. Muslim)

Semoga Allah sudi mengampuni seluruh dosa-dosa kedurhakaan kita kepada ayah dan ibu kita sahabat. Semoga Dzat Yang Maha Pengampun sudi memaafkan apa yang telah kita lakukan terhadap dua orang makhluk ciptaannya yang paling berjasa terhadap diri kita. Ya…. Semoga sahabat… semoga…..

Marilah kita renungkan dengan suara hati kita yang paling dalam dua sabda Rasulullah berikut ini sahabat :

Dari Abu Hurairah ra ia berkata : “Kali tertentu seorang lelaki datang kepada Rasulullah saw lalu bertanya ; “Wahai Rasulullah, siapakah yang paling berhak aku pergauli dengan baik?” Rasulullah menjawab : “Ibumu!” Lalu siapa?” Rasulullah menjawab : “Ibumu!” Sekali lagi orang itu bertanya ; “Kemudian siapa?” Rasulullah menjawab : “Bapakmu!” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra dari Nabi saw beliau bersabda : “Sungguh hina, sungguh hina, dan sungguh hina, orang yang salah satu atau keduanya masih hidup, ia tidak bisa masuk surga [artinya : Tidak mau berbuat baik kepada keduanya, sehingga menyebabkannya tidak dapat masuk surga].” (HR. Muslim)

Tidak ada yang aku harapkan dari article sederhana ini selain janganlah kalian sungkan untuk mengatakan “Ayah, aku sangat mencintamu”. “Ibu, engkau adalah pelita yang paling indah dalam hidupku.” “Akan kukorbankan jiwa dan ragaku demi kalian” baik dengan ucapan langsung atau sekedar sms singkat sesering yang kalian mau.

Wallahu musta’an. Semoga bermanfaat. Amin.


Article inspirasi :

Iklan