Wahai Ikhwah, Jagalah Lisan Kita…

sederhana-itu-indah1KEWAJIBAN MENJAGA LISAN

Perbuatan-perbuatan iman selain terkait dengan hak-hak Alloh Azza wa Jalla seperti mengerjakan kewajiban-Nya dan menjauhi larangan-Nya, juga terkait dengan hak manusia yang lain, diantaranya adalah menjaga lisan. Rosulullah shollallohu alaihi wa sallam bersabda : Barangsiapa beriman kepada Alloh dan Hari Akhir, hendaklah ia berkata benar atau hendaklah ia diam. Barangsiapa beriman kepada Alloh dan Hari Akhir hendaklah ia berbuat baik kepada tetangganya. Barangsiapa beriman kepada Alloh dan Hari Akhir hendaklah ia memuliakan tamunya”. (HR. Bukhori dan Muslim).

Menjaga lisan adalah termasuk salah satu sifat iman. Iman seseorang tidak akan lurus hingga hatinya lurus dan hati tidak lurus hingga lisannya lurus. Rosulullah shollallohu alaihi wa sallam bersabda : Engkau senantiasa selamat selama engkau diam. Jika engkau bicara maka pahala atau dosa akan ditulis untukmu”. (HR.Thabrani).

Apabila berbicara hendaklah berkata benar dan hanya untuk kebaikan, selain dari itu dikhawatirkan ucapan hanyalah sesuatu yang sia-sia yang dapat menggelincirkan ke neraka, sebagaimana sabda Rosulullah shollallohu alaihi wa sallam : Ada seseorang yang mengucapkan perkataan, ia tidak menyangka akibat perkataannya tersebut menyebabkan ia masuk neraka yang jaraknya lebih jauh daripada jarak timur dan barat”. (HR. Bukhori dan Muslim). Rosulullah shollallohu alaihi wa sallam bersabda dalam riwayat yang lain : Sesungguhnya seseorang mengatakan satu kalimat yang ia anggap tidak ada apa-apanya, namun dengan sebab kalimat tersebut ia jatuh selama tujuh puluh tahun ke dalam neraka “. (HR. Ahmad dan Tirmidzi).

Dalam riwayat lainnya Rosulullah shollallohu alaihi wa sallam bersabda : Sesungguhnya seseorang mengucapkan kalimat yang diridhoi Alloh dan ia tidak menaruh perhatian terhadapnya, kemudian Alloh mengangkat derajatnya dengan sebab kalimat tersebut. Ada seseorang mengucapkan kalimat yang dimurkai Alloh dan ia tidak menaruh perhatian terhadapnya, melainkan ia terjerumus ke neraka Jahanam dengan sebab kalimat tersebut”. (HR. Bukhori).

Umar bin Khothob rodhiyallohu anhu pernah berkata: “Barangsiapa banyak bicara, maka ia banyak kesalahannya. Barangsiapa banyak kesalahannya, ia banyak dosanya. Barangsiapa banyak dosanya, neraka tempatnya.” (Diriwayatkan oleh Ath Thabrani dalam Al-Ausath).

Sungguh tepat yang dikatakan Syumaith bin Ajlan: “Hai anak keturunan Adam, jika engkau diam engkau selamat. Jika engkau bicara, waspadalah, karena bisa jadi pahala ditulis untukmu, atau dosa ditulis untukmu”. (Diriwayatkan Abu Nu’aim dalam Al Hilyah dan Ibnu Abu Ad-Dunya dalam Ash Shamtu).

Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman : (Yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tidak ada satu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir”. (QS. Qaaf : 17-18)

Para ulama sepakat bahwa malaikat di sebelah kanan mencatat kebaikan-kebaikan, sedang malaikat di sebelah kirinya mencatat kesalahan-kesalahan. Tetapi para ulama berbeda pendapat apakah malaikat mencatat seluruh perkataan yang diucapkan, ataukah hanya mencatat perkataan yang di dalamnya terdapat pahala dan dosa. Ibnu Katsir dalam kitab Tafsir-nya meriwayatkan dari Ali Ibnu Abu Talhah dari Ibnu Abbas rodhiyallohu anhu sehubungan dengan tafsir surah Qaaf ayat 18, bahwa seluruh perkataan yang diucapkan manusia akan dicatat, sampai-sampai ucapannya, “Aku telah makan dan minum, aku telah pergi dan baru datang, aku melihat anu” dsb, juga dicatat.

Yahya bin Abu Katsir berkata : “Seseorang menaiki keledai lalu jatuh terperosok. Kemudian ia berkata, ‘Keledai ini celaka’. Malaikat di sebelah kanannya berkata : ’Itu bukan kebaikan jadi aku tidak menulisnya’. Malaikat di sebelah kiri juga berkata, ’Itu bukan keburukan jadi aku tidak menulisnya’. Alloh Ta’ala memberi wahyu kepada malaikat sebelah kiri, ’Malaikat sebelah kanan tidak menulis sesuatupun jadi tulislah perkataan tadi’. Kemudian malaikat sebelah kiri menulis ucapan, ’Keledai ini celaka’, dalam daftar kesalahan-kesalahan.” (Diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah, Abu Nu’aim dalam Al Hilyah dan Al Husain Al Marqazi dalam tambahan kitab Az-Zuhud karangan Ibnul Mubarak).

Oleh karena itu seorang muslim hendaklah selalu berhati-hati dalam berbicara. Jika ia memandang tidak perlu berbicara maka yang lebih utama adalah diam, agar ia selamat. Rosulullah shollallohu alaihi wa sallam bersabda : Barangsiapa yang dapat menjaga mulut dan kemaluannya, maka aku menjaminnya dengan surga (HR. Bukhori dan Muslim). Semoga Alloh Ta’ala selalu memberi taufiq kepada kita agar kita dapat menjaga lisan kita.

)l(