BisikBisik

negeri-di-atas-awan-11Sumber : Perisai Dakwah

Khitob Ilahi

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ نُهُوا عَنِ النَّجْوَى ثُمَّ يَعُودُونَ لِمَا نُهُوا عَنْهُ وَيَتَنَاجَوْنَ بِالْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَمَعْصِيَةِ الرَّسُولِ وَإِذَا جَاءُوكَ حَيَّوْكَ بِمَا لَمْ يُحَيِّكَ بِهِ اللَّهُ وَيَقُولُونَ فِي أَنْفُسِهِمْ لَوْلَا يُعَذِّبُنَا اللَّهُ بِمَا نَقُولُ حَسْبُهُمْ جَهَنَّمُ يَصْلَوْنَهَا فَبِئْسَ الْمَصِيرُ (8)

Apakah tidak kamu perhatikan orang-orang yang Telah dilarang mengadakan pembicaraan rahasia, Kemudian mereka kembali (mengerjakan) larangan itu dan mereka mengadakan pembicaraan rahasia untuk berbuat dosa, permusuhan dan durhaka kepada rasul. dan apabila mereka datang kepadamu, mereka mengucapkan salam kepadamu dengan memberi salam yang bukan sebagai yang ditentukan Allah untukmu. dan mereka mengatakan kepada diri mereka sendiri: “Mengapa Allah tidak menyiksa kita disebabkan apa yang kita katakan itu?” cukuplah bagi mereka Jahannam yang akan mereka masuki. dan neraka itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا تَنَاجَيْتُمْ فَلَا تَتَنَاجَوْا بِالْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَمَعْصِيَةِ الرَّسُولِ وَتَنَاجَوْا بِالْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ (9)

Hai orang-orang beriman, apabila kamu mengadakan pembicaraan rahasia, janganlah kamu membicarakan tentang membuat dosa, permusuhan dan berbuat durhaka kepada rasul. dan bicarakanlah tentang membuat kebajikan dan takwa. dan bertakwalah kepada Allah yang kepada-Nya kamu akan dikembalikan.

إِنَّمَا النَّجْوَى مِنَ الشَّيْطَانِ لِيَحْزُنَ الَّذِينَ آَمَنُوا وَلَيْسَ بِضَارِّهِمْ شَيْئًا إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ (10)

Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu adalah dari syaitan, supaya orang-orang yang beriman itu berduka cita, sedang pembicaraan itu tiadalah memberi mudharat sedikitpun kepada mereka, kecuali dengan izin Allah dan kepada Allah-lah hendaknya orang-orang yang beriman bertawakkal.” (Q.S. Al-Mujâdalah: 8 – 10).

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمِرَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ : إِذَا كَانُوا ثَلَاثَةٌ فَلاَ يَتَنَاجَى اثْنَانِ دُونَ الثَّالِثِ (متفق عليه)

Dari Abdullâh bin ‘Umar – radhiyallâhu ‘anhumâ- bahwa Rasulullâh – shallallâhu ‘alaihi wa sallam – beliau bersabda: “Jika manusia berkumpul tiga orang, janganlah dua orang berbisik tanpa melibatkan yang ketiga”. (Muttafaq ‘alaih).


Ta’riif


Najwa Menurut Bahasa


المساررة
أصل النجوى هي حديث الاثنين معا، مع إخفاء صوتهما عن الثالث.

Secara bahasa, Najwâ berarti berbisik, yaitu pembicaraan dua orang tanpa melibatkan orang ketiga atau menyembunyikan darinya.

Najwâ Menurut Istilah

Yang dimaksud Najwâ di sini adalah:

حَدِيْثُ مَجْمُوْعَةٍ مِنَ الْمُؤَسَّسَةِ مُنْتَقِدَةً اَلْمُؤَسَّسَةَ، أَوِ الْقَائِمِيْنَ عَلَيْهَا، بِمَعْزِلٍ عَنْ قِيَادَةِ الْمُؤَسَّسَةِ وَمَعْرِفَتِهَا

Pembicaraan sekelompok orang dari sebuah jama’ah yang berisi kritikan kepada jama’ah tersebut, atau kepada para pengelolanya, tanpa melibatkan qiyadah lembaga tersebut atau tanpa sepengetahuan mereka.

    Macam-macam Najwâ

    1. Dalam rangka Ta’at kepada Allah
    – Kebaikan
    – Taqwa

لاَّ خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِّن نَّجْوَاهُمْ إِلاَّ مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلاَحٍ بَيْنَ النَّاسِ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ ابْتَغَاء مَرْضَاتِ اللّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا 4/114

Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat makruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barang siapa yang berbuat demikian karena mencari keridaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar. (QS.Annisa :114)

2. Dalam rangka Bermaksiyat kepada Allah
– berdosa
– Permusuhan

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا تَنَاجَيْتُمْ فَلَا تَتَنَاجَوْا بِالْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَمَعْصِيَةِ الرَّسُولِ وَتَنَاجَوْا بِالْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ (9)

  • Hai orang-orang beriman, apabila kamu mengadakan pembicaraan rahasia, janganlah kamu membicarakan tentang membuat dosa, permusuhan dan berbuat durhaka kepada rasul. dan bicarakanlah tentang membuat kebajikan dan takwa. dan bertakwalah kepada Allah yang kepada-Nya kamu akan dikembalikan. )Al Mujadilah 9)

    Gejala dan tanda-tandanya.

    Sekelompok orang dari anggota sebuah jama’ah berkumpul dan mengobrol untuk mengkritik jama’ah dan para pemimpinnya atau sebagian personilnya tanpa sepengetahuan jajaran pimpinan.

  • Melakukan pembicaraan-pembicaraan atau forum-forum diskusi di luar forum resmi.

  • Membentuk kelompok khusus dan menjauh dari jama’ah, tanpa sepengetahuan personel lembaga yang lain atau pimpinan lembaga tersebut.

    Hubungan Antara Pengertian Bahasa dan Istilah

    Najwâ dalam pengertian bahasa menyakiti orang ke tiga yang tidak dilibatkan, dan menyebabkan keretakan kesatuan ruhani dan amal mereka. Demikian juga yang terjadi saat Najwâ secara istilah, sebab, hal ini akan mengakibatkan perpecahan, sakit hati dan kesedihan.

    Hukum

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمِرَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ : إِذَا كَانُوا ثَلَاثَةٌ فَلاَ يَتَنَاجَى اثْنَانِ دُونَ الثَّالِثِ (متفق عليه)

Dari Abdullâh bin ‘Umar – radhiyallâhu ‘anhumâ- bahwa Rasulullâh – shallallâhu ‘alaihi wa sallam – beliau bersabda: “Jika manusia berkumpul tiga orang, janganlah dua orang berbisik tanpa melibatkan yang ketiga”. (Muttafaq ‘alaih).

Haram hukumnya melakukan najwa ( hukum asal, kalau ada yang dibolehkan itu adalah pengecualian)

Bahaya Najwa

من الشيطان/Dari Syaithon
ليحزن الذين آمنوا/ Untuk Menyusahkan Orang Beriman
وليس بضارهم شيئا إلا بإذن الله/Najwa tidak akan memberi madhorot kecuali dengan izin Allah

Ada beberapa penyebab timbulnya Najwa,

  • Qiyadah jama’ah atau personelnya pernah menolak pendapat atau usulan kelompok atau personel kelompok ini.

  • Personel atau kelompok ini memiliki dugaan bahwa qiyadah atau personel jama’ah menolak usulan atau pendapatnya atau berpendapat beda dengannya

  • Ada seorang tokoh dalam jama’ah yang berbeda pandangan dengan qiyadah, lalu menanamkan pengaruhnya kepada kelompok ini.

  • Tidak mengetahui hukum syar’î tentang Najwâ

  • Konsep dakwah tentang Najwâ dengan segala permasalahannya belum dipahami dan tertanam dengan baik.

  • Meniru model lembaga-lembaga politik barat atau lembaga-lembaga lainnya yang tidak memiliki karakter “da’awiyah” yang mengajarkan agar dalam sebuah lembaga ada kelompok penekan, oposan dan lobi.

  • Pemahaman dakwah tentang Tsiqah kepada jama’ah dan qiyadah dan juga pemahaman tentang Iltizâm melemah.

  • Pemahaman syar’î tentang al-sam’u wa al-thâ’ah fi al-mansyath wa al-makrah mâ lam yashthadim bi amr auw qâidatin syar’iyyah (kewajiban mendangar dan taat saat bergairah atau saat terpaksa, selama tidak bertentangan dengan perintah atau kaidah syar’î) melemah.

  • Qiyadah jama’ah bersempit dada terhadap pendapat lain serta tidak membuka peluang untuk mendengar pendapat yang berseberangan

    Solusi

  • Memperluas peluang kemunculan pendapat lain, menambah kesempatan pertemuan antara qiyadah dengan para pemilik pendapat “lain” agar pintu Najwâ tidak terbuka.

  • Penekanan nilai tarbawi semenjak dini tentang makna al-sam’u wa al-thâ’ah yang benar menurut syari’at, serta nilai-nilai dakwah semisal iltizâm, tsiqah dan arkân bai’ah lainnya.

  • Menyelenggarakan pertemuan dengan kelompok Najwâ dan mendengar pendapat mereka.

  • Meningkatkan komunikasi antara qiyâdah dengan qâidah untuk membuka ruang tanya jawab dan dialog tentang hal-hal “sensitif” yang bisa muncul dari waktu ke waktu.

  • Menyelenggarakan pertemuan dengan seluruh anggota jama’ah saat muncul suatu problem “hangat” yang mengundang banyak pendapat, serta menyampaikan info secara utuh dari sumbernya secara cepat dan tidak ditunda-tunda.

  • Melakukan cross check tentang mekanisme penyampaian informasi dari qiyâdah ke qâ’idah dan mengecek kebenaran dan keselamatan sampainya.

  • Memberikan job kepada kelompok Najwâ agar mereka memiliki kesibukan dan meminimalisir waktu kosong mereka.

  • Memperbaiki hubungan

    PENUTUP

  • Betapa bahayanya najwa dalam shaff jamaah dan sejarah sudah mencatat korban penyakit ini

  • Masa fitnah dikekhilafan ustman penyebabnya adalah najwa yang berujung dengan syahidnya Kholifa Ustman bin Affan

  • Dan sunnatud dakwah selalu berjalan untuk mematangkan dan mendewasakan para pengemban dakwah ini

  • Dan kejadian serta khabar akhir akhir ini juga tidak terlepas dari penyakit yang sangat berbahaya tersebut

  • Bisa juga ujian ujian terakhir ini sebagai tashfiyah shaffid dakwah ( pembersihan )

اللهم إنا نعوذ بك من النجوى
والله أعلم بالصواب

Iklan