Wahai Ikhwah, Bersabarlah dalam Menuntut Ilmu

dsc02110ILMU TIDAK DAPAT DIPEROLEH DALAM WAKTU YANG SINGKAT

Oleh : Syeikh Abdussalam bin Barjas Abdul Karim1

Sebagian penuntut ilmu mengira mengira bahwa ilmu itu seperti satu suapan yang lezat dan satu teguk yang cepat, yang akan segera menampakkan hasilnya dan memperlihatkan faedah-faedahnya. Kemudian ia berharap -dalam ketetapan jiwanya- bahwa setelah lewat lebih atau kurang dari satu tahun dari umurnya dalam menuntut ilmu, ia akan menjadi seorang ulama ahli yang tidak terbatas ujungnya dan tidak retak cacatnya.

Ini adalah pandangan yang salah, penggambaran yang rusak, dan harapan yang rendah, bahayanya sangat buruk, kerusakan-kerusakannya besar, karena membentangkan pelakunya kepada perkara yang tidak baik akibatnya, seperti berkata atas nama Alloh tanpa ilmu, kepercayaan yang membabi buta terhadap dirinya sendiri, cinta kedudukan tinggi, dan suka menjadi yang terdepan. Tempat berkutatnya ia dengan perkara ini akan berakhir kepada pemisahannya dengan ikatan ilmu, dan para ahli ilmu.

Telah benarlah Al-Makmun ketika mengolok-olok penuntut ilmu yang seperti ini. Dia berkata : “Salah seorang dari mereka menuntut ilmu hadits selama tiga hari, kemudian berkata : ‘Aku termasuk ahli hadits’. (As-Siyar :10/876).

Sedangkan orang yang melihat kepada keadaan salaf akan melihat keajaiban atas kesabaran mereka merasakan pahitnya mencari ilmu, dan jauhnya jalan yang ditempuh, mereka tidak patah semangat, mereka tidak mundur, mereka tidak merasa sombong. Semboyan mereka : “Ilmu itu sejak masa kanak-kanak sampai liang lahat”, atau, “Ilmu itu dari tinta sampai pekuburan”.

Al-Imam Ibnul Madini meriwayatkan bahwa Asy-Sya’bi pernah ditanya : “Dari mana kamu mendapat ilmu itu semua?” Beliau menjawab : “Dengan meniadakan penyadaran, menempuh perjalanan ke berbagai negeri, dan kesabaran seperti sabarnya benda mati, dan bergegas-gegas pagi-pagi seperti burung gagak”. (At-Tadzkiroh, Adz Dzahabi).

Al-Imam Asy-Syafi’i berkata : “Seseorang tidak akan mencapai hasil dalam bidang (ilmu) ini sampai kefakiran menimpanya, dan dia mendahulukan ilmu atas segala sesuatu”. (As-Siyar : 10/89).

Ibnu Hamzah berkata : Berkata Ya’qub bin Sufyan -Al-Hafidz Al-Imam- : “Aku melakukan perjalanan menuntut ilmu selama 30 tahun”. (At-Tadzkiroh, Adz Dzahabi).

Ibnul Haddad al-Maliki berkata : “Tidaklah seorang ulama mempunyai tempat tidur yang baik”. (Al-Jami’ : 1/91).

Maka wajib atas seorang penuntut ilmu untuk mengambil teladan kepada para imam tersebut, mengikuti jejak mereka, sampai ia mencapai tujuannya, dan memperoleh keinginannya. Karena sesungguhnya manhaj mereka selamat, dan jalan mereka lurus. Dan tidaklah mereka memperoleh sebutan yang baik dan memberi manfaat yang terus-menerus bagi kaum muslimin kecuali dengan kesabaran, kontinyuitas, memandang rendah harta yang telah dikerahkan, dan menghabiskan waktunya dalam menempuh jalan ilmu dan pengetahuan.

Terakhir saya ceritakan perbincangan antara dua orang yang menjelaskan nilai ilmu dan kedudukannya yang tinggi. Dan ilmu tidak akan diperoleh kecuali oleh orang yang mengerahkan segala sesuatu dalam menuntut ilmu, sebagaimana batasan perkataan mereka : ‘Berikanlah kepada ilmu semua milikmu, namun ilmu itu hanya memberikan sebagiannya’ :

Seseorang berkata kepada yang lain : “Dengan apa engkau memperoleh ilmu?”

Dia berkata : “Aku mencarinya, dan aku dapati ilmu itu sasaran yang jauh, tidak bisa diburu dengan anak-anak panah, tidak pernah diperoleh lewat mimpi dalam tidur, dan tidak diwariskan dari bapak-bapak dan paman-paman. Aku mencapainya dengan berbaring di lumpur, dan bersandar ke batu, dan terus menerus bangun malam, banyak membaca, selalu berpikir, selalu berkelana dan mempertaruhkan jiwa, kemudian aku mendapatinya sebagai sesuatu yang tidak pantas kecuali untuk bercocok tanam, dan tidak bercocok tanam kecuali dengan jiwa, dan tidak memberi minum kecuali dengan pelajaran. Bagaimana menurutmu tentang orang yang siang harinya sibuk menggumpulkan harta, dan malam harinya sibuk menggauli istrinya, apakah darinya akan keluar seorang yang faqih ? Sekali-kali tidak, demi Alloh. Sesungguhnya ilmu tidak diperoleh kecuali oleh orang yang mengambil penolong dengan buku-buku tulis, dan memikul tinta-tinta, melintasi tanah-tanah sunyi (merantau), dan terus-menerus menuntut ilmu siang dan malam”.

Semoga dalam perbincangan yang indah ini ada suatu fakta yang menghilangkan gambaran yang menyusup ke dalam benak sebagian penuntut ilmu bahwa ilmu itu bisa diperoleh dalam waktu yang singkat dan kesempatan yang pendek. Sehingga mereka bisa melanjutkan kesungguhan-kesungguhan mereka dan memandang rendah hal-hal yang mereka kerahkan dalam jalan menuntut ilmu, dan terus belajar sampai Alloh Ta’ala membukakan atas mereka pintu-pintu pengetahuan dan ilmu, sehingga mereka dapat menjadi tokoh-tokoh dalam ilmu dan imam dalam petunjuk.

)l(

1 Beliau adalah salah seorang ulama Arab Saudi, meninggal pada tahun 2004 dalam kecelakaan mobil. Semoga Alloh merahmati beliau, amin -ket.

Iklan