[ 1 ]

Awal Puasa dan Pelaksanaan Shalat ‘Iedul Fithri

Pertanyaan:

Ustadz Salim yang saya hormati, setiap memulai puasa, umat Islam selalu dihadapkan pada perbedaan awal dan akhir puasa serta pelaksanaan ‘Iedul Fithri. Bagaimana cara mengetahui kapan dimulai Puasa Ramadhan dan penyelenggaraan Shalat ‘Iedul Fithri bagi umat Islam. Apakah tidak mungkin disamakan waktunya?

Sugianto – Jakarta

Jawaban :

Sebenarnya dalam mengawali Bulan Ramadhan dan pelaksanaan shalat ‘Iedul Fithri Rasulullah saw telah memberikan petunjuk yang sangat jelas. Beliau bersabda:

“Puasalah kamu jika melihat bulan, dan berbukalah kamu jika melihat bulan. Jika terhalang (mendung) maka sempurnakan bilangannya” (mutafaqun ‘alaihi)

Dari hadits tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa penetapan awal dan akhir bulan Puasa dilakukan dengan ru’yah (melihat bulan). Bahkan ulama Al-Azhar sepakat bahwa ru’yah yang paling kuat adalah ru’yah alamiyah (ru’yah yang bersifat internasional) bukan ru’yah local. Artinya, jika ada seorang muslim melihat bulan di suatu tempat (misalnya di Maroko) maka ru’yah ini berlaku bagi seluruh umat Islam yang malamnya sama.

Namun ru’yah alamiyah nampaknya belum dapat dilaksanakan oleh seluruh dunia Islam, karena berbagai masalah politik dan lainnya. Setiap Negara masih menggunakan ru’yah local negaranya masing-masing. Oleh karenanya masih terdapat perbedaan awal pelaksanaan puasa dari yang sudah ditetapkan di kalender. Maka dengan sendirinya ada pihak yang berbeda dalam mengawali puasa dengan keputusan pemerintah. Padahal, jika hasil hisab hanya digunakan sebagai alat Bantu untuk menguatkan ru’yah, dan jika ada seseorang atau lebih melihat bulan kemudian diakui pemerintah maka tidak ada perbedaan dalam memulai dan mengakhiri puasa. Maka kuncinya ada pada amanah ilmiyah orang yang mengaku melihat bulan dan amanah ilmiyah dari pihak pemerintah untuk menerima pengakuan orang yang melihat bulan tersebut.

Sehingga untuk memulai puasa Ramadhan dan mengakhirinya, yang berarti penetapan hari raya Iedul Fithri,umat Islam sebaiknya mengikuti ru’yah local (Indonesia) agar memiliki kesamaan dengan yang lain.

Selanjutnya : 2. Hilal Ramadhan Sudah Tampak Di Saudi Arabia, Tetapi Di Indonesia Belum

[Sumber : Tarhib & Panduan Ramadhan, 50 Tanya Jawab Seputar Ibadah Puasa dan Lainnya, Dr. Salim Segaf Al-Jufri, MA]

Iklan