Setengah Perjalanan Menjadi Kader

Tidaklah sama antara mu’min yang duduk (yang tidak turut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat..”

Orang dewasa dibedakan dari anak-anak, salah satunya dalam soal pilihan-pilihan mereka. Anak-anak menyukai sesuatu karena menyukainya. Begitu saja. Orang dewasa tidak sesederhana itu. Secara umum mereka memilih sesuatu karena ada alasan yang mendasarinya. Terlepas apa pun alasan itu. Tentu saja dengan kadar informasi dan pengetahuan yang berbeda-beda, yang dipakai sebagai penguat alasan-alasan atas sebuah pilihan. Orang dewasa setelah itu juga dibedakan dari anak-anak, pada saat mereka menyikapi hasil dari pilihan-pilihan mereka. Tidak semua pilihan dalam hidup ini, yang tadinya diduga menyenangkan, akan juga berakhir menyenangkan. Anak-anak menangis dan umumnya mudah dialihkan. Orang dewasa biasanya kecewa dan ada yang memendamnya hingga waktu yang cukup lama.

Menjadi kader dakwah atau kader partai adalah pilihan orang dewasa. Pasti ada alasan yang mendasarinya. Di sini, yang mendefinisikan dirinya sebagai partai dakwah tentu ada implikasi bagi siapa saja yang mau menjadi kadernya. Ialah bahwa menjadi kader partai, berarti juga menjadi kader dakwah, dalam lingkup paradigma politik dan dakwah yang dianut olehnya. Hampir semua organisasi, melakukan seremoni bergabungnya anggota ke dalamnya. Demikian pula menjadi kader partai kita. Seremoni itu ada yang bentuknya pelantikan, peningkatan jenjang keanggotaan, ada juga bentuk-bentuk lainnya. Maka pelantikan penjadi kader partai dakwah, pada dasarnya adalah ikrar kesediaan menjadi kader partai untuk pada saat yang sama bersedia menjadi kader dakwah.

Seremoni punya masa-masa indahnya. Tapi juga menyisakan beban beratnya. Selalu ada ongkos atas sebuah kebahagiaan. Seperti pengantin baru yang berbunga-bunga di hari pernikahan, ikrar menjadi kader partai atau kader dakwah, juga punya masa bahagianya. Ada kesadaran bahwa sejak hari itu kita merasa telah belajar arti komitmen. Setidaknya memulai. Kita mengenal arti pengorbanan. Lebih dari itu, kita belajar tentang urgensi amal jama’i. Pentingnya bekerja sama. Bahwa seiring usia yang bertambah dan kedewasaan yang perlahan mekar, kita mulai banyak punya argumentasi atas pilihan-pilihan untuk menjadi kader dakwah.

Tetapi hari-hari sesudah itu adalah hari-hari untuk bekerja. Ikrar menuntut bukti. Seremoni memerlukan tindak lanjut. Yang sukses melalui masa-masa yang sulit di era pembuktian niat menjadi amal, biasanya memiliki tambahan argumentasi. Yang berhasil melalui masa-masa berat di fase mengubah kemuan menjadi karya, biasanya semakin yakin dengan pilihan-pilihannya. Maka komitmen pun menguat. Kesadaran akan tanggung jawab pun lebih berkualitas. Mereka bukan tak punya kegelisahan, kelelahan, atau tanda tanya. Tapi hal-hal sensitif sebisa mungkin dihadapi dengan sikap yang berbudi. Allah selalu memberikan untuk agama ini kader-kader terbaiknya, mereka yang memang juga mencari dengan penuh kesungguhan predikat itu. “Jika kalian menolong (agama) Allah, niscaya Allah akan menolong kalian.” Bila kita memang mau menjadi kader agama Allah, niscaya Allah juga akan membimbing kita untuk menjadi kader yang baik sesuai yang ia inginkan.

Di sisi lain, masalah demi masalah tetap tumbuh dengan caranya sendiri, di ruang-ruang sendiri. Seiring dengan kerja-kerja dakwah yang semakin rumit, lingkup amal yang semakin luas, menjadi kader adalah juga kisah tentang sukses dan gagal. Menjadi kader adalah juga kisah tentang kemajuan dan ketertinggalan. Tentang semangat dan juga kelesuan. Menjadi kader adalah juga kisah tentang kesetiaan dan kadang ‘perceraian’. Seperti karakternya, waktu seringkali mengoreksi diri kita. Bahkan kadang menelanjangi kita dengan kejam.

Kondisi terburuk dari situasi itu biasanya ada dua macam:

Pertama, disorientasi.

Maksudnya, ketika perjalanan menjadi kader memasuki ranah aplikasi, maka implementasi dan realisasi ide dan cita-cita mulai terasa melelahkan. Seiring dengan semakin luasnya ruang lingkup amal, menjadi kader semakin hari bukan perkara sederhana. Sebagian mulai merasakan bahwa dunia idealisme dan dunia nyata selalu sama dan sebangun. Bahwa mimpi-mimpi indah tentang sebuah masyarakat Islami, keluarga Islami, pemerintahan yang bermartabat, tidak mudah menjadi kenyataan. Hal tersebut meluas ketika implementasi perbaikan, yang disebut dengan taghyir, maupun ishlah, harus masuk melalui jalur politik.

Saat itu sebagian kita mungkin mulai bertanya-tanya, adakah yang salah dengan tujuan yang kita pilih. Apakah seberat ini jalan yang harus ditempuh. Sebagian kader yang kelelahan di fase ini ada yang kehilangan arah. Bahkan berjalan di jalur yang keliru. Bila arah sudah tak sesuai, dapat dipastikan tujuan pun tak akan sampai. Dalam dunia dakwah kondisi ini biasanya diistilahkan dengan insilakh. Mereka mungkin disebut menyimpang dari arah dan tujuan semula. Tapi mereka biasanya selalu merasa punya pembelaan.

Kedua, disfungsi.

Maksudnya, kondisi terburuk lainnya adalah ada kader-kader yang mulai tidak berfungsi. Ada yang mulai meninggalkan tugas-tugas, mulai enggan menjalankan pekerjaan. Dan ada juga yang mulai menjauhi kesibukan. Ada yang lari dari tanggung jawab. Beban mulai terasa berat. Tanggung jawab mulai melelahkan. Kerja-kerja berkejaran. Sampai-sampai waktu seperti tak berdaya menyediakan kesempatan. Maka ada orang yang kemudian mulai terengah-engah, lalu berhenti. Dalam bahasa dakwah, kondisi orang-orang ini diistilahkan dengan futur.

Mereka meyakini bahwa cita-cita itu benar, tapi mereka merasa bukan orang yang mampu untuk mengejar dan membuktikannya.

Bila disorientasi mengganggu efektivitas, disfungsi sangat mengganggu produktivitas. Disorientasi membuat yang dekat berubah melenceng jauh. Mengubah yang jauh menjadi sangat-sangat jauh. Sementara disfungsi membuat target-target menjadi sangat sulit terpenuhi.

Dalam Islam, bias orientasi, biasanya diantisipasi dengan mengingatkan kembali akan hal-hal yang sangat substansial, seperti adanya “nilai luhur yang membedakan” pada jati diri seorang kader Muslim.

Bias fungsi yang berkonotasi kelelahan, kemandegan, biasanya diantisipasi dengan hiburan. Hiburan yang dipakai Islam dalam konteks ini biasanya dua :

pertama hiburan tentang janji kesudahan. Kedua, hiburan tentang contoh keteladanan. Janji kesudahan, maksudnya, bahwa kelelahan amal, kerja, yang diniatkan ikhlas lillahi ta’ala ada balasannya yang menanti. Surga diinformasikan dalam deskripsi yang cenderung detil. Sungai, air, minuman, taman, rumah, dan tentu saja bidadari.

Sedangkan hiburan tentang contoh keteladanan berfungsi sebagai pembanding. Misalnya diceritakan bagaimana orang-orang dahulu yang juga berjuang, jauh lebih berat dari apa yang kita alami saat ini. Bahwa seberat apapun beban yang kita emban, itu belum seberapa bila dibandingkan dengan beban para pendahulu kita, para salafusshalih, para pejuang di masa lalu. Kisah-kisah di dalam Al-Qur’an tentang para Rasul adalah kisah-kisah keteladanan dalam berbagai bidang. Tapi salah satu tema besarnya adalah daya tahan di jalan perjuangan dan pengabdian.

Kesadaran substansial sebagai seorang beriman, juga janji pembedaan jati diri sebagai orang beriman atas orang kafir, yang bisa dijadikan pegangan untuk terhindar dari disorientasi, dapat kita temukan salah satunya pada Surat Ali Imran. Allah berfirman,

Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang yang beriman. Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itu pun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran) dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian dijadikan-Nya (gugur sebagai syuhada). Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang dzalim. Dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa mereka) dan membinasakan orang-orang yang kafir.” (QS. Ali Imran:139-141)

Atau dapat juga kita pelajari pada apresiasi yang diberikan secara berbeda, antara orang beriman yang berjuang dan orang yang beriman yang duduk-duduk saja. Ini, seperti dijelaskan sebelumnya, adalah, “nilai luhur yang membedakan”. Allah berfirman,

Tidaklah sama antara mu’min yang duduk (yang tidak turut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar, (yaitu) beberapa derajat daripada-Nya, ampunan serta rahmat. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa’ 95-96).

Sedangkan hiburan untuk menghadapi disfungsi, juga kelelahan dan beban, dapat kita temukan misalnya pada surat an-Nisa’ ayat 104.

Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

Atau pada kelanjutan ayat 142 Surat Ali-Imran, yang bercerita tentang keteladanan sebagai pembanding. Saat berbicara tentang beban dan kesusahan perjuangan, ayat-ayat itu biasanya menggunakan penjelasan yang lugas dan menantang.

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang sabar.” (QS. Ali Imran:142).

Hari-hari ini kita layak bertanya kepada diri kita masing-masing. Dalam situasi seperti apa kondisi ‘kekaderan’ kita. Mungkin ada yang tengah dalam kondisi terbaiknya, merasa terarah, berfungsi secara maksimal. Sebaliknya, mungkin juga di antara kita ada yang merasa kehilangan arah. Atau merasa tidak bisa lagi berfungsi secara maksimal. Seperti apapun kondisi kita hari ini sebagai kader, semua hanyalah setangah perjalanan. Setangah tidak serta merta ukuran volume atau jarak yang memiliki jumlah yang sama pada sisi yang tersisa. Setengah perjalanan menjelaskan arti bahwa seperti apapun kondisi kita hari ini, perjalanan menjadi kader belum lagi selesai. Yang merasakan dirinya ada di jalur yang benar, dengan pemahaman yang meyakinkan, harus menyiapkan diri untuk tantangan yang mungkin saja lebih berat. Bila sebagian lagi dari kita merasa memasuki orbit yang salah, terasa arah mulai gelap, tidak tertutup kemungkinan akan menemukan kembali cahaya yang terang. Dan jalan pun kembali lancar. Begitupun yang mengalami disfungsi dalam beramal, mungkin suatu hari nanti akan terilhami, lalu menemukan kembali gairahnya untuk berbuat dan bekerja.

Bila menjadi kader dakwah sekaligus kader partai adalah pilihan yang telah kita ambil, selanjutnya yang diperlukan adalah kesabaran menjalani proses. Selebihnya, selama kehidupan belum berakhir, selalu ada beribu kemungkinan yang bisa saja terjadi. Maka, menjadi kader pada akhirnya adalah pergulatan memupuk kesadaran secara berkelanjutan. Sebab, selama masih ada usia, menjadi kader adalah pencapaian setengah perjalan. Selalu.

Sumber : Risalah Nukhbawiyah, edisi 1/Rajab 1429/Juli 2008

Iklan