Menempuh Suatu Tempat

Saudaraku tercinta…

Engkau berjalan di dunia ini… dan di sana ada satu hari di mana perjalananmu akan dihentikan dan sebuah kafilah akan bertemu denganmu, akan tetapi:

Jika engkau tidak melakukan perjalanan dengan membawa bekal berupa ketakwaan,

dan kelak engkau akan berjumpa dengan orang yang berbekal setelah mati.

Maka engkau akan merasa menyesal,

mengapa tidak sepertinya dan tidak berbekal diri seperti dirinya yang berbekal diri.[1]

Saudaraku tercinta, di manakah kita diantara mereka?

Diriwayatkan dari Hafsh al-Ju’fi, beliau berkata, “Dawud ath-Tha-i mendapatkan harta warisan dari ibunya sebanyak empat ratus dirham, dengan itu ia membeli makanan pokok selama tiga puluh tahun. Dan ketika uang itu habis, ia mulai merobohkan atap rumahnya untuk dijual.”[2]

‘Umar bin Ayyub berkata, Abusy Sya’na (Jabir bin Zaid) berkata, “Wahai ‘Umar, aku sama sekali tidak memiliki harta duniawi kecuali seekor keledai.”

Sangat mudah baginya hisab dan perjalanan, sedangkan kita, apa yang kita miliki dan apa yang kita harapkan?!

Saudaraku semuslim…

Sungguh heran, orang yang mengetahui bahwa kematian itu benar adanya, bagaimana dia bisa berbahagia? Neraka itu benar adanya, bagaimana dia bisa tertawa? Sungguh heran, orang yang mengetahui perputaran dunia, bagaimana dia bisa merasakan ketenangan? Dan sungguh heran, orang yang mengetahui bahwa takdir itu benar adanya bagaimana dia bisa merasakan keletihan?[3]

Aku melihat zaman yang terus berputar,

tidak ada kesedihan yang terus-menerus atau kebahagiaan yang abadi.

Para raja telah membangun berbagai istana,

akan tetapi tidak ada sang raja atau istana yang kekal.[4]

Sedangkan kita semua di dunia ini hanya bermain-main dan lalai. Inilah suara yang berseru, suara Bilal bin Sa’ad, beliau berkata, “Wahai orang-orang yang bertakwa, sesungguhnya kalian tidak diciptakan untuk kefanaan (dunia), yang kalian alami hanyalah pindah dari satu tempat ke tempat lainnya, sebagaimana kalian telah pindah dari tulang rusuk ke rahim sang ibu, dari rahim ibu ke dunia, dari dunia menuju kuburan, dari kuburan menuju Mahsyar, dan dari Mahsyar menuju kekekalan di Surga atau di Neraka.”[5]

Sebuah perjalanan yang berturut-turut dan waktu yang silih berganti, beberapa perjalanan telah kita tempuh, dari tulang rusuk sang ayah menuju rahim sang ibu. Dan di sini kita sedang berjalan menunggu fase berikutnya, yaitu kuburan. Demi Allah, sebenarnya kita ada dalam kelalaian. Jika tidak, bagaimana kita merasa indah mengarungi kehidupan sedangkan di belakang kita adalah kuburan, alam Mahsyar, lalu kepada kekekalan… berbagai hal yang menakutkan?!!

Abu Bakar al-Marwazi rahimahullah berkata, “Pada suatu hari aku mendatangi Imam Ahmad, lalu aku bertanya kepadanya, ‘Bagaimana keadaanmu pagi ini?’ Beliau menjawab, ‘Bagaimanakah keadaan orang yang dituntut oleh Rabb-nya untuk melaksanakan kewajiban yang dituntut oleh Nabinya untuk melakukan Sunnah, yang dituntut oleh jiwanya untuk memenuhi hawa nafsunya, dituntut oleh dua Malaikat untuk memperbaiki amal, dituntut oleh jiwanya untuk memenuhi hawa nafsunya, dituntut oleh Malaikat Maut dengan kematian, dan dituntut oleh keluarganya untuk memberikan nafkah.’”[6]

Inilah dunia, kita bertengkar dan berperang di atasnya. Marilah kita melihat muka-muka yang cerah, yaitu orang-orang yang mengetahui harga sebuah waktu di dunia ini…

Abu Dhamrah meriwayatkan dari Shafwan bin Salim, beliau berkata, “Aku melihat beliau tidak memiliki bekal amal sedikit pun jika dikatakan kepadanya, ‘Besok Kiamat.’”[7]

Aku melihat senjata-senjata yang menjaga manusia

dan aku menyaksikan kehormatan yang diraih tetapi tidak dijaga.

Mereka mengatakan bahwa ini adalah zaman yang jelek,

padahal merekalah yang telah melakukan kerusakan sedangkan zaman sama sekali tidak melakukannya.[8]

Sebagian Salaf berkata, “Siapa yang mengaku benci akan dunia, maka dia pembohong sehingga aku tahu kebenaran perkataan tersebut. Jika benar, maka dia adalah orang gila.”[9]

Karena dunia ini adalah ladang untuk akhirat, di sana seorang hamba membekali dirinya dengan ketaatan dan amal shalih, artinya dia adalah salah satu di antara dua orang yang mencari dunia, bagaimana dia membencinya sedangkan dia di atas tunggangannya? Dan yang lainnya adalah orang yang mencari akhirat, bagaimana dia bisa membenci waktu menanam dan beramal.?!

Sebagian orang bijak berkata, “Bagaimana seseorang berbahagia dengan dunia sedangkan satu hari miliknya merusak satu bulan, satu bulan miliknya menghancurkan satu tahun, dan satu tahun miliknya menghancurkan seumur hidupnya. Bagaimana dia berbahagia sedangkan umurnya mengantarkannya kepada ajal dan kehidupan mengantarkannya kepada kematian.”[10]

Fudahil bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Aku merasa heran terhadap seseorang yang mengenal Allah tetapi ia berbuat maksiat kepada-Nya setelah mengenal-Nya.”[11]

Sejelek-jelek rumah kalian adalah dunia dan penghuninya,

dan bukalah lembaran-lembaran hidup dari para pencintanya.

Allah Mahatahu bahwa aku sama sekali tidak menyukainya,

dan tidak mau tinggal sesaat pun di dalamnya.

Akan tetapi aku berguling-guling dalam kekotorannya di satu masa,

dan aku membentangkannya dalam beberapa waktu lalu menggulungkannya.

Hari-hari aku menyeret buntut dalam permainannya karena bodoh,

dan aku pun meruntuhkan sebagian dari agamaku.

Berapa banyak aku menanggung dosa-dosa dengan tidak congkak,

dosa-dosa yang tidak dapat dihitung.

Kukatakan, Aku tinggal hanya untuk menghancurkan apa-apa,

yang telah aku bangun di dalamnya dan untuk membersihkannya dari kotoran.

Sedangkan di belakangku adalah siksaan yang tidak dapat aku hentikan,

sehingga aku meringankan beban dan melemparkannya.

Semoga lautan ampunan sedang pasang,

jika dia tidak mengenaiku, maka cipratannya

akan membasahiku dan membersihkannya.[12]

Sumber : Ad-dun-yaa Zhillun Zaa-il, ‘Abdul Malik bin Muhammad al-Qasim, Pustaka Ibnu Katsir, September 2005

Footnote:

[1] ‘Uquudul Lu’-lu, hal. 31

[2] As-Siyar (VII/424)

[3] Al-Ihyaa’, hal. 224

[4] Diiwaan al-Imam ‘Ali, hal. 100

[5] As-Siyar (V/914)

[6] Manaaqib al-Imam Ahmad, hal. 355

[7] Tadzkiratul Huffazh (I/134)

[8] Az-Zuhd, hal. 157, karya al-Baihaqi.

[9] Shaidul Khaathir, hal. 212

[10] Jaami’ul ‘Uluum wal Hikam, hal. 381

[11] Az-Zahrul Faa-ih, hal. 95

[12] Al-‘Aaqibah, hal. 30