Kerendahan Dunia

Saudaraku tercinta…

Sesungguhnya Rabb para pemilik dan Yang menjadikan sebab untuk segala sesuatu. Dia telah menjadikan akhirat sebagai tempat pahala dan siksaan, dan Dia-lah Yang menjadikan dunia sebagai tempat berbagai cobaan, kegoncangan, dan usaha. Dan mempersiapkan diri menuju akhirat, persiapan di dunia bukan hanya untuk hari akhirat, akan tetapi untuk kehidupan dunia pula, karena dia adalah sebuah media menuju kehidupan akhirat, dunia adalah ladang untuk akhirat dan tangga yang menghantarkan kita kepadanya.[1]

Yahya bin Mu’adz rahimahullah berkata, “Wahai manusia engkau mencari dunia dengan sungguh-sungguh, sedangkan engkau mencari akhirat dengan usaha orang yang tidak membutuhkannya, padahal dunia sudah mencukupimu walaupun engkau tidak mencarinya. Dan akhirat hanya didapatkan dengan usaha yang sungguh-sungguh dalam mencarinya, maka fahamilah keadaanmu!”[2]

Beliau rahimahullah telah menjelaskan tentang mencari dunia dan meninggalkannya dengan ungkapannya, “Meninggalkan dunia adalah sesuatu hal yang sangat pedih, sedangkan meninggalkan surga jauh lebih pedih lagi dan sesungguhnya mas kawin Surga adalah meninggalkan dunia.”[3]

Apakah kita telah membayar mas kawin ini wahai saudaraku? Yang ada hanyalah kelalaian dan ketidakseriusan diri kita di dunia ini, kita semua tahu bahwa di belakang segala kebahagiaan ini adalah kesedihan dan di belakang kenikmatan adalah kesengsaraan.

‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata, “Setiap kebahagiaan pasti diiringi dengan kesedihan, dan tidaklah sebuah rumah dipenuhi dengan kebahagiaan melainkan rumah tersebut akan dipenuhi pula dengan kesedihan.”[4]

Mis’ar bin Kidam banyak mengungkapkan bait-bait ini untuk seorang jenazah:

Dia mengungkapkan rasa takutnya di setiap kegoncangan,

hal itu cepat hilang akan tetapi ketenangan tidak pernah datang kepada kita.

Maka sesungguhnya kami tidak ingkar terhadap Rab kami,

tetapi ia bagaikan badan yang tidak tahu kapan masa tuanya akan datang.[5]

Sumber : Ad-Dun-yaa zhillun zaa-il, ‘Abdul Malik bbin Muhammad al-Qasim,Pustaka Ibnu Katsir, cetakan kedua 2005

Footnote:

[1] Al-Ihyaa’ (II/69)

[2] Shifatush Shafwah (IV/93)

[3] Tanbiihul Ghaafiliin (I/93)

[4] Tasliyah Ahlil , hal. 15

[5] Hilyatul Auliyaa’ (VII/221)

Iklan